Diri Well-being

Mengapa kita melakukan self-serving bias?

Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan Someone mengenai faktor-faktor yang memengaruhi self-serving bias

Yang belum mengenal istilah ini, silakan melongok dua tulisan ini Self-serving Bias dan Lagi, self-serving bias !

Saya yakin kalian sebenarnya akrab dengan bias yang sangat manusiawi ini. Manusiawi karena saya juga suka melakukannya. Ups…dengan mengatakan ini sebenarnya saya sedang kembali melakukan self-serving bias 🙈 (karena saya juga melakukannya, jadi itu manusiawi – bukan masalah besar) 😜

Menurut James Shepperd, Wendi Malone, dan Kate Sweeny, ketiganya psikolog sosial dari Universitas Florida, self-serving bias dipengaruhi oleh dua faktor : motivasi dan kognisi.

Faktor motivasi terdiri dari (a) kebutuhan untuk mempertahankan dan atau memperkuat perasaan diri berguna/penting/ok (self-enhancement), dan (b) kebutuhan untuk mempresentasikan diri (self-presentation), untuk mengelola impresi/kesan orang lain terhadap dirinya, untuk memengaruhi persepsi orang lain terhadap dirinya. Singkatnya, kebutuhan untuk menampilkan diri sebagai sosok yang pintar/cemerlang/ -dll yang bagus-bagus.  

Sedangkan faktor kognisi ada tiga, yaitu : (a) kesesuaian hasil dengan apa yang diharapkan ; (b) kesesuaian hasil dengan skema/gambaran diri ; dan (c) karakter “ilmuwan/peneliti” yang naif yang ada pada setiap manusia.

Kalau dilihat-lihat, faktor kognisi ini sepertinya lebih berperan ketika kita mengatribusikan kegagalan kepada faktor eksternal. Berikut penjelasannya yang lebih lengkap.

Pertama, kesesuaian “hasil” dengan harapan. Ketika hasil sesuai dengan yang kita harapkan, maka kita tidak terdorong untuk menemukan faktor-faktor eksternal untuk menjelaskan hasil ini. Biasanya ketika kita melakukan sesuatu, dalam pikiran kita adalah bahwa yang kita lakukan itu akan berjalan sesuai dengan rencana, kita tidak mengharapkan hasil negatif. Jadi ketika hasilnya memang positif, berarti sesuai dengan yang kita tunggu, kita tidak membutuhkan penjelasan.

Berbeda dengan ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kenyataan yang tidak menyenangkan ini mendorong kita untuk menemukan penjelasan, mengapa hal ini dapat terjadi.  Dan kita tidak akan mencari penjelasan atas kegagalan ini dalam diri kita, karena ketika kita melakukannya, kita toh yakin akan keberhasilan kita. Kita akan secara spontan cenderung mencari penjelasan dari faktor lain di luar diri kita.

Kedua, kesesuaian hasil dengan skema/gambaran diri. Faktor kedua ini masih terkait dengan faktor pertama. Ketika hasil sesuai dengan yang diharapkan, biasanya hasil ini sesuai dengan skema diri kita: misalnya bahwa kita cerdas, menarik. Kita tidak mencari penjelasan faktor eksternal karena hasil yang sesuai harapan tentunya tidak mengancam konsep diri kita ini. Berbeda halnya ketika hasil tidak sesuai dengan gambaran diri kita.

Misalnya Andi, cowok yang gambaran dirinya adalah cowok ganteng penakluk perempuan. Ketika melakukan pendekatan kepada Amina, eh Amina menolaknya mentah-mentah. Selain ‘hasil’ tidak sesuai dengan yang diharapkan, ‘hasil’ ini juga bertentangan dengan gambaran dirinya sebagai penakluk gadis-gadis cantik. Hal ini dapat mendorong Andi untuk mengambil kesimpulan yang mendiskreditkan Amina atau faktor situasional, untuk tetap mempertahankan gambaran dirinya tadi. Misalnya Amina itu memang matre, maunya sama cowok bermobil mewah. Atau waktu gue ajak kencan si Amina, emang gue lagi sakit sih, jadi kurang perform deh. Alasan aja deh ya pokoknya 😆.

Ketiga, aspek”ilmuwan” dalam diri kita. Ketika kita berusaha mencari penjelasan mengenai “kegagalan” kita, kita akan berperan sebagai ilmuwan yang naif. Maksudnya kita melakukan bias-bias dalam melakukan penelusuran informasi ini. Sebagai ilmuwan, kita akan mengembangkan hipotesis. Tetapi karena kita ilmuwan yang naif dalam hal ini, kita hanya akan mencari informasi-informasi yang mendukung hipotesis ini (confirmatory bias).

Itulah sebabnya kegagalan tidak selalu menjadi pelajaran positif bagi manusia. Berapa banyak orang yang bisa belajar dari kegagalannya untuk menjadi lebih baik? Saya memang tidak tahu pasti jumlahnya. Namun dari yang saya temui, sedikit sekali manusia yang dapat mengintrospeksi dirinya tanpa bias-bias. Tidak heran jika ada di antara kita yang sering gagal di area yang sama secara berulang-ulang. Dan lagi lagi kita mengatribusikan kegagalan-kegagalan ini pada faktor-faktor lain di luar kita.

Bambang yang “selalu” dimanfaatkan rekan-rekan kerjanya, Juni yang “tidak pernah beruntung” dalam persoalan asmara… Mereka hanya dua di antara contoh-contoh individu yang selalu dihadapkan pada persoalan yang sama karena memang tidak pernah benar-benar menyelesaikannya.

Ketika kita mengalami kegagalan berulang dalam aspek hidup yang sama, mungkin sudah saatnya kita belajar menemukan dan mengenali diri kita sendiri, bersikap terbuka pada beragam hipotesis tentang diri, tidak hanya terpaku pada faktor-faktor di luar diri, tidak hanya melakukan self-serving bias. Self-serving bias jika dilakukan sekali-sekali memang membantu melindungi diri kita. Tetapi jika dilakukan terlalu sering, ia dapat menyesatkan, menjadi kabut yang menghalangi pandangan kita…

Salam hangat,

Ester Lianawati  
PS : Terima kasih untuk pertanyaanmu, Someone. Saya jadi menghasilkan satu tulisan untuk melengkapi artikel-artikel sebelumnya tentang self-serving bias.

1 comment on “Mengapa kita melakukan self-serving bias?

  1. Pingback: Self-serving Bias – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: