Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan Diri

Bunuh Ayahmu Sebelum Kau Mencium Kekasihmu

Pada pria-pria yang rendah diri, bisa jadi salah satu faktor penyebabnya adalah kompleks Oedipus yang belum terselesaikan. Untuk itu ia perlu membunuh ayahnya.

Tulisan yang akan diawali dengan puisi ini akan membahas tentang kompleks Oedipus. Jika Anda pria yang kurang percaya diri, lemah, tidak tegas, sulit mengambil keputusan, kurang motivasi, kiranya tulisan ini dapat bermanfaat.

Katakan yang ingin kau katakan

Keluarkan semua yang ada di kepalamu

Jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik

Kubiarkan kau bicara, pemuda tampan

Meski tak mampu kupahami 

Meski tak habis ku mengerti 

Pemahamanmu, penalaranmu, ilusi-ilusimu

Tapi tidak, oh tidak, jangan menyimpang terlalu jauh dari realita

Membuatku sedih, buatku cemas

Jangan ubah terlalu banyak cerita tentang kita

Tapi lanjutkan, ungkapkan semua, jangan kau ragu

Tiada kata yang kan buatku tersinggung

Hanya satu kuharap

Bunuh lah dia satu saat nanti

Aku pergi pemuda tampan

Laki-lakiku sudah menanti

Perempuanmu kan datang suatu hari

Tapi ingat, bunuh ayahmu sebelum kau mencium kekasihmu

Puisi ini hendak bercerita tentang kompleks Oedipus yang digagas oleh bapak psikoanalisis, Sigmund Freud. Kompleks Oedipus secara sederhana didefinisikan sebagai keinginan untuk memiliki ibu dan (untuk itu) membunuh ayah. 

Freud menamakan kompleks ini Oedipus dengan mengacu kepada mitologi Yunani mengenai Oedipus yang membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Meski dalam mitologi, Oedipus tidak mengetahui bahwa mereka adalah ayah dan ibu kandungnya, Freud tetap menganggap kisah ini menjadi gambaran yang tepat untuk menjelaskan kompleks Oedipus.

Freud meyakini bahwa seorang anak (laki-laki ataupun perempuan) mula-mula mengembangkan ketertarikan seksual kepada ibunya. Jadi ibu adalah objek seksual pertama pada setiap anak, apapun jenis kelaminnya, dengan kepuasan seksual pertama anak diperoleh dari aktivitas menyusu (menghisap puting payudara ibu). 

Kelak anak perempuan akan mengganti objek seksualnya menjadi laki-laki, dengan ayah sebagai “kekasih” pertama. Perubahan ini dimulai pada tahap yang dinamakan Freud sebagai phallic, sekitar usia 2 atau 3 tahun sampai dengan 5 atau 7 tahun. Tetapi tidak demikian pada anak laki-laki; memasuki masa phallic, objek seksualnya tetap pada ibu (perempuan). 

Selanjutnya ibu akan digantikan oleh perempuan lain. (Ini adalah pandangan psikoanalisis mengenai perkembangan manusia heteroseksual. Pembentukan orientasi seksual sejenis akan mengikuti pola yang berbeda).

Pandangan psikoanalisis meyakini bahwa pada tahap phallic, anak laki-laki akan jatuh cinta pada ibunya. Ayah dilihatnya sebagai saingan dalam mendapatkan cinta ibu. Keinginan terbesar anak laki-laki pada tahap ini adalah membunuh ayahnya, agar ia memiliki ibu sepenuhnya untuknya. Tetapi dalam kenyataannya, membunuh ayah tidak bisa ia lakukan. Ayah adalah sosok mengancam, figur otoritas, pemilik ibu- kekasihnya-. Ia jauh lebih berkuasa darinya.  

Lantas, untuk mendapatkan hati ibunya, anak laki-laki justru meniru ayahnya. Karena logikanya, ayah adalah suami ibu, ia telah berhasil mendapatkan hati ibu. Jadi anak laki-laki pun akan bersikap dan berperilaku seperti ayah agar dapat memikat ibu. Sebelum membaca lebih lanjut, saya ingin mengingatkan bahwa semua ini bermain dalam alam ketidaksadaran manusia.   

Ketika Kompleks Oedipus Tidak Tertangani

Memasuki usia remaja, anak laki-laki seyogianya sudah menangani kompleks Oedipus dalam dirinya. Bukan hanya ia telah mengganti objek hasrat seksualnya dari ibu ke perempuan lain. Lebih dari itu, ia diharapkan telah mengembangkan ketertarikan pada objek-objek atau aktivitas-aktivitas lain, untuk dapat mengarahkan energinya. 

Semua ini akan membebaskannya dari tekanan hasrat membunuh ayah. Karena sesungguhnya dengan pengalihan minat dan energi, mereka telah membunuh ayah tanpa disadari; ayah  terbunuh secara perlahan.  

Karena ketika anak mulai menemukan bidang minat, bakat, dan potensi yang bisa dioptimalkan,  pada saat yang sama, ia berlatih untuk berpikir, bernalar, dan melakukan penilaian-penilaian lain secara mandiri. Ketika ia gigih berupaya, dan ia berhasil, ia mencapai suatu prestasi, ia sedang memupuk rasa percaya dirinya. 

Perlahan ia mengenali dan menemukan diri, menjadi diri sendiri, menemukan identitasnya. Perlahan ia melepaskan diri dari kekuasaan ayah. Kini ia tidak lagi menjadi anak yang masih harus “meniru” ayah untuk dapat memiliki ibunya. Apalagi toh bukan ibu lagi (seharusnya) yang kini menjadi objek hasratnya.  

Sayangnya, pada sebagian laki-laki, kompleks Oedipus ini tidak tertangani dengan baik. Usia bertambah, fisik bertumbuh, tetapi mereka tetap masih menjadi si anak laki-laki itu, yang masih di bawah kekuasaan  ayah. Sosok ayah yang “mengancam” membayangi mereka. 

Suara ayah mengikuti si anak laki-laki (yang sudah berusia dewasa) ini kemana pun. Akibatnya, ia tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Ia cenderung meragukan kalau-kalau keputusan yang ia ambil sudah tepat. Tanpa ia sadari, ia terus bertanya-tanya apakah si ayah akan setuju jika ia bertindak ini atau itu. 

Ia akan tampil sebagai pria yang kurang percaya diri, cenderung rendah diri,  merasa tidak cukup kompeten. 

Ayah akan selalu menjadi figur yang mengancam baginya, yang menakutkan, yang lebih hebat. Begitu pula dengan “ayah-ayah” lain di sekitarnya : atasan, rekan kerja yang lebih berprestasi, pria lain yang sedang mendekati perempuan yang sama, dll. 

Akibatnya pria yang secara psikis masih anak-anak ini, tampilannya adalah “ketakutan”, minder/rendah diri, dan tidak nyaman dengan diri sendiri. 

Salah satu konsekuensinya, ia akan sulit memikat perempuan. Karena perempuan dewasa umumnya tertarik dengan pria, bukan dengan anak-anak. Sejumlah psikoanalis menyatakan  bahwa pria-pria yang belum membunuh ayah biasanya akan terdeteksi lebih cepat dalam relasinya dengan perempuan. Perempuan cenderung menemukannya sebagai kurang menarik bahkan meskipun secara fisik bisa jadi ia tampan. 

Saya melihat hal ini dikarenakan pria ini tampak lemah, tidak tegas, sulit mengambil keputusan, kurang motivasi (yang bila ditelusuri lebih lanjut, semuanya ini akibat rasa tidak percaya dirinya), ia jadi kehilangan daya tariknya sebagai pria. 

Ataupun ketika ia telah memiliki kekasih/istri, persoalan-persoalan yang terkait dengan rasa percaya diri dan kurangnya motivasi dan ambisi akan menjadi sumber konflik utama. Selain itu, karena biasanya figur ayah pada orang-orang ini sangat dominan, mereka akan membiarkan ayah memasuki terlalu jauh dalam rumah tangga mereka. Ayah mengambil keputusan menggantikan dirinya; perannya sendiri sebagai suami dan ayah menjadi tidak jelas. 

Puisi di atas diilhami dari sejumlah kasus yang saya temui. Salah satunya yang seketika mengingatkan saya akan kompleks Oedipus adalah Bagus (bukan nama sebenarnya). Awalnya adalah Imelda, istri Bagus yang datang kepada saya dengan dua keluhan. 

Keluhan pertama adalah tidak adanya gairah seksual kepada suaminya. Penyebabnya karena ia melihat Bagus semakin hari seperti anak kecil. Ini yang menghambatnya untuk melakukan hubungan seksual dengan suaminya.  

“Bagaimana saya bisa bercinta dengan anak-anak?” demikian tanyanya, lebih kepada diri sendiri. Menciumnya pun, saya tidak mampu,” keluhnya putus asa. 

Masalah kedua yang ia keluhkan adalah ayah mertua yang terlalu ikut campur. Imelda menggambarkannya sebagai terlalu dominan, memaksakan pendapat dalam banyak hal, dan ikut campur dalam pengasuhan anak-anak mereka. 

“Dalam rumah tangga saya, bukan saya dan suami yang mengambil keputusan tetapi ayah mertua saya, “katanya menjelaskan. 

Ketika akhirnya Bagus bersedia menemui saya dan mempercayakan masalahnya kepada saya, ceritanya memperkuat dugaan saya akan kompleks Oedipus yang belum selesai pada sebagian laki-laki dewasa.  

Mengapa Perlu Membunuh Ayah?

Para psikoanalis percaya bahwa seorang anak laki-laki harus membunuh ayahnya. Jangan disalahartikan membunuh ayah sebagai membenci ayah, menentang ayah, atau menempatkan diri dalam posisi berlawanan total dengan ayah. Pembunuhan terhadap ayah dalam pandangan psikoanalisis adalah simbolik sifatnya. 

Membunuh ayah adalah anak berbalik meninggalkan figur menakutkan ini untuk kemudian memposisikan kembali dirinya terhadapnya dengan perspektif baru yang lebih matang. 

Maksudnya di sini adalah si anak itu tidak lagi takut dan lantas tunduk terhadap ayah. Kini ia berani menginterpretasikan ulang aturan/norma/ajaran yang ditanamkan si ayah, mengambil dan menyerap apa yang menurutnya baik dan berguna. Ia berani berkata tidak, berani mengambil resiko dalam hidup, berani menentukan yang terbaik untuk hidupnya meski untuk itu ia harus punya pendapat yang berlawanan dengan ayahnya. 

Anak laki-laki yang telah mampu melakukan hal ini akan menjadi pribadi baru : ia telah menjadi dirinya sendiri, punya identitas sendiri, yang mandiri dalam berpikir. Ia sudah siap masuk beradaptasi dan berintegrasi dalam masyarakat karena ia sudah punya daya nilai dan penalarannya sendiri. 

Kini ia tidak takut gagal karena dari kegagalan, ia justru dapat belajar untuk tidak lagi gagal, ia belajar untuk mempertajam daya analisis terhadap situasi, meningkatkan kemampuan-kemampuannya, dsb. 

Dalam sejumlah kasus, salah satunya ketika pengaruh figur ayah terlalu kuat, pembunuhan ayah membutuhkan pengambilan jarak (hubungan renggang, konflik) sebelum akhirnya anak dan ayah diharapkan bisa sama-sama memaknai ulang hubungan mereka. 

Penutup

Laki-laki yang mengalami masalah dalam harga dirinya belum tentu mengalami kompleks Oedipus. Setiap kasus sangat individual sifatnya. Pendekatan psikoanalisis sendiri hanyalah salah satu dari beberapa pendekatan dalam psikologi. Kebenarannya sering diragukan karena sulit dibuktikan secara ilmiah; inilah kritik utama terhadap psikoanalisis. 

Bagi saya pribadi, yang terpenting adalah bahwa teori itu dapat berguna untuk memahami permasalahan dan menemukan solusinya. 

Jika Anda seorang pria yang mengalami hal-hal tsb di atas, sangat mungkin ada beragam faktor penyebabnya. Tetapi mengapa tidak Anda melakukan penggalian diri mengenai relasi Anda dengan ayah? Dan jika memang diperlukan, “bunuhlah” Ayah Anda untuk mengantarkan Anda   pada emansipasi diri sebagai pria dewasa.

Anggap saja kita tidak mempercayai atau sulit memahami teori ini, kompleks Oedipus dan pembunuhan ayah dapat kita jadikan pelajaran akan pentingnya mengajarkan kemandirian sejak dini kepada anak. Orangtua perlu percaya pada kemampuan anak, peka terhadap kebutuhannya, menjadi pendorong baginya untuk berusaha, bukan justru meragukan dan meremehkannya. 

Bukan saya ingin mencari pihak yang salah, tetapi kesalahan jelas tidak terletak pada anak ketika kompleks Oedipus tidak tertangani. Orangtua perlu merelakan dirinya dibunuh agar anak tidak lagi bergantung kepadanya, dengan cara membekali dan mempersenjatai anak untuk  menjadi pribadi yang mandiri dalam berpikir dan bertindak. 

3 comments on “Bunuh Ayahmu Sebelum Kau Mencium Kekasihmu

  1. Aku baru baca Oedipus The King karena ada bagian wabah di kota Thebesnya mbak. Hahaha

    Like

  2. Hehee missyuuuu sehat2 yaaa

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: