Diri Well-being

Mengapa Rendah Diri dan Apa yang Harus Dilakukan?

Kadang persoalan rendah diri lebih berat dari yang kita duga. Perempuan yang rendah diri dapat terjebak dalam hubungan beracun dan penuh kekerasan : dengan pelaku KDRT, dengan suami/kekasih yang berselingkuh secara permanen, dengan pria yang sudah beristri, dan hubungan-hubungan lain yang menguras emosi dan menghambat pertumbuhan diri. 

Sementara itu, pria-pria rendah diri juga cenderung gagal menarik hati perempuan. Karena rendah diri dapat mempengaruhi seseorang dalam bersikap dan berperilaku. Pria rendah diri akan tampil kurang meyakinkan, lantas bagaimana ia mau meyakinkan perempuan yang sedang ia dambakan?

Harga diri yang rendah juga ditenggarai sebagai salah satu faktor penyebab pada pelaku-pelaku kekerasan terhadap istri dan anak, dan juga para pedofil ataupun mereka yang mempraktikkan penyimpangan seksual lainnya.

Pada perempuan dan laki-laki, persoalan dalam pekerjaan seperti kemandekan dalam karir, kecenderungan dimanfaatkan oleh kolega atau atasan, salah satunya juga disebabkan oleh kurangnya penghargaan terhadap diri sendiri. 

Dalam tulisan Bunuh Ayahmu Sebelum Kau Mencium Kekasihmu, saya membahas mengenai pria rendah diri dari sudut pandang psikoanalisis. Psikoanalisis melihat persoalan harga diri ini ke dalam diri manusia, menembus alam tidak sadar, kembali ke masa lalunya.

Seperti dijelaskan dalam tulisan tersebut, kompleks Oedipus yang tidak tertangani dengan baik, secara khusus yang terkait dengan relasi anak laki-laki dengan ayahnya, dapat menjadi faktor kuat mengapa seorang pria mengalami rendah diri. 

Tulisan ini akan membahas rendah diri dari pendekatan lain : pendekatan psikologi kognitif dan psikologi perilaku (behavioral). Penjelasan di sini berlaku umum, tidak hanya untuk laki-laki. 

Tulisan ini sudah pernah dimuat di majalah Intisari Edisi Mind, Body, and Soul pada tahun 2008, dengan judul Mari Belajar Hargai Diri Sendiri. Beberapa bagian sudah saya modifikasi. Kiranya dapat bermanfaat.

Apa itu Harga Diri?

Dalam psikologi, harga diri (self-esteem) mengacu kepada seberapa besar penghargaan yang kita berikan pada diri sendiri. Dengan perkataan lain seberapa positif kita menilai aspek-aspek dalam diri. Aspek-aspek diri ini mencakup semua yang ada dalam diri kita. Termasuk di dalamnya adalah penampilan fisik, kecerdasan, keterampilan yang dimiliki, identitas sosial (suku bangsa, agama). 

Secara umum, harga diri (self-esteem) manusia cenderung berfluktuasi. Maksudnya dalam keseharian, ada saat-saat tiap orang menilai diri secara negatif. Hal ini masih tergolong wajar jika kita tidak menilai diri negatif secara keseluruhan dan secara permanen (selalu menilai diri negatif hanya karena punya satu aspek diri negatif).  

Sayangnya dalam masyarakat kita yang cenderung mempraktikkan “pembangkitan rasa bersalah” dan penilaian-penilaian berdasarkan moralitas, seseorang rentan memiliki harga diri negatif ketika punya satu saja aspek diri yang dinilai kurang baik di mata masyarakat. Contohnya saja, status keperawanan menjadi aspek diri yang sangat mempengaruhi harga diri perempuan, demikian pula orientasi seksual seseorang. 

Kegagalan Berulang dan Pemaknaan terhadap Kegagalan

Dari sudut pandang psikologi perilaku, adalah Martin Seligman, profesor dan penggagas teori kebahagiaan, mengemukakan bahwa manusia dapat hilang kepercayaan atas kemampuan dirinya jika berulang kali terpapar pada kegagalan (learned helplessness; ketidakberdayaan yang dipelajari). 

Terus menerus menjumpai kegagalan, lama kelamaan orang itu akan belajar untuk meyakini bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan menghasilkan sesuatu. Dengan perkataan lain, kegagalan berulang sangat berpotensi untuk membuat seseorang menilai diri secara negatif. 

Albert Ellis, pencipta Rational Emotive Therapy, melengkapi dengan penjelasan psikologi kognitif. Menurutnya, tidak semua orang yang gagal akan menilai dirinya secara negatif. Ada hal yang membedakan antara orang gagal yang semakin gagal dengan orang gagal yang dapat bangkit dari kegagalannya. 

Bukan sebuah peristiwa negatif yang akan membuat seseorang menilai diri rendah, melainkan interpretasi orang tersebut pada peristiwa yang dialaminya. Kegagalan adalah hal yang dapat dialami siapapun, namun penilaian diri yang negatif hanya akan terjadi pada orang yang memaknai kegagalan itu secara negatif.

 Pandangan Albert Ellis tidak hanya berlaku untuk kegagalan tetapi juga aspek-aspek diri yang lain. Kecenderungan orang yang memiliki self-esteem rendah, menurut Ellis adalah melihat kepada kekurangan-kekurangannya sebagai upaya pembenaran. Harus diakui hal itu akan sangat mudah dilakukan karena manusia memang tidak sempurna. 

Lihatlah satu persatu bagian wajah atau tubuh kita, tentunya tidak sulit untuk melihat bagian mana yang kurang. Sangat mudah jika kita ingin menilai diri rendah. Apalagi masih menurut Ellis, manusia sering kali melakukan generalisasi berlebihan (overgeneralization). Ketika ada satu saja hal negatif dalam dirinya, ia memaknai dirinya negatif secara keseluruhan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Self-esteem selalu dapat dilihat dari dua sudut pandang. Perspektif pertama dikenal dengan istilah bottom up. Maksudnya jika kita memiliki aspek-aspek diri yang positif, maka otomatis harga diri kita secara keseluruhan akan meningkat. 

Berdasarkan pandangan ini, jika kita ingin memandang diri lebih baik, maka kita harus berusaha untuk tampil lebih menarik, lebih cakap dalam bidang tertentu, lebih atletis, dan lebih dalam hal-hal lain yang kita inginkan. Dengan meningkatnya aspek-aspek diri, menurut Jennifer Crocker dan Connie Wolfe yang menggagas pandangan ini, otomatis kita dapat lebih mudah dalam menghargai diri sendiri.

 Jadi, untuk dapat menumbuhkan penghargaan diri positif pada seseorang yang rendah diri akibat sering terpapar pada kegagalan adalah dengan memberi kesempatan untuk ia dapat melakukan sesuatu dengan berhasil. Seperti yang dikatakan Thomas Carlyle, penulis esai dan satir terkenal,”Tidak ada yang dapat membangun harga diri dan kepercayaan diri selain pencapaian/prestasi/keberhasilan.” 

 Untuk dapat berhasil mengerjakan sesuatu, kita dapat menemukan terlebih dahulu bakat atau kelebihan kita. Satu hal yang perlu diyakini adalah setiap manusia memiliki talenta masing-masing. Ketika seolah-olah kita tidak memilikinya, semata-mata itu hanya persoalan kita belum menemukannya. 

Perlu diingat bahwa aspek diri pada tiap orang tidak hanya satu. Di dalam diri kita masih banyak identitas diri yang lain. Gagal dalam satu atau dua hal tidak berarti kita gagal dalam seluruh diri kita. Jika satu aspek buruk, masih ada hal positif lainnya yang bisa kita temukan. Jadi jangan mengkontaminasinya dengan yang negatif.  

Selain itu, jika memang sering gagal, cari sumber kegagalannya. Apakah memang tidak berbakat atau sebenarnya belum cukup optimal upaya yang dilakukan. Atau bisa juga salah satunya adalah kecenderungan kita melakukan yang namanya self-serving bias. Bias ini dapat menyebabkan seseorang gagal lagi, gagal lagi. Mengenai self-serving bias dan kegagalan berulang dapat dibaca di sini dan di sini. 

Perspektif yang kedua, yaitu top down, datang dari Jonathan Brown dan Keith Dutton. Menurut kedua psikolog ini, kita tidak perlu memiliki beragam aspek diri yang berkembang baik untuk dapat menghargai diri kita sendiri. Yang perlu dilakukan hanyalah kita mencintai diri sendiri. Jika kita dapat mencintai diri sendiri, otomatis kita dapat melihat kelebihan-kelebihan yang terpancar dalam diri kita.

Brown dan Dutton menganalogikan pandangannya ini dengan pasangan muda yang jatuh cinta pada bayi pertama mereka yang baru lahir. Otomatis semua yang ada pada bayi mereka akan terlihat begitu menarik. Karena mencintai si bayi secara keseluruhan, mereka dapat melihat betapa menggemaskannya mata, bibir, jemari, dan sebagainya. 

Orangtua baru ini tidak menilai terlebih dahulu kaki dan tangan si bayi untuk kemudian menentukan bobot nilai si bayi. Jadi kita tidak perlu melihat aspek diri yang berkembang baik terlebih dahulu untuk dapat memberikan penghargaan sebesar-besarnya pada diri kita. Cukup dengan mencintai diri, maka kita dapat melihat betapa berharganya diri kita.

Pandangan ini cocok digunakan pada orang-orang yang tidak mampu mencintai dirinya sendiri meski banyak hal positif dalam dirinya yang bahkan dikagumi banyak orang. 

Pandangan top down dan bottom up sepertinya dapat saling melengkapi. Untuk dapat mengembangkan harga diri, kita butuh mencintai diri sendiri. Namun tentunya tidak cukup dengan sekedar mencintai. Diperlukan juga usaha untuk benar-benar dapat menampilkan diri yang kita banggakan. 

Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan Eleanor Roosevelt, “Tidak ada yang dapat membuat kita merasa rendah diri tanpa seizin kita.” Jadi mari belajar menghargai diri sendiri dan Anda akan menemukan betapa berharganya diri Anda.

1 comment on “Mengapa Rendah Diri dan Apa yang Harus Dilakukan?

  1. Pingback: Mari Belajar Hargai Diri Sendiri – CATATAN ESTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: