Kita cenderung membedakan cinta dan erotisme. Kita meletakkan cinta di satu sisi, dan seks di sisi lain. Dalam cinta ada kelembutan dan ideal, dalam erotisme kita lekatkan tubuh dan kenikmatan. 

Padahal mencintai bisa saja melibatkan erotisme yang dalam. Sebaliknya, bisa jadi ada bentuk keindahan lain saat dua tubuh melekat satu dengan yang lain untuk beberapa jam, untuk beberapa hari, untuk memberikan yang terbaik yang bisa mereka berikan satu sama lain hanya pada waktu yang sementara itu, meskipun setelah itu mungkin tidak akan pernah lagi berjumpa, meskipun rasa cinta itu tidak atau belum hadir. 

Tetapi sebagian dari kita lebih memilih untuk terbuai dalam ayunan cinta segitiga. Antara ia yang kita cintai dengan kelembutan, dengan ia yang menawarkan gairah dan sensualitas. Antara laki-laki atau perempuan “baik” yang membosankan, dengan ia yang ciumannya membakar tubuh seketika. 

Atas nama cinta, kita terjebak dalam ketidaksetiaan. Kita tidak mampu memilih, tidak berani memilih.. Kita merasa lebih mencintai yang satu tapi juga tidak bisa meninggalkan yang satu lagi.. Kita merasa telah memilih untuk kemudian bimbang kembali…

Mencintai dua orang pada saat yang sama mungkinkah? Dan siapakah akhirnya yang akan kita pilih? Tetapi benarkah kita yang memilih? Akankah kita bahagia dengan orang yang kita pilih atau kita malah akan menyesali?

Bagaimana psikoanalisis melihat kasus-kasus ini? Dan bagaimana kisah ini melahirkan analisis yang memperkaya teori-teori psikoanalisis?

Kisah-kisah cinta segitiga dan dilema cinta akan menjadi topik pilihan kita dalam Kelas Kisah-kisah Erotis Psikoanalisis bulan ini di hypatia.indonesia

Kelas ini gratis untuk anggota asosiasi Hypatia (Klub Hypatia).

Rp. 25.000, – untuk umum.

Untuk pembayaran dengan rupiah, silakan hubungi kami via Instagram hypatia.indonesia.

Pembayaran kelas dengan euros (2 euros) silakan lakukan di bawah ini :

Kelas Kisah-kisah Erotis Psikoanalisis

€2.00

Ilustrasi : Lewis Moorhead 

Tulisan ini sebagian diambil dari artikel Cinta, Seks, dan Kebencian yang dapat dibaca di lsfdiscourse.org.

1 comment on “Dalam Ayunan Cinta Segitiga

  1. Pingback: TANPA PEREMPUAN, TIDAK AKAN PERNAH ADA PSIKOANALISIS – Psikologi Feminis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: