Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan

Apa yang Membunuh Cinta?

Seseorang mengatakan kepada saya, separuh bercanda, tapi sungguh ia meyakini apa yang ia katakan (kelihatannya begitu hehehe), bahwa mendengar pasangannya kentut, melihatnya gosok gigi (yang sampai busa pasta giginya keluar dari mulut hiks), mendengar bunyi-bunyi yang dihasilkan pasangannya ketika sedang di toilet (tahu dong itu lho bunyi kalau lagi pup atau pipis hehehe). Semua itu menurutnya bisa perlahan membunuh cinta.

Saya kira cinta tidak akan mati karena hal-hal tersebut. Bukan bunyi (maaf) kentut atau pipis atau “ee” yang akan membunuh cinta. Namun bunyi-bunyi “natural” ini bisa jadi salah ditangkap sebagai pembunuh cinta karena fungsinya memang bisa menjadi “perantara” menuju kematian cinta.

Maksudnya begini: Ketika kita sudah dapat melakukan hal-hal “natural” tersebut di hadapan suami/istri/pacar tanpa merasa malu atau jengah, sebenarnya menunjukkan kita sudah merasa nyaman dengannya.

Kenyamanan semacam ini akan mengantarkan kita memasuki tahap selanjutnya dalam hubungan. Tahap di mana kita menanggalkan topeng-topeng dalam diri kita, menampilkan diri yang sesungguhnya. Nah, ketika sudah sampai pada tahap ini, jika kedua belah pihak tidak waspada, mereka dapat membunuh cinta perlahan-lahan.

Tanpa disadari, pasangan membawa cinta secara perlahan menuju kematian oleh sikap dan perilaku menyerang (offensive) dan atau kelakuan bertahan (defensive) terhadap serangan (atau serangan yang dipersepsikan secara subjektif: Merasa terserang, padahal pasangan tidak bermaksud menyerang).

Menyerang dan merasa terserang sebenarnya adalah bentuk palsu dari cinta diri. Kita merasa diri yang paling benar sehingga kita mengkritik pasangan, menuntutnya melakukan hal yang kita sukai atau yang menyenangkan kita, berdasarkan standar penilaian kita.

Kita merasa diri yang paling benar sehingga merasa tersinggung ketika pasangan sedikit saja menyatakan ketidaksetujuannya. Kita merasa terserang sehingga merasa perlu melindungi diri. Kita tersinggung, marah, dan lantas membela diri bahkan balik menyerang.

Kita menunggu pasangan datang menghampiri kita untuk meminta maaf. Dan ketika ia meminta maaf, semakin mengukuhkan keyakinan bahwa kita yang benar, sekaligus bahwa kita dicintai. Tanpa bertanya pada diri sendiri mengapa sedemikian penting untuk terus-menerus merasa dicintai?

Introspeksi diri: Menggali dan memeluk masa lalu

Jika kita sering merasa mudah tersinggung padahal pasangan tidak bermaksud demikian, mungkin saatnya kita melakukan introspeksi diri. Apa ada pengalaman di masa lalu yang membuat kita senantiasa merasa dikritik atau diserang?

Sebaliknya jika pasangan sering merasa terserang oleh kita, kita juga perlu melakukan introspeksi diri. Bagaimana cara kita menyampaikan apa yang hendak kita sampaikan, mengapa sampai bisa senantiasa dipersepsikan sebagai kritik atau serangan oleh pasangan kita?

Adakah keinginan untuk menunjukkan bahwa kita yang paling benar, paling matang, paling bijaksana, paling berpengalaman?

Seringkali kita berkilah tidak bermaksud mengkritik, hanya memberitahukan cara yang lebih benar/lebih tepat/lebih efektif. Lantas pertanyaannya adalah ada apa di balik tindakan yang sepertinya bertujuan baik ini?

Mengapa kita terobsesi ingin membuat pasangan jadi lebih baik? Dan lagi-lagi sesuai dengan standar kita? Adakah keinginan yang mungkin tidak disadari untuk “menyempurnakan” pasangan? Dan mengapa demikian?

Perlu pula kita menggali diri sendiri, pasangan yang memang mudah tersinggung atau memang kita punya kecenderungan agresif secara verbal?

Lagi-lagi biasanya hal ini berkaitan erat dengan pengalaman kita di masa kanak-kanak, dengan pengasuhan orang tua ataupun dalam interaksi kita dengan figur-figur lain di sekitar kita.

Orang-orang yang tidak cukup mendapatkan cinta pada masa kanak-kanaknya, atau menghayati masa kecilnya sebagai anak yang kurang/tidak dicintai (misalnya meyakini orang tua lebih mencintai adik/kakak), atau mengalami trauma-trauma lainnya (pelecehan atau kekerasan fisik/seksual/psikis dll) perlu dan dapat belajar memeluk luka-luka emosionalnya di masa lalu sebelum dapat merasakan cinta dan mempersembahkan cinta dari orang-orang yang memberi cinta kepadanya dan menerima cinta darinya.

Lantas bagaimana mencintai agar cinta tidak mati?

Prosa ini saya buat berdasarkan pengalaman mereka yang mengalami kekerasan di masa lalu. Tidak dicintai, mereka pun tidak mampu mencintai. Sering mendapatkan perlakuan kasar, mereka cenderung memproteksi diri agar tidak lagi disakiti.

Mereka berorientasi pada diri sendiri sehingga kurang perhatian, cenderung mementingkan diri sendiri, dan mudah tersinggung.

Sikap mudah tersinggung ini digambarkan pasangannya sebagai perpaduan antara narsisme dan paranoid dengan ciri-ciri sbb: Merasa dirinya yang benar, orang lain selalu dituduh menyerangnya atau hendak menyakitinya atau sengaja membuatnya kesal.

Ini yang saya katakan sebagai bentuk palsu dari narsisme. Ia hanya memproteksi diri, bukan mencintai diri.

Sekaligus prosa ini kiranya memberi sedikit masukan mengenai bagaimana sebaiknya kita mencintai agar cinta itu niscaya tidak akan mati.

 

 Aku mencintaimu, dirimu

 Kau mencintaimu, dirimu

 Aku tidak sedang menghancurkan diriku

 Kau yang sedang menghancurkanku, kau kan terus menghancurkanku

 Kau yang telah remuk,

 Anak yang tak dicintai, mampukah engkau mencintai?

 

Mencintai, anakku, bukan menyenangkan hatiku dengan caramu

 Mencintai adalah mendengarkan

 Mencintai adalah memahami

 Mencintai adalah merawat dan peduli

 Mencintai adalah memberi perhatian

 Mencintai adalah senantiasa mempertimbangkan dia yang dicintai

 

Mencintai bukanlah dengan kado-kado indah

 Mencintai adalah menunjukkan kasih sayang dengan kelembutan

 Dari sejak dimulainya hari

 Sampai kita berucap selamat bermimpi indah

 

 Mencintai adalah melingkupi dia yang kau cinta dengan cinta

 Dan dalam cinta, cintaku

 Kita bercinta, bukan sekedar bersenggama

 Kita mencapai kenikmatan sambil membawanya dalam kenikmatan

 

Dalam cinta, kita tidak mungkin menjadi Cartesian 

Karena cinta tidak dapat dijelaskan, ia tidak didasarkan pada alasan

Dalam cinta, kita tidak ber-matematika

Ketika mencintai, kita tidak menghitung sudah berapa banyak memberi dan menerima

Kita memberikan sepenuh cinta yang kita punya

Tanpa kehilangan cinta akan diri sendiri

 

Mencintai, kekasihku, adalah memperlakukan yang dicintai dengan kelembutan bukan dengan sarkasme dan kecurigaan

Mencintai adalah melindungi bukan membela diri

Durimu, kaktusku, menusukku, membuatku kesakitan

 

Kumencintaimu, cintaku, dan ku mencintai diriku

Tenangkan dirimu, tarik perlahan nafasmu, dia sudah tidak lagi di sana

Menangislah, menangis di bahuku, menangislah bersamaku. 

 

Selamat memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat, dan saya kira juga bulan penuh cinta.

 

 

*Cartesian mengacu ke pemikiran-pemikiran Rene Descartes, yang menekankan logika, bahwa segala sesuatu harus rasional, sistematik, dan metodik.

 

Kredit foto : Rogelio de Egusquiza

 

 

Kredit foto : Rogelio de Egusquiza

 

0 comments on “Apa yang Membunuh Cinta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: