Feminisme

Seorang Ibu Ditampar Karena Menyusui Anak di Muka Umum : Menyusui, Sejarah, dan Kontroversinya di Prancis

Tidak, ini bukan foto untuk merayakan peran ibu. Bukan untuk menyambut hari ibu yang jatuh pada tanggal 30 Mei di Prancis, sambil ibu masih saja diberikan kado-kado seperti setrikaan dan penyedot debu. Tidak, peran ibu bukan untuk dirayakan.

Peran ibu adalah untuk dijalani bagi mereka yang telah memilihnya (atau terpaksa memilihnya karena satu dan lain hal, tapi semoga ke depannya menjadi ibu sungguh akan menjadi pilihan bebas bagi perempuan); dan orang lain hendaknya menghormati pilihan ini.

Foto-foto ini adalah dukungan untuk Maÿlis, ibu muda di Bordeaux (Prancis) yang dicaci maki dan ditampar karena menyusui bayinya di depan umum. Maÿlis sedang mengantre untuk mengambil kiriman barang di sebuah tempat pengiriman dan pengambilan paket.

Nino bayinya berusia 6 bulan, lahir prematur, dan membutuhkan ASI lebih banyak dan lebih sering agar berat badannya segera naik. Maÿlis memutuskan untuk menyusui bayinya yang sudah menangis karena lapar sebelum tiba-tiba seorang perempuan memarahi dan menamparnya dengan keras.

Akibat tamparan ini, Maÿlis yang syok tidak lagi bisa mengeluarkan ASI dan bayinya juga ditemukan sangat tegang terutama pada tengkuknya.

Menyusui di Prancis, Sejarah dan Kontroversi

Menyusui memang merupakan topik kontroversial bagi masyarakat Prancis. Hal ini terkait dengan sejarah perjuangan feminis di negara ini. Kelompok feminis gelombang kedua pada tahun 1970-an menyerukan agar kepada perempuan tidak lagi dilekatkan peran ibu. Perempuan diharapkan dapat mengambil alih kepemilikan atas tubuhnya. Pilihan diserahkan kepada perempuan untuk menikah jika mau, menjadi ibu jika ingin, namun hendaknya kebebasannya sebagai individu tidak diambil dengan menjadi ibu.

Memberikan ASI atau susu formula kepada bayi dengan botol susu dianggap sebagai solusi terbaik untuk mengurangi beban perempuan (ibu) sekaligus melibatkan ayah dalam pengasuhan. Dengan adanya botol susu, tidak perlu lagi harus ibu yang terbangun di malam hari. (Jika ibu tetap memilih untuk memberikan ASI, ibu dapat memerah susu, namun banyak perempuan di Prancis lebih memilih susu formula). Bayi tidak selalu memerlukan ibu bila lapar atau haus. Ayah pun dapat berperan, dapat menjalin relasi dan ikatan dengan bayinya dari sejak dini.

Dengan tidak lagi menyusui, ibu juga dapat bekerja di luar rumah dengan tenang, dan dapat menitipkan bayinya di tempat penitipan anak dari sejak cuti melahirkan berakhir. Karena untuk mengambil alih atas tubuh dan diri, perempuan harus punya kemandirian finansial. Dengan tidak lagi bergantung secara ekonomi kepada suami, jalan kebebasan diyakini akan terbuka bagi tiap perempuan. Laki-laki Prancis sendiri kini sudah tidak bisa melihat perempuan menjadi ibu rumah tangga. Menanggung biaya hidup keluarga sendirian bukan lagi menjadi peran yang diharapkan laki-laki Prancis.

Pemberian susu formula juga dianggap solusi efektif bagi sejumlah pasangan. Sebagian perempuan khawatir payudaranya tidak kencang lagi. Sebagian lagi merasa kehilangan femininitasnya dengan menyusui, merasa tidak lagi menjadi perempuan. Payudara yang membengkak, air susu yang menetes membasahi pakaian, dsb., semua ini dirasakan mengganggu oleh sebagian perempuan. Mereka merasa tidak lagi punya daya pikat karena menganggap penampilan mereka sudah tidak karu-karuan.

Sebagian suami juga tidak bisa melihat istrinya menyusui bayi, yang mengingatkan mereka pada fungsi hewan. Mereka tidak bisa lagi menemukan istrinya menggoda secara seksual. Pemberian susu formula lagi-lagi menjadi solusi ideal bagi para pasangan ini.

Kampanye ASI dari Unicef dan Pengembalian Peran Tradisional Perempuan

Pada tahun 2000-an, Unicef mulai aktif melakukan kampanye mengumandangkan bahwa air susu ibu (ASI) adalah yang terbaik dan esensial. Bila ASI dinyatakan yang terbaik, berarti susu industri tidak sebaik ASI. Ibu mana (secara umum) yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya? Orang tua mana yang tidak ingin punya anak sehat dan pintar, sebagaimana yang dijanjikan Unicef pada ibu yang menyusui?

“ASI adalah esensial untuk memberikan awal terbaik dalam hidup anak. ASI merangsang kesehatan anak, kecerdasannya, performa akademisnya, dan bahkan penghasilannya saat dewasa. ASI adalah vaksinasi pertama bayi, merangsang perkembangan otak bayi dan melindungi kesehatan ibu”. Demikian bunyi kampanye Unicef.

Para dokter anak dan bidan tentu mendukung Unicef karena memang manfaat ASI toh tidak dapat diragukan. Dengan semangat, mereka menyarankan para ibu yang baru melahirkan untuk menyusui. Siapa yang tidak percaya apa kata dokter dan bidan, yang keduanya memang profesional? Apalagi jika mereka berhasil meyakinkan perempuan bahwa bentuk payudara tidak akan berubah jika ibu paham teknik menyusui.

Kelompok feminis universalis yang diwakili filsuf Elisabeth Badinter meradang. Kampanye Unicef sama saja dengan mengembalikan perempuan pada peran tradisional. Tentu ASI memang diperlukan, tetapi bukankah dengan teknologi zaman sekarang, kita bisa menghasilkan susu formula yang sangat berkualitas, bahkan yang mengandung zat-zat lain yang dibutuhkan bayi tetapi tidak ditemukan dalam kandungan ASI? Jika perempuan kembali “diwajibkan” menyusui, bagaimana ia bisa kembali ke dunia kerja dengan cepat?

Lebih dari 1000 perempuan pun menandatangani petisi untuk menolak kampanye Unicef. Petisi ini dipublikasikan dalam harian besar Liberation. Namun Unicef telah berhasil membangkitkan perasaan bersalah perempuan. Kampanye Unicef dengan efektif telah menempatkan perempuan Prancis kembali dalam dilema antara ASI dan susu botol.

Berkembangnya gerakan ekologis mendukung kampanye Unicef. Kelompok ibu pecinta lingkungan tentu percaya bahwa botol susu sangat tidak ekologis dan bahkan mengandung zat kimia yang berbahaya bagi bayi. Mereka memilih untuk menyusui. Krisis ekonomi yang melanda Prancis juga mendukung kembalinya gerakan menyusui. Asosiasi pendukung ibu menyusui, Leche League France, mencatat jumlah perempuan Prancis yang menyusui meningkat dari 45% pada tahun 1995 menjadi sekitar 70 % pada tahun 2019.

Kapan Hidup Perempuan Akan Bebas Dari Tuntutan dan Aturan?

Praktik pembangkitan rasa bersalah khususnya dari sesama perempuan terhadap ibu yang baru melahirkan agar si ibu mau menyusui anaknya semakin banyak saya saksikan di sekitar saya. Namun demikian, ketika perempuan menyusui, tidak lantas sudah bisa tenang. Masyarakat memang selalu mengatur dan memaksakan aturan-aturan dalam hidup perempuan.

Namun kini, tuntutan terhadap perempuan Prancis telah berubah. Perempuan boleh memilih antara menyusui atau tidak, tetapi sangat disarankan untuk menyusui jika ingin memberi yang terbaik bagi anak. Di sisi lain, ide gelombang feminis kedua bahwa menyusui tidak hanya dianggap sebagai pelekatan perempuan pada peran ibu tetapi juga merupakan perbudakan perempuan masih belum hilang dari ingatan para perempuan generasi 1968 (yang kini menjadi ibu atau nenek dari para ibu muda ini).

Akhirnya tuntutan di atas pun dilanjutkan dengan tuntutan lain : Perempuan sungguh sangat disarankan untuk menyusui, untuk memberikan yang terbaik untuk anak, tetapi juga jangan menjadi budak anak dengan menyusui tiap kali anak menuntut (lapar, haus, menangis). Jadi perempuan Prancis disarankan (jika tidak dipaksakan) untuk menjadwalkan aktivitas menyusui 4 jam sekali.

Bagi masyarakat (yang cenderung tidak feminis, karena kelompok feminis dalam masyarakat patriarkis masih menjadi minoritas), pengaturan jadwal menyusui ini tidak mereka kaitkan dengan perbudakan perempuan. Mereka lebih menyorot persoalan disiplin anak. Bahwa dengan penjadwalan ini, ibu sebenarnya sedang mendisiplinkan anak, dan ini sangat baik agar anak tidak akan menjadi manja dan penuntut.

Lagipula mereka meyakini pandangan psikologi (yang akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Prancis) bahwa ibu dan anak dapat mengembangkan relasi patologis bila terlalu akrab. Kedekatan berlebihan antara ibu dan anak juga akan menghasilkan ikatan (attachment) yang bersifat insecure, dan ini berbahaya bagi kepribadian si anak.

Jika kita perhatikan di sini, ketika ide pembebasan perempuan oleh kelompok feminis gelombang kedua disebarkan dalam masyarakat patriarkis, ide ini berkembang menjadi tuntutan atas perempuan. Dalam hal ini penting untuk memahami teori representasi sosial dari bapak psikolog sosial Serge Moscovici.

Menurut beliau, pengetahuan dari pakar (savoir expert, pakar dalam hal ini adalah feminis) tidak selalu diterima masyarakat secara sama seperti yang dimaksudkan kelompok feminis. Masyarakat akan mengembangkan pengetahuannya sendiri, yang disebut Moscovici sebagai pengetahuan awam (savoir profane). Oleh karena itulah kelompok feminis sendiri memandang penting untuk terus mengkaji ulang pengetahuan-pengetahuan mereka.

Belakangan ini, sepertinya kepada perempuan menyusui ditambahkan lagi satu tuntutan: jangan melakukannya di depan umum. Menyusui di depan publik sama saja mempertontonkan payudara, anggota tubuh perempuan yang punya nilai seksual tinggi. Dan ini tidak baik, memalukan, mengumbar aurat, mengundang birahi laki-laki.

Kira-kira begitulah yang ingin disampaikan masyarakat Prancis yang dengan yakin mengaku sudah mengadopsi nilai-nilai kesetaraan tapi tidak menyadari bahwa mereka masih di bawah kekuasaan patriarkal.

Perlu diketahui bahwa Maÿlis ditampar oleh perempuan. Tidak ada yang membela Maÿlis. Yang ada justru perempuan lain yang jauh lebih tua mendukung perempuan yang menampar Maÿlis. Sepertinya payudara perempuan mengundang kebencian dari sesama perempuan. Mengapa demikian? Saya akan membahasnya dalam tulisan selanjutnya.

  

0 comments on “Seorang Ibu Ditampar Karena Menyusui Anak di Muka Umum : Menyusui, Sejarah, dan Kontroversinya di Prancis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: