Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan Well-being

Keluar dari Permainan Psikologis

Pernahkah Anda mendengar istilah permainan psikologis? Ini bukan permainan biasa. Mereka yang bermain permainan ini sering tidak sadar bahwa mereka sedang bermain. Pihak yang memulai tidak sadar jika ia sudah memulai permainan, pihak lain juga tidak pula ngeh bahwa mereka sudah menerima undangan untuk bermain. Kadang bahkan tidak tahu lagi siapa yang mengajak dan siapa yang menerima ajakan bermain.

Perasaan-perasaan yang ditimbulkan dari permainan ini sebenarnya tidak enak, lebih kepada rasa jengkel, marah, sedih, kecewa.. Anehnya, seperti bikin kecanduan sehingga orang yang sama cenderung memainkan permainan yang sama. Permainan ini tidak menyehatkan, efek negatifnya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk relasi kita dengan orang lain.

Pada tulisan saya sebelumnya Mengenali Kondisi Ego, Langkah Pertama Menuju Hubungan yang Sehat, kita sudah berkenalan dengan kondisi ego. Kondisi ego yang tidak tepat akan membawa kita dalam permainan-permainan psikologis. Mari kita lihat bagaimana proses terjadinya sebuah permainan. Sebelumnya kita berkenalan terlebih dahulu dengan beberapa pola transaksi dalam interaksi kita dengan orang lain.

Transaksi positif/sehat/normal/tidak ada masalah berarti akan terwujud jika kondisi ego kedua pihak yang berinteraksi bersifat melengkapi (complementary). Misalnya kondisi ego Dewasa ditanggapi dengan kondisi ego Dewasa, Orangtua dengan Orangtua, Anak dengan Anak. Untuk lebih lengkapnya mengenai kondisi ego, dapat diklik di sini.

Sebagai contoh, pasangan suami istri, sebut saja namanya Anton dan Deisy. Deisy mengajak Anton menonton film Smallfoot. Ajakan Deisy ini menunjukkan kondisi ego Anak Spontan yang ingin bersenang-senang dengan menonton film. Yang Deisy inginkan tentunya jawaban yang mendukung keinginannya untuk menonton (bersenang-senang). Deisy menginginkan Anton menjawab dengan kondisi ego Anak Spontan juga. Jika Anton menjawab, ”Wah boleh juga idemu, yuk nonton film itu yuk”, Deisy akan senang karena respons Anton sesuai dengan yang diharapkan. Atau bila Anton menanggapi dengan pertanyaan, “Memang apa yang menarik dari film itu?” (kondisi ego Dewasa), tanggapan ini belum bertentangan dengan tuntutan Deisy. Transaksi-transaksi seperti ini dinamakan dengan complementary transactions karena saling melengkapi. Transaksi seperti ini adalah transaksi yang positif, dengan dua posisi kondisi ego yang sejajar, dan pesan yang tidak ambigu.

Sayangnya kita cenderung masuk dalam interaksi yang tidak sehat dengan menampilkan respons-respons yang kurang tepat. Contohnya jika Anton menjawab,” Kamu ini sudah tua kok senangnya nonton film anak kecil,” Kritik Anton menampilkan kondisi ego Orangtua Pengeritik. Dengan respons seperti ini dapat dibayangkan kekecewaan dan kejengkelan Deisy karena tidak direspons dengan tepat. Respons Anton ini membuat transaksi mereka bersilangan, tidak lagi sejajar (crossed transactions). Deisy sedang dalam kondisi ego Anak Spontan, Anton dengan Orangtua Pengeritik. Transaksi bersilangan ini dapat mengantarkan kedua pihak dalam sebuah permainan.

Berita baiknya adalah meski butuh minimal dua orang untuk bermain, tetapi hanya perlu satu orang untuk menghentikannya atau bahkan mencegahnya. Mencegah berarti kita tidak masuk ke dalam permainan, tidak menerima “ajakan” bermain itu. Deisy misalnya masih dapat mengembalikan situasi menjadi complementary transactions jika ia mencoba untuk menampilkan kondisi ego Dewasa seperti, ”Tapi film itu sarat dengan nilai-nilai positif lho.” Dengan mengatakan ini, ia tidak masuk ke dalam permainan yang ditawarkan Anton.

Tetapi bayangkan sebaliknya, Deisy menangis (kondisi ego Anak Spontan) dan atau memaki Anton, “Aku benci sama kamu. Kamu jahat (Orangtua Pengeritik).” Padahal, ia tidak sungguh-sungguh membenci Anton. Ini adalah ulterior transactions, pesan yang terucap tidak sama dengan pesan yang ingin disampaikan. Ada makna lain yang terselip di dalamnya; ada pesan tersembunyi (hidden message). Menanggapi Anton dengan cara ini, Deisy menerima ajakan permainan Anton.

Anton dapat terjebak semakin jauh dalam permainan (yang ia mulai) ini. “Ya, saya memang jahat. Kamu mau apa?” Masuklah mereka dalam permainan yang dinamakan “Pojok/Sudut”, yang menggambarkan posisi yang tersudut dari mereka yang terlibat dalam permainan ini. Tetapi Saudara-saudara, lagi-lagi berita baiknya adalah (selalu ada berita baik 😆 ), Anton masih dapat keluar dari permainan ini. Cukup dengan kalimat sederhana. “Ya maafkan aku, aku sedang lelah sebenarnya. Ceritanya tentang apa memang film ini?” (Ego Dewasa).  

Jika Anton sudah menampilkan kondisi ego Dewasa ini, pilihan kini kembali kepada Deisy. Deisy dapat tetap merajuk, sudah telanjur kesal. Sudahlah, aku sudah malas. Kamu selalu bawa alasan sedang lelah. Atau Deisy juga mau bersikap Dewasa dengan memahami kondisi Anton yang sedang lelah, meminta maaf juga untuk reaksinya, dan kemudian menceritakan tentang apa film yang ingin ditontonnya. Jika Deisy melakukan ini, mereka akan keluar dari permainan psikologis ini untuk kemudian mungkin pergi menonton film Smallfoot yang dimaksud atau menghabiskan sisa hari dengan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang lebih indah ketimbang memainkan permainan psikologis.

Seringnya yang terjadi kita tidak menghargai upaya pasangan untuk memperbaiki diri, untuk memperbaiki situasi agar tidak semakin buruk. Pasangan tidak mengerti mengapa ia sudah minta maaf tetapi istri/suami masih marah juga. Sementara istri/suami yang masih kesal juga merasa tidak dimengerti bahwa bukan ia tidak menghargai permintaan maaf pasangan, tetapi ia menyesalkan mengapa dia harus jengkel atau marah terlebih dahulu baru pasangan sadar, baru dia meminta maaf, baru dia mau melakukan yang saya harapkan. “Kenapa sih engga dari awal punya kesadaran gitu lho. Toh yang saya minta juga tidak susah.” Demikian umumnya keluhan pihak yang sedang jengkel.

Satu hal yang perlu kita ingat adalah tidak mudah bagi seseorang untuk menyadari bahwa ia sedang memulai permainan psikologis. Jadi ketika ia sadar untuk menghentikannya, ini sudah harus dihargai dan hendaknya kita sikapi dengan respons yang sama pula.

Dapat kita lihat dari contoh di atas, bahwa kita memang dapat dengan mudah masuk dalam sebuah permainan, entah kita diundang atau kita bahkan yang mengundang. Tetapi kita juga dapat menghentikan permainan, kita dapat keluar dari sana, dan kita bahkan dapat menolak sejak awal untuk bermain. Dengan mengidentifikasi kondisi ego orang lain yang dengannya kita sedang berinteraksi, kita dapat lebih berhati-hati dengan respons kita, dengan kondisi ego yang sebaiknya kita tampilkan, agar tidak melibatkan diri dalam permainan psikologis yang berisiko merusak hubungan kita dengan orang lain atau dalam contoh ini adalah dengan pasangan kita.

Permainan-permainan psikologis tidak hanya kita mainkan dalam konteks kehidupan berpasangan tetapi juga dalam konteks-konteks lain : persahabatan, dunia kerja, dll. Semoga dalam kesempatan selanjutnya, kita dapat berkenalan dengan permainan-permainan psikologis yang lain. Tentu bukan untuk menjalin hubungan akrab dengan permainan-permainan tsb ya. Sebaliknya, agar dapat lebih cepat sadar jika sedang masuk dalam permainan tsb untuk kemudian segera keluar dari sana sebelum permainan-permainan ini menggerogoti hati dan relasi kita.

 

8 comments on “Keluar dari Permainan Psikologis

  1. Saputra Ariando Manihuruk

    Setelah membaca sejenak, orientasi terarah pada capaian akan transaksi positif. Tapi saya belum melihat jembatan yang menyatukan minat/ego berbeda. Solusi win-win masih kabur. Apakah ketika rel kehendak tidak sama, pengorbanan atau sikap mengalah dikurbankan dapat dikatakan sebagai sebuah keberhasilan dalam berelasi terkait
    konteks artikel yng sudah dijabarkan..?

    Like

    • Saya kira dalam analisis transaksional ini, penekanannya adalah pada memahami ego rekan/pasangan dan ego diri kita sendiri, untuk kemudian dapat menjawab/bereaksi dengan ego yang tepat. Pengorbanan atau sikap mengalah yang dilandasi pada pemahaman kondisi ego kedua belah pihak dapat berdampak positif pada relasi, tetapi jika tidak dilandasi pada pemahaman kondisi ego, hanya akan menyelesaikan konflik secara segera dan sementara, serta akan menimbulkan konflik yang sama di kemudian hari, dan bahkan mungkin lebih besar.
      Ego yang dimaksud sebenarnya bukan pada “keinginan” tetapi lebih kepada kondisi diri, sebagaimana yang saya coba jelaskan pada artikel “Mengenali Kondisi Ego”.
      Hmm maaf jika pemaparan ini kurang jelas.

      Like

  2. Saputra Ariando Manihuruk

    Terima kasih atas tanggapannya. Saya pikir setiap orang tidak akan mewarnai gambar yang sama, sejauh sikap altruis nihil, potensi untuk titik temu akan buram. Argumen ini didasarkan pada contoh yang diberi. Terdapat jurang pemisah antara contoh dan uraian sehingga konsep berpikir berwaran😅😅😅😊

    Salam kenal, maaf atas kritisi yng juga temaram. Kadang kekaburan menjadi jalan tuk menemukan kejelasan.
    Hehe

    Like

    • Hahaha saya sepertinya masih membutuhkan secercah cahaya untuk bisa memahami kritisi yang temaram ini 😂😂😂 Terima kasih banyak untuk kritisi Anda. Kadang memang apa yang ingin kita sampaikan tidak terungkap secara jelas dalam tulisan. Bisa jadi cara penyampaian yang memang kabur hehehe. Seringkali juga ketika sudah sampai ke publik, pemaknaan masing-masing akan berbeda, bergantung pada banyak hal dari individu ybs. Omong-omong saya suka sekali dengan kalimat Anda : setiap orang tidak akan mewarnai gambar yang sama 🤩 Salam kenal.

      Like

  3. Saputra Ariando Manihuruk

    Iyakah…
    Heheh
    Bagi saya kebenaran itu suatu ketersembunyian. Aku-kamu tidak akan penuh menangkapnya. Ia selalu bermetafora dan barangkali hanya sesedikit mungkin mencerahkan.
    Ini juga mngkin ego saya menanggapi sesuatu ya..
    Hahaha🤔🤔

    Like

    • Aku-kamu-dan dia juga? 😁 Ya setuju sekali. Dulu-dulu saya hampir putus asa ketika “kebenaran” versi saya tidak dipahami secara sama oleh orang lain. Tapi sekarang sudah lebih bisa menerima bahwa sedikit mencerahkan toh selalu lebih baik daripada tidak sama sekali. Atau mungkin justru lebih baik bila tidak sama sekali, karena ketika tercerahkanlah justru seseorang menjadi lebih “pusing” karena akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan lain🤩🤩
      Ya mungkin ego Anda, mungkin juga yang lain, tidak ada yang tahu kebenarannya 😂😂😂 Salam hangat, senang sekali bisa berdiskusi seperti ini.

      Like

      • Saputra Ariando Manihuruk

        hahaha.. demikianlah adanya manusia, ketakpuasaan menuntun gairah untuk selalu bertanya. filsuf Zeno berpendapat soal kenyataan diri manusia, harus menyelesaikan setengah dari setengah. hahaha….
        kita boleh tidak komunikasi lebih akrab..? hehe

        Like

      • Dengan senang hati, pak filsuf Saputra Ariando Manihuruk 🤩
        Ini alamat email saya ya : lianawati.ester@gmail.com
        Salam hangat.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: