Feminisme

Feminisme di Perancis

Tulisan ini akan membahas mengenai sejarah feminisme di Perancis. Saya hendak menekankan penggunaan kata-kata “feminisme di Perancis, bukan feminisme Perancis”.

Kelompok feminis di Perancis cenderung kurang menghargai sebutan feminisme Perancis. Istilah “feminisme Perancis” adalah buatan kelompok feminis negara-negara berbahasa Inggris yang menurut Christine Delphy, tokoh feminis penting di Perancis, terobsesi untuk memberi nama tunggal pada feminisme di Perancis.

Padahal, masih menurut Delphy, mereka tidak mengenal dan memahami feminisme yang sesungguhnya di Perancis, serta budaya dan mentalitas yang memengaruhi perkembangan feminisme di Perancis itu sendiri.

Barangkali tertarik, baca buku ini ya Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan : Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki dan buku (Simone de) Beauvoir Melintas Abad.

Asal-usul Istilah “Feminisme”

Mengenai Asal Usul Istilah Feminisme, saya sudah membuat tulisan terpisah, silakan lihat di sini.

Kronologi Status Perempuan di Perancis mulai Abad Pertengahan

Beberapa kondisi perempuan yang dapat dicatat pada masa kekristenan di abad pertengahan adalah: (a) perpisahan dilarang; (b) perceraian dimungkinkan dalam tiga kasus = steril, sedarah, suami/istri pernah kaul; dan (c) perzinahan dijatuhi hukuman.

Tahun 1184 – 1680, Hukum Katolik membunuh mereka yang tidak mau patuh pada raja atau gereja, terutama perempuan yang diyakini tidak punya jiwa.

Pada tahun 1364 – 1430, hiduplah Christine de Pizan, penulis perempuan pertama yang hidup dari penanya, menentang misogini dalam karya-karyanya. Para feminis modern menobatkannya sebagai peletak cikal bakal feminisme (proto-feminisme).

Abad Modern dan Tuntutan-Tuntutan Awal

Pada tahun 1622, Marie de Gournay menuntut akses pendidikan yang lebih baik untuk perempuan dalam bukunya Kesetaraan perempuan dan laki-laki. Jika perempuan inferieur dibandingkan laki-laki, bukan dari sananya, tetapi akibat keterbatasan pendidikan yang mereka terima. Demikian kurang lebih yang disampaikan de Gournay dalam bukunya.

Perempuan, lajang, penulis, ia mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia kemudian mencari perlindungan dari kalangan raja dan bangsawan (Ratu Margot, Henri IV, Marie de Medicis, Louis XIII). Berkat hubungannya dengan kelompok penguasa, ia mendapatkan hak untuk memublikasikan sendiri karya-karyanya.

Pada tahun 1673, pastor François Poullain de la Barre menentang subordinasi perempuan. Dengan metode cartesian, ia membuktikan bahwa pikiran tak berjenis kelamin: Perempuan sama cakapnya dengan laki-laki dalam berpikir, bernalar, dan bertindak, untuk dirinya sendiri dan dalam masyarakat. Ia menuntut pendidikan dan peluang karir yang setara untuk perempuan.

Pada awal abad 18, perempuan bangsawan mulai mengadakan pertemuan-pertemuan untuk berdiskusi (dibungkus dengan acara kumpul-kumpul untuk minum teh/kopi dan makan camilan). Anggotanya kebanyakan pria; perempuan-perempuan ini menjamin kebebasan mereka. Pemikir-pemikir abad pencerahan berawal dari sini.

Masa Revolusi Prancis sampai Undang-Undang Napoleon

Pada tanggal 5 Oktober 1789, didorong oleh krisis ekonomi (harga kebutuhan pokok yang tinggi), ribuan perempuan berjalan kaki mendatangi Raja Louis XVI di Versailles. Jules Michelet, ahli sejarah Prancis, mencatat mengenai Revolusi Prancis: “Laki-laki merebut Bastille, dan perempuanlah yang menjatuhkan raja.”

Pada tahun 1791, perkawinan menjadi sipil (tidak lagi harus religius) dan dinyatakan sebagai kontrak antara dua pihak (ada ide kesetaraan di sini). Pada tahun yang sama, Olympe de Gouges menuntut kesetaraan politik antara perempuan dan laki-laki dalam Deklarasi hak-hak perempuan dan warga negara. Ia menyerukan bahwa perempuan lahir bebas dan memiliki kesetaraan hak dengan laki-laki.

Dua tahun kemudian, Olympe de Gouges dipenggal kepalanya. Kelompok feminis meyakini bahwa penyebabnya adalah kegigihannya memperjuangkan hak-hak perempuan. Sedangkan alasan yang dinyatakan negara adalah bahwa ia mendukung Louis XVI.

Pada tahun 1792, perceraian atas persetujuan kedua belah pihak diatur oleh undang-undang. Dengan perkataan lain, perceraian diperbolehkan, jika kedua belah pihak menghendaki. Pada praktiknya, persetujuan kedua belah pihak sulit didapatkan khususnya bila perempuan yang menginginkan perceraian.

Pada tahun 1793, pemilihan umum diselenggarakan, tetapi perempuan belum diizinkan memilih. Statusnya dalam hal ini disamakan dengan anak, pekerja rumah tangga, dan penderita sakit jiwa.

Pada tahun 1804, Undang-Undang Napoleon (Code Civil Napoléonien) disahkan. Teks ini menjadi model bagi banyak negara-negara Eropa padahal membawa dampak buruk bagi status perempuan. UU ini mengatur kewajiban-kewajiban sebagai istri ini.

Berdasarkan UU ini pula:

  • Perempuan tidak cakap secara hukum; ia berada di bawah otoritas ayah/suami (perempuan lajang dan janda punya kapasitas hukum kecuali hak pilih).
  • Perempuan harus meminta izin suami untuk bekerja (sampai tahun 1965), mengikuti ujian atau mendaftar di universitas, membuka rekening bank, mengurus paspor, SIM, bahkan untuk dirawat di RS.

0 comments on “Feminisme di Perancis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: