Feminisme Perempuan & Gender

Etika Kepedulian dan Keputusan-keputusan Moral Perempuan

Jika kita perhatikan, refleksi yang sama dilakukan oleh perempuan dalam kasus-kasus berbeda. 

Sebagian besar perempuan korban KDRT yang saya temui, baik di Indonesia ataupun Prancis, cenderung memilih untuk bertahan demi anak-anak. Ketika melihat kekerasan suaminya sudah berdampak buruk pada anak-anak, atau bahkan membahayakan anak-anak, mereka seperti tersadar untuk segera pergi menyelamatkan diri dan anak-anak.  

Untuk anak-anaklah mereka memilih tetap bersama pelaku, dan untuk anak-anak pula mereka meninggalkan pelaku. 

Demikian pula dengan perempuan yang melakukan aborsi karena memikirkan masa depan anak yang akan dilahirkan. Mampukah ia menghidupi dan membesarkan anak ini mengingat ia sendiri masih belia dan belum bekerja?

Yang jika dibalik adalah apakah kebutuhan si anak kelak akan terpenuhi? Atau bagaimana kondisi psikologis si anak jika kelak mengetahui bahwa ayahnya adalah pemerkosa?

Atau mereka yang memilih untuk tidak aborsi karena tidak ingin menyakiti dua kali hati orang tua, dan beberapa pertimbangan lainnya yang orientasinya adalah kepentingan orang lain.

Pertimbangan-pertimbangan semacam ini yang memikirkan konsekuensi tindakannya pada orang-orang terdekat sepertinya yang telah mengantarkan perempuan pada keputusan untuk melakukan aborsi atau sebaliknya memilih untuk tidak melakukan aborsi.  

Oleh karena itu, saya kira keputusan-keputusan yang melibatkan penalaran moral semacam ini pada akhirnya tidak untuk dinilai baik buruknya. 

Pada beragam kasus-kasus, yang unik dan personal, saya dapati bahwa perempuan menunjukkan pertimbangan serupa ketika dihadapkan pada situasi yang menuntutnya mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Pada perempuan-perempuan yang tidak mengalami kekerasan, tetapi juga tidak bahagia dalam perkawinannya, dengan persoalannya masing-masing (pengkhianatan suami, perkawinan karena dijodohkan, dll), cenderung memilih untuk bertahan juga untuk anak-anak.

Ada pula yang memilih pergi karena meyakini bahwa ia justru akan lebih bahagia dan mampu membahagiakan anak-anaknya dengan berpisah dari suaminya.

Etika Kepedulian dari Gilligan

Pengalaman perempuan mengenai aborsi di atas adalah hasil penelitian Carol Gilligan, filsuf dan psikolog feminis asal Amerika sekaligus profesor di New York University mengenai perkembangan moral perempuan yang ia tuangkan dalam bukunya In a Different Voice (1982).

Bahwa perempuan memiliki dasar keputusan moral yang khas, yang membedakannya dari laki-laki. 

Perlu diketahui, penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan level perkembangan moral perempuan selalu lebih rendah dari laki-laki. Penelitian-penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif. 

Sementara itu, temuan Gilligan dengan metode kualitatif menyatakan bahwa tingkat perkembangan moral perempuan tidak lebih rendah, tetapi kita yang telah salah menerapkan teori perkembangan moral yang maskulin untuk memahami keputusan-keputusan moral perempuan.

Saat itu, dunia psikologi hanya mengenal satu teori tahapan perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg yang didasarkan pada disertasinya (1958) dengan subjek penelitian terbatas pada anak laki-laki. 

Sebuah buku kecil yang memicu revolusi, demikian catatan Harvard University Press mengenai karya Gilligan ini. Temuan Gilligan sangat berperan besar dalam kemunculan feminisme gelombang kedua pada masa itu. 

Etika kepedulian sebagai dasar keputusan moral perempuan adalah gagasan utama Gilligan yang menobatkannya sebagai pelopor care-based feminism.

Bila boleh saya simpulkan, landasan keputusan moral perempuan adalah kepedulian terhadap orang lain, yang dimungkinkan oleh kemampuannya untuk berempati.

Jauh sebelum Gilligan berbicara mengenai etika kepedulian, Sabina Spielrein, psikoanalis feminis pertama, telah menyatakan bahwa empati dan kepedulian memang merupakan keutamaan jiwa perempuan (Spielrein, 1912).

PS : Saya kira hal ini pula yang membuat perempuan lebih tegar dan cepat bangkit saat menghadapi masalah. Contoh perempuan yang menjadi janda entah karena bercerai atau karena suami meninggal dunia, perempuan yang harus menghidupi keluarganya ketika suami sakit/cacat/kehilangan pekerjaan, dll. Karena orientasi pada kepentingan orang lain (anak-anak/keluarga) yang telah memberinya semangat.

Untuk kedua putriku, yang mengubah hidupku 💜❤

Keputusan-keputusan dalam hidupku kini senantiasa melibatkan kalian di dalamnya 💜❤

 

avec les filles

 

Kartini, Etika Kepedulian, dan Keputusan-Keputusan Moral Perempuan

 

0 comments on “Etika Kepedulian dan Keputusan-keputusan Moral Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: