Diri Well-being

Kedamaian, Bukan Kebahagiaan

Buku AgnosthesiaKetidakmampuan Mengenal Emosi yang Membuat Kita Menderita karya Maria Frani Ayu (2021) dimulai dengan untaian kata pengantar yang dialunkan lembut tetapi isinya kuat mendorong dan membangkitkan ragam emosi; dengan judul puitis : Daun-daun di Jalan Menuju Altar. 

Ayu ingin berbicara mengenai emosi, tidak (hanya) secara teoritis tetapi (lebih dari segi) praktis. Tidak heran jika ia menawarkan semacam solusi untuk emosi-emosi (negatif) yang sangat mungkin dialami setiap orang; agar dapat menghadapinya secara positif. Permainan dua kutub, seperti lembut dan kuat, tersesat tetapi justru mendekati tujuan, kesunyian yang ramai, dan kutub-kutub lainnya dapat kita temui dalam buku ini. 

Permainan kutub yang Ayu lakukan menyerupai konsep themata Gerald Holton. Kadang tidak harus dalam bentuk kutub, tetapi dua karakter berbeda yang melengkapi, yang tumpang tindih, atau yang satu berada dalam yang lain tetapi yang lain ini tidak dapat kita temukan pada yang satu itu. Salah satunya yang paling menarik buat saya adalah mengenai kebahagiaan dan kedamaian. 

Menurut Ayu, mendoakan seseorang untuk selalu bahagia memang mengesankan. Tetapi sebenarnya kita tidak dapat selalu bahagia karena emosi manusia itu berwarna-warni. Oleh sebab itu, ide “selalu bahagia” dalam pandangan Ayu menawarkan kepalsuan dalam menjalani hidup.

Dalam bagian akhir buku Agnosthesia, Ayu menegaskan bahwa ia tidak menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup. Ia memilih kedamaian. Sebab dalam kedamaian ada kebahagiaan, tetapi kebahagiaan tidak (selalu) membawa kedamaian. “Ketika damai menyelimuti diri, kebahagiaan ada di sana, kelegaan ada di sana, dan rasa sakit pun ada di sana. Emosi-emosi itu ada tanpa harus saling berperang melawan satu sama lain.” (p. 161).

Jiwa kiranya menjadi tempat pertemuan emosi-emosi yang mungkin berkonflik tanpa harus menimbulkan konflik, bahwa bahagia dan tidak bahagia berpadu sebagaimana hidup manusia penuh ambiguitas. Hanya dengan mengenali dan mengakui ambiguitas, manusia terhindar dari la mauvaise foi (bad faith), demikian Simone de Beauvoir mengangkat ambiguitas sebagai etika filsafat eksistensialisme.

Selanjutnya dapat dibaca di sini.

1 comment on “Kedamaian, Bukan Kebahagiaan

  1. Pingback: Happycratie dan Tirani Kebahagiaan – Psikologi Feminis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: