KDRT Perempuan & Gender

Seksualisasi Traumatis

Kekerasan seksual terhadap anak merupakan cara terkejam yang dilakukan pelaku untuk menunjukkan kekuasaannya. Karena anak tidak berdaya untuk melakukan perlawanan tidak hanya secara fisik namun juga psikis. 

Anak, dalam keterbatasannya, tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang terjadi pada diri mereka ketika pelaku menyentuh tubuhnya. Sementara itu, perasaan mereka sendiri bercampur aduk. 

Di satu sisi mereka merasa tidak nyaman dan merasa bahwa tidak sepatutnya pelaku bertindak demikian. Virginia Woolf mengatakan bahwa perasaan mengenai anggota tubuh tertentu yang tidak boleh disentuh adalah perasaan yang instingtif sifatnya. 

Mereka ingin pelaku menghentikan perbuatannya, namun tidak dapat berkata-kata dalam kebingungan mereka untuk mencerna apa yang tengah terjadi. 

Di sisi lain, dalam kekerasan seksual yang dilakukan secara eksploitatif-manipulatif tetapi tidak bernuansa brutal, korban (anak) merasakan kenikmatan pada wilayah tubuh tertentu yang disentuh. Freud telah mengingatkan kita bahwa manusia memiliki zona erotis yang sudah berkembang sejak bayi sekalipun. 

Dalam kasus kekerasan seksual, ambivalensi berbagai perasaan ini akan menambah kebingungan pada diri anak sebagai korban.

Kejadian yang sama akan terus berulang tanpa anak berani menceritakannya bahkan kepada orang-orang terdekat. Anak akan dengan mudah dipaksa untuk diam, melalui perpaduan antara rasa bersalah, malu, dan ancaman pelaku dari cara yang halus sampai kasar. 

Demikian bertahun-tahun kekerasan seksual menjadi rahasia antara korban dan pelaku. Anak akan menjadi begitu tertekan karena menyimpan teror dan kebingungan-kebingungan ini sendirian. Lebih lanjut kebingungan-kebingungan ini akan memengaruhi pemaknaan mereka akan tubuhnya sendiri dan bahkan mengenai seksualitas secara keseluruhan. 

Secara khusus, David Finkelhor dan Angela Browne menyebut dampak ini sebagai seksualisasi traumatis (traumatic sexualization). Mereka mendefinisikannya sebagai proses pembentukan seksualitas anak, termasuk sikap dan perasaan seksualnya, dalam cara-cara yang tidak tepat dan bahkan disfungsional sebagai akibat dari kekerasan seksual yang dialaminya.

Anak kemudian menghayati stres traumatik yang intens sehingga bereaksi dengan cara yang tidak tepat entah dengan menghindari seks, atau sebaliknya mengembangkan sikap berlebihan terhadap seks dengan kehidupan seksual yang sangat kacau. 

Pada anak yang menghindari seks, umumnya mereka menutup diri dan sulit menjalin relasi intim. Seandainya mereka menikah, tidak mudah bagi mereka untuk menikmati hubungan seksual, bahkan sebagian besar mengalami disfungsi seksual. 

Sedangkan mereka yang mengembangkan sikap berlebihan terhadap seks, akan tampil menggoda secara seksual. Mereka juga terlibat dalam kehidupan seks bebas karena terus berupaya mencari pemenuhan kebutuhan akan seks. 

Khususnya pada korban anak perempuan, mereka cenderung meyakini bahwa semua laki-laki terobsesi pada seks dan karena itu tidak akan menolak bila mereka menawarkan diri untuk berhubungan seks.

Tidak sedikit korban kekerasan seksual pada masa kanak-kanak yang dengan sengaja memilih untuk menjadi pekerja seks komersial saat ia dewasa. 

Baik menghindari seks maupun sebaliknya berlebihan akan seks, tidak ada yang lebih baik atau buruk di antara kedua dampak ini. Keduanya menggambarkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan seksual yang normal sekaligus menunjukkan betapa merusaknya dampak kekerasan seksual pada masa kanak-kanak.

Kredit foto : Pixabay

2 comments on “Seksualisasi Traumatis

  1. Pingback: Kepribadian Yang Tersayat – PSIKOLOGI FEMINIS

  2. Pingback: Gadis Cilik Itu dan Kepribadiannya Yang Tersayat – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: