Feminisme Perempuan & Gender

Dilema Emak: The Raw Truth of Women’s Life Story

Saya tumbuh besar dalam pengasuhan nenek yang biasa dipanggil Emak. Melalui Emak inilah saya mendapatkan pembelajaran dan penanaman nilai-nilai tentang kehidupan. Dalam hidupnya, Emak mengalami yang saya sebutkan di sini sebagai dilema Emak. 

Dilema Emak spesifik mewakili penanaman nilai-nilai keperempuanan atau bagaimana menjadi perempuan dalam tatanan masyarakat Timur. Dilema Emak ini bersumber dari pengalaman kehidupan Emak sebagai perempuan yang terbentuk dengan pembatasan gerak gerik perempuan pada zamannya.

Emak adalah keturunan Tionghoa yang lahir sekitar tahun 1929 (tidak diketahui pasti tanggal kelahirannya). Budaya Tionghoa sendiri menganut sistem patriarki yang sangat kental, sampai ada istilah cucu dalam dan cucu luar yang mengindikasikan garis keturunannya dari pihak anak laki-laki atau anak perempuan.

Emak pun terjebak dalam sistem budaya ini yang mewajibkannya untuk mendedikasikan diri pada keluarga. Padahal Emak memiliki ambisi dan kepintaran untuk mencoba beragam hal yang menjadi privilese kaum lelaki. 

Alhasil, narasi yang ditanamkan Emak ke dalam diri saya adalah dilema yang Emak alami sebagai  Good Mother-Wife versus Independent Woman. Di satu sisi, perempuan harus sekolah setinggi-tingginya dan memiliki kemampuan untuk memegang uang sendiri. Di sisi lain, Emak tetap mengajarkan cara mengurus rumah tangga dan melayani anggota keluarga (terutama kaum lelaki), yang merupakan fokus utama dan kewajiban seorang perempuan dalam keluarganya.

Dilema Emak ini juga yang saya lihat mewarnai seluruh cerita perempuan dalam buku Flux: Women on Sex, Work, Kids, Love and Life in a Half-Changed World yang ditulis Peggy Orenstein. Buku ini menarasikan kisah perempuan yang dibagi menjadi tiga rentang usia, yaitu 20an, 30an dan 40an.

Peggy melakukan wawancara pada beberapa perempuan yang tergabung dalam kelompok usia tersebut. Setiap kelompok usia memiliki pertanyaan khas tersendiri yang berkaitan dengan menjadi perempuan.

Eksplorasi yang dilakukan Peggy untuk para perempuan dalam kelompok usia 20an berkaitan dengan imaji mereka tentang karir, hubungan percintaan dan pernikahan. Ia juga menyelidiki nilai yang mereka dapatkan dari ibu mereka serta bagaimana pandangan mereka tentang kehidupan ibu mereka. 

Memasuki kelompok usia 30an, pertanyaan berfokus pada keputusan untuk menikah dan memiliki anak dan kehidupan berkeluarga. Peggy juga menggali imaji para perempuan tentang pembagian peran suami-istri, ibu-ayah dalam keluarga dan kenyataan yang dijalani sehari-hari.

Pada kelompok usia terakhir, yaitu para perempuan di usia 40an, Peggy mengajukan beberapa pertanyaan reflektif dan evaluasi, seperti apa yang mereka harapkan mereka ketahui 10 atau 20 tahun yang lalu, dan lesson learned yang dapat membantu para perempuan membuat pilihan dalam hidup mereka. 

Kisah perempuan dalam rentang usia 20an menggambarkan bayangan ideal tentang bagaimana mereka mampu menyeimbangkan antara karir dengan kehidupan pernikahan. Mereka bercerita tentang aspirasi feminis yang didapatkan dari ibu mereka, keyakinan untuk bisa meraih posisi tertinggi dari karir yang mereka bangun serta mengikuti jejak role model perempuan yang menurut para perempuan ini telah mencapai hal tersebut.

Namun, mereka juga masih terjebak dalam imaji tentang hubungan percintaan, bahwa kaum perempuan adalah pihak yang harus lebih memahami para lelaki serta melakukan kompromi agar hubungan percintaan tetap dapat bertahan. 

Memasuki kisah para perempuan yang berusia 30an, narasi banyak menceritakan tentang kenyataan bahwa mereka masih terjebak dalam peran tradisional berdasarkan gender dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Hal tersebut terutama didukung kenyataan bahwa karier suami mereka lebih menjanjikan kestabilan pemasukan keuangan dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan pemasukan karier para perempuan ini. 

Yang menarik lainnya adalah membaca kisah para perempuan yang memutuskan untuk tetap melajang ataupun kisah perempuan yang meski menikah tidak ingin memiliki keturunan. Pembaca dapat memahami alasan yang membuat mereka membuat keputusan tersebut, termasuk kisah hidup Peggy sendiri yang diceritakan sebagai bagian dari kelompok perempuan tersebut. 

Para perempuan pada usia 40an menceritakan pencarian kembali tentang apa yang selanjutnya ingin mereka lakukan dalam hidupnya. Mereka tidak lagi merasa berambisi untuk mencapai hal tertentu atau juga terobsesi untuk bisa memiliki kontrol. Mereka ingin mendefinisikan kembali tujuan hidup mereka, mencari makna baru dalam kehidupan selepas mengurusi anak yang telah beranjak dewasa. Para perempuan yang memutuskan untuk melajang juga berusaha meneruskan warisan kehidupan pada keponakan ataupun dalam komunitas. 

Buku ini menyajikan raw truth tentang kehidupan para perempuan di dunia nyata, termasuk menceritakan dilema para perempuan terkait pilihan-pilihan yang diambilnya dalam hidup. Pembaca akan disuguhkan pengalaman kehidupan para perempuan, yang diceritakan oleh Peggy seperti tokoh utama dalam sebuah novel.

Peggy mengikuti aktivitas keseharian mereka, mengunjungi rumah dan tempat kerja serta juga melakukan dialog dengan orang-orang terdekat para perempuan tersebut. 

Buku ini memberikan tawaran-tawaran tentang pilihan hidup melalui cerita para perempuan. Cerita dalam buku ini menawarkan ketentraman hati bagi para pembaca perempuan. Mereka bukanlah satu-satunya perempuan yang mengambil pilihan hidup tertentu, mereka juga tidak sendirian dalam menjalani kehidupan sebagai perempuan yang penuh dilema.

Selain itu, cerita perempuan dalam beragam rentang usia juga menunjukkan bahwa kehidupan perempuan tidaklah harus berjalan di tempat (stagnant). Mereka dapat mengubah pilihan, membuat pilihan yang berbeda dan yang terutama memiliki ragam pilihan-pilihan yang dapat mereka ambil. 

Hal yang menarik bagi saya ketika membaca buku ini adalah narasi perempuan yang diceritakan sebagai pengambil keputusan dalam pilihan yang mereka ambil. Mereka menyadari dan bertanggung jawab penuh terhadap pilihan yang mereka buat, meski mereka tidak selalu merasa bahagia ataupun bahwa pilihan tersebut adalah tepat.

Peggy menarasikan hal tersebut seperti menggambarkan aliran eksistensialis yang menyadari tanggung jawabnya untuk membuat pilihan dalam kehidupan. Para perempuan diceritakan tidak terjebak dalam sistem atau kuasa di luar dirinya dalam mengambil pilihan tersebut. 

Para pembaca perlu menyadari adanya interseksional dalam cerita yang ditawarkan oleh Peggy. Ia sendiri mengakui bahwa sebagian besar perempuan dalam cerita ini adalah perempuan urban, memiliki karir dengan penghasilan yang mencukupi, serta latar belakang pendidikan yang tinggi.

Tidak semua tokoh merupakan perempuan berkulit putih; beberapa kali Peggy juga mengangkat kisah perempuan African-American dan Asian-American. Meski demikian, dilema yang dialami oleh para perempuan dalam cerita ini tidak jauh berbeda dengan dilema Emak. 

Dengan gambaran interseksional seperti yang telah disebutkan di atas, tidak mengherankan bila para perempuan tersebut diceritakan mampu membuat pilihan secara bebas dan tidak terikat dengan sistem. Dalam hal ini, pendidikan tinggi dapat menjadi privilese bagi para perempuan dalam cerita tersebut. 

Lalu, bagaimana dengan para perempuan yang tidak memiliki privilese ini? Apakah kisah mereka akan serupa atau justru jauh berbeda? What are their raw truth? Sayangnya, saya belum berkesempatan membaca kisah mereka dalam narasi buku seperti buku ini. 

Kesan personal saya membaca buku ini adalah bahwa buku ini membuat perempuan tidak merasa sendiri. Ada banyak perempuan yang mengalami hal serupa di belahan dunia lain. Konflik dan dinamika internalnya pun serupa. 

Di satu sisi, kalau melihat ini dari perspektif gerakan feminis, tidak ada perubahan yg signifikan terhadap struktur yg membuat gender inequality. Namun, di sisi lain, terutama dari sisi feminisme interseksional dan posmodern, narasi-narasi kecil seperti ini memberikan rasa solidaritas yg juga bagian dari gerakan feminis.

Saya selalu menyukai bacaan atau hasil temuan yang menarasikan cerita tentang perempuan. Bagi saya, narasi semacam ini powerful tapi juga humanis. Saya suka dengan gerakan feminis seperti ini, menyuarakan/menceritakan arti menjadi perempuan. Bagi saya di titik inilah ada empowerment nya, tanpa perlu dianalisis atau dilabeli apa atau bagian mana yang mengalami represi. 

Catatan editor : Buku  Flux: Women on Sex, Work, Kids, Love and Life in a Half-Changed World terbit pertama kali pada tahun 1996. Saat ini kita sudah hampir memasuki akhir tahun 2021. Ternyata apa yang Peggy Orenstein tulis sebagaimana disampaikan Olivia dalam ulasannya ini masih sangat relevan.

Ilustrasi : https://www.julienhamelin.com/

Tentang penulis :

Olivia Hadiwirawan

@poohaddict

☕ A coffee addict
💧 A clumsy person
🐶 A dog lover
📖 A curious reader
And the one who embracing life as it is 🍁🌻❄🌿
@poohlogy: coffee & books

oliphs.blogspot.com

0 comments on “Dilema Emak: The Raw Truth of Women’s Life Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: