Feminisme Tokoh

Yang Tak Terpisahkan, Yang Tak Terlupakan

25 November 1929, kematian Zaza. Hanya itu yang tertulis di buku harian Beauvoir pada tanggal itu. 

Yang Tak Terpisahkan (Les Inseparables), demikian Sylvie Le Bon de Beauvoir memberi judul roman yang ditulis Beauvoir pada tahun 1954, tetapi baru diterbitkan Oktober 2020. Sebuah roman mengenai kisah persahabatan Simone de Beauvoir dengan Élisabeth Lacoin alias Zaza. 

Persahabatan yang tak terlupakan. Persahabatan yang mengukuhkan kebencian Simone de Beauvoir pada kemunafikan kelas borjuis. Persahabatan yang telah mendasari tulisan Beauvoir tentang relasi lesbian yang ia bahas dalam puluhan lembar dalam karyanya yang terkenal Le Deuxième sexe (The Second Sex). (Analisis saya mengenai hal ini dapat dibaca dalam Beauvoir Melintas Abad, p. 350-390).  

Buku Beauvoir Melintas Abad sendiri sengaja saya tulis dengan mengacu kepada teks-teks asli, untuk menampilkan kehidupan dan pemikiran Beauvoir yang sebenarnya. Saya katakan yang “sebenarnya” karena apa yang kita kenal tentang Beauvoir (sebagaimana tentang feminisme -di- Prancis secara umum) banyak dipengaruhi oleh interpretasi penulis-penulis Amerika Serikat terhadap Beauvoir (dan feminisme di Prancis); yang tidak selalu menggambarkan realita yang sesungguhnya. 

Salah satu teks asli yang saya jadikan acuan adalah buku Les Inseparables ini. Simone de Beauvoir selalu mengharapkan dapat menemukan kembali persahabatan yang pernah ia alami dengan Zaza. Sepertinya dalam diri Sylvie, ia merasakan keintiman, keakraban yang sama dengan yang ia rasakan bersama Zaza. Tidak heran jika Sylvie mendapatkan kepercayaan untuk mewarisi karya-karyanya. 

Les Inseparables merupakan salah satu upaya Beauvoir untuk membangkitkan Zaza dalam karya-karyanya. Kematian Zaza begitu mendadak dan terjadi bersamaan dengan kehadiran Jean-Paul Sartre dalam hidup Beauvoir. Seperti yang dapat kita baca dalam buku hariannya Cahiers de jeunesse (2008), Beauvoir tengah dimabuk asmara saat Zaza bergelut dengan takdirnya sebagai gadis borjuis yang harus menikah sementara laki-laki yang ia cintai, Maurice Merleau-Ponty, belum siap membangun rumah tangga. 

Kematian dan cinta yang menimbulkan emosi berlawanan ini membuat Beauvoir tidak bisa benar-benar berduka secara “normal”. Baru sekitar Mei 1931 saat hubungannya dengan Sartre sudah memasuki fase tenang, ia mulai mengkaji perasaannya terkait kematian Zaza: dari keterkejutannya mendapatkan kabar kematian Zaza sampai kesedihannya atas kehilangan sahabat, dari penyesalannya sebab saat itu kurang memperhatikan persoalan yang Zaza hadapi sampai kemarahannya karena tidak berdaya membantu Zaza, terutama kemarahannya terhadap keluarga Zaza dan Merleau-Ponty.

Beauvoir mulai mereka beragam skenario untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ia membuat daftar yang seharusnya ia lakukan untuk membantu Zaza saat itu, dosa dan kejahatan yang dilakukan keluarga Zaza. Ia ingin membuat biografi tentang Zaza. Dalam upaya membantu dirinya sendiri memahami peristiwa-peristiwa dalam hidupnya, ia mengubah biografi ini ke bentuk fiksi. Beauvoir berusaha membangkitkan Zaza sebanyak enam kali dalam roman. Les Inseparables adalah yang paling mendekati kisah nyata Zaza. 

Namun untuk dapat memahami intensitas pengalaman Zaza, pembaca harus mengenal Zaza dari masa kanak-kanak, demikian Beauvoir meyakini. Ia pun beralih dari fiksi ke autobiografi untuk menampilkan kisah Zaza dalam kebenaran seutuhnya. Dalam autobiografi yang ia terbitkan pada tahun 1958, Mémoires d’une jeune fille rangée, Zaza mendapat tempat yang sangat besar. Ia tak terpisahkan dan tak terlupakan. 

Dalam kebenaran biografis inilah Beauvoir mampu memunculkan akumulasi pengalaman yang kembali membangkitkan sekaligus memperkaya kenangannya tentang Zaza. Autobiografi ini tidak ditutup dengan Sartre, yang menjadi kehidupan baru Beauvoir, melainkan kematian Zaza. 

Inilah dua kalimat penutup dalam Mémoires d’une jeune fille rangée, “Zaza sering mendatangi saya di malam hari, wajahnya kuning di balik topi merah jambu, dan ia menatap dengan tatapan tidak senang. Bersama kami berjuang melawan takdir kotor dan berlumpur yang menanti kami, dan lama saya berpikir, saya telah membeli kebebasan saya dengan kematiannya (p. 296).” 

Kelak, penutup ini tidak hanya dipahami sebagai sebentuk perasaan bersalah Beauvoir terhadap Zaza, tetapi juga bahwa Zaza yang membuatnya jadi feminis. Buku Les Inseparables sendiri “diiklankan” sebagai berikut : Tentang persahabatan yang (konon) penuh gairah dengan Elisabeth Lacoin,  “cinta pertama”nya yang kelak mengantarkannya menjadi feminis abadi.

Apakah benar demikian? 

Selengkapnya mengenai persahabatan Simone de Beauvoir, Zaza, dan juga Merleau-Ponty dapat dibaca dalam buku Beauvoir Melintas Abad (2021). Merleau-Ponty dan Beauvoir menjalin hubungan persahabatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, demikian mengutip kalimat Merleau-Ponty sendiri dalam salah satu suratnya kepada Beauvoir.

Kabar terakhir dari Sylvie Le Bon de Beauvoir adalah bahwa buku Les Inseparables akan diterbitkan juga dalam bahasa Jepang. Beliau berharap buku ini dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara resmi, maksudnya dengan tidak mengabaikan aturan mengenai hak cipta.  

Dalam perjumpaan saya dengan Sylvie Le Bon de Beauvoir di Paris bulan lalu, beliau memberikan kepada saya buku Les Inseparables dengan dedikasi spesial. Sepertinya buku ini sendiri menjadi salah satu buku kesayangannya. Mungkin karena mengingatkannya pada persahabatannya dengan Simone de Beauvoir. 

Hmm yang pasti, pertemuan saya dengan Sylvie Le Bon juga menjadi satu momen yang tak terlupakan 🥰

Sayangnya Sylvie tidak mengizinkan saya ber-narsis ria untuk memasang foto kami di sini. Tapi foto tulisan tangannya boleh yaaaa 😁

0 comments on “Yang Tak Terpisahkan, Yang Tak Terlupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: