Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan Perempuan & Gender Puisi

Sebuah Perpisahan Di Musim Semi

Seandainya dulu kita bisa lebih meredam amarah
Melihat jauh ke belakang perjalanan cinta kita
Kala ku menatapmu dari kejauhan
Dalam gelap musim dingin nan kelam
Ketika suara metro terakhir berlalu dalam larutnya malam
Dan ku tenggelam dalam lamunan
Menatap sosokmu berdiri di seberang
Bertutur, menyapa, tergelak, aku tertawan
Sorot matamu gemerlap berbinar
Memanggil perempuan rapuh ini mendekat,
Membaringkan diri di dadamu yang menawarkan ketenangan
Jauh, jauh, begitu jauh semua rasa itu

Kau Arjunaku, janjikanku kebahagiaan
Kesetiaan, kejujuran, ketulusan
Dan kuserahkan padamu utuh hidupku dengan penuh kepercayaan

Tetapi dalam kenaifan hati nan muda
Kegetiran ayah penuh kecemasan
Kau hempaskan perempuan yang pernah ada
Kau kuburkan gadis nan belia dalam ketidakmengertian dan kekakuan
Prinsip dan idealisme yang tak pernah mengenal kenyataan
Tersisa lelah, sangat lelah, mengais sisa-sisa rasa yang masih ada
Di antara isak tangis, begitu kering, dalam jenuh membunuh jiwa

Ketika akhirnya kita tak pernah paham
Bagaimana bisa tiba di titik perpisahan
Dan kita pun berucap selamat tinggal
Di musim semi kala bunga bermekaran

Kini dalam kemarahan, demi mereka yang tercinta
Kita terikat untuk selalu berjumpa
Lantas kita menuturkan sarkasme dalam ketidaksabaran
Di balik rasa sesal menggerogoti sukma

Seandainya dulu aku mampu melihat lebih jernih persoalan
Seandainya dulu aku mampu membelai rambutmu saat kau di pangkuan
Seandainya dulu aku berani mengungkapkan yang tidak kuinginkan
Seandainya dulu sosok-sosok itu mampu kubenamkan
Tetapi aku tak mampu, dan tak akan pernah mampu melakukannya sendirian

Terkadang kudengar bisik alunan melodi senja
Masih ingin kuberdansa denganmu kekasihku,
Keinginan yang tak kesampaian
Kau selalu biarkanku berdansa sendirian
Seandainya kau mengerti betapa itu sangat melelahkan

Sesungguhnya, cintaku, kini di balik kemarahan dan dendam
Hanyalah cerita tentang kelelahan yang melumpuhkan
Mencabut keperempuananku sampai ke akar terdalam
Seandainya, seandainya saja engkau paham
Betapa luka begitu perih ketika cinta dan asa yang pernah ada dulu begitu kuat

Begitu kuat menyesakkan, begitu kuat membangkitkan
Kini kurela menanggalkan semua andai-andai
Tuk mencintai dia yang berdiri di hadapan

Silakan lihat di sini sebuah catatan tentang luka. 

Kredit foto : Adieu, by Edvard Munch

0 comments on “Sebuah Perpisahan Di Musim Semi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: