Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan

Terluka untuk Lebih Mampu Mencintai

Hurt

Sewaktu masih sangat belia, saya kira mencintai itu hanya satu kali.  Ah waktu itu, saya belum mengenal luka.

(Jangan bayangkan saya sudah sangat tua ya saat ini hehehe)

Ini adalah kumpulan kata tentang luka, karena akhir kisah tak selalu bahagia.

Banyak orang ketika patah hati, entah karena dikhianati, atau persoalan-persoalan lain, berpikir bahwa ia akan mati saking terlukanya, begitu sakit, begitu perih.

Padahal emosi sedih, marah, kecewa, sakit, terluka, sebagaimana emosi-emosi lainnya, membawa energi. Semakin terluka justru semakin kuat energinya.

Energi ini dapat kita gunakan untuk berkarya, untuk terus menikmati hidup, bukan sekedar untuk “bertahan” hidup setelah putus cinta. Dapat pula kita gunakan untuk mengambil waktu untuk diri sendiri, yang selama ini mungkin tidak kita lakukan, karena kita cenderung berfokus pada (mantan) kekasih kita, atas nama cinta.

Padahal mencintai diri sendiri mutlak diperlukan sebelum sungguh mampu mencintai orang lain tanpa membuat orang lain merasa megap-megap sesak nafas dengan cinta kita.

Karena cinta yang bikin megap-megap ini  sebenarnya bukan “cinta” melainkan proyeksi dari ketakutan dan rasa tidak aman kita (insecurity).

Pada akhirnya, setelah proses “penemuan diri” ini, niscaya kita akan lebih siap untuk kembali mencintai.

Mungkin yang sedang terluka tidak terpikir untuk menemukan cinta yang lain atau merasa tidak akan mampu mencintai orang lain lagi. Tapi percayalah, hidup ini penuh kejutan. Cinta datang ketika kita justru sedang tidak memikirkannya, ketika kita sudah berhenti menanti.

Dan kali ini, biarlah pengalaman masa lalu, luka-luka dan kepedihan itu mengajarkan kita untuk lebih siap menerima cinta yang sesungguhnya, cinta yang tidak melelahkan, cinta yang lebih matang, cinta yang tidak egois.

Dan juga tentunya untuk menjadi kekasih yang lebih mampu mencintai dengan cara-cara yang membuat pasangan kita merasa sungguh dicintai.

Lanjut di sini untuk puisi-puisi tentang luka

Ilustrasi : Hurt, by Lydia Farquhar

dan Separation, by Edvard Munch

6 comments on “Terluka untuk Lebih Mampu Mencintai

  1. sangat dalam…thank you buat refleksinya bu. saya juga pernah menulis tentang luka, https://amavolta.wordpress.com/2015/12/15/takut-untuk-terluka/

    terus berkarya bu

    Like

    • Terima kasih banyak Voltaire. Dan terima kasih untuk kiriman artikelnya. Salam hangat.

      Like

      • Sama-sama ibu Ester ๐Ÿ™‚

        Like

      • saya ingat dulu ibu pernah mengirimkan artikel dan jurnal subjective well being kepada saya dalam menyusun Skripsi. Terima kasih bu, jurnal2 itu sangat membantu saya ๐Ÿ™‚ senang bisa terkoneksi dengan ibu kembali

        Like

      • Wah terima kasih, senang rasanya bisa diingat secara positif ๐Ÿ˜Š Saya juga senang kita bisa terhubung kembali. Saya sempat berpikir blogmu sudah tidak aktif, pada saat saya justru mengaktifkan kembali blog saya dua tahun lalu. Semoga kita sama-sama rajin menulis kembali ya ๐Ÿคฉ

        Liked by 1 person

  2. Pingback: Seandainya Dulu – CATATAN ESTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: