Feminisme Perempuan & Gender

Mengapa Perlu Melawan Stigma Pelakor?

Ada sejumlah alasan mengapa kita perlu melawan stigma ini.

Mengapa filsuf lebih banyak dari Eropa? Dan mengapa lebih banyak laki-laki daripada perempuan? Karena alih-alih meluangkan waktu untuk berpikir kritis, kita perempuan memilih untuk menjadi pengkritik, memperhatikan penampilan kita dengan membandingkan dengan perempuan lain, memilih untuk bergosip, melihat dan menertawakan ketidakbahagiaan orang lain untuk membuat diri kita bahagia.

Perempuan jadi terhambat proses pertumbuhan dirinya karena sibuk mengurusi hal-hal yang menguras emosi seperti terlibat dalam hubungan-hubungan yang tidak sehat seperti relasi KDRT dan hubungan dengan laki-laki yang sudah menikah.

Kedua, stigma pelakor mereduksi kompleksitas problem perselingkuhan, yang akan membuat penanganan pihak-pihak yang terkait menjadi tidak efektif. Dengan menyalahkan perempuan/orang ketiga, kita tidak akan dapat memahami persoalan perselingkuhan secara utuh.

Perselingkuhan adalah persoalan yang kompleks. Perselingkuhan bukan persoalan hitam putih, moral dan tak bermoral, bahwa pihak-pihak yang melakukan sebagai pihak yang buruk.

Perselingkuhan tidak hanya satu kasus antara laki-laki yang kita juluki hidung belang dengan perempuan kedua yang hanya ingin uang. Perlu diketahui dalam kasus-kasus perselingkuhan, semua kasus ada, tidak hanya ada satu jenis kasus di mana laki-lakinya memang (maaf) brengsek.

Kasus-kasus perselingkuhan bisa terjadi pada pasangan manapun, pada laki-laki yang punya integritas, yang berpikir bahwa ia tidak akan pernah mengkhianati istrinya, dsb. 

Dalam sebagian kasus, perselingkuhan menjadi salah satu bagian dari kekerasan.

Tetapi dalam sebagian kasus, perselingkuhan tidak bisa dipandang dari perspektif kekerasan. Dalam sebagian kasus, ketika kita memandang perselingkuhan dari perspektif KDRT malah akan menghambat penanganan.

Bukan cuma karena korban dan pelaku akan sama-sama melaporkan ke polisi, entah melaporkan pasangan maupun pihak ketiga, dan akhirnya mengacaukan penanganan KDRT. Tetapi juga dari puluhan kasus perselingkuhan yang berdampak pada kekerasan lebih lanjut, ada puluhan kasus lainnya yang justru terbongkarnya perselingkuhan menjadi kesempatan bagi suami istri untuk menjalin hubungan yang lebih sehat, mesra, dan indah.

Perselingkuhan sebagai konflik atau kekerasan? Persoalannya adalah dua hal ini dalam masyarakat kita bercampur aduk. Ini melibatkan paradigma representasi sosial, melibatkan kepercayaan-kepercayaan kita, adat istiadat, nilai-nilai, dsb, yang sudah tertanam kuat sekali. Kita harus peka dan berhati-hati untuk dapat menangani perselingkuhan dengan perspektif yang tepat.

Ketiga, stigma ini tidak menjangkau perempuan-perempuan yang perlu diselamatkan dari hubungan tidak sehat :

a) Perempuan kedua yang “terperangkap” dalam hubungan penuh ilusi akibat kenaifannya ditambah dengan manipulasi afektif, manipulasi perasaan dan emosi yang terjadi dari laki-laki beristri (baik disadari maupun tidak). Perempuan tidak begitu saja “terperangkap”, ada konflik diri yang perlu digali, perempuan-perempuan ini perlu dibantu untuk keluar dari relasi yang menguras emosi ini. Stigma akan membuatnya semakin menarik diri. 

b) Istri yang tidak berani keluar dari relasi perselingkuhan repetitif, yang sudah masuk dalam wilayah kekerasan psikis. 

Keduanya biasanya adalah perempuan-perempuan dengan ketergantungan afektif (dependance affective). Mereka merasa tidak aman, tidak dapat hidup tanpa orang lain (laki-laki), dan terjebak dalam kompleks harga diri rendah (lihat tulisan dalam buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan). 

Bagaimana dengan perempuan yang sadar dan justru ingin menjadi perempuan kedua? Persoalannya memang berbeda tetapi sama-sama dampak dari budaya patriarki, seperti ketergantungan ekonomi, keinginan “menaklukkan” laki-laki, kekejaman terhadap perempuan lain (ada masalah apa dengan figur signifikan perempuan dalam hidupnya)?. Ini semua lagi-lagi adalah dampak dari esensialisasi Perempuan dalam Trinitas peran : Perawan-Ibu-Pelacur. 

Keempat, stigma ini tidak memungkinkan pula untuk menjangkau laki-laki yang terjebak dalam kompleks virilitas, yang adalah penyebab dalam kebanyakan kasus perselingkuhan yang dinamakan sebagai perselingkuhan maskulin. 

Tulisan ini adalah bagian dari Bagaimana Melawan Stigma Pelakor dapat dilihat di website Perempuan Berkisah. 

1 comment on “Mengapa Perlu Melawan Stigma Pelakor?

  1. Pingback: Persaingan Antar Perempuan & Esensialisasi Trinitas Perawan-Ibu-Pelacur – CATATAN ESTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: