Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan Feminisme Perempuan & Gender

Persaingan Antar Perempuan & Esensialisasi Trinitas Perawan-Ibu-Pelacur

Perempuan dididik dengan ambiguitas antara solidaritas dan rivalitas. 

Perempuan harus lemah lembut, melayani, menolong, tapi nilai-nilai kebaikan ini nantinya akan berguna untuk laki-laki (pelayanan suami)  dan masyarakat dalam arti yang luas. 

Tetapi dengan sesama perempuan, kita dididik untuk bersaing, untuk menjadikannya sebagai rival. Untuk mendapatkan tempat pertama, diakui secara legal, sosial, fisik, afektif, oleh si laki-laki. 

Budaya patriarki menjadikan perempuan sebagai objek seksual. Tetapi bukan hanya laki-laki menjadikan perempuan sebagai objek tatapan, tetapi juga perempuan. Untuk dibandingkan dengan dirinya. 

Persaingan antara perempuan bukan hanya dalam kasus-kasus perselingkuhan antara istri dan perempuan lain. Tetapi juga mengapa kalau atasan perempuan, pekerja perempuan justru lebih susah naik jabatan? Mengapa sering ada masalah antara atasan dan pekerja perempuan?

Sedari kecil, perempuan sudah diajarkan untuk bersaing. Bukan dalam hal kompetensi/pencapaian, tetapi tubuh dan kecantikan —  persoalannya adalah ini yang paling terlihat. Media memperkuat persaingan ini dengan iklan-iklan yang mengkonstruksi tubuh dan kecantikan perempuan. 

“Prestasi” perempuan yang membuat sesama perempuan paling iri adalah punya daya pikat. Bukan hanya kecantikan wajah tapi juga keindahan tubuh. 

Persaingan di antara rekan kantor menjadi lebih berat untuk perempuan karena ada dinamika antara prestasi real dan “prestasi” dalam hal tubuh/kecantikan.

Perselingkuhan laki-laki adalah bentuk paling kongkrit dan ultime, puncak dari persaingan antar perempuan. Istri dihadapkan dengan perempuan lain yang memiliki karakteristik yang tidak dimiliki istri, yang memenuhi kebutuhan laki-laki (suami), yang tidak bisa dipenuhi istri. 

Karena suami umumnya mencari perempuan lain yang dapat melengkapi apa yang tidak diberikan istri, apa yang tidak ia temui pada istri. 

Ketika perempuan lain itu lebih muda dan cantik = lebih menyakitkan, karena menyentuh persaingan yang paling dasar tadi (tubuh dan kecantikan), yang sudah sedari kecil ditanamkan pada perempuan.

Sementara itu, kepada si perempuan lain, suami mengatakan :

  • Kamulah yang pertama meruntuhkan hati saya.
  • Dia kurang perhatian, berbeda dengan kamu.
  • Kamu sabar, dia mudah marah.
  • Rumah tangga kami sudah kering, tidak ada kemesraan lagi.
  • Kami sudah tidak bercinta lagi. 

Perempuan lain ini, yang kebanyakan adalah gadis-gadis muda yang naif tanpa pengalaman rumah tangga, berpikir :  Saya lebih menarik dari istrinya, saya memenuhi kebutuhannya yang tidak dipenuhi istrinya, saya berhasil membuatnya bahagia dalam perkawinannya yang kering. 

Padahal dia tidak (akan) pernah “memiliki” si laki-laki secara resmi. 

Persaingan : Istri mendapatkan status sah, perempuan lain mendapatkan gairah dan (janji-janji) cinta.

 

esensialisasi Perempuan Dalam Trinitas  PERAWAN -IBU- PELACUR.

Di sinilah budaya patriarkis sengaja memecah belah perempuan, karena trinitas ini berkonflik. Contohnya saja tidak mungkin pelacur bisa menampilkan kenaifan seorang perawan. 

Ilustrasi : Edvard Munch

0 comments on “Persaingan Antar Perempuan & Esensialisasi Trinitas Perawan-Ibu-Pelacur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: