Perempuan & Gender

Insting Ibu atau Insting Ayah?

Apakah menjadi ibu adalah suatu insting, dari sananya, atau hanya konstruksi masyarakat? Sekian lama kelompok biologis berkeyakinan bahwa menjadi ibu bersifat instingtif, jadi biologis sifatnya, sementara kelompok feminis menganggap insting maternal tidak ada, ia hanya bentukan masyarakat. 

Pada tahun 2002, Sarah Blaffer Hrdy mencoba untuk menengahi perdebatan ini, dengan mengakui kebenaran kedua belah pihak. Insting maternal memang ada, demikian hasil penelitian antropolog dan sosiobiologis dari Amerika. Di sini Hrdy dengan sendirinya menentang pandangan filsuf Prancis Elisabeth Badinter dan feminis-feminis lain mengenai insting maternal yang tidak pernah ada, hanya bentukan sosial.

Tetapi Hrdy juga menentang pandangan Darwin bahwa insting maternal ini murni biologis. Menurut Hrdy, Darwin melihat perempuan hanya seperti mesin penghasil anak dan menuntut perempuan untuk menjadi ibu yang “baik”. 

Yang menarik dari pandangan Hrdy ini adalah bahwa meskipun namanya “maternal” tetapi bukan hanya dimiliki perempuan. Insting untuk mengasuh ini ada pula pada tiap orang, terlepas dari jenis kelaminnya (perempuan, laki-laki, transgender).  

Selain itu, insting ini sifatnya hanya predisposisi. Maksudnya tidak secara otomatis insting ini muncul ketika seseorang punya anak. Perlu ada mekanisme lain yang bisa membuat si ibu ataupun si ayah jadi jatuh cinta pada si anak dan menggerakkan insting maternal itu (keinginan untuk mengasuh). 

Mekanisme ini salah satunya datang dari si bayi itu sendiri (intervensi si bayi untuk menarik hati orang dewasa seperti tersenyum, dan karakteristik fisiologisnya yang dianggap lucu menggemaskan seperti montok, bermata besar, wajah bulat, dll). Ini yang membuat seorang ibu/ayah yang mungkin tadinya tidak menginginkan si bayi tapi langsung mencintai anaknya ketika melihat yang satu ini tersenyum. 

Di sisi lain, ini juga yang menjelaskan mengapa ada ibu/ayah yang tidak bisa mencintai anaknya,  lebih mencintai anak yang satu dibandingkan anak yang lain, meninggalkan anak, melakukan kekerasan fisik, dan bahkan sampai membunuh anak. 

Tentu saja hasil penelitian Hrdy ini ditolak mentah-mentah oleh Elisabeth Badinter : Perempuan bukan simpanse, demikian tegas filsuf feminis ini dalam sebuah wawancara dengan majalah mingguan L’Obs, 12 Februari 2010. (Penelitian Hrdy memang dilakukan pada beberapa jenis hewan, salah satunya simpanse).

Tanggal 10 September 2020 lalu, Catherine Dulac baru saja mendapatkan penghargaan Breakthrough Prize atas penemuannya mengenai sirkuit neuron yang mengatur insting parental ( jadi bukan lagi insting maternal). Profesor di Harvard University  dan peneliti di Howard Hughes Medical Institute ini menemukan bahwa ada sirkuit-sirkuit pada otak yang mengatur perilaku “parental” tikus jantan dan betina. 

Sirkuit-sirkuit ini akan diaktifkan oleh hormon-hormon, menjadi semacam interrupter. Pada tikus betina, sirkuit yang umumnya diaktifkan adalah merawat si anak. Pada tikus jantan, untuk menyerangnya. Tetapi yang menarik adalah, sirkuit yang diaktifkan bisa terbalik. Pada ibu yang stres, sirkuit yang aktif adalah yang menyerang si anak; ia bahkan sangat mungkin akan membunuh si anak. Begitu pula pada ayah, sirkuit untuk merawat justru bisa diaktifkan. Apalagi ketika melihat si anak diabaikan. Seolah-olah ada sesuatu yang menggerakkan di otaknya untuk segera mengurus si anak. 

Peneliti kelahiran Prancis ini juga menekankan bahwa temuannya ini masih terbatas pada tikus. Tapi ia yakin bahwa hasil serupa akan ditemukan pada hewan-hewan lain. 

Jadi kesimpulannya? Bukan insting ibu atau insting ayah, tapi dua-duanya. Tidak hanya ibu yang bisa mengasuh anak, tetapi juga ayah. Dan tidak ada yang lebih baik dalam hal pengasuhan, karena meski insting ini sudah ada dari sananya (biologis), yang akan mengaktifkan dan menjaga keberfungsian si insting ini adalah lingkungan (sosial).

Ilustrasi : L’Empereur Napoléon Ier sur la terrasse du château de Saint-Cloud entouré des enfants de sa famille, 1810

Karya Louis DUCIS (1775-1847)

0 comments on “Insting Ibu atau Insting Ayah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: