Feminisme Perempuan & Gender

Call Me Madame

Call me Madame

As I said yes to him coz I want to

Not coz my mom pushed me to do

Call me Madame

As I will be her lover forever

Never ever really be her spouse

Call me Madame

As he wakes up a She Wolf inside me 

With his kisses every night

Call me Madame

As I know this is an eternal flame

(Or call me Madame

Simply because I’m not mademoiselle anymore πŸ˜‚)

Bait-bait kecil di atas mungkin terdengar ringan. Awalnya saya tulis sekedar untuk bermain-main dengan kata dan mempersembahkannya untuk suami tercinta (duh lebay ya hehehe). 

“Call me Madame atau panggil saya Nyonya”, kalimat ini untuk menunjukkan bahwa saya telah menikah. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa saya memutuskan menikah dengannya atas keinginan saya sendiri bukan karena desakan keluarga dan masyarakat (yang diwakili di sini dengan kata β€œibu”). 

Bait kedua menuturkan bahwa saya menikah dengannya karena saya tahu dengannya saya tidak akan terjebak dalam hubungan suami-istri (yang akan berujung pada rutinitas). Saya berharap akan selalu menjadi kekasihnya (lover, bukan spouse). 

Ini juga yang hendak saya tekankan pada bait keempat, yakni saya yakin (dan semoga) rasa cinta ini memang akan terus membara. 

Saya akui ini salah satu kekhawatiran saya sebelum menikah, karena dari yang saya amati pernikahan cenderung membawa pasangan pada kehidupan yang monoton. Berangkat dari pengalaman sejumlah pasangan yang saya temui, perselingkuhan seringkali terjadi ketika suami/istri tidak lagi melihat pasangannya sebagai kekasih. 

Bukan berarti sudah tidak sayang, tetapi bara api gairah itu sudah padam (gairah yang dimaksud di sini tidak semata seksual, tetapi gairah dalam arti seperti dua insan sedang kasmaran. Jangan bayangkan perselingkuhan terjadi semata-mata karena seks).  

Bait ketiga, sebenarnya saya tulis untuk berterima kasih pada suami saya, yang telah membangkitkan serigala betina (She Wolf) dalam diri saya. Mengapa serigala betina? Serigala betina dalam psikologi Junginian merupakan lambang perempuan liar. 

Liar di sini jangan diartikan secara negatif. Liar di sini mengacu kepada kebebasan, keberanian, dan kemandirian. Bebas dan berani dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya, tidak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan masyarakat. Perempuan liar tidak takut mengambil keputusan karena seperti serigala betina, ia mengandalkan intuisinya. 

Meski tentu saja tidak selalu keputusan-keputusannya itu benar. Tetapi dari kesalahan dan kegagalan, ia belajar mempertajam intuisinya dan mengembangkan kecakapan-kecakapannya. Karena seperti serigala betina, perempuan mampu bangkit meski sudah terseok dan terpuruk. 

Serigala betina itu sendiri juga adalah binatang yang penuh kasih kepada anak-anak dan klan nya, dan juga setia kepada pasangan. Dan tahukah Anda bahwa ada serigala betina dalam diri setiap perempuan? Silakan baca di sini ya Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan

Bait ke empat, tadinya hanya untuk bercanda. Panggil saya Nyonya karena memang saya sudah tidak Nona lagi 😁 Tetapi saya baru ngeh bahwa kalimat canda ini sebenarnya merupakan persoalan yang serius di Prancis (dan beberapa negara Eropa lainnya).

Tentang Panggilan Nona dan Nyonya di Prancis, dapat dibaca di sini.

5 comments on “Call Me Madame

  1. Aawww loooveee thiis so mucchh ❀️

    Like

  2. riomastri

    Penggalian maknanya bikin saya yang awam awalnya bingung sama She Wolf

    Like

  3. Pingback: Nona atau Nyonya? – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: