Feminisme Perempuan & Gender

Mengapa dan Bagaimana Stigma Pelakor Tercipta dan Menjadi Populer?

Jujur saja rasanya tidak nyaman menuliskan kata pelakor. Dan sepertinya saya malah jadi ikut memopulerkan istilah ini. Selanjutnya dalam artikel ini, saya akan menuliskan inisialnya saja P. 

Terima kasih banyak saya haturkan kepada Komunitas Perempuan Berkisah yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan materi “Melawan Stigma Pelakor” 🙏

Ketika saya menerima judul ini, yang terlintas di pikiran saya adalah menjawab dua pertanyaan ini :

  1. Mengapa Perlu Melawan Stigma P?
  2. Bagaimana Melawan Stigma P?

Dalam upaya menjawab dua pertanyaan inilah, saya menyadari bahwa untuk dapat melawan stigma P ini, kita perlu terlebih dahulu memahami 

⇒ Bagaimana Proses Penciptaan dan Penguatan Stigma P? 

Dengan perkataan lain : Mengapa Stigma P Ini Ada? Dan Bagaimana Bisa Populer?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, saya menggunakan paradigma Representasi Sosial dari Serge Moscovici.

Stigma ada, pertama-tama adalah karena orangnya, objek yang di-stigma ini ada, nyata, dia eksis. Maksudnya di sini, kita tidak dapat menyangkal bahwa ada perempuan yang menjalin hubungan dengan laki-laki beristri. Kita tidak dapat menyangkal bahwa ada hubungan suami istri yang memburuk setelah perselingkuhan terbongkar. 

Tetapi mengapa yang digunakan adalah istilah perebut laki orang? Di sini saya kembali pada kapan istilah ini pertama kali muncul dan mengapa orang yang bersangkutan bisa memunculkan istilah ini. Berawal dari seorang anak yang mengidentifikasikan dirinya dengan ibu, maksudnya di sini menempatkan posisinya di pihak ibunya, berpapasan dengan perempuan yang menurutnya dari penghayatan si anak, perempuan ini telah merebut ayahnya, yang adalah suami ibunya. 

Ada beberapa hal penting di sini = (a) empati dan solidaritas anak terhadap ibu (positif, tapi sebagai anak ia belum punya kapasitas intuitif untuk melihat persoalan dengan jernih dan objektif), (b) dampak perselingkuhan itu sendiri terhadap si anak, dan (c) pemahaman anak (yang masih terbatas) terhadap perselingkuhan. 

Mengapa istilah ini menjadi populer? Mengapa masyarakat kita begitu mudah menerima istilah ini? Bukan hanya karena istilah ini dari segi psikolinguistik menarik di telinga kita dan langsung menempel di kepala. Penjelasannya lebih kompleks dari itu.

 Istilah P cocok dengan  representasi yang sudah berakar ini, yang sudah ada dari generasi                         ke generasi, jadi sangat mudah diterima. 

Istilah ini kemudian digunakan kebanyakan oleh sesama perempuan, baik yang sudah menikah ataupun lajang, yang menempatkan dirinya di posisi istri, karena perempuan mana yang mau kekasih atau suaminya menjalin hubungan dengan perempuan lain. 

Ada kepemilikan, ini milik saya, ini suami saya. 

Kita bisa mengatakan bahwa laki-laki toh bukan barang, mengapa kata yang digunakan adalah “rebut”? Dari sisi istri, dia juga mengerti bahwa suaminya bukan barang. Tapi ini adalah suaminya, laki-laki dengannya dia berbagi keintiman fisik dan afektif. Dan sekarang ada pihak ketiga yang “menyusup” ke dalam rumah tangganya, berbagi keintiman dengan suaminya.

Pada saat yang sama, hubungan suami dengan perempuan lain menimbulkan ketidakberdayaan.

Dalam perselingkuhan, Diri kita, pihak yang dikhianati, dihadapkan dengan Orang Lain. Orang Lain nya ini adalah Perempuan Lain. Dengan perkataan lain, Perempuan dibandingkan dengan Perempuan Lain. 

Manusia secara alami dalam kondisi terancam, ia digerakkan oleh mekanisme untuk mempertahankan Diri, membela Diri, menyelamatkan Diri. 

Dalam kasus-kasus perselingkuhan, perempuan yang dikhianati memang mengalami luka-luka narsistik (blessure narcissique), harga dirinya terluka, sangat dalam, menyentuh aspek femininitas (keperempuanan) yang paling dalam. Karena perselingkuhan, meski pihak yang berselingkuh sendiri mungkin tidak bermaksud demikian, tetapi bagi pihak yang dikhianati ini adalah pembandingan antara dua perempuan. 

Luka-luka narsistik menghasilkan kemarahan narsistik, karena manusia butuh menguatkan kembali diri yang sudah dilemahkan, yang sudah diserang tadi. Kemarahan narsistik bisa mengambil dua bentuk : 

  1. Kemarahan yang ditujukan ke luar Diri

Pada siapa? Seharusnya pada suami, tetapi tidak sedikit yang menujukan/mengarahkan kemarahan ini pada Perempuan Lain karena dialah yang dianggap telah membuat suaminya berpaling, dia yang menjadikan dirinya dalam perbandingan tadi, dia yang telah menyerang harga dirinya sebagai perempuan. Bisa jadi ini juga merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri. Masih cinta pada suaminya, atau bergantung pada suaminya secara ekonomi, membuat perempuan tidak dapat menujukan kemarahan pada suaminya.  Kemarahan pun ditujukan kepada perempuan lain. 

  1. Kemarahan yang ditujukan ke dalam Diri = banyak perempuan menjadi depresi setelah mengetahui perselingkuhan suami

Hampir tidak ada istri yang mau suaminya menjalin hubungan dengan perempuan lain.  Di sini baik karena kita memang berstatus menikah, dan secara otomatis kita menempatkan diri di posisi istri sah, atau kita membayangkan diri sebagai istri sah sehingga kita mengidentikkan diri sebagai istri sah, pada akhirnya akan terbentuk Kelompok Pendukung Istri, Pihak yang Dikhianati. 

Di sini ada yang namanya solidaritas, solidaritas sesama istri atau sesama pihak yang mengidentifikasikan diri dengan kelompok istri. Persoalannya adalah berhadapan dengan siapa? Perempuan Lain. Oleh karena itu istilah pelakor pun gampang melekat dalam masyarakat kita, karena memang ada pihak yang dikhianati, pihak yang menderita, yang disakiti akibat si perempuan lain ini. 

Mengapa dari tadi sepertinya laki-laki tidak tersentuh? Karena budaya kita adalah budaya yang patriarkis. Budaya patriarki yang menempatkan seksualitas laki laki sebagai selalu harus dipuaskan, wajar jika laki laki melakukan perselingkuhan. Tidak demikian dengan seksualitas perempuan yang ditekan. Sehingga jika perempuan yang berselingkuh, ia akan dikatakan kegatalan.

1 comment on “Mengapa dan Bagaimana Stigma Pelakor Tercipta dan Menjadi Populer?

  1. Pingback: Persaingan Antar Perempuan & Esensialisasi Trinitas Perawan-Ibu-Pelacur – CATATAN ESTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: