Feminisme Perempuan & Gender

Selamat Hari Ayah, Papaku Tercinta ^.^

Tulisan ini ada karena saya teringat pada ayah saya ketika mengunjungi gereja-gereja indah beberapa bulan lalu saat berlibur. 

Ada satu pernyataan Beauvoir tentang perempuan dalam masyarakat patriarkis : ketika masih gadis cilik, ia adalah milik ayahnya, dan ketika sudah dewasa akan menjadi milik suami. Dalam ritual perkawinan di gereja, penyerahan kepemilikan ini tampak pada saat ayah mengantarkan anak perempuannya ke altar dan calon suami menyambutnya. 

Dalam tradisi melamar di Prancis (saat ini sebenarnya hampir sudah tidak dilakukan, kecuali pada keluarga borjuis atau yang masih tradisional/religius), si pria harus terlebih dahulu mendatangi ayah kekasihnya dengan mengatakan, “Saya meminta tangan putri Anda”. Izin ini harus didapatkan sebelum ia boleh menyematkan cincin tunangan pada kekasihnya.  

Suami saya sendiri tidak melakukan tradisi ini. Selain ia sendiri sudah tidak ingin diatur oleh ayahnya apalagi untuk adat semacam ini, menurut ayah saya sendiri, saya sudah cukup dewasa untuk bisa menilai siapa yang terbaik untuk saya. Saya jadi ingat ketika saya masih kecil, ia membacakan saya kutipan puisi Kahlil Gibran : anakmu bukanlah milikmu. 

Ayah saya memang gemar membaca. Ia melalap semua teks, dari yang ringan hingga berat, fiksi ataupun ilmu pengetahuan. Ia bukan feminis, sama sekali tidak pernah menuturkan wacana-wacana feminis. Tetapi ia telah mengantarkan saya hingga menjadi saya yang saat ini :  menjadi perempuan yang merdeka dari belenggu norma, ikatan adat dan tradisi, yang feminis, tanpa membenci laki-laki. 

Untaian kata ini saya persembahkan untuk ayah saya. (Untuk ibu : Menyusul ya Mom, nunggu inspirasi dulu 😁😁😁)

Untukmu ayahku, yang tak pernah mengantarkanku ke depan altar

Dan menantumu tak pernah meminta putrimu darimu

Tidak, kau tidak pernah menyerahkan putrimu padanya

Masih kudengar jelas Gibran yang kau kutip : aku anakmu bukan milikmu, aku milik diriku sendiri

Untukmu ayahku, yang mengajariku melafal A sampai Z sambil menghitung rumus Pythagoras

Kau yang menyanyikan Koes Plus sambil membaca Hugo dan Pramoedya

Menikmati Marx, menyimak Engels,

Kau, ayahku, yang mengenalkanku pada nikmatnya eureka, sama lezatnya dengan kepuasan yang tertunda

Aku pun pergi menemui Poullain dan Beauvoir, menyapa Nyonya Butler, dan menyampaikan salammu kepadanya

Untukmu ayahku

Yang membiarkan putrimu terjatuh dan menangis, untuk ia bisa bangkit

Dia kira kau membiarkannya tenggelam dalam kenaifan

Tapi ia mengasah intuisi objektif sebelum meninggalkan si Janggut Biru

Engkau, ayahku, darimu kupaham Anna Karenina tidak bicara perzinahan

Tuhan tidak butuh dipuja-puja, dan eksistensi harus dilampaui

Stereotip harus ditentang dan dipatahkan

Adat dibentuk, dan karenanya dapat diubah

Hari ini ayahku, akhirnya putrimu bebas dari Kompleks Elektra

Ia mengucap janji setia pada pria dari Segi Enam

Di gereja-gereja tua beragam batu

Di kapel-kapel indah di antah berantah

Di bawah tanah atau di bumi, Ibu Kami Yang Di Bumi memberkati kami

Dan kau ayahku tak berada di sana

Aku mengantarkan diriku ke altar, dengan ia di sisiku

Kau tidak menyerahkanku padanya, tidak pula aku

Ku mencintai kau dan kau, dan aku milikku

Beberapa catatan : 

Efek eureka, kepuasan ketika kita tiba-tiba mendapatkan insight, memahami hal yang tadinya tidak kita pahami

Kepuasan tertunda (delayed gratification), kemampuan untuk bertahan terhadap godaan akan reward yang kecil tapi sudah di depan mata, untuk memperoleh reward yang lebih besar. Kemampuan ini berasosiasi dengan kesuksesan. 

Nyonya Butler, mengacu kepada Judith Butler. Saya sengaja memberi panggilan nyonya, untuk bermain-main dengan idenya yang saya suka mengenai gender trouble

Anna Karenina, karya Leo Tolstoy, yang bicara tentang eksistensi melampaui kisah perzinahan yang mewarnai isi buku. 

Kompleks Elektra, kompleks “Oedipus” pada anak perempuan, menurut Carl Jung. Saya beri tanda kutip pada kata Oedipus, karena Sigmund Freud sendiri yang mengemukakan konsep ini meyakini bahwa anak perempuan tidak mengalami kompleks Oedipus. Untuk selengkapnya mengenai hal ini dapat dibaca pada “Apakah Perempuan Ingin Penis? Membincangkan Freud”, dalam buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan : Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki, terbitan EA Books. 

Segi enam, nama lain untuk Prancis karena bentuknya menyerupai heksagon. 

Ibu Kami Yang Di Bumi. Feminis teologis mengkritik representasi Tuhan sebagai laki-laki.  Sementara itu, kelompok ekofeminis melihat keterhubungan bumi dengan perempuan. Saya sengaja mengganti “Bapa kami yang di surga” dengan “Ibu kami yang di bumi”. 

0 comments on “Selamat Hari Ayah, Papaku Tercinta ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: