Feminisme Perempuan & Gender

Empati sebagai Kekuatan Psike Perempuan

IMG_20200221_011413

Anda sudah mengenal Sabina Spielrein, psikoanalis perempuan pertama yang pemikiran-pemikirannya memengaruhi teori-teori utama dari Carl Jung, Sigmund Freud, Anna Freud, dan Melanie Klein? Jika belum, silakan baca di sini 😇. 

Dari karya-karyanya yang berhasil ditemukan dan diterjemahkan, perempuan yang sekian lama terabaikan ini dinobatkan pula sebagai psikoanalis feminis.

Para psikoanalisis terutama pada zaman itu memandang perempuan hanya dari fungsi biologisnya. Pandangan ini tentu saja dipengaruhi oleh pernyataan Freud : anatomi adalah takdir. Perempuan pun tidak dianggap sebagai makhluk psikososial.

Ia didefinisikan hanya dari tugas-tugas “biologis” seperti mengandung, melahirkan, dan mengurus anak-anak. Perempuan di atas usia 30 tahun diumpamakan Freud sebagai bunga yang sudah layu. 

(Bisa kita bayangkan perempuan di atas usia 30 tahun saat itu sudah beberapa kali mengandung dan melahirkan beberapa anak, kelelahan mengurus anak-anaknya sendiri, sambil mengurus suami dan melakukan tugas-tugas domestik…

Kecantikannya memudar, kemampuan reproduktif menurun, sementara ia tidak pernah punya kesempatan untuk mengasah kemampuan intelektualnya…)

Freud mengaku kesulitan mengekplorasi psike perempuan. Menurutnya, psike feminin sangat berbeda dari laki-laki. Ia menamakan psike perempuan sebagai kontinen hitam/gelap, dan menyerahkan kepada para kolega perempuan untuk menelusurinya (dalam Prameshuber, 2009). 

Mengikuti ajaran Freud, para psikoanalis perempuan ini mulai mengkaji psike perempuan. Sayangnya, mereka mengedepankan kepasifan sebagai kondisi utama perempuan dan melihat perempuan lebih rendah dari laki-laki.

Bahwa perempuan tidak secerdas laki-laki, tidak punya daya imajinasi dan kreativitas seperti laki-laki, tidak punya kemampuan berpikir rasional dan objektif seperti laki-laki… 

Di antara psikoanalis perempuan yang bicara mengenai perempuan, yang paling terkenal adalah Hélène Deutsch. Ia mendefinisikan kepasifan dan masokisme sebagai karakteristik utama dari psike feminin (dalam bukunya The Psychology of Women (1943, 1945).

Sabina Spielrein, berbeda dari budaya dominan psikoanalisis pada zamannya, menekankan kekuatan aktif dalam psike perempuan. Tepatnya pada tahun 1913, satu tahun setelah perkawinannya, ia menulis artikel berjudul The mother-in-law. Dalam artikel ini, ia mengembangkan dua ide yang sangat menarik mengenai psike perempuan. 

Pertama, psike perempuan menurutnya didefinisikan dari hubungan-hubungannya dengan orang lain. Kedua, psike perempuan khas karena memiliki kemampuan berempati. 

Perempuan tidak menghayati emosi-emosi dan perasaan-perasaan mereka secara pasif. Sebaliknya, melalui kapasitas empatik, mereka bertindak secara aktif dalam relasi-relasi interpersonal dan sosial. 

Perempuan, dalam pandangan Sabina, mampu memahami dan merasakan pengalaman serta pemikiran orang lain. Perempuan mengelaborasi apa yang dialami orang lain, memaknainya, melakukan re-interpretasi setelah melakukan refleksi berdasarkan pengalaman mereka pribadi. 

Kemampuan untuk berempati, untuk menghayati pengalaman orang lain sebagaimana yang dihayati orang lain, dengan masuk menembus dan berada dalam penghayatan orang lain ini, adalah nilai perempuan yang paling utama menurut Sabina. 

Perempuan mampu mempersepsikan perasaan orang lain dengan mengalaminya atau bahkan mengalami kembali dalam diri mereka sendiri secara psikologis. Dengan cara ini, perempuan mampu menjalin hubungan-hubungan penuh empatis yang adalah landasan dari seluruh relasi manusia. 

Melalui empati, Sabina Spielrein ingin menunjukkan bahwa psike perempuan bersifat aktif dan dinamis. Dengan demikian, psike perempuan sama sekali tidak lebih rendah dibandingkan psike laki-laki, tegasnya membantah Freud dan kolega-koleganya. 

Perempuan tidak memiliki banyak peluang dibandingkan laki-laki untuk bereksperimen dalam dunia nyata untuk mewujudkan keinginan-keinginannya. Tetapi dengan berempati terhadap apa yang sedang dirasakan orang lain, ia “menghidupkan” pengalaman-pengalamannya. 

Adalah empati yang membedakan psike perempuan, kapasitas untuk masuk dalam kehidupan internal orang lain, dengan merasakan apa yang dirasakan orang lain, seraya menyadari pada saat yang sama bahwa apa yang sedang ia rasakan adalah perasaan orang lain. 

Empati menurut Sabina Spielrein, bukanlah bentuk proyeksi sebagaimana yang dikatakan Carl Jung. Jung melihat empati sebagai proyeksi terhadap kontenu subjektif dari psike orang lain.

Tetapi Sabina dengan tegas menyatakan bahwa empati bukanlah menemukan aspek-aspek psikis yang kita punya di dalam diri orang lain, tetapi mengenali aspek-aspek psikis orang lain, mengakuinya sebagai sungguh nyata meski menyadari bahwa aspek-aspek ini bukan miliknya. 

Empati merupakan bentuk pemahaman yang sesungguhnya dari apa yang dirasakan orang lain. Pemahaman semacam ini bukan hal yang mudah dilakukan. Tetapi yang sulit ini dapat dilakukan perempuan, dan menjadi pembeda psike perempuan dari psike laki-laki, menjadi kekuatan psike perempuan demikian kesimpulan Sabina Spielrein.  

Ia juga meninggikan peran perempuan sebagai ibu dan guru (yang kebanyakan adalah perempuan) dalam kaitannya dengan empati. Menjadi ibu karena dianggap “kodrat” sering tidak “dianggap”. Tetapi Sabina mengatakan bahwa menjadi ibu dan guru bukan tugas mudah sama sekali; keduanya menuntut kapasitas berempati yang tinggi. 

Sampai sejauh ini, Sabina Spielrein lah yang pertama kali berbicara mengenai empati*, menjelaskannya dengan perspektif psikoanalisis, dan mengangkatnya sebagai kekuatan perempuan. 

 

* Catatan : Kata empati itu sendiri diperkenalkan pertama kali pada tahun 1798 oleh Novalis, penyair dan filsuf asal Jerman. Pada tahun 1917, Edith Stein filsuf Jerman mengangkat empati dalam disertasinya berjudul On the problem of empathy. Pemikiran Sabina mengenai empati sepertinya dipengaruhi oleh karya Stein ini. 

Belakangan, pemikiran Sabina tentang empati dikembangkan oleh Heinz Kohut dalam Self Psychology. Kohut menegaskan bahwa adalah empati, dan bukan interpretasi, yang menjadi alat utama psikoanalisis. 

 ❤ Foto jepretan Luanne, gadis remaja yang ikut senang melihat ibunya gembira berjumpa kembali dengan seorang teman setelah 6 tahun tidak bertemu. Kedua perempuan dalam foto sudah di atas 30 tahun ^.^ ❤

 

6 comments on “Empati sebagai Kekuatan Psike Perempuan

  1. Aduuuhh, aku sebentar lagii layuuuu awkwkkwwkwk 🤭
    Maacih mbakkuuu sudah berbagiii tentang sosok Sabina..
    Miss youuu a looottttt ❤️

    Like

  2. Pingback: Kartini dan Realitas yang Bergender – PSIKOLOGI FEMINIS

  3. Pingback: Dari Virilitas, MeTooGay, Sampai Pelibatan Laki-laki dalam Gerakan Feminis – CATATAN ESTER

  4. hello, dapatkah dijelaskan lagi dengan rinci tentang psikoanalisis feminis? apakah ada tokoh lainnya selain Sabina?

    Like

    • Hai. Silakan baca beberapa artikel lainnya dalam website ini terkait dengan psikoanalisis feminis. Atau jika berkenan untuk versi lengkap, silakan baca buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan terbitan EA Books. Dapat ditemukan di Shopee dan Tokopedia. Salam, Ester.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: