Anak

Dan Éloïsa pun loncat kelas…

Jika nama putri pertama saya (Louve) bermakna serigala betina, baru setelah kelahiran Éloïsa, putri kedua saya, tumbuh keberanian dalam diri ibu mereka ini untuk menjadi ibu serigala yang melindungi anak-anaknya. 

Pemberontakan saya dimulai sebagai bentuk reaksi terhadap mereka yang membanding-bandingkan kedua putri saya. 

Tidak mudah menjadi anak kedua, dengan perbedaan usia yang tidak terlalu besar, apalagi jika sama jenis kelaminnya. Tambahan lagi, orang-orang bilang si kakak cantik dan pintar, serta mirip mamanya (ehm ehm). Pada anak, kalimat mirip orang tua terdengar sangat menyenangkan. Terutama pada anak perempuan, kalimat mirip ibu memang menjadi pujian tersendiri. 

Saya masih ingat ketika Éloïsa putri kedua saya baru lahir, bukan ia yang menjadi pusat perhatian, tetapi Louve kakaknya. Padahal biasanya bayi mungil akan menarik perhatian. Louve saat itu memang sedang lucu-lucunya, sangat menggemaskan. 

Beberapa bulan kemudian, Louve semakin menunjukkan kecerdasannya. Éloïsa pun semakin terabaikan, seperti hampir tak terlihat. Hal ini khususnya terjadi dalam keluarga besar, karena keluarga lebih leluasa untuk mengungkapkan apa yang ada di benak mereka. (Louve adalah cucu pertama perempuan dalam keluarga dari pihak ayah. Dari pihak keluarga saya sendiri, karena sudah lama menanti cucu dari saya, Louve menjadi pusat perhatian). 

Ketika Éloïsa sudah mulai bisa bicara dan berjalan, perbandingan terhadap keduanya pun semakin gencar dan terlihat jelas.. Bahwa Louve lebih cepat daya tangkapnya, bahwa Louve lebih feminin dan Éloïsa tampak kelaki-lakian, bahwa Louve begini dan begitu. 

Marahlah saya ibunya, pemberontakan saya dimulai. Stop membandingkan kedua putri saya, saya menggeram, antara marah dan kecewa. Kecewa dengan kenaifan saya sendiri; saya sempat mengalami efek “orang asing dari negara yang pernah jadi jajahan”; yang meyakini orang Barat khususnya dari negara tempat kediamannya saat ini lebih maju cara berpikirnya. Waktu itu saya mengira orang Prancis yang berpendidikan seharusnya paham bahwa membandingkan anak tidak boleh dilakukan. 

Saya sendiri pada dasarnya memang tidak suka membanding-bandingkan (anak ataupun orang dewasa). Sebagai orang yang mempelajari psikologi, saya tahu pasti dampak perbandingan semacam ini pada anak begitu merusak. Saya sudah lihat termasuk dari orang-orang terdekat, dampaknya sangat panjang dalam hidup seseorang. 

Pengalaman terkait dengan kedua putri saya ini semakin menyadarkan saya untuk peka terhadap sikap, perilaku, dan kata-kata saya sendiri bukan hanya terhadap anak-anak saya tetapi juga terhadap anak-anak orang lain, untuk saya tidak menjadi pelaku kekerasan psikis dengan membanding-bandingkan mereka.

Sejak itu, saya berjuang agar Éloïsa bisa punya kepercayaan pada dirinya sendiri, untuk bangga menjadi dirinya, bukan ingin seperti kakaknya. (Éloïsa saat itu selalu ingin seperti Louve : punya nama Louve, punya rambut lurus seperti Louve, dsb). Semua kalimat orang-orang yang membandingkan mereka saya potong. 

Saya tidak menyangka bahwa menjadi ibu ternyata menumbuhkan keberanian semacam itu kepada saya. Bahwa saya ingin menjadi ibu serigala yang melindungi anak-anaknya. Berani tidak sama dengan agresif. Saya membicarakan konsekuensi perbandingan ini dengan contoh-contoh nyata. 

Kepada Éloïsa sendiri, saya mulai memperkenalkan arti namanya. Berulang kali saya sampaikan arti namanya disertai dengan bukti-bukti bahwa nama ini tepat untuknya. (Silakan lihat prosa di bawah). Saya juga mencoba untuk memahami karakter mereka yang memang berbeda. Sama sekali bukan untuk membandingkan, tetapi untuk menyesuaikan pola pengasuhan.

Jika Louve memang sejak kecil sudah sangat senang membaca, tidak demikian dengan Éloïsa. Tidak mudah awalnya meminta Éloïsa untuk membaca. Ia selalu merasa tidak akan mampu seperti Louve. Ia marah jika saya ingin mengajarinya membaca. Tapi saya paham kemarahannya hanyalah bentuk perlindungan diri. 

Tidak sedikit adik, perempuan ataupun laki-laki, akan segera menempatkan dirinya secara negatif dibandingkan kakaknya, sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri. Semacam kakak membangun lego, adiknya akan merusak. Tidak banyak orangtua paham bahwa ini adalah bentuk pertahanan diri si adik. Orangtua akan terbagi reaksinya antara mereka yang senang melihat kelakuan si adik yang sembrono tapi justru memang tampak lucu, dengan bereaksi marah dan kecewa karena tidak seperti si kakak yang “konstruktif”, si adik ini malah destruktif.

Sedikit demi sedikit, Éloïsa menyadari bahwa ia juga punya kelebihan, yang tidak dimiliki Louve. Bahwa ia bersuara merdu, bahwa ia pandai melucu. Ia kini juga mencintai rambutnya yang sedikit berombak meski untuk itu saya perlu meyakinkannya ratusan kali betapa saya sangat suka rambut bergelombang indah sepertinya. 

Tetapi di sisi lain, saya harus berhati-hati untuk juga tidak membuat Louve merasa tersingkirkan ataupun merasa “kalah” dan malah jadi rendah diri dibandingkan adiknya. Saya juga tidak ingin karena ia kakak, ia harus mengalah pada Éloïsa. Saya ingin sebagai saudara, mereka saling mengasihi. Dan kasih adalah sesuatu yang alami, bukan kewajiban. 

Saya menekankan kelebihan mereka masing-masing, juga menekankan betapa saya mencintai mereka dengan cinta yang sama besar, sama luas, sama dalam. Terkadang Éloïsa masih tergelitik untuk bertanya, “Jadi kalau Mama harus memilih, Mama lebih suka gambar siapa, gambarku atau gambar Louve?” Ah, Éloïsa, seandainya kamu tahu ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab seorang ibu.. 

Tahun ajaran baru ini, Éloïsa loncat kelas. Ia sangat bangga. Kini ia sadar bahwa ia adalah pribadi yang unik. Ia Éloïsa Saraswati Hypatia. Ia bukan Louve. Ia adalah dirinya sendiri. Dan Louve? Syukurlah putri saya ini tidak cemburu kepada adiknya. Ia sudah sangat bangga menjadi serigala betina cilik yang namanya telah dijadikan judul buku pertama Mamanya ^.^ (Louve berarti serigala betina dalam bahasa Prancis; buku saya berjudul Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan). 

Bahwa Éloïsa “loncat kelas” tidak pernah menjadi tujuan saya. Saya berhati-hati untuk tidak menjadikan anak sebagai instrumen perwujudan ambisi orangtua. Syukurlah sekolah di Prancis juga memungkinkan anak-anak tetap menjadi anak-anak. Sekolah di sini (setidaknya sekolah anak-anak saya) cenderung “santai” jika dibandingkan dengan yang dulu saya kenal di Jakarta.

Santai dalam arti tidak ada tuntutan dari guru ataupun orangtua untuk pencapaian nilai yang bagus dsb. Objektifnya dalah pengetahuan dan kompetensi, bukan nilai atau prestasi. Sekolah ingin menjadi tempat belajar tapi juga bermain bagi murid-murid.

Tetapi bahwa pencapaian ini turut menyumbang pada peningkatan harga diri Éloïsa menjadi hal yang sangat saya syukuri. 

Di bawah ini sebuah prosa yang saya tulis untuknya. Saya perhatikan, prosa yang saya buat untuk kedua putri saya berbeda gayanya, mengikuti kepribadian mereka.

Masing-masing anak memang unik, tetapi apapun dan bagaimanapun perbedaan di antara mereka,sebagai ibu, sebagai orangtua, saya ingin dan akan selalu berusaha untuk mencintai dan menunjukkan cinta yang tak bersyarat kepada kedua putri saya. 

Éloïsa, kau pejuang perang yang berkelana, bicara dua tiga empat bahasa

Kau Saraswati, dewi pengetahuan dan seni, kau bernyanyi, memetik kecapi

Kau Hypatia, filsuf jelita, astronom, dan ahli matematika

Tapi yang terutama, engkau Éloïsa, putriku yang kucinta dengan segenap jiwa

Kau yang kuciumi dari sejak matamu mengerjap menatap ibunda

yang menangis bahagia, geli tersenyum melihat belang rambutmu antara hitam dan jingga

Kini ia memerah dengan kuning indah, dengan ombak-ombak mempesona

Kulitmu halus, begitu bening tanpa noda,

Menggoda ibumu tuk tak henti membelainya

Kau montok menggemaskan, dengan hidung mungilmu terjepit di antara pipi-pipi bakpau

Membuat bunda tak mampu menahan mencuwil cuwil menggigit lembut pipimu lenganmu

Kau begitu tenang, tak pernah gelisah, ku bawa kau kemana mana, yakin kau tak kan membuat ulah

Setiap pagi, kau mainkan irama nada terindah, mengetuk ngetuk buaian mungil dengan buaya dan sang gajah

Malam menjelang, kau hujaniku dengan pelukan dan ciuman

Éloïsa sayang Mama.. 

Enam tahun sudah, kau keluar dari perut Mama, seperti un gros quoi

Hanya kita yang tahu jawabnya, rahasia kamu dan Mama, mari kita tertawa hahahaha

Kini kau begitu pandai membaca

Tak perlu lagi Mama tuk membantumu mengeja

Wajahmu bersinar-sinar seperti rembulan benderang 

Kau begitu gembira, bangga, dan bahagia

Menjelaskan pada Mama tentang planet dan ruang angkasa

Mengarang cerita karena kau ingin seperti Simone de Beauvoir idola kita

Cuma satu yang Mama pinta,

Jangan galak-galak pada Louve, yang sangat mengasihimu

Yang selalu kau cari dan mencarimu meski baru semenit kalian berpisah

Jangan pernah cemburu, karena pertama atau kedua, 

Kalian dua-dua sungguh kucinta 

Jadi, jawab Mama, What’s your name?  

What’s your name, Mama? La Reine Bobo atau Le Roi Hihihaha?

How are you Éloïsa? Apa kabar Mama?

Mama sayang Éloïsa, selamanya,

Oui, pour toujours, Éloïsa 

Selamat ulang tahun, putriku Éloïsa 

4 comments on “Dan Éloïsa pun loncat kelas…

  1. Akur sekali. Banyak kelebihan (hal luar biasa) yang sering kita sepelekan dalam keseharian. Misalnya, tidak semua orang bisa melucu, atau apalagi punya suara merdu. 🙂 Selamat menjadi ‘serigala penjaga’. 🍸

    Like

  2. Kayaknya ini yang dirasain adikku deh, Mba. Dari kecil dibanding-bandingin sama aku yg selalu ranking 1 (cailah), tapi makin dewasa, dia dikasi tanggung jawab lebih besar. jadi guru, jadi pendidik, dia lebih bisa ngemong anak-anak. Jadi memang dia lebih dewasa secara kepribadian ketimbang aku. hahaha..

    Like

    • Huaah tante Dwi ranking satu terus ya🥰 Tapi syukurlah ya dek,adikmu mengembangkan kelebihannya dan menjadi dirinya sendiri💜. Yang kuperhatikan juga memang sebagian anak korban perbandingan akan menjadi lebih peka dan sensitif terhadap perasaan orang lain karena ia sendiri ada di posisi yang tidak menyenangkan, dan ketika ia mampu mengolah “camukan” perasaan ini, ia menjadi pribadi yang matang 💜

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: