Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan Diri Well-being

Memeluk Luka-luka Masa Lalu

Di antara sejumlah pasangan yang sedang dalam konflik yang saya temui, sebagian di antaranya memiliki persoalan yang lebih “dalam” dari yang semula mereka duga. Lebih “dalam” karena ternyata saat berkonsultasi itulah, baru terungkap bahwa entah istri entah suami menyimpan masa lalu yang kelam. Selama ini mereka sembunyikan, berusaha mereka tekan dan lupakan. 

Mereka pernah menjadi korban pelecehan dan atau kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, dalam durasi bulanan hingga tahunan. Pelaku adalah orang-orang terdekat atau yang dikenal baik keluarga : ayah, paman, sepupu, kakak, sahabat orangtua. 

Awalnya suami/istri datang dengan keluhan bahwa pasangan cenderung berorientasi pada diri sendiri. Mereka kurang perhatian, cenderung mementingkan diri sendiri, dan kurang ada kelembutan meski tidak melakukan tindakan agresif secara fisik. 

Mereka juga menggambarkan pasangan sebagai kurang peka, kurang peduli pada kebutuhan dan perasaan pasangan. Bahkan meskipun pasangan sudah berbicara atau bercerita tentang apa yang ia alami, rasakan, dan butuhkan. 

Sikap yang juga dominan adalah sangat mudah tersinggung. Sikap ini digambarkan pasangannya sebagai perpaduan antara narsisme dan paranoid dengan ciri-ciri sbb : merasa dirinya yang paling benar, orang lain selalu dituduh menyerangnya, hendak menyakitinya atau sengaja membuatnya kesal. 

Suami/istri yang menemui saya menyebutnya sebagai bentuk narsisme. Belakangan saya memahami bahwa itu adalah bentuk palsu dari cinta diri. Ia hanya memproteksi diri, bukan mencintai diri. 

Penghayatan anak akan pelecehan/kekerasan yang terjadi

Anak, dalam keterbatasannya, tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang terjadi pada diri mereka ketika pelaku menyentuh tubuhnya. Sementara itu, perasaan mereka sendiri bercampur aduk. 

Di satu sisi mereka merasa tidak nyaman dan merasa bahwa tidak sepatutnya pelaku bertindak demikian. Mereka ingin pelaku menghentikan perbuatannya, namun tidak dapat berkata-kata dalam kebingungan mereka untuk mencerna apa yang tengah terjadi. 

Di sisi lain, dalam kekerasan seksual yang dilakukan secara eksploitatif-manipulatif tetapi tidak bernuansa brutal, korban (anak) merasakan kenikmatan pada wilayah tubuh tertentu yang disentuh.

Freud telah mengingatkan kita bahwa manusia memiliki zona erotis yang sudah berkembang sejak bayi sekalipun. 

Ambivalensi berbagai perasaan ini akan menambah kebingungan pada diri anak. Kebingungan-kebingungan ini kelak akan memengaruhi pemaknaan anak akan tubuh dan seksualitasnya (baca seksualisasi traumatis dari Finkelhor dan Brown, 1985) 

Kejadian yang sama akan terus berulang tanpa anak berani menceritakannya kepada siapapun. Demikian bertahun-tahun kekerasan seksual menjadi rahasia antara korban dan pelaku. 

Sinyal-sinyal Anak

Sebenarnya dari apa yang dapat saya amati, anak-anak yang mengalami peristiwa ini  berusaha memberitahukan kepada orang sekitar dengan memberikan sinyal-sinyal. Sinyal-sinyal ini  tampil dalam bentuk perilaku negatif: rewel, kasar, agresif, memberontak, kehilangan minat belajar, daya konsentrasi menurun, dll. 

Anak, dengan keterbatasannya, dalam ketidakmengertiannya, sulit mengungkapkan secara eksplisit apa yang ia alami. Perilaku negatif mereka merupakan ekspresi dari kegelisahan dalam diri, dari semua emosi yang berkecamuk tanpa mereka dapat menamakannya.

Anak mengharapkan orangtua mampu memahami apa yang terjadi, menyingkap yang tersembunyi, yang tidak dapat mereka ceritakan. Tetapi sayangnya (dan sebenarnya dapat dimengerti) kebanyakan orangtua tidak menangkap adanya perubahan sikap dan perilaku anak. 

Atau sangat mungkin mereka melihat adanya perubahan sikap dan perilaku si anak, tetapi tidak akan pernah mengira bahwa anak telah mengalami peristiwa yang mengerikan, yang menjelaskan perubahan perilakunya tsb.  

Ketika orang-orang terdekat tidak mampu menangkap atau memahami sinyal yang diberikan anak, mereka akan menanggapi sinyal ini dengan cara-cara yang memperburuk kondisi anak. Orangtua akan marah atau membentak sambil keheranan mengapa si anak menjadi “bandel”, tidak mau nurut, dsb.

Korban pelecehan/kekerasan seksual di masa kanak-kanak pun akhirnya rentan mengalami bentuk kekerasan lainnya sebagai respons terhadap dampak pelecehan/kekerasan yang ia alami. Orangtua dapat berperilaku kasar; anak dapat mengalami kekerasan fisik. 

Tetapi yang lebih umum terjadi adalah kekerasan psikis : orangtua membandingkan anak dengan adik/kakak yang berperilaku manis dan berprestasi di sekolah. 

Pembanding-bandingan anak semacam ini meningkatkan iri hati dan kecemburuan. Dimulai terhadap adik atau kakak, dengan pertanyaan: “Mengapa saya yang harus mengalami ini?” Beranjak dewasa, iri hati dan rasa cemburu akan meluas terhadap teman, rekan kerja, dan bahkan terhadap pasangan sendiri.

Kepribadian yang tersayat

Seseorang yang mengalami pelecehan dan atau kekerasan seksual pada masa kanak-kanak cenderung menampilkan gambaran kepribadian yang khas, yang saya namakan sebagai kepribadian yang tersayat, semacam perpaduan antara pasif-agresif, borderline, dan paranoia.

Ambivalensi sikap yang ditampilkan pelaku (antara merayu dan mengancam, tertarik tetapi menyakiti) dan ambivalensi perasaan yang muncul akibat tindakan si pelaku (antara kenikmatan dan ketidaknyamanan/jengah/malu/jijik), keduanya berpotensi mengacaukan emosi korban.

Korban jadi sangat sensitif, karena terbentuk untuk selalu waspada. Bayangkan korban pelecehan/kekerasan yang senantiasa berjaga-jaga, khawatir kalau-kalau pelaku beraksi ketika anggota keluarga lain sudah terlelap.

Korban mudah curiga dan meyakini bahwa orang lain sengaja menyakiti dirinya (ide paranoia). Dalam pandangan mereka, manusia terbelah sebagai baik dan jahat (split, sebagai ciri kepribadian borderline).

Sebagai bentuk pertahanan dan perlawanan, mereka bersikap kasar terhadap orang yang mereka anggap menyakitinya. Mereka menyerang balik orang yang “menyerang” dirinya. (Saya beri tanda kutip karena biasanya mereka mempersepsikan diri diserang, karena selalu dalam mode defensif).

Sebagian di antara mereka akan menyesalinya, meminta maaf, lalu kemudian kembali merasa telah disakiti sehingga kembali agresif.

Serangan mereka tidak harus eksplisit, tetapi secara ambigu, diam-diam, dalam bentuk pembalasan dendam, atau dalam bentuk sarkasme, menjadi nyinyir dengan perbendaharaan kata-kata pedas (karakteristik pasif-agresif).

Mereka cenderung memproteksi diri, dengan menunjukkan diri sebagai yang paling benar, yang paling tahu, dan sulit menerima pandangan orang lain, apalagi kritikan. Orang luar melihatnya sebagai bentuk narsisisme, tetapi mekanisme yang sebenarnya adalah perlindungan diri untuk tidak (lagi) disakiti.

Memeluk Luka untuk Dapat Mencintai dan Dicintai

Menekan, menyembunyikan, menyimpan rapat-rapat… Mengira bahwa ketika waktu berlalu, hidup terus berjalan, semua masa lalu yang kelam akan terkubur. Namun korban tidak menyadari bahwa luka-luka itu ada di sana, menghambatnya dalam mengenali diri sendiri, dalam berelasi, dan dalam mencintai. 

Proses pemulihan pun dimulai dengan keberanian menatap luka, melihat sayatan, goresan, apapun itu bentuknya, seberapa pun lebar dan dalamnya. 

Anak itu “dihadirkan” kembali dalam proses ini : anak yang lemah, tidak berdaya, yang dalam ketidakmengertian, kebingungan, dan ketidakmampuan menolak, membiarkan dirinya disentuh, dikuasai. Anak yang diancam untuk menutup rapat-rapat peristiwa itu kini diminta untuk bercerita dan membuka identitas pelaku.  

Dalam visualisasi itu, si anak (yang kini sudah dewasa) ini dapat melihat bahwa semua kejadian itu bukan salahnya. Ia tidak perlu membela diri. Ia juga dapat melihat bahwa si pelaku sudah tidak dapat lagi mengancamnya. Ia tidak perlu terus-terusan waspada akan serangan. 

Ketika akhirnya suami/istri yang pernah mengalami peristiwa traumatis mengakui luka-luka ini sebagai bagian dari diri mereka, seketika persoalannya menjadi jelas bagi diri mereka sendiri dan bagi pasangan mereka. Reaksi-reaksi yang selama ini berlebihan kini dapat dimengerti (meski tentu tidak dapat dibenarkan). 

Lebih mudah bagi pasangan mereka untuk memahami sikap dan perilaku mereka selama ini. Tetapi juga yang terpenting adalah pasangan mau mendampingi dan menguatkan suami/istri dalam proses pemulihan. 

Mereka pun belajar memeluk luka-luka emosionalnya di masa lalu untuk dapat merasakan cinta dan mempersembahkan cinta dari orang-orang yang memberi cinta kepadanya dan menerima cinta darinya. 

Prosa ini saya buat berdasarkan pengalaman pasangan-pasangan ini. Saya menggunakan kata “kaktus” karena tumbuhan ini kuat dan resisten; hidup umumnya di daerah kering (gurun, semi gurun, padang rumput kering). Durinya adalah untuk melindungi diri, mengurangi penguapan air pada daun agar dapat tumbuh lama tanpa air. 

Perempuan/laki-laki dewasa yang pernah punya pengalaman traumatis saya gambarkan sebagai kaktus. Mereka bertahan menjalani hidup meski dengan kepribadian tersayat, dalam “kekeringan” cinta, dalam ketidakmampuan mencintai dan merasakan cinta. Mereka berduri untuk melindungi diri (menyerang, merasa terserang, dll), meski memang durinya ini menyakitkan bagi pasangan mereka. 

Dari pengalaman mereka, kiranya kita juga bisa belajar bagaimana sebaiknya mencintai agar pasangan juga dapat merasa sungguh dicintai. 

 

Aku mencintaimu, dirimu

Kau mencintaimu, dirimu

Aku tidak sedang menghancurkan diriku 

Kau yang sedang menghancurkanku, kau kan terus menghancurkanku

Kau yang telah remuk, 

Anak yang tak dicintai, mampukah engkau mencintai?

 

Mencintai, anakku, bukan menyenangkan hatiku dengan caramu

Mencintai adalah mendengarkan

Mencintai adalah memahami

Mencintai adalah merawat dan peduli

Mencintai adalah memberi perhatian

Mencintai adalah senantiasa mempertimbangkan dia yang dicintai

 

Mencintai bukanlah dengan kado-kado indah

Mencintai adalah menunjukkan  kasih sayang dengan kelembutan

Dari sejak dimulainya hari

Sampai kita berucap selamat bermimpi indah

 

Mencintai adalah melingkupi dia yang kau cinta dengan cinta

Dan dalam cinta, cintaku

Kita bercinta, bukan sekedar bersenggama

Kita mencapai kenikmatan sambil membawanya dalam kenikmatan

Dalam cinta, kita tidak mungkin menjadi Cartesian

Karena cinta tidak dapat dijelaskan, ia tidak didasarkan pada alasan

Dalam cinta, kita tidak ber-matematika

Ketika mencintai, kita tidak menghitung sudah berapa banyak memberi dan menerima  

Kita memberikan sepenuh cinta yang kita punya

Tanpa kehilangan cinta akan diri sendiri

 

Mencintai, kekasihku, adalah memperlakukan yang dicintai dengan kelembutan bukan dengan sarkasme dan kecurigaan  

Mencintai adalah melindungi bukan membela diri

Durimu, kaktusku, menusukku, membuatku kesakitan

 

Kumencintaimu, cintaku, dan ku mencintai diriku

Tenangkan dirimu, tarik perlahan nafasmu, dia tak lagi di sana

Menangislah, menangis di bahuku, menangislah bersamaku. 

 

Teriring doa untuk korban-korban pelecehan dan kekerasan seksual.  

1 comment on “Memeluk Luka-luka Masa Lalu

  1. Pingback: Kaktus yang Berbunga – CATATAN ESTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: