Perempuan & Gender

Kepribadian Yang Tersayat

Anak yang mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak cenderung menampilkan gambaran kepribadian yang khas, yang saya namakan sebagai kepribadian yang tersayat, semacam perpaduan antara pasif-agresif, borderline, dan paranoia.

Ambivalensi sikap yang ditampilkan pelaku (antara merayu dan mengancam, tertarik tetapi menyakiti) dan ambivalensi perasaan yang muncul akibat tindakan si pelaku (antara kenikmatan dan ketidaknyamanan/jengah/malu/jijik), keduanya berpotensi mengacaukan emosi korban.

Korban jadi sangat sensitif, karena terbentuk untuk selalu waspada. Bayangkan korban pelecehan/kekerasan yang senantiasa berjaga-jaga, khawatir kalau-kalau pelaku beraksi ketika anggota keluarga lain sudah terlelap.

Korban mudah curiga dan meyakini bahwa orang lain sengaja menyakiti dirinya (ide paranoia). Dalam pandangan mereka, manusia terbelah sebagai baik dan jahat (split, sebagai ciri kepribadian borderline).

Sebagai bentuk pertahanan dan perlawanan, mereka bersikap kasar terhadap orang yang mereka anggap menyakitinya. Mereka menyerang balik orang yang “menyerang” dirinya. Sebagian di antara mereka akan menyesalinya, meminta maaf, lalu kemudian kembali merasa telah disakiti sehingga kembali agresif.

Serangan mereka tidak harus eksplisit, tetapi secara ambigu, diam-diam, dalam bentuk pembalasan dendam, atau dalam bentuk sarkasme, menjadi nyinyir dengan perbendaharaan kata-kata pedas (karakteristik pasif-agresif).

Mereka cenderung memproteksi diri, dengan menunjukkan diri sebagai yang paling benar, yang paling tahu, dan sulit menerima pandangan orang lain, apalagi kritikan. Orang luar melihatnya sebagai bentuk narsisisme, tetapi mekanisme yang sebenarnya adalah perlindungan diri untuk tidak (lagi) disakiti.

Tidak sedikit di antara mereka yang mengembangkan iri hati dan kecemburuan. Dimulai terhadap adik atau kakak, dengan pertanyaan: “Mengapa saya yang harus mengalami ini?” Beranjak dewasa, iri hati dan rasa cemburu akan meluas terhadap teman, rekan kerja, dan bahkan pasangan sendiri.

Gambaran ini hanyalah sebagian dari dampak umum yang mungkin mereka alami. Ada dampak-dampak lain yang lebih khusus yang berbeda pada setiap orang. Dapat dibaca selengkapnya mengenai seksualisasi traumatis

Kini gadis cilik kawan saya telah menjadi ibu. Dengan mencintai anak-anaknya, ia belajar mencintai dirinya. Ia rangkul masa lalunya sebagai bagian dari dirinya, ia kumpulkan puing-puing diri yang berserakan.

Kecenderungan pasif agresif dan paranoia tidak semudah itu ia hilangkan. Tetapi kesadaran bahwa ada yang tersayat dari kepribadiannya, membantunya untuk mulai menutup sayatan itu. Kini ia lebih terbuka, mau mendengarkan sudut pandang orang lain, dan melihat dunia secara lebih positif.

Dengan pelukan, untuk seorang kawan.

Tulisan ini adalah bagian akhir serangkaian tulisan. Dapat dibaca dua tulisan sebelumnya : Gadis Cilik Itu dan Kepribadiannya Yang Tersayat dan Perilaku Negatif Anak sebagai Sinyal dan Kegagalan Orang Tua Menangkap Sinyal

Atau tulisan utuh dapat dibaca di sini

0 comments on “Kepribadian Yang Tersayat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: