Well-being

Menjalani tahun 2019 : jangan optimis 100%?

optimisme@gettySebagai orang yang “mengaku” optimis, saya merasa agak kurang nyaman berada di tengah-tengah mereka yang “menurut saya” cenderung pesimis. Apa mau dikata, sejak tinggal di Normandie ini, saya justru berinteraksi dengan sebagian besar dari mereka.

Mungkin sedikit menggeneralisasi, namun penduduk sini memang dikenal sebagai orang-orang yang kurang optimis. Dalam diskusi, mereka cenderung mengkritik, tidak menyetujui ide atau tindakan seseorang. Jarang sekali mereka membicarakan kemajuan yang dicapai. Yang ada, mereka kerap meragukan keberhasilan rencana-rencana atau kebijakan-kebijakan tertentu.

Tetapi mereka tidak terganggu dengan kecenderungan mereka yang pesimis. Bahkan mereka cukup bangga akan pelekatan sikap ini sebagai bagian dari “identitas” mereka. Mereka meyakini bahwa sikap yang dikatakan orang sebagai “pesimis” justru membuat mereka berpikir jernih, lebih cerdas, dan lebih realis.

Demikian yakinnya mereka, membuat saya bertanya-tanya jika yang mereka katakan memang benar…

Keuntungan si optimis, kerugian si pesimis

Adalah Christophe André, psikiater dan psikoterapis di Rumah Sakit Sainte-Anne, Paris, penulis lebih dari 20 buku seputar psikologi positif, pernah mengalami jadi orang pesimis selama puluhan tahun. Awalnya ia meyakini bahwa sikapnya yang pesimis mempersiapkannya untuk menghadapi masalah atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Belakangan, ia menemukan bahwa ia justru tidak sesiap itu untuk keluar dari masalah.

Dari pengalaman beliau, saya jadi berpikir-pikir mungkin orang-orang pesimis merasa siap akan terjadinya suatu masalah karena memang itu yang selalu mereka bayangkan. Tetapi justru karena sudah menantikannya, mereka tidak pernah mempersiapkan diri untuk benar-benar menghadapinya.

Lebih lanjut, sebagai orang yang pernah pesimis sekian lama, André mengakui cenderung membayangkan yang buruk akan terjadi. Dan ini sangat melelahkan dan membuatnya stres.  Seperti orang pesimis lainnya, ia selalu berusaha membuktikan bahwa semua ramalan negatif mereka akan terjadi.

Belief perseverance, kecenderungan manusia untuk bersikukuh pada apa yang ia yakini meski kenyataan membuktikan sebaliknya, tampaknya dialami orang-orang pesimis dan ini semakin menguatkan sikap pesimisme mereka. Hal ini yang saya simpulkan dari cerita André : Ketika hal buruk yang saya bayangkan tidak terjadi, ketimbang mensyukuri karena yang buruk yang saya bayangkan itu akhirnya tidak terjadi, saya malah tetap bersikukuh pada keyakinan saya, bahwa hal buruk itu memang tidak terjadi tetapi sebenarnya dapat saja terjadi (André, 2018).  

Penelitian sendiri membuktikan bahwa orang-orang pesimis cenderung mudah depresi ketimbang mereka yang optimis. Sepertinya karena cenderung melihat dunia secara negatif, membayangkan yang buruk-buruk, hidup mereka jadi lebih “hitam”, kurang gembira.

Sementara itu, orang-orang optimis, cenderung lebih sehat dan lebih bahagia. Dalam keadaan sehat, mereka lebih menikmati hidup. Ketika mereka jatuh sakit, mereka akan lebih cepat sembuh karena mereka umumnya lebih mampu merawat diri.

Meyakini bahwa mereka akan sembuh, orang-orang optimis percaya akan saran/pengobatan dokter, dan menjalaninya tanpa ragu. Jikapun suatu metode terapi tidak efektif, mereka tidak putus asa untuk mencari alternatif pengobatan.

Sementara itu mereka yang pesimis, karena sudah meragukan lebih dahulu efektivitas dari suatu terapi/obat, akhirnya lebih sulit untuk sembuh. Obat ini tidak perlu diminum, toh tidak akan mempan. Terapi ini tidak perlu dijalani karena tidak akan efektif. Dll.

Masalah optimisme-pesimisme ini juga terkait erat dengan harapan. Orang optimis memiliki harapan, dan ini yang membuat mereka selalu yakin akan ada solusi untuk setiap masalah, akan selalu ada jalan untuk mencapai yang diinginkan, yang buruk selalu dapat diperbaiki.

Tentu saja, segala sesuatu juga tidak selalu terjadi sesuai dengan harapan mereka yang optimis. Kadang kala, mereka juga salah dalam peramalan mereka.

Tetapi seperti yang André tanyakan secara retorik, lantas kenapa?

Lebih baik kecewa sekali-sekali tetapi tetap punya hidup yang ceria ketimbang sesekali benar tapi hidup dalam “ketakutan” menantikan terjadinya hal yang tidak menyenangkan.

Sikap mental, konsekuensi perilaku, dan ramalan pemenuhan diri

André mendefinisikan optimisme dan pesimisme sebagai sikap mental dengan konsekuensi perilaku ketika berhadapan dengan suatu masalah. Sikap mental seseorang dikatakan optimis jika ia meyakini bahwa ada solusi untuk masalah yang ia hadapi, meski solusi ini mungkin tidak sempurna. Konsekuensi perilaku dari sikap optimis ini adalah kita akan bertindak, melakukan sesuatu agar solusi ini benar-benar ada.

Orang yang optimis tidak berarti meyakini bahwa tidak akan ada masalah tetapi ia cenderung tergerak untuk menemukan atau menciptakan solusi.

Dari yang saya amati dan juga saya alami, orang-orang optimis memang cenderung berhasil menemukan jalan keluar. Hal ini dikarenakan optimisme-pesimisme terkait dengan ramalan pemenuhan diri (self-fulfilling prophecy) : ketika kita meyakini sesuatu, biasanya sesuatu itu akan terjadi. Karena keyakinan kita akan suatu hasil akan mengarahkan kita untuk bertindak, mengambil langkah-langkah yang dapat mewujudkan keyakinan kita itu (entah positif ataupun negatif).

Ramalan pemenuhan diri ini juga dapat berlaku bagi orang lain. Jika kita menaruh kepercayaan pada kompetensi dan kapasitas seseorang, kita juga akan cenderung bersikap dan berperilaku dalam cara-cara yang mendukungnya untuk berhasil. Dan ia akan berhasil. Ini yang dinamakan dengan pygmalion effect atau Rosenthal-Jacobson effect (karena didasarkan hasil penelitian Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson)

Sebaliknya, jika kita meragukan bahwa seseorang akan berhasil, disadari ataupun tidak disadari, kita akan bersikap dan berperilaku dalam cara-cara yang dapat mengantarkan orang ini dalam kegagalan. Rosenthal, Babad E.Y, dan Inbar J menamakannya sebagai golem effect.

Namun demikian, apakah pesimisme sama sekali tidak baik?

Membaca uraian di atas, sepertinya pesimisme itu identik dengan yang buruk-buruk. Selama ini kita juga lebih sering diingatkan untuk jadi optimis, bukan pesimis, bahkan tidak boleh pesimis. Tetapi ternyata André sendiri, tidak menyarankan demikian. 

André yang tidak diragukan lagi memang pernah jadi orang pesimis ini, telah mengingatkan kita bahwa optimisme-pesimisme adalah sikap mental. Sebagai sikap mental, keduanya bukanlah bagian kepribadian yang tidak dapat diubah, atau bahwa manusia hanya memiliki salah satunya. Sebaliknya, keduanya sudah ada dalam diri kita.

Saya coba memahami gagasan beliau, bahwa sebagai sikap mental, optimisme dan pesimisme memang dapat dikembangkan dan dapat ditumbuhkan. Kita sudah memiliki keduanya dalam diri kita, hanya saja selama ini kita hanya berfokus pada penggunaan salah satunya. Padahal menurut André, kita tidak perlu memilih salah satunya, untuk menjadi optimis atau pesimis.

Dalam pandangan André, sikap pesimis, biar bagaimanapun, membantu kita untuk mengantisipasi “bahaya”, kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi.

Dengan perkataan lain, kita membutuhkan keduanya : optimisme dan pesimisme. Kita dapat dan perlu menggunakan keduanya; hanya saja kita harus menggunakannya dalam takaran yang tepat.

Lantas, bagaimana dosis optimisme-pesimisme yang ideal menurut psikiater yang menerapkan psikologi positif dan teknik meditasi ini (masih tergolong langka di Perancis, menjadi salah satu saja sudah langka) ?  :

Perlu banyak optimisme untuk mengaktifkan keyakinan dan energi untuk menemukan solusi ketika berhadapan pada suatu masalah, untuk menemukan jalan menuju tujuan yang diharapkan, dipadukan dengan sedikit pesimisme untuk mengantisipasi kemungkinan adanya bahaya (André, 2018).

Hmm, jadi sepertinya jangan optimis 100% ya… Bagaimana kalau 90%, atau 95%, atau 99%., atau 99,9% :p  

Selamat tahun baru 2019 🎉. 

0 comments on “Menjalani tahun 2019 : jangan optimis 100%?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: