Well-being

Mengenal Jenis-jenis Penyimpangan Seksual

Paraphilia berasal dari kata para yang artinya penyimpangan dan philia yang berarti cinta atau ketertarikan. Paraphilia dapat diartikan sebagai penyimpangan objek ketertarikan seksual. Tetapi sejak beberapa tahun ini, paraphilia cenderung didefinisikan sebagai ketertarikan/ketergugahan seksual pada objek/situasi/individu/fantasi yang tidak biasa atau tidak lazim.

(Khususnya sejak tahun 2015, dalam buku panduan diagnostik dan statistik gangguan mental edisi ke-5 (DSM V),  paraphilia hanya dinyatakan sebagai minat/ketertarikan objek seksual yang tidak lazim). DSM V membedakan antara paraphilia (ketertarikan pada objek seksual yang tidak lazim) dan gangguan paraphilia.

Paraphilia menjadi gangguan jika sudah mengganggu orang ybs dalam keberfungsiannya sehari-hari (menimbulkan stres, menghambatnya dalam hubungannya dengan orang lain, dll), dan tentu saja jika mengganggu dan membahayakan orang lain.

Perilaku seksual seseorang bisa dikatakan tidak lazim jika ketertarikannya secara seksual adalah pada salah satu dari berikut ini  : (a) bukan manusia, (b) orang dewasa yang tidak memberikan persetujuannya dalam aktivitas seksual tsb,  (c) anak-anak, dan (d)  tindakan seksual yang mempermalukan atau menyiksa dirinya ataupun partner seksualnya.

Dalam bukunya mengenai gangguan seksual, Anil Aggrawal, profesor  kedokteran forensik dari India membuat daftar 547  objek ketertarikan atau fokus minat seksual yang tidak lazim.

Paraphilia mungkin terdengar asing di telinga kita, padahal (dan sangat saya sesali) perempuan dalam perjalanan hidupnya setidaknya satu atau beberapa kali terpaksa berhadapan dengan orang yang mengalami penyimpangan seksual (sebagian besar penderita gangguan ini adalah pria, dengan korban sebagian besar adalah perempuan).

Semisal di dalam bus atau kendaraan umum, perempuan rentan menjadi korban frotteurism. Frotteurism adalah penyimpangan seksual dimana individu memiliki fantasi dan dorongan seksual serta melakukan tindakan menyentuh atau menggesekkan alat kelaminnya pada seseorang.

Frotteurism banyak dilakukan di kendaraan umum yang penuh sesak dimana pelaku dapat menggesekkan alat kelaminnya dengan alasan penuhnya penumpang.

Barangkali juga ada yang pernah ditelepon oleh nomor tidak dikenal dan tiba-tiba suara di seberang sana mengucapkan kata-kata tidak senonoh. Nama ilmiahnya untuk tindakan melakukan telepon cabul ini adalah telephone scatologia.

Menulis tentang paraphilia ini, saya jadi teringat kasus Reynhard Sinaga beberapa waktu lalu. Saya jadi bertanya-tanya apa ia mengalami gangguan ini khususnya yang dinamakan somnophilia.

Istilah somnophilia (dari bahasa latin, somnus : tidur) pertama kali dicetuskan oleh ahli seksologi bernama John Money (1986) untuk menyebut orang yang terangsang secara seksual dengan orang yang dalam keadaan tidak sadar, entah dalam keadaan tertidur atau dalam pengaruh obat.

Kepasifan si “korban” inilah yang membuatnya bergairah dan membantunya mencapai orgasme.  Somnophilia disebut pula sebagai sleeping princess syndrome dan sleeping beauty syndrome.

Berikut ini beberapa jenis lain dari paraphilia :

Fetishism, yaitu paraphilia dimana seseorang mengalami rangsangan seksual ataupun berfantasi seksual dengan melihat benda-benda mati (fetish).

Biasanya fetishism terjadi pada pria yang terangsang bila melihat pakaian dalam wanita, sepatu boot, stocking, dan benda-benda lain yang umumnya dimiliki/dikenakan wanita.

Penderita fetishism dapat melakukan hubungan seksual secara “normal” namun umumnya benda-benda ini harus ada agar ia dapat terangsang secara seksual.

Fetishism bersifat kompulsif maksudnya ditandai dengan dorongan ketertarikan yang sangat kuat terhadap objek-objek ini, yang sulit dikendalikan, dan sebenarnya di luar kehendak orang tsb.

Bedakan dengan pria “normal” yang menemukan bahwa sepatu hak tinggi itu kesannya seksi dan sensual. Ini tidak dapat disebut sebagai fetishism kecuali ia membutuhkan sepatu hak tinggi itu untuk dapat merasakan gairah ataupun kepuasan seksual.

Secara khusus dinamakan transvestic fetishism atau transvestism bila pria heteroseksual mengalami rangsangan seksual dan mendapatkan kepuasan seksual dengan mengenakan pakaian wanita. Biasanya transvestism dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Voyeurism, yaitu paraphilia di mana individu merasakan dorongan seksual yang sangat kuat dan mendapatkan kepuasan seksual dengan mengamati seseorang sedang melepaskan pakaian ataupun yang sedang melakukan hubungan seksual tanpa diketahui oleh orang yang bersangkutan.

Kepuasan seksual dapat diperoleh bukan hanya dengan melakukan tindakan mengintip tersebut, tetapi dengan melakukan masturbasi selama mengintip ataupun setelah mengintip sambil mengingat adegan yang ia intip.

Pria ‘normal’ bisa saja punya fantasi voyeuristic tetapi selama fantasi ini tidak pernah dilakukan, ia tidak bisa disebut mengalami gangguan voyeurism.

Exhibitionism, yaitu paraphilia dimana individu memiliki fantasi dan dorongan seksual, serta mendapatkan kepuasan seksual dengan memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain.

Pada sebagian besar kasus, kepuasannya justru bukan karena “memperlihatkan alat kelamin” tetapi karena dengan memperlihatkan alat kelaminnya, ia berhasil membuat perempuan syok.

Terkadang pelaku juga melakukan masturbasi sambil memperlihatkan alat kelaminnya tersebut.

Dorongan melakukan tindakan ini begitu kuat sekaligus mengganggu penderita. Bukan sekedar dorongan seksual yang membuatnya melakukan tindakan ini tetapi juga kecemasan, kegelisahan, dan ketegangan dalam dirinya.

Sebagian penderita mengalami sakit kepala hebat, jantung berdetak sangat kencang, dan seperti sedang dalam mimpi (berada di luar kenyataan) ketika sedang melakukan aksinya. Kebanyakan merasa malu dan bersalah setelah melakukan aksinya. Tetapi karena dorongan yang ada sulit dikendalikan, biasanya mereka akan kembali melakukannya.

Sexual sadism, yaitu penyimpangan seksual dimana individu memiliki fantasi dan dorongan seksual serta mendapatkan kepuasan seksual dengan melakukan tindakan yang menyakitkan secara fisik maupun psikologis terhadap pasangan seksualnya. 

Tindakan sadis secara fisik yang dapat dilakukan adalah memukul, mencambuk dengan ikat pinggang atau tambang, menggunakan tegangan listrik, menyayat dengan pisau atau benda tajam lainnya, atau membuat pasangan sulit bernafas dengan mencekik atau menjerat leher pasangan. 

Tindakan terakhir sering disebut dengan hypoxyphilia (autoerotic asphyxiation) karena kurangnya oksigen akibat tindakan tersebut.  

Tindakan sadis secara psikologis dapat dilakukan dengan memberikan peran budak kepada pasangan, menjadikan pasangan sebagai bayi tak berdaya yang harus menggunakan popok, mempermalukan pasangan dengan mengencingi atau membuang air besar di tubuh pasangan, memasang kalung anjing serta memperlakukan pasangan sebagai anjing, dll. 

Sexual masochism, yaitu suatu penyimpangan seksual dimana individu memiliki fantasi dan dorongan seksual serta mendapatkan kepuasan seksual apabila menerima tindakan yang menyakitkan secara fisik maupun psikologis dari pasangan seksualnya. 

Tindakan menyakitkan yang dapat diterima sama dengan tindakan yang dilakukan dalam sexual sadism.  Bedanya hanya dalam peran yang dilakukan. Dalam sexual masochism, enderita gangguan menerima perlakuan sadis. 

Kata masochism diambil dari nama penulis sekaligus ahli sejarah dan jurnalis Leopold Baron von Sacher-Masoch. Ia menulis tentang pria yang dipermalukan secara seksual oleh perempuan (tokoh perempuan ini sebenarnya tokoh utamanya). Sacher-Masoch sendiri semasa kanak-kanak pernah menyaksikan bibinya sedang mencambuk pamannya ketika berhubungan seksual. 

Sedangkan istilah sadisme dari penulis Prancis bernama Marquis de Sade yg menulis tentang kepuasan seksual yang diperoleh dengan melakukan kekejaman. 

Adalah Krafft-Ebing, seorang physician  Jerman-Austria yang menggabungkan istilah sadism-masochism ini dalam karyanya Psychopathua Sexualis (1886). 

Perlu diketahui bahwa melakukan aktivitas-aktivitas sadism-masochism bukan berarti seseorang menderita gangguan tsb. Bisa jadi seseorang terpaksa melakukannya untuk memuaskan pasangan atau dipaksa oleh pasangan. Untuk dapat disebut mengalami penyimpangan, orang ybs harus punya dorongan seksual dalam dirinya sendiri untuk melakukan hal itu dan mendapatkan kepuasan seksual dari tindakan tsb. 

Jangan pula membayangkan bahwa pelaku sexual sadism adalah laki-laki dan sexual masochism adalah perempuan. Ini adalah gambaran mental kita karena terbiasa mengasosiasikan perempuan dengan kepasifan, dan juga kita berpikir ala heteroseksual. Dengan berbagai alasan, kita sering mengabaikan pasangan-pasangan homoseksual. 

Pedophilia, yaitu gangguan pada individu yang memiliki dorongan dan fantasi seksual serta melakukan tindakan seksual terhadap anak-anak pra remaja (umumnya berusia 13 tahun ke bawah). 

Subjek pelaku harus di atas 16 tahun atau setidaknya 5 tahun lebih tua dibandingkan korban (anak) untuk dapat disebut sebagai pedofil. 

Beberapa contoh lain paraphilia yang juga cukup banyak ditemukan adalah necrophilia (dengan mayat), zoophilia (hewan), dan coprophilia/scatophilia (kotoran manusia). 

Mengapa ada orang yang mengalami gangguan penyimpangan seksual, dan bagaimana penanganannya? Semoga dapat saya tuliskan dalam kesempatan lain. 

Perlu saya sampaikan di sini adalah bahwa orang-orang ini meskipun mendapatkan kepuasan seksual dari tindakannya tetapi ia mengalami gangguan. Mereka sendiri menderita akibat gangguannya ini dan ingin sembuh (kecuali untuk kasus-kasus pedofilia, sebagian besar justru menyangkal dan meminimalisasi perbuatannya atau meyakini dirinya tidak bersalah).  

Jika ada di antara anggota keluarga atau teman atau bahkan Anda sendiri mengalami gangguan ini, berkonsultasi dengan pakar sangat disarankan untuk dapat membantu menemukan akar permasalahan yang telah mengantarkan orang tsb sampai pada perilaku menyimpang ini. Agar tidak menimbulkan korban selanjutnya dan juga untuk kesejahteraannya. 

Silakan donlot di sini tulisan lengkap mengenai Penyimpangan Seksual, Jenis-jenis, Penyebab, dan Penanganannya

Ilustrasi : Man on all fours in red jacket with fully clothed woman riding him, dari koleksi Richard von Krafft-Ebing (1840-1902), profesor psikiatri di Graz dan Vienna. Sumber : Wikipedia.

7 comments on “Mengenal Jenis-jenis Penyimpangan Seksual

  1. Wah keren banget. Btw, mau nanya nih kalo BDSM itu masuk penyimpangan ga, Sist?

    Like

    • Hai, trm ksh untuk pertanyaannya ya. Jadi nyadar ada beberapa kalimat yang perlu dijelas dlm artikel hehehe. Sejak tahun 2015, dalam DSM V, panduan diagnostik dan statistik gangguan mental, beberapa paraphilia hanya dianggap sebagai minat/ketertarikan yg tdk lazim, jadi bukan gangguan. BDSM hanya salah satu kinky sex, tapi harus ada aturan/kesepakatan dan harus memuaskan kedua belah pihak.

      Like

  2. Pingback: Mengapa Rendah Diri dan Apa yang Harus Dilakukan? – CATATAN ESTER

  3. Saya menikah dengan wanita yang sudah pernah menikah, saat pernikahan sebelumnya, mantan suaminya kerap kali ringan tangan, bahkan sampai wajah istri saya dulu lebam-lebam.

    Saya merasakan ada perilaku yang menyimpang, dan saya bingung tentang ini. Saat seks pertama kali, istri saya meminta saya untuk “menyiksa” dia dengan memukul, meremas sekuat-kuatnya, dll. Tapi saya tidak tega dan tidak ingin menyakiti wanita. Selanjutnya dia yang ingin menyiksa saya, pada awalnya saya mempersilahkan, karena saya tidak berpengalaman, dan masih bingung tentang seks. Makin lama semakin berbahaya (menurut saya), soalnya badan dan bahkan alat vital saya bisa sampai berdarah digigit, testis bengkak karena dipukul, ditendang, dll.

    Saat saya menolak, dia kadang marah, kadang nangis, dan dia bilang hanya mau seks yang keras. Saya pernah ajak konsultasi ke psikolog, namun dia malah marah dan bilang kalau dia bukanlah orang gila. Rasanya tidak ada efek apapun kalau saya datang sendiri ke psikolog dan dia tidak ikut datang juga.

    Saya bingung juga sebenarnya perilaku dia ini akibat dari tindakan mantan suaminya, atau sebenarnya dia pada dasarnya suka dan meminta disiksa. Kesehariannya normal saja seperti wanita lainnya, hanya saat seks saja dia begitu.

    Pertanyaannya, apakah perilaku seperti ini normal? Dan apakah mungkin perilaku seperti ini jika dibiarkan bisa berbahaya sampai merenggut nyawa?

    Like

    • Dengan sangat menyesal, saya harus menjawab bahwa perilaku seksual istri Pak Ruli tidak normal. Dan ya, perilaku ini berisiko merenggut nyawa. Mengenai apakah perilaku ini akibat dari tindakan mantan suaminya atau memang sudah terbentuk lebih awal, perlu ditelusuri lebih jauh peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kanak-kanaknya, bagaimana ia dibesarkan, dll. Tetapi saya kira ada pengalaman-pengalaman traumatis lain yang pernah ia alami sebelum pernikahan pertama; kekerasan yang ia terima dari mantan suami bisa jadi sebagai pemicu penyimpangan perilaku seksualnya, tetapi bukan pembentuk yang menyebabkannya menampilkan penyimpangan demikian. Barangkali masih ada yang ingin Pak Ruli tanyakan, silakan hubungi saya di alamat email lianawati.ester@gmail.com. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: