Feminisme

Simone de Beauvoir: Filsafat yang Bergender

💜 Buku terbaru saya mengenai Simone de Beauvoir berjudul BEAUVOIR MELINTAS ABAD baru saja diterbitkan EA Books (Buku Mojok Grup) akhir Juli 2021. Buku ini dapat Anda temukan di Shopee dan Tokopedia💜.

Simone de Beauvoir selalu merendah, mengatakan dirinya tidak mampu berfilsafat, atau bahwa ia bukan filsuf dan karya-karyanya hanyalah karya-karya sastra. Entah apa alasannya merendah, anggap saja itu kerendahan hati, yang pasti, dunia telah menganggapnya sebagai seorang filsuf.

Christine Daigle menegaskan dalam Beauvoir : réception d’une philosophie (2006) bahwa Beauvoir adalah filsuf, karya-karyanya adalah karya-karya filsafat. Ia memilih roman, sandiwara, dan memoar sebagai media untuk menuangkan gagasan filosofisnya. Metode yang unik, tidak konvensional. Dalam pandangan Beauvoir sendiri, roman adalah satu-satunya yang memungkinkan ‘penyemburan’ eksistensi dalam kebenaran tunggal yang utuh dan temporal.

Dua esainya, Le deuxième sexe, tentang perempuan, ia tulis ketika berusia 28 tahun, dan La Vieillesse (Usia emas/Lanjut usia) dikarangnya saat berusia 62 tahun. Keduanya merupakan karya filosofis mengenai kelompok yang dipinggirkan. Dalam kedua buku ini, ia melakukan analisis historis dan fenomenologis untuk memahami realita yang dialami individu-individu dalam dua kelompok ini (perempuan dan lanjut usia).

Kedua teks di atas setia berpegang pada prinsip-prinsip eksistensial dan fenomenologis. Beauvoir menuliskan pengalamannya dari perspektif filosofis. Kebenaran adalah subjektif, dan kita dapat bicara kebenaran subjektif ini sejauh yang kita alami. Beauvoir sebagai perempuan, Beauvoir sebagai lansia, ia bicara kebenarannya yang subjektif tentang kedua kelompok ini.

Saya kira menjadi perempuan dalam masyarakat patriarkal memampukan Beauvoir untuk membuahkan karya yang lebih kuat eksistensialismenya dibandingkan Sartre. Sartre seperti kebanyakan filsuf lainnya berfilsafat tentang manusia secara umum, tetapi Beauvoir menghasilkan karya filsafat yang bergender.

Sartre menulis tentang manusia dalam pandangan universal, Beauvoir meskipun juga meng-universal-kan perempuan, tetapi ia menulis dari sudut pandang perempuan.

Karya-karya Beauvoir adalah wacana mengenai perempuan dari sudut pandang seorang perempuan yang mengalami sendiri menjadi perempuan.

Realitas yang bergender, inilah yang membedakan filosofi Beauvoir dengan Sartre, sekaligus kritik utamanya terhadap pria yang ia tinggikan sebagai gurunya ini. Menurut Beauvoir, Sartre, seperti kebanyakan filsuf, tidak melibatkan konteks situasional dalam menggambarkan realitas manusia. Sartre selalu menekankan kebebasan mutlak. Peran situasi dalam memengaruhi kebebasan manusia dalam konsep filsafat Sartre dirasakan palsu oleh Daigle. 

Sementara itu dalam pandangan Beauvoir, desakan situasi (lingkungan, sosial) dan kodrat biologis, keduanya merupakan beban perempuan. Perempuan harus memutuskan untuk dirinya sendiri apa yang akan ia lakukan berkenaan dengan kedua aspek yang menekannya ini. Merleau-Ponty, yang juga banyak memengaruhi gagasan-gagasan Beauvoir, juga tidak pernah mengangkat seks/gender sebagai bagian dari realita yang perlu dibahas. Oleh sebab itulah Daigle mengatakan bahwa konsep Beauvoir tidak sekedar ‘lebih mendekati’ konsep Merleau-Ponty tetapi melampauinya.

Mengenai kebebasan, karena ia mempertimbangkan konsep situasional, Beauvoir berusaha melihat situasi tertentu dalam hubungannya dengan kebebasan individu. Sementara Sartre kurang dapat menempatkan pemikirannya dalam konteks khusus semacam ini.  

Perbedaan lain antara filsafat Beauvoir dengan Sartre adalah mengenai eksistensi Liyan. Sartre menerima bahwa Liyan eksis, ia menyarankan agar kita mengakui dan belajar untuk menerima kehadirannya, untuk hidup dengannya. Beauvoir melihat lebih jauh dari itu. Menurutnya, kita tidak hanya harus menerima hidup dengan Liyan tetapi juga harus memberi kebebasan bagi Liyan karena ia esensial untuk kebebasan manusia.

Kita sering salah memahami feminisme sebagai gerakan perempuan melawan laki-laki. Padahal tidak demikian. Feminisme melawan segala bentuk penindasan. Feminisme menginginkan kebaikan, kesetaraan, kebebasan manusia tanpa saling menindas.

Simone de Beauvoir, filsuf feminis ini hanya ingin agar kita mengakui sepenuhnya eksistensi manusia, perempuan dan laki-laki, dan memberikan ruang kebebasan yang setara untuk keduanya. 

PS : Kalau Beauvoir hanya merendah bahwa ia bukan filsuf, yakinlah, saya tidak sedang merendah jika saya katakan bahwa saya bukan filsuf 😆. Saya kira Anda sebenarnya langsung yakin tanpa perlu saya yakinkan 😁😜

Saya hanya sedang bersusah payah memahami filsafat Simone de Beauvoir. Tulisan ini merupakan rangkuman pemahaman saya dari artikel yang ditulis Christine Daigle pada tahun 2006, berjudul Beauvoir : réception d’une philosophie.

 

3 comments on “Simone de Beauvoir: Filsafat yang Bergender

  1. Pingback: Feminisme Eksistensialis, Sebuah Tinjauan dan Refleksi – PSIKOLOGI FEMINIS

  2. Pingback: Kartini dan Realitas yang Bergender – PSIKOLOGI FEMINIS

  3. Pingback: Simone de Beauvoir dan Jean Paul Sartre -pengantar – CATATAN ESTER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: