Feminisme Perempuan & Gender

Perempuan, jadilah liar

Prosa Putri-putriku, jadilah liar awalnya saya tulis untuk kedua putri saya. Namun saya kira dapat berlaku untuk setiap perempuan. Prosa ini terinspirasi oleh buku Women who run with the wolves : Myths and stories of  the wild women archetype (1992)karya Clarissa Pinkola Estés, psikoanalis Jungian.

Kata liar berkonotasi negatif, seolah tak terkendali. Padahal liar mengandung arti positif : kebebasan dan keberanian. Sekian lama budaya patriarkal berupaya menjinakkan perempuan. Perempuan hidup dalam ketakutan untuk bertindak dan mengambil keputusan.

Ketakutan dan kenaifan 

Perempuan cenderung menyukai zona aman. Contoh yang sering saya temukan adalah perempuan memilih untuk tetap bersama suami yang kerap memukuli dan menghinanya atau yang sudah mengkhianatinya berkali-kali.

Alasan sebenarnya jika kita gali lebih dalam adalah takut : takut bila suami bertindak lebih kasar jika ia pergi, takut mencemarkan nama baik keluarga, takut (dan malu) akan penilaian orangtua karena sebelumnya ia yang bersikukuh untuk menikah dengan pria tsb, takut tidak mampu mandiri secara ekonomi, takut jika anak-anak kelak akan menyalahkan keputusannya, dsb.

Mengapa banyak perempuan “terjebak” dalam hubungan dengan pria beristri? Mengapa mereka terlena dalam ilusi dan kenaifannya akan cinta? Kita jarang mendengar adanya pria yang menjalani hubungan dengan perempuan bersuami. Sekalipun tentu ada,  hubungan ini tidak memiliki karakteristik kenaifan yang sama.

Tanpa kita sadari, budaya kita membentuk perempuan menjadi naif. Kenaifan dan kepolosan seolah melengkapi kecantikan perempuan. Perempuan yang tersipu malu-malu ketika digoda akan lebih menarik ketimbang perempuan yang berani menatap balik si pria. Perempuan yang masih awam dengan teknik-teknik bercinta akan lebih menyentuh hati pasangan ketimbang mereka yang sudah berpengalaman.

Perempuan yang naif dalam relasinya dengan laki-laki dilihat sebagai perempuan “baik-baik”. Kita tahu betapa pentingnya menjadi perempuan “baik-baik” dalam masyarakat patriarkis. Padahal kenaifan lah yang membuat perempuan rentan menjadi korban dan sulit melepaskan diri dari posisi korban.

Perempuan naif meyakini bahwa pria beristri akan menceraikan istrinya, bahwa suami kasar akan berubah jadi malaikat, bahwa suami yang ketahuan berselingkuh berulang kali masih mencintai dirinya. Perempuan naif cenderung salah memilih pasangan dan kemudian tetap bertahan dengan pasangannya ini.

Estés menggambarkan kenaifan perempuan melalui kisah si Janggut Biru. Ia melakukan re-interpretasi terhadap dongeng ini. Jika perempuan cerdas, kritis, banyak bertanya (dan tidak naif) seringkali dianggap menakutkan, Estés justru hendak merayakan keingintahuan perempuan.

Ibu dan feminitas 

Buku ini juga mengingatkan saya akan perempuan yang cenderung terperangkap dalam perannya sebagai ibu. Seolah ketika perempuan sudah menjadi ibu, ia tidak lagi punya hak atas femininitasnya sebagai perempuan. Berapa banyak ibu yang tidak lagi memikirkan dirinya sendiri karena berfokus pada anak-anak?

Tentu saya tidak sedang meminta para ibu untuk tidak peduli pada anak-anaknya. Sebagai ibu, saya memahami kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita dan rela mengorbankan apapun untuk mereka. Yang hendak saya sampaikan adalah ibu juga hendaknya tidak melupakan dirinya sendiri sebagai perempuan dan individu.

Berapa banyak ibu stres tetapi sungkan mengatakannya karena ibu dituntut untuk tidak boleh stres, karena perempuan seharusnya bahagia telah menjadi ibu. Padahal siapapun yang pernah menjaga anak (beberapa jam saja) paham bahwa anak tidak selalu lucu dan menyenangkan.

Seorang ibu seolah tidak punya hak untuk memiliki kesenangannya sendiri selain mengasuh anak (yang tidak selalu menggemaskan itu). Padahal anak juga tidak membutuhkan ibu yang menjalankan “tugas-tugas keibuan”nya dengan sempurna. Anak membutuhkan ibu yang bahagia.

Untuk menjadi ibu yang bahagia, seorang ibu berhak dan perlu melakukan hal-hal lain yang dapat membuatnya senang. Jadi hendaknya ibu tidak merasa bersalah jika meninggalkan anak sejenak untuk melakukan aktivitas pribadi yang dapat menyegarkannya.

Menjadi bebas untuk membebaskan 

Berapa banyak larangan dan aturan yang masyarakat terapkan pada perempuan? Perempuan tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu. Yang lebih menyedihkan, sesama perempuan lebih kejam ketika menghakimi perempuan.

Perempuan yang melahirkan secara natural dan menyusui bayinya menganggap dirinya telah menjalankan perannya secara sempurna sebagai ibu, dan merasa berhak mengkritik perempuan yang menjalani operasi cesar ataupun tidak menyusui karena satu dan lain hal. Ini hanya salah satu contohnya, yang masih terjadi bahkan dalam masyarakat Perancis.

Perempuan hendaknya tidak melakukan sesuatu hanya berdasarkan penilaian orang lain (masyarakat). Sebagai perempuan, kita perlu membebaskan diri dari penilaian-penilaian ini. Jika kita sendiri sudah menjadi perempuan bebas, kita dapat membebaskan perempuan lain.

Estés menggunakan dongeng Vasalisa, gadis yang terlebih dahulu merelakan kematian ibundanya sebelum masuk dalam proses menjadi perempuan dewasa yang mengandalkan intuisinya sendiri. (Ibu merupakan simbol norma/aturan mengenai apa yang baik/buruk untuk dilakukan/tidak dilakukan, penilai apakah yang dilakukan anak baik atau tidak).

Ini adalah interpretasi pribadi saya akan karya Estés. Beliau sendiri tidak menyinggung secara khusus kasus-kasus yang sebutkan di atas. Dalam bukunya, ia ingin menghidupkan kembali arketip perempuan liar yang sebenarnya sudah ada pada diri setiap perempuan.

Dalam diri setiap perempuan, yakinlah ada kekuatan luar biasa dipenuhi insting, kreativitas, semangat, dan kebijaksanaan.

Perempuan, jadilah liar.

——— Dieppe, 2019–

Kata liar di sini juga mengandung makna berkoneksi kembali dengan alam; menikmati kehidupan. Saya menangkapnya sebagai perasaan menyatu dengan alam. Clarissa Estés tidak bermaksud berbicara mengenai ekofeminisme. Tapi saya sendiri menikmati karyanya sebagai panggilan untuk kembali bersentuhan dengan alam. 

Putri-putriku, jadilah liar

Kan kuberikan pada kalian yang ibuku tak mampu berikan

Kan kulimpahkan pada kalian yang beliau ambil dariku

Kan kusampaikan kepada kalian yang tak diketahui ayahku

Kan kusingkapkan yang beliau coba tutupi

Kan kuizinkan kalian melakukan yang mereka larang dariku

Mengatakan yang mereka tak ingin aku ucapkan

Atas nama cinta dan perlindungan

Berendam dalam derita dan ketidakberdayaan

Dilanggengkan adat dan tradisi

 

Putri-putriku,

Kalian kan belajar apa itu kehidupan

Keindahan, kekejaman, kemurnian, dan kenyataan

Kan kalian jelajahi semesta megah

Sentuhlah bulan yang berayun di atas gelombang pantai kala malam berbintang

Menyelamlah dalam fyord sambil melewati gua permata

Saksikan burung berlari dengan kura-kura dan orang hutan

Pergilah kagumi keindahan bukit Tehuacan

 

Terbanglah, lepas bebaskan diri kalian, jangan kalian gentar

Alam adalah saudara perempuan kalian,

Belailah air, tataplah langit

Peluklah bumi, biarkan semangat menyala berapi

 

Cintai tubuh dan hati kalian

Dengarkan insting, jangan ragukan intuisi

Bukalah kotak itu, Pandora-pandoraku

Masuklah dalam ruangan yang dikunci si Janggut Biru

Tak ada yang perlu kalian takutkan selain kenaifan

Kalian adalah serigala betina, Hypatia, prajurit perang, jenderal Mulan

Kalian adalah perempuan

Tampilkan feminitas kalian yang terliar

 

Meski untuk itu, maafkan ibunda kalian

Memasukkan yang satu dan mengeluarkan yang lain

Dia yang dengannya aku dapat menenun kalian dalam rahimku

Dia yang dapat menjadi kakak laki-lakimu beserta pendahulunya

Maafkan ketidakhadiranku pada beberapa senja di musim panas

Tuk menjadi bahagia sebelum memanjakan kalian

Untuk tetap menjadi perempuan setelah menjadi seorang ibu

 

Terimalah terlebih dahulu kematianku, putri-putriku

Biarkan perempuan tua ini menutup mata

Sebelum kalian menjadi Vasalisa

 

Untuk kedua putriku

Terinspirasi oleh Women who run with the wolves (Clarissa Pinkola Estés).

Kredit foto : Sarah Richter @ Pixabay

1 comment on “Perempuan, jadilah liar

  1. Pingback: Selamat Hari Ayah, Papaku Tercinta ^.^ – CATATAN ESTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: