Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan

Jika Kesetiaan Adalah Sebuah Prinsip

Saking seringnya saya mendapati kasus-kasus perselingkuhan, saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya dapatkah pasangan selalu setia satu sama lain?

Benar-benar setia, dalam kesetiaan absolut maksud saya. Tidak seperti pasangan yang “setia” sesuai dengan kesetiaan yang mereka definisikan sendiri.

 Misalnya saja seperti pasangan penulis Catherine Millet dan Jacques Henric yang masing-masing tidak keberatan jika pasangannya memiliki petualangan dengan orang lain selama tidak jatuh cinta dengan orang lain tsb.

Nah masih ingat tulisan saya Mencintai 1 orang untuk selamanya, mungkinkah? Kalau belum baca atau mau baca lagi, silakan ya.

 Waktu itu, saya mewawancarai 25 pasangan lansia di Prancis. Dari 25 pasangan lansia ini, 14 di antaranya mengaku bahwa selama ini mereka selalu setia dan yakin akan selalu setia.

 Hmm, ayo bagaimana mau menginterpretasikan angka ini? Hanya 14 saja, atau wah lumayan juga ya ada lebih dari separuh yang tidak pernah selingkuh?

 Yang pasti, buat saya pribadi, tidak penting jumlahnya, tetapi pasangan-pasangan ini memberikan harapan bahwa kesetiaan itu masih ada.

 Jangan memberi kesempatan pada godaan

 Di antara 14 pasangan ini, delapan pasangan mengaku pernah “dekat” dengan yang namanya “godaan”. Mereka tidak “sampai” tergoda, meski ada pula yang “hampir” tergoda.

 Kuncinya, tutur mereka, adalah kesadaran penuh, tidak sedikitpun memberikan tempat, atau mentoleransi dengan mengatakan, ah ini bukan apa-apa toh.

 Misalnya ketika rekan perempuan/laki-laki yang menarik hati meminta atau menawarkan bantuan, mereka dengan tegas langsung menolak. Intinya adalah mereka tidak membiarkan diri mereka tergoda.

Jika boleh saya umpamakan, mereka seperti memasang alarm pada diri sendiri. Begitu menangkap sinyal godaan atau merasa bahwa diri mereka dapat tergoda karena pihak lain ini memang menarik, mereka tidak membohongi diri sendiri bahwa mereka tidak akan tergoda.

Tetapi justru mengenali dan mengakui bahwa laki-laki/perempuan ini punya daya tarik, mereka lantas menjadi lebih berhati-hati.

Ketertarikan emosional, bukan hanya dengan yang cantik atau ganteng lho

 Ketertarikan yang dimaksud tidak melulu fisik, tetapi lebih kepada keseluruhan, totalitas pribadi orang tersebut. Ada orang-orang tertentu dengannya kita merasakan semacam kecocokan yang alami dan spontan. Kita menikmati ngobrol dengannya, kita nyaman dengannya, dsb.

 Nah sebenarnya ketertarikan inilah yang lebih “berbahaya”. Kita mungkin sering mendengar bahwa awalnya pihak yang berselingkuh tidak berpikir akan tidak setia; awalnya mereka tidak merasa tertarik dengan pihak lain tsb.

 Bisa jadi karena kita selalu melekatkan “ketertarikan” dengan fisik seseorang. Ketika secara fisik, orang-orang ini tidak luar biasa cantik/tampan, kita merasa “aman”, padahal bukan tidak mungkin kita sedang terlibat dalam ketertarikan emosional.

 Lantas apakah berarti kita harus menutup celah persahabatan/pertemanan dengan rekan kerja atau orang-orang lain yang enak diajak ngobrol dll? Tentu tidak begitu.

 Latih kepekaan, menolak dari awal

 Pasangan-pasangan ini meyakinkan saya bahwa kita sebenarnya dapat melatih kesadaran kita, kepekaan kita terhadap perasaan kita sendiri. Intinya adalah tidak membohongi hati nurani dan tidak membawa diri sendiri terjebak dalam rasa ketertarikan yang memang “indah” dan menggairahkan”.

 “Jika kita bisa sejak awal menolak untuk masuk dalam permainan, kita akan segera terhindar dari resiko ketidaksetiaan,” tegas beberapa pasangan.

 Lantas bagaimana jika sudah melangkahkan satu kaki?, tanya saya sambil nyengir. “Anda harus segera tarik keluar satu kaki itu. Jika sudah telanjur masuk kedua kaki, stop melangkah, balikkan tubuh dengan mantap, dan keluarlah, “jawab mereka dengan serius.

 Tentu ada orang-orang tertentu yang begitu gigih, entah apapun alasannya, untuk bersama Anda meskipun mereka paham bahwa Anda sudah berpasangan, lanjut mereka. Sebagian di antara mereka mengaku pernah mengalami hal ini.

 Tetapi, tetapi… saya suka sekali kalimat ini : “Jika Anda juga gigih menunjukkan bahwa Anda memegang teguh ikatan Anda dengan pasangan, ia akan paham tidak ada peluang baginya, “tegas mereka.

 Menjadi setia itu sungguh sangat mungkin

 Enam pasangan lain, lebih menakjubkan lagi, mereka tidak pernah tertarik dengan orang lain selain pasangan mereka masing-masing.

 Seorang di antara mereka mengatakan dengan tegas bahwa ketika mereka menikah, mengikat janji dengan seseorang, tidak pernah terpikir sebersit pun untuk tertarik dengan orang lain.

 Saya masih ragu dengan jawaban mereka, saya kira mungkin saja karena memang tidak ada godaan yang benar-benar nyata di sekitar mereka. Saya ungkapkan keraguan ini.

 Mereka agak geli dengan sikap saya yang mungkin terkesan ‘ngotot”. Saya tetap merasa bahwa pertanyaan saya toh masuk akal. Lho wong gak ada yang mempesona gitu lho, gimana bisa tergoda toh ^.^

 Tetapi seorang bapak menjawab, “Mengapa dalam pemikiranmu seperti itu, apakah kesetiaan menurutmu adalah sesuatu yang tidak mungkin?”

 “Kita bisa setia jika kita mau. Kita juga bisa tidak setia jika kita mau. Kesetiaan buat saya adalah pilihan. Saya memilih untuk setia, jadi saya akan setia, dari pertama kali saya mengucapkan janji setia sampai nanti saya tidak bernafas lagi.”

 Jawaban seperti ini jujur saja cukup menohok saya. Ia mengingatkan saya bahwa seringkali kita mendengar apa yang ingin kita dengar, kita menyeleksi informasi yang sesuai dengan hipotesis kita sendiri.

 Harus saya akui, saya ragu jika ada pasangan-pasangan yang setia. Sampai saya berpikir jika satu saat pasangan saya tidak setia pun, saya akan memakluminya. Seperti dia juga harus memaklumi jika satu saat saya tidak setia wkwkwk.

 Perkataan si Bapak ini juga membuka mata saya. Benar, kesetiaan dan juga ketidaksetiaan adalah pilihan. Pilihan ini ada pada kita, kita memilih untuk setia atau kita memilih untuk tidak setia.

 Jawaban sepasang lansia lain melengkapi pandangan si Bapak ini. Menurut pasangan ini, kesetiaan adalah nilai, kesetiaan adalah sebuah prinsip.

 Kalimat-kalimat mereka akan menutup tulisan ini, “Jika Anda menganggap kesetiaan itu penting, jika Anda menjadikannya sebagai prinsip dalam hidup Anda, hubungan Anda dengan pasangan Anda akan didasarkan pada prinsip ini.

 Jika kesetiaan ini Anda jadikan sebagai prinsip, Anda akan memegangnya erat-erat dan ia juga akan memegang Anda erat-erat.

 Jika sudah demikian, Anda akan lihat bahwa menjadi setia bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, menjadi setia adalah suatu hal yang alami, yang tidak lagi perlu dipertanyakan.”

 

Ilustrasi : Pixabay.

 

0 comments on “Jika Kesetiaan Adalah Sebuah Prinsip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: