Feminisme

Dan Negara Prancis Pun Menjadi Partner In Crime

Demonstrasi kelompok feminis dan kelompok perlindungan anak di Prancis menuntut penurunan dua menteri yang baru diangkat masih terus berlangsung. Mereka tidak akan menghentikan aksi demo mereka sampai Presiden Emmanuel Macron mengabulkan tuntutan ini.

Mereka geram dan penuh kemarahan. Menurut mereka, kabinet baru hasil perombakan Macron ini adalah penghinaan terhadap perjuangan korban dan kelompok feminis. Ini sama saja dengan meludahi wajah korban dan pejuang perempuan, kata mereka.

Dalam aksi demo mereka, mereka meneriakkan kalimat ini : Un violeur à l’intérieur,  Un complice à la Justice. Yang bila diterjemahkan kira-kira sbb : Pemerkosa di Dalam negeri, Mitra kejahatan di Kehakiman.

Mereka juga mengatakan bahwa negara adalah mitra kejahatan (partner in crime) dari para pemerkosa. Bahwa negara mempraktikkan budaya pemerkosaan. Bahwa negara Prancis adalah negara yang seksis dan misoginis.

Kabinet baru yang memalukan

Presiden Emmanuel Macron memang baru saja melakukan perombakan kabinet. Hasilnya lagi-lagi laki-laki yang ia tunjuk sebagai perdana menteri (Jean Castex).

Padahal Macron sudah berjanji sejak tiga tahun lalu untuk “menemukan perempuan yang kompeten” untuk diangkat sebagai PM.

Ini saja sudah menjadi semacam penghinaan bagi kelompok feminis, apa tidak ada perempuan yang kompeten di Prancis untuk jadi Perdana Menteri?

Ditambah lagi yang menjadi Menteri Kesetaraan Gender dan Keberagaman serta Kesetaraan Peluang (ministre déléguée en charge de l’Égalité femmes-hommes, de la Diversité et de l’Égalité des chances), Elisabeth Moreno, tidak dikenal oleh kelompok feminis. Kesadaran feminis nya jadi masih diragukan.

Jika Menteri Dalam Negeri Anda Adalah Tertuduh Pelaku Pemerkosaan

Tetapi yang paling bikin kelompok feminis meradang adalah pengangkatan dua tokoh kontroversial sebagai menteri.

Pertama, Gérald Darmanin, tertuduh dalam kasus pemerkosaan, yang proses hukumnya sedang berjalan, diangkat jadi menteri dalam negeri. Kedua, Eric Dupont-Moretti, pengacara yang menentang gerakan Me Too dan senantiasa menjadi pembela pelaku-pelaku pemerkosaan diangkat jadi Menteri Kehakiman.

Darmanin dan Moretti

Eric Dupont-Moretti dan Gérald Darmanin, sumber wikipedia.fr dan vosgesmatin.fr

 

Dicecar mengenai pengangkatan Gérald Darmanin, Perdana Menteri Jean Castex mengingatkan bahwa Darmanin seperti semua orang, berhak atas asas praduga tak bersalah.. Ya tentu saja, tetapi oh tetapi…  Ini kan untuk jadi menteri dalam negeri, Pak Castex!!!

“Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan kepada korban kekerasan seksual untuk jangan ragu melaporkan kasusnya, jika menteri dalam negeri kita sendiri adalah tertuduh dalam kasus pemerkosaan?, “demikian pertanyaan retorik dari Caroline de Haas, dari kelompok feminis NousToutes.

Marie (nama samaran), korban pemerkosaan, dari kelompok feminis les Colleuses mengatakan,”Pesan apa yang ingin kita sampaikan kepada para korban ketika kita tahu bahwa hanya kurang lebih 1% pelaku pemerkosaan yang dipidana, dan sekarang ditambah lagi bahwa ternyata menjadi tertuduh pemerkosaan tidak akan menghambat seseorang untuk masuk Elysee (istana presiden)?”

Tetapi Presiden Macron menjawab tuntutan ini dengan santai. Katanya, ia sudah lebih dahulu berdiskusi dengan Darmanin sebagai sesama laki-laki. Dan bahwa sebagai laki-laki, ia yakin Darmanin tidak bersalah. Jawaban ini membuat kelompok feminis benar-benar putus asa, mereka hanya bisa menggeleng-geleng kepala, tak habis mengerti bahwa Presiden Macron mengeluarkan pernyataan semacam itu.

Dan Bila Menteri Kehakiman Anda adalah Pembebas Pelaku-pelaku Pemerkosaan

Sementara itu, Eric Dupont-Moretti dengan terang-terangan menyatakan gerakan MeToo sebagai histeria kelompok perempuan semata. Ia menekankan bahwa banyak kasus pemerkosaan yang terjadi atas “suka sama suka”.  

Ia dikenal sebagai spesialis dalam mengarang kata-kata penyangkalan akan pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan klien-kliennya. Ia selalu mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang merendahkan perempuan tiap kali membela pelaku pemerkosaan. 

Ia tidak hanya menyebut korban sebagai (maaf) pelacur atau lonte, tetapi juga menyamakan polisi perempuan yang sedang melakukan penyidikan sebagai pompom girl.

Pernyataan-pernyataan Eric Dupont-Moretti selain tidak membela perempuan, pilihan kata yang ia gunakan sangat blak-blakan dan bahkan vulgar. Mengenai MeToo, ia mengatakan, “Ada banyak perempuan gila yang hanya menyampaikan omong kosong sehingga laki-laki tidak lagi bisa membela diri karena sudah langsung disalibkan oleh media sosial.” 

Perhatikan bahwa ia memilih kata “gila”, bukan “tidak waras”. Untuk omong kosong, sebenarnya ia menggunakan kata conneries yang setara dengan bullshit). Ia pun balik diserang telah meragukan kebenaran cerita korban. 

Menurutnya kini sedikit-sedikit laki-laki bisa dituduh melakukan pelecehan seksual. Tentu saja jika perempuan bilang tidak, berarti tidak, dan jangan dilanjutkan. Tetapi bagaimana caranya supaya kita bisa melakukan hot kissing pada masa sekarang? Apa kita harus mengirimkan dulu surat tercatat dan menunggu jawaban si perempuan?

Dan orang inilah yang kini menjadi menteri kehakiman di Prancis. Padahal menilik sejarahnya, menteri kehakiman di Prancis adalah posisi yang sangat penting dan terhormat. Menteri kehakiman adalah garde des sceaux, perwira kerajaan.

Tidak hanya kelompok feminis sebenarnya yang menolak pengangkatan ini. Tetapi kalangan jaksa dan hakim juga sedang resah gelisah dengan pengangkatan Moretti.

Seorang jaksa baru saja mengajukan permohonan mengundurkan diri, karena merasa tidak akan tenang bekerja di bawah otoritas Moretti. Ia sering bertemu Moretti dalam kasus-kasus di pengadilan. 

Dan ia sangat tidak menyukai cara kerja Moretti yang menghalalkan segala cara untuk membebaskan klien-kliennya. Memang Moretti hampir selalu berhasil membebaskan klien-kliennya. Ia sendiri dijuluki sebagai pembebas pelaku-pelaku pemerkosaan.

Sah, Tetapi Sangat Disesalkan

Berkenaan dengan disertasi saya, saya sempat melakukan wawancara dengan para penegak hukum. Dari pengalaman ini, saya paham bahwa hukum berpegang pada prinsip-prinsip. Di antaranya ada asas praduga tak bersalah. Dan saya mengerti bahwa tiap orang punya hak untuk dibela, termasuk pelaku pemerkosaan.

Tetapi mengutip pendapat yang objektif dari Anne Bouillon, pengacara yang juga aktivis perempuan, “Secara hukum, tidak ada yang salah dengan pengangkatan Darmanin. Tetapi secara simbolik, pengangkatan ini amat sangat disesalkan.”

 

Kredit foto : Radio France / Nathanael Charbonnier

0 comments on “Dan Negara Prancis Pun Menjadi Partner In Crime

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: