Feminisme Perempuan & Gender

Bagaimana Melawan Stigma Pelakor?

Sebelum sampai pada bagian akhir mengenai bagaimana melawan stigma Pelakor (P) ini, saya ingin menguraikan terlebih dahulu reaksi masyarakat terhadap stigma ini.

Dalam masyarakat kita telah terbentuk tiga kelompok sejak stigma P diciptakan dan menjadi populer. Mereka yang mengidentifikasikan diri dengan kelompok istri, menjadi kelompok pendukung istri, dan kemudian menyetujui stigma ini serta turut menggunakan istilah dan melakukan stigmatisasi kepada perempuan yang menjalin hubungan dengan laki-laki beristri.

Kelompok pengguna istilah ini kemudian menimbulkan reaksi dari kelompok yang “objektif”. Kelompok “objektif” paham bahwa stigma ini sama saja membebaskan laki-laki dari tanggung jawabnya, dan lagi-lagi perempuan yang disalahkan. Dengan “gemas”, kelompok ini meminta masyarakat menghentikan penggunaan stigma ini.

Tetapi kelompok pendukung stigma semakin ditentang justru semakin senang melakukan stigmatisasi dan menggunakan istilah ini. Di sini tanpa disadari oleh kelompok yang berusaha “objektif” tadi, telah terjadi yang dinamakan dalam psikologi sosial sebagai polarisasi kelompok. Pendapat yang ekstrim dari masing-masing kelompok justru akan menjadi semakin ekstrim. 

Contoh polarisasi kelompok adalah ketika orang religius berdiskusi dengan orang ateis. Orang religius mencoba meyakinkan orang ateis untuk kembali ke jalan yang “benar”, orang ateis berusaha membuat orang religius berpikir sedikit saja “rasional” untuk melihat bahwa keyakinannya tidak masuk akal. Masing-masing tidak akan berhasil meyakinkan satu sama lain. Orang religius akan semakin religius, orang ateis akan semakin ateis. Ini hanya salah satu contoh. Dalam banyak kasus, ketika ada perbedaan pendapat antara dua kelompok, masing-masing justru memang akan menjadi lebih ekstrim setelah berdiskusi (yang berlanjut menjadi debat). 

Mekanisme yang sama terjadi antara kelompok istri atau pendukung istri yang setuju dengan penggunaan istilah pelakor, dengan kelompok “objektif” yang berusaha membuka pemikiran kelompok pendukung stigma ini untuk berhenti menyalahkan sesama perempuan. Menariknya, ada satu kelompok lagi, yang kehadirannya tidak diduga : kelompok perempuan yang menjalin hubungan dengan laki-laki beristri. 

Sementara kelompok “objektif” berusaha agar mereka yang menjalin relasi dengan laki-laki yang sudah menikah tidak lagi dikenai stigma, sebagian perempuan yang menjalin hubungan dengan laki-laki beristri justru bangga dengan hubungan mereka. Mereka menamakan diri sebagai grup/komunitas pelakor. Mereka sendiri mendukung stigma yang dilekatkan kepada mereka. Lantas bagaimana kita semua dapat menyikapi “kekacauan” ini? 

Melawan stigma P pada akhirnya memang bukan dengan “gemas” mengingatkan pengguna untuk berhenti men-stigma. Seringkali upaya kita untuk mengingatkan mereka agar tidak lagi justru menjadi semacam penguat untuk mereka melanjutkan. 

Melawan stigma ini adalah dengan memberantas akarnya, yang adalah budaya patriarki yang telah (a) menciptakan, menanamkan, dan memelihara persaingan antar perempuan, dengan (b) melakukan esensialisasi perempuan dalam trinitas peran perawan-ibu-pelacur

Selama dua hal ini masih berlangsung, satu stigma mungkin saja hilang tetapi akan berganti dengan stigma lain yang tetap merendahkan atau menyudutkan perempuan.

Di sisi lain, kita juga perlu mengatasi akibat budaya patriarki ini yang sudah ada di depan mata kita terkait dengan istilah P  :  

  1. Ada perempuan yang menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah menikah
  2. Ada perempuan yang bertahan dalam relasi KDRT, sudah disakiti berkali-kali oleh suami tetapi tetap tidak bisa meninggalkannya karena berbagai pertimbangan.
  3. Istilah P itu sendiri yang sudah populer
  4. Laki-laki terjebak dalam tuntutan virilitas

Oleh sebab itu, secara garis besar, ada tiga upaya yang perlu kita lakukan untuk melawan stigma P.  

Pertama,  untuk mengatasi “akibat-akibat” yang nyata di hadapan kita saat ini, yang perlu segera ditangani, saya hendak menawarkan beberapa hal berikut : 

  1. Hindari penggunaan istilah P, tidak ikutan mempopulerkan. Semakin sedikit orang-orang yang menggunakan, yang menyebutkan, menuliskan, dsb, popularitas label ini akan berkurang karena tidak ada lagi yang membicarakannya.
  2. Gunakan istilah netral seperti relasi eksternal untuk menyebut perselingkuhan, kekasih/pasangan lain untuk menyebut mitra selingkuh atau perempuan yang menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah beristri.
  3. Jangan jadi penguat terhadap pengguna istilah : beri respon netral dan informatif, jangan beri respons jika berlanjut, abaikan, jangan tertawa. Respons informatif di sini misalnya langsung memberikan informasi objektif yang sudah ditulis/disampaikan orang-orang mengenai hal-hal yang terkait dengan ini seperti psikologi perempuan kedua dari sudut pandang pakar atau dari mereka yang sedang terjebak atau sudah keluar, agar dapat memahami mengapa ada perempuan-perempuan yang terjebak dalam hubungan semacam ini.
  4. Bila Anda tertawa ketika mendengar teman menggunakan istilah ini, tanyakan pada diri sendiri, mengapa tertawa? Mengapa ikut tertawa? Apakah karena merasa tidak enak jika punya pendapat berbeda, jika tidak setuju dengan dia? Jadilah pribadi yang otentik, namun tentu saja tidak agresif. Jangan ikut tertawa karena justru memberi penguatan pada pihak ybs untuk terus menggunakan istilah ini. Tetapi juga tidak “ngotot” dan jadi marah ketika pihak lain menolak pandangan kita. Karena justru akan menguatkan lagi pendapat mereka untuk menggunakan istilah.
  5. Memahami psikologi perempuan kedua, dampingi, kuatkan, bantu teman/saudara Anda yang terjebak dalam relasi ini. Termasuk di sini adalah membantunya untuk kelak tidak masuk dalam relasi sejenis (tidak sehat). Membantu teman untuk keluar dari relasinya dengan laki-laki beristri memang bukan hal mudah. Bukan dengan mengingatkannya bahwa perbuatannya itu dosa, tidak baik, bahwa si laki-laki sudah beristri, pikirkan anak dan istrinya, dst. Tanpa kita ingatkan, ia sudah paham akan hal itu semua. Tetapi persoalannya pada perempuan yang terjebak dalam relasinya dengan laki-laki beristri, bukan karena ia tidak memahami itu semua. Ada persoalan lain, yang kompleks, yang lebih dalam. Perlu diketahui bahwa tidak semua perempuan terjebak dalam relasi ini. Sebagian bisa dengan segera angkat kaki ketika tahu bahwa ternyata pria idamannya sudah beristri. Jadi ketika perempuan ini malah tetap memilih untuk berada dalam relasi itu, ada sesuatu yang perlu digali dari dirinya yang terdalam. Jika memang diperlukan, hendaknya meminta bantuan konselor/terapis.  
  6. Berikan pendampingan/penguatan pada istri yang telah dikhianati untuk :

-mengelola kemarahan narsistik dan mengatasi luka-luka narsistiknya

-keluar dari relasi KDRT jika perselingkuhan suami sudah berulang dan menjadi bagian dari relasi kekerasan.

  1. Edukasi masyarakat dengan strategi, contoh dengan menampilkan penyintas KDRT, yang posisinya pernah menjadi istri yang dikhianati tetapi justru menentang stigma P. 
  2. Kembangkan kerja sama antara perempuan dan laki-laki untuk dapat saling memahami dan menghormati. 

Upaya kedua, kita harus memberantas akar permasalahan ini terkait dengan persaingan antar perempuan. Saya meyakini ada serigala betina dalam diri setiap perempuan. Salah satunya adalah kekuatan intuitif. Setiap perempuan punya kekuatan ini, untuk melatih mengenali dirinya. Dalam hal persaingan antar perempuan, hendaknya kita tidak membohongi diri, tetapi melatih kesadaran diri dengan beberapa cara berikut :

  1.  Akui kecemburuan terhadap rekan perempuan, dan gali, mengapa?  Tanyakan pada diri sendiri apakah kita akan bereaksi sama jika ia laki-laki?
  2. Ketika ada rekan perempuan yang lebih dari kita, ketimbang iri hati, mari pikirkan apa yang bisa kita jadikan inspirasi darinya? 
  3. Fokuskan hidup kita untuk berkarya dan melakukan kegiatan-kegiatan positif
  4. Kembangkan keterampilan, olah bakat, perluas minat. Hal ini sangat penting untuk mengembangkan harga diri. Perempuan yang memandang rendah dirinya akan masuk dalam jebakan harga diri rendah, yang berisiko mengantarkannya pada hubungan-hubungan tidak sehat dengan laki-laki termasuk dengan laki-laki beristri.
  5. Tanyakan pada diri kita apakah kita puas dengan hidup kita, dengan diri kita? Mengapa kita tidak suka ketika perempuan lain bahagia? Karena hanya perempuan yang sudah tidak merasa terancam yang bisa mendukung dan mengembangkan perempuan lain. 
  6. Hindari relasi jika memang rekan perempuan itu membuat tidak nyaman, tidak membuat kita bertumbuh. Tapi di sinilah kemampuan intuitif kita harus terus diselidiki. Apakah memang rekan perempuan itu yang membuat kita tidak nyaman, atau kita yang tidak nyaman dengannya, dan apakah kita yang  selalu bermasalah dengan rekan perempuan?
  7. Masih terkait dengan penyelidikan diri untuk melatih kemampuan intuitif kita, tanyakan pada diri sendiri apakah diri kita membawa kebaikan? Apakah perilaku saya bisa menginspirasi orang lain untuk kebaikan atau malah menimbulkan kecemburuan? Bagaimana saya dapat menginspirasi teman-teman perempuan saya ketimbang menimbulkan iri hati dan kecemburuan?
  8. Kembangkan persaudaraan sesama perempuan; dukung sesama perempuan, dan fokus pada kekuatannya. Kelompok feminis perlu saling bekerja sama, bekerja berjejaring, dan berhenti saling mengeritik. Jika ada ketidaksukaan satu sama lain, ingat kembali pada tujuan awal. Jika kita sendiri terpecah, bagaimana menunjukkan pada perempuan-perempuan lain akan arti “sisterhood”? Pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan persaudaraan di antara perempuan  dapat dilakukan : pelatihan empati, pelatihan komunikasi agar dapat meminimalisir kesalahpahaman dan berkomunikasi tanpa menyakiti.  Kita yang termasuk dalam kelompok feminis kiranya dapat melakukan penyelidikan diri sebagai kelompok : apakah sudah tepat cara-cara kita dalam menyampaikan ide-ide kita? Apakah dengan cara-cara ini, banyak perempuan sudah dan akan terbantu?

Ketiga,  membongkar esensialisasi perempuan dalam trinitas peran Perawan-Ibu-Pelacur. Upaya ketiga ini sama sekali tidak mudah, karena sejak budaya patriarki tercipta, perempuan sudah dididik untuk memenuhi tiga peran ini. Namun saya optimis melihat evolusi dalam masyarakat kita yang mulai menerima bahwa kehidupan perempuan lajang bisa bahagia, karena yang membuatnya tidak bahagia justru sebenarnya adalah tekanan masyarakat atas kelajangannya. Menerima bahwa fungsi perempuan di dunia bukan hanya untuk mengandung, melahirkan, dan mengurus anak. Bahwa perempuan juga boleh memilih peran lain, tidak selalu harus menjadi istri dan ibu. 

Terkait dengan peran “pelacur”. Ini adalah konstruksi bahwa seksualitas perempuan hanyalah dalam rangka atau tujuan memuaskan laki-laki. Perempuan dan laki-laki kiranya dapat belajar untuk memahami tubuh dan seksualitas perempuan. Kita juga harus mulai berhenti menjadikan perempuan sebagai objek seksual, objek hasrat, objek tatapan. Sebagai orangtua, kita dapat mulai mengarahkan anak-anak perempuan kita untuk berfokus pada pengembangan minat dan bakatnya, bukan pada tubuh dan kecantikannya. 

Mereka yang mengadakan kontes Putri Indonesia Cilik dan sejenisnya, sudah saatnya mungkin berpikir ulang, nilai-nilai apa yang sedang mereka perjuangkan? Karena sekalipun “bersembunyi” di balik “bakat” putri-putri cilik ini, bukankah kriteria yang juga mutlak adalah berpenampilan menarik? Saya kira saatnya kita perlu jujur pada diri sendiri apakah kita sedang mencerdaskan kehidupan bangsa atau sedang membodohi anak-anak kita?

Dalam upaya ini, perlu pula dipikirkan bagaimana kelompok laki-laki sebagai kelompok yang diistimewakan dalam masyarakat patriarkis justru dapat ikut melawan budaya patriarkis ini? Karena sebenarnya bukan hanya perempuan yang dirugikan, tetapi juga laki-laki. Perselingkuhan laki-laki memperlihatkan kepada kita bagaimana sebenarnya laki-laki terjebak dalam mitos virilitas yang dibangun budaya patriarkis itu sendiri. 

7 comments on “Bagaimana Melawan Stigma Pelakor?

  1. Hi, Mbak Ester. Saya senang sekali bisa menemukan blog ini dan belajar dari setiap tulisan di sini. Terima kasih banyak karena sudah membagikan ide dan pemikiran di sini, dan bisa dipelajari oleh kita sekalian.

    Setuju, sebagai perempuan kita harus saling mendukung. Kalau pun mengkritik, kritik dengan anggun dan elegan, serta jangan luput dari tujuan sebenarnya, yaitu memajukan dan mengembangkan pribadi dengan baik.

    Like

    • Halo Mbak Ayu. Bahagia sekali mendapatkan kunjungan dari Mbak Ayu 🥰 Terima kasih banyak, mbak. Benar sekali kalaupun memberi masukan memang harus disampaikan dengan -meminjam kata mbak Ayu- anggun dan elegan , dan benar-benar dilandaskan pada tujuan positif ya mbak. Saya harus sering-sering membaca tulisan-tulisan mbak Ayu untuk belajar menggunakan kata-kata penuh kebijakan dan keindahan 🙏🤗 Selamat untuk buku Agnosthesia ya mbak Ayu 💜💜

      Liked by 1 person

  2. Pingback: Persaingan Antar Perempuan & Esensialisasi Trinitas Perawan-Ibu-Pelacur – CATATAN ESTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: