Anak Feminisme Perempuan & Gender

Pink is just a color

Sedari kecil, saya sering merasa kurang nyaman dengan aturan yang diberikan oleh orang-orang sekitar saya tentang bagaimana seorang anak perempuan seharusnya. Saya ingat ketika sering ditegur oleh tante-tante saya karena saya senang duduk sambil mengangkat kaki, mereka bilang, “Anak perempuan duduknya harus yang sopan”. 

Ketika anak-anak seusia saya senang bermain dengan boneka Barbie, saya bermain dengan Barbie, mobil-mobilan, dan robot-robotan. Ketika remaja perempuan lainnya menyukai film Candy-candy, saya lebih memilih film Transformer. Ketika menjelang kuliah, saya lebih tertarik belajar menjadi montir mobil daripada belajar memasak. Dan warna kesukaan saya adalah biru (Yesss!!)

Saya seringkali merasa bahwa saya adalah seorang perempuan yang “aneh”, karena saya tidak tahu apakah saya suka sesuatu yang sifatnya kelaki-lakian, atau tidak. Karena walaupun ingin menjadi montir, saya tetap lebih nyaman ketika menggunakan rok daripada celana panjang. 

Walaupun suka dengan Transformer, saya lebih suka ketika rambut saya tergerai panjang daripada dipotong pendek ala Demi Moore ☺

Namun, secara perlahan akhirnya saya paham, ternyata sedari lahir kita memang cenderung sudah dikotak-kotakkan sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang dianggap umum oleh masyarakat. 

Pernahkah kita menyadari, bahwa kita cenderung akan memberikan hadiah-hadiah dengan nuansa merah muda untuk anak perempuan, dan nuansa biru muda untuk anak laki-laki? 

Kita akan memilihkan boneka, rumah-rumahan, masak-masakan, sebagai hadiah ulang tahun anak perempuan dan mobil-mobilan, robot-robotan, atau senjata-senjataan sebagai hadiah untuk anak laki-laki. 

Ketika memilih jurusan kuliah, kita akan cenderung menyarankan bidang Administrasi, Psikologi, Desain kepada perempuan dan menyarankan bidang Teknik, Kedokteran, dan Hukum kepada laki-laki.

Bayangkan bagaimana sedari kita lahir hingga seluruh perjalanan hidup kita, kita sering dikotak-kotakkan di dalam kelompok yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita, sehingga tidak jarang kondisi itu membuat kita jadi bertanya-tanya dan meragukan diri kita sendiri. 

Atau bahkan secara tidak sadar kita jadi teryakini bahwa yang benar ya kotak-kotak yang diberikan itu, sehingga kita berusaha sangat keras untuk mewujudkan figur perempuan ideal seperti yang telah ditanamkan sedari kita bayi.

Sejujurnya bertahun-tahun saya sering kali merasa bahwa saya adalah seorang perempuan yang gagal, karena saya tidak bisa menampilkan diri saya sebagai seorang perempuan seperti yang diharapkan oleh masyarakat. 

Hingga akhirnya saya tahu bahwa tidak ada yang salah dengan diri saya, yang salah adalah karena kita terbiasa melihat seorang perempuan dari kotak-kotak yang telah diberikan kepadanya. Dan ketika saya tidak sesuai dengan kotak itu saya merasa menjadi tidak sempurna.

Saat ini saya telah menjadi seorang istri dan ibu dari dua orang anak (Laki-laki dan perempuan). Saya seorang istri yang memilih bekerja di luar rumah karena saya tidak ingin menjadi perempuan yang hanya mengurusi rumah saja. Tetapi kami tetap bisa mengatur urusan domestik dengan berbagi tugas dengan suami dan anak-anak. 

Saya seorang ibu yang tidak selalu hadir untuk menemani anak-anak saya belajar, namun saya tetap menjadi memiliki waktu untuk mendengarkan cerita-cerita mereka. 

Saya kini merasa “sempurna” justru bukan karena saya mengikuti dengan “sempurna” kotak-kotak yang telah diberikan, akan tetapi karena saya mengakui keterbatasan saya, ketidaksempurnaan saya, dan mengizinkan diri saya untuk menjadi seorang istri dan ibu sesuai versi saya.

Saya juga berusaha melepaskan kotak-kotak itu dari anak-anak saya. Sedari kecil saya mengenakan pakaian berwarna merah muda, biru, hijau, dan kuning (pilihan baju bayi ternyata sangat terbatas ya? ☺) kepada mereka. 

Saya izinkan mereka bermain rumah-rumahan, boneka, masak-masakan, mobil-mobilan, atau apapun yang mereka inginkan (kecuali senjata-senjataan, karena saya tidak ingin senjata menjadi hal yang biasa untuk mereka). 

Anak laki-laki saya dulu memilih ikut les menggambar dan ikut kelas teater sedangkan anak perempuan saya lebih memilih les beladiri dan berenang. Saya izinkan mereka mengembangkan diri mereka sesuai dengan minat dan potensi mereka.

Seorang teman pernah bertanya, “Kok mas diizinin main boneka sih? Kayak cewek aja”. Saya menjawabnya, “Suatu saat dia juga akan menjadi ayah kan? Atau menjadi paman? Tidak ada salahnya kan dia tahu bagaimana seharusnya memperlakukan dan merawat bayi?”. 

Atau pernah ada yang komentar. “Adek tomboy ya, sukanya karate”. Saya menanggapi dengan, “Tidak ada salahnya kan perempuan bisa karate? Bagus sebagai salah satu kegiatan olah raga dia, dan akan berguna juga buat dia menjaga dirinya”.

Apapun pilihan warna, kegiatan, film yang kita tonton, atau gaya busana yang kita pilih itu hanya masalah sebuah selera. Itu tidak bisa digunakan sebagai pengukur apakah kita adalah seorang perempuan yang baik atau tidak. Seperti kata anak saya kepada sepupu laki-lakinya yang menolak mentah-mentah gelas berwarna merah muda untuk gelas minum dia, “Dik, pink is just a color, it doesn’t mean anything, you won’t be defined by it.

Ditulis oleh Nirmala Ika, psikolog klinis sekaligus salah satu penggagas Brave Magazine.

Ilustrasi karya Jacob Bunel, berjudul Henri IV en Mars.

@bravemag.id

0 comments on “Pink is just a color

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: