Well-being

Sahabat Sejati : Menangis Bersama atau Bahagia Bersama?

Beberapa hari lalu, seorang teman mem-posting foto-foto ulang tahun suami dan salah seorang anaknya, yang kebetulan berulang tahun di bulan yang sama. Foto-foto yang indah, yang menunjukkan kebahagiaan mereka. 
Dalam foto itu, tampak bagaimana ia mencintai dan bangga akan suaminya. Saya tidak perlu gambarkan di sini, takut nanti pada jadi pengin punya suami seperti suaminya hehehe. 

Tetapi sungguh seperti kalimat yang ia tuliskan di posting an-nya itu, perempuan manapun akan merasa sangat beruntung punya suami seperti suaminya (syukurlah saya sudah punya satu hehehe). 

 

Baru saja saya hendak mengucapkan selamat, pandangan mata saya tertuju pada salah satu komentar “aneh”. Aneh karena dalam komentar itu, siapapun yang membaca akan langsung mengerti bahwa pemberi komentar tidak ikut bersukacita dengan kawan saya itu. Kawan saya dituduh hanya sedang beromong kosong saja. 

Sepertinya ada dua orang yang ikutan mengatakan bahwa kawan saya sedang menggombal, demikian kata yang mereka ucapkan. Mereka lantas mengungkit masa lalu kawan saya itu dan “menuntut” kawan saya membuktikan bahwa ia tidak sedang “menggombal”. 

Mengenai masa lalu kawan saya ini, saya kira hanya orang-orang terdekat yang tahu. Hal ini meyakinkan saya bahwa si pemberi komentar juga orang yang dekat dengannya. 

Sedih sekali saya membaca komentar itu, yang dipublikasikan untuk publik, kepada kawan yang tentu saja seperti manusia pada umumnya pernah punya masa lalu yang mungkin kurang menyenangkan. 
Pembandingan Sosial dan Penguatan Diri Dalam Pertemanan

Saya jadi merenung…

Banyak yang bilang kalau sahabat sejati adalah orang yang bisa ikut berduka dengan kita ketika kita sedang sedih. Tapi kita lupa sahabat sejati adalah orang yang seharusnya juga bisa ikut bahagia ketika kita berbahagia. Dan kita lupa bahwa bagian ini adalah yang paling susah. 
Salah satu penyebabnya adalah karena adanya kecenderungan kita sebagai manusia untuk melakukan yang namanya pembandingan sosial (social comparison) dan penguatan diri (self-enhancement). 

Ketika teman kita sedang sedih, lebih mudah bagi kita untuk mendampinginya, untuk ikut sedih bersamanya karena kesedihan teman atau orang lain seringkali justru menjadi penguat kita. 

Maksudnya penguat di sini bukan berarti kita justru gembira ketika ia sedang bermasalah (jika ada yang seperti ini, mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, apa benar ia seorang sahabat). 

Menguatkan di sini lebih dalam arti bahwa kita tidak mengalami masalah tsb, bahwa kita dapat menjadi orang yang mampu menghiburnya, bahwa masalah kita ternyata tidak lebih berat dari masalahnya, dll 

(Jangan merasa buruk/jahat jika Anda merasakan ini karena ini sangat manusiawi sifatnya). 

Sebaliknya, ketika teman sedang berbahagia entah dalam kehidupan asmara atau sukses meraih sesuatu, kebahagiaan dan keberhasilannya justru menjadi pengingat akan kelemahan dan kegagalan kita, akan kondisi kita yang mungkin sedang kurang bahagia/menyenangkan. 

Akibatnya pada sebagian orang, sulit untuk benar-benar tulus ikut berbahagia dengan kebahagiaan kawannya. 

Apalagi jika selama ini, sahabat kita itu adalah teman seperjuangan kita;  punya persoalan yang sama dengan kita. Misalnya sesama jomblo, kok tau-tau dia sudah menemukan pacar, sementara kita belum. Atau yang tadinya sama-sama menganggur, sekarang sudah punya pekerjaan sementara kita belum. 

Lakukan ini untuk sahabat kita

Tentu mengecewakan ketika seseorang yang kita anggap sebagai sahabat ternyata tidak bisa ikut berbahagia dalam kebahagiaan kita. Padahal karena kita menganggapnya sebagai sahabat, kita ingin berbagi kebahagiaan ini. 

Tetapi mungkin bisa juga kita tanggapi sikapnya dengan lebih empatis.  Bisa jadi ia sedang dalam masalah atau sedang tidak merasa bahagia sehingga sulit untuk berbahagia dengan kita. 

Bila memang demikian, mari tanggalkan sebentar euphoria kita untuk bisa ikut bersedih dengannya. 

Tapi jika kita yang memang sedang tidak bisa bahagia, akan lebih bijak jika sejenak kita singkirkan kesedihan untuk ikut berbagi kebahagiaan dengan kawan kita. Kita bisa ikut bersyukur bahwa meski kita tengah kurang beruntung ternyata masih ada kawan kita yang bisa merasakan kebahagiaan. 

Percayalah, tulus merasakan kebahagiaan seorang kawan juga bisa bikin suasana hati kita jadi lebih baik lho. Yang tadinya sedang sedih, gelisah, cemas, bisa jadi merasa lebih gembira. Akhirnya pikiran malah jadi lebih jernih untuk menemukan solusi-solusi dari masalah yang kita hadapi. 

Tapi bukan karena ini pula kita jadi ngotot ikutan berbahagia saat teman sedang bahagia ya. Intinya di sini sebenarnya adalah ketulusan. 

Facial feedback hypothesis

Terkait dengan hal ini, Israel Waynbaum, seorang dokter berkebangsaan Prancis, dalam bukunya Fisiognomi Manusia, Mekanisme dan Peran Sosialnya (La Physionomie Humaine, Son Mécanisme Et Son Rôle Social) menjelaskan bahwa pengalaman emosi atau perasaan kita mengikuti ekspresi wajah kita, bukan mendahuluinya. 

Contohnya bukan karena kita gembira lalu tertawa, tetapi karena kita tertawa kita akan gembira.

Hal ini dikarenakan otot-otot wajah mengatur aliran darah pada wajah, yang kemudian dapat memengaruhi apa yang dirasakan seseorang.

Ini yang dinamakan dengan facial feedback hypothesis. Teori ini meyakini bahwa otot-otot wajah (facial) dapat memberikan umpan balik (feedback) berupa munculnya emosi/perasaan sesuai bentukan otot wajah kita.

Sejauh ini, senyum adalah aktivitas otot wajah yang banyak diteliti termasuk oleh para psikolog untuk membuktikan –dan sejauh ini terbukti benar- teori Waynbaum yang dicetuskannya pada tahun 1906 ini. 

Hanya dengan tersenyum secara tulus, bukan pula senyum palsu tentunya, suasana hati kita bisa jadi lebih baik. 

Kegembiraan sahabat yang sedang berbahagia memang dapat mengingatkan kita pada kemalangan kita sendiri, dan ini bisa bikin sedih dan iri hati. Nanti kalau sudah iri hati, kita malah jadi mikir macam-macam, menuduh sahabat pamer misalnya. Sementara dia cuma ingin kita ikut senang dalam kebahagiaannya. 

Tetapi kegembiraan sahabat juga bisa jadi, dan sebaiknya dijadikan kesempatan untuk kita menunjukkan bahwa kita benar-benar berbahagia untuknya. 

Tarik sedikit otot-otot wajah Anda membentuk senyum yang tulus untuk mengucapkan selamat kepadanya, dan niscaya Anda akan ikut berbahagia. 

 

Jadi, mari kita bersukacita dalam kebahagiaan sahabat kita seperti kita ikut bersedih dalam kesedihannya.

3 comments on “Sahabat Sejati : Menangis Bersama atau Bahagia Bersama?

  1. cihiy anak kumparaaaaan 😀

    ehe, daku komen di sini ah, setelah baca di lapak sebelah 😀

    Sahabat yang musti bahagia dan bersedih bersamaaaa. Saling membangkitkan dan menenangkan 😀

    ya ampon, ku nyari sahabat begitu 😀

    Like

    • Hahaha Febriiiii, trm ksh ya udah membaca dan mengomentari 😺 Iya, pasti senang ya pny sahabat di kala suka dan duka 😇. Dan smg kita jg bs sll menjadi sahabat spt itu bagi sahabat kita ❤

      Like

      • ehehe, sama-samaaaa mbaaa 😀

        iyaaa, mba. Pasti bakal seneng banget. Semoga kita bisa jadi pribadi yang begitu yaaak. Dan bisa dapet juga sahabat yang macam begitu 😀

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: