Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan Well-being

Mengenali Kondisi Ego, Langkah Pertama Menuju Hubungan yang Sehat

Adakah di antara Anda yang pernah ingin meminta maaf kepada pasangan saat bertengkar namun yang keluar malah kembali kata-kata menyakitkan yang justru memperburuk keadaan? Atau di antara Anda, ada yang merasa terlalu banyak berkorban dalam hubungan Anda dengan pasangan? Anda lelah dan merasa tidak sanggup lagi mengatasi kekecewaan yang sudah bertumpuk? Atau Anda putus asa menghadapi anak Anda di usianya yang sudah seperempat abad tetapi masih saja Anda yang merapikan kamarnya, memunguti pakaian kotornya yang berserakan, dan membangunkannya di pagi hari agar tidak terlambat bekerja?

Atau mungkin di antara Anda ada yang merasa kecewa, marah dan tidak mengerti ketika anak dan menantu mengeluhkan sikap Anda yang terlalu ikut campur dalam rumah tangga mereka; dalam cara mereka mendidik anak-anak? Sementara itu Anda merasa hanya ingin berbaik hati; melakukannya untuk kebaikan anak/cucu/menantu Anda?

Atau Anda sering berkonflik dengan teman atau rekan kerja? Mereka mendapati Anda berlebihan dalam menjelaskan sesuatu yang tidak penting sementara maksud hati Anda hanya ingin berbagi informasi? Atau Anda menerima banyak ketidakadilan entah dari atasan, dari teman kerja, semacam Anda menyelesaikan tugas-tugas yang sebenarnya tidak menjadi bagian pekerjaan Anda? Tetapi Anda tidak mampu menolak?

Atau mungkin tidak satu pun dari hal di atas tetapi Anda pernah merasa jengkel dalam interaksi Anda dengan pasangan/orangtua/anak/teman/atasan dll karena satu dan lain hal?

Menjalani sebuah hubungan, memahami orang lain, bahkan orang yang terdekat sekalipun memang tidak mudah. Kadang kita menyakiti pasangan, kadang kita membebani anak dan orangtua kita. Mungkin kita tidak bermaksud demikian, meski bisa jadi juga kita melakukannya dengan kesadaran. Kadang kita ingin berubah tetapi skenario yang sama sepertinya selalu berulang. Kadang kita melakukannya dengan maksud baik, sehingga kita justru tidak mengerti mengapa tindakan kita alih-alih menyenangkan orang lain malah justru mengganggu atau menjengkelkan mereka. Kadang justru kita yang menjadi ‘korban’, kita yang disakiti, kita yang harus bersabar, melakukan kompromi, dan satu saat merasa bahwa kita sudah melakukannya terlalu banyak.

Adalah Eric Berne, psikiater kelahiran Kanada, yang mengembangkan teori analisis transaksional (transactional analysis) untuk kemudian ia gunakan sebagai metode terapi. Terapis yang menerapkan metode ini akan membantu kliennya untuk mengenali kondisi egonya dalam berinteraksi dengan orang lain. Satuan interaksi kondisi ego antara dua pihak ini ia namakan sebagai transaksi. Transaksi-transaksi yang tidak tepat akibat penggunaan kondisi ego yang tidak sesuai dengan situasi dapat membawa kedua pihak pada hubungan yang tidak sehat.

Kondisi Ego

Menurut Berne, tiap individu memiliki tiga kondisi ego (ego states) yang menggambarkan keberfungsian dari keadaan dirinya. Kondisi ego ini adalah Anak (Child), Orangtua (Parent), dan Dewasa (Adult).

Kondisi ego Anak dapat dibedakan antara Anak Adaptif, Anak Alami/Spontan, dan Profesor Cilik. Anak Adaptif adalah kondisi ego kita ketika dihadapkan pada keinginan/kebutuhan orang lain, yang dapat ditampilkan dengan menyesuaikan diri, patuh/menurut, atau sebaliknya membantah/melawan. Ketika kita mengatakan baiklah tanpa bertanya lebih lanjut, ketika kita mematuhi rambu lalu lintas, kita dalam kondisi ego Anak Adaptif Patuh. Kita menampilkan kondisi ego Anak Adaptif Pemberontak ketika kita menentang, menyatakan tidak setuju. Anak Alami/Spontan (selanjutnya akan saya tulis sebagai Anak Spontan) adalah kondisi ego penuh spontanitas, seperti mengatakan saya senang minum kopi susu, saya tidak suka film drama. Kita juga dalam kondisi ego Anak Spontan ketika menangis, merajuk, tersenyum senang, tertawa terbahak-bahak, takut, cemas. Kondisi ego Profesor Cilik menampilkan aspek intuisi, keingintahuan, rasa penasaran, keinginan mencoba. Contohnya ketika kita berani mengambil risiko, “Yuk kita coba saja.”

Ego kita dalam kondisi Orangtua jika kita menampilkan karakteristik orangtua yang mengasuh (nurturing, akan kita namakan Orangtua Pengasuh) ataupun mengatur, memberi norma/batasan (disebut juga Orangtua Normatif/Orangtua Pengontrol).

Sifat mengasuh muncul dalam memuji, menenangkan, membimbing, membantu, merawat, memberi semangat. Contohnya, “Ya sudah yang sabar ya. Atau, “Jangan khawatir, semua ada jalan keluarnya.” “Kamu bisa mengandalkan saya.” Seorang istri/suami yang menyiapkan wedang jahe untuk pasangannya yang sedang terkena flu juga menampilkan kondisi ego Orangtua Pengasuh. Orangtua Pengasuh cenderung memikirkan kepentingan/kebutuhan orang lain.

Sifat mengatur dapat berupa tidak menyetujui suatu perilaku, menemukan kesalahan orang lain, ataupun berprasangka. Dapat pula dengan memberikan norma/aturan/batas. “Lihat kiri kanan jika menyeberang jalan, jangan bicara kalau sedang makan, jangan tidur terlalu malam, jangan main dengan si A.” “Kamu harus begini, harus begitu.” “Kamu tidak boleh begini, tidak boleh begitu.” Ini adalah kalimat-kalimat khas dari Orangtua Normatif. Dapat pula tampil sebagai Orangtua Pengeritik, contohnya, “Kamu kalau jalan pakai mata dong.”, “Kamu ini bodoh sekali, begitu saja tidak bisa.”

Sedangkan kondisi ego Dewasa tampil dalam bentuk pernyataan atau sikap yang rasional, objektif, netral, dan penuh pertimbangan. Sering dimulai dengan kata-kata “Apa, bagaimana, di mana, siapa,…” Contohnya, “Apa kamu sudah memikirkan resiko berbisnis dengan dia?” “Bagaimana menurut kamu tentang pekerjaan ini?” “Perlu diperhatikan kondisi ego Dewasa tidak selalu mengacu kepada sikap yang dewasa. Dapat pula sekedar menyatakan data faktual, misalnya, “Hari sudah larut malam.” Atau, “Sekarang sudah pukul 12.” Kondisi ego Dewasa juga tidak berarti selalu benar, bisa jadi keputusan yang diambil tidak tepat. Kata Dewasa di sini lebih mengacu kepada caranya, bahwa kita melakukan pertimbangan, memikirkan sesuatu masak-masak, mencoba bersikap netral dan objektif.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai kondisi ego. Pertama, kondisi ego tidak ada kaitannya dengan usia. Seorang anak kecil dapat menampilkan kondisi ego Orangtua Pengasuh ketika menghibur temannya agar tidak menangis lagi. Seorang kakek dapat menampilkan kondisi ego Anak Spontan ketika menginginkan es krim cokelat. Seorang remaja dapat menampilkan kondisi ego Dewasa ketika membatalkan kencannya karena harus belajar untuk ujian akhir. Seorang balita juga dapat menampilkan kondisi ego Dewasa dengan mengatakan bahwa hujan sedang turun.

Kedua, setiap kondisi ego ini ada dalam diri kita dan ia bervariasi sepanjang waktu. Contohnya, pukul 5.30, alarm berbunyi, Dina bangun. Meski lebih suka menghabiskan waktu lebih lama lagi di ranjangnya, ia bersiap-siap berangkat ke kantor (kondisi ego Dewasa). Di jalan, ia patuh pada rambu-rambu lalu lintas (Anak Adaptif). Setiba di kantor, seorang rekan memberitahukan bahwa ia ditunggu atasannya untuk segera menghadap. Dina sempat mengomentari terlebih dahulu dalam hatinya mengenai dandanan rekannya (Orangtua Normatif) sebelum akhirnya cemas memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengapa atasannya memanggil (Anak Spontan). Dst.

Bahwa kondisi ego seseorang tidak statis, melainkan bervariasi sebagai bentuk respons kita terhadap tuntutan situasi, merupakan pertanda positif. Kita akan bahas hal ini dalam kesempatan lain.

Ketiga, tidak ada kondisi ego yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Tiap kondisi ego memiliki aspek positifnya. Masing-masing akan menjadi negatif jika (a) tampil secara berlebihan atau (b) ditampilkan sebagai bentuk respons yang tidak tepat. Kedua poin ini terkait. Kita bisa jadi menampilkan kondisi ego yang tidak tepat karena punya satu atau lebih kondisi ego yang cenderung dominan dalam diri kita, yang mendesak ingin tampil tiap kali kita dihadapkan pada situasi tertentu.

Kondisi ego Dewasa tentu diperlukan agar kita dapat bertindak secara rasional tetapi juga dapat membuat manusia bertindak seperti Robot jika berlebihan. Kondisi ego Dewasa sendiri diumpamakan oleh Berne sebagai Komputer karena bertindak seperti processor.

Sementara itu, tidak ada yang salah dengan kondisi ego Anak, kita jadi orang yang spontan, ceria, tahu caranya bersenang-senang. Namun tidak lagi positif bila kita tidak pernah dapat mengatakan tidak, bila kita tidak dapat menolak. Ini adalah contoh dari kondisi ego Anak Adaptif Patuh yang berlebihan. Kebaikannya akan menjadi kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang paham bahwa ia tidak akan menolak. Ego Anak Adaptif Patuh berlebihan dapat pula tampil dalam bentuk selalu setuju, selalu mengiyakan pendapat orang lain, seperti melihat di mana-mana adalah “orangtua” yang harus dipatuhi. Jika Anda merasa banyak menerima ketidakadilan dari atasan atau rekan kerja, kemungkinan Anda sering berada dalam kondisi ego ini.

Sementara itu kondisi ego Anak Spontan dalam bentuk negatif dapat pula tampil dalam bentuk selalu mengeluh, meratapi kemalangannya, merasa tidak mampu, meyakini bahwa orang lain selalu lebih darinya, merasa takut dan cemas berlebihan. Atau dapat tampil dalam bentuk senang berlebihan. Tentu bukan berarti tidak waras, hanya saja respons senang-nya sering tidak sesuai situasi.

Kondisi Anak Adaptif Pemberontak pun bukan kondisi ego yang negatif. Kita perlu sesekali berani berkata tidak, berani membela diri dan membela orang lain. Tetapi menjadi berlebihan jika kita selalu memberontak, selalu menentang, untuk menyakiti orang lain misalnya, atau sebagai bentuk protes karena tidak berani mengungkapkan yang sebenarnya.

Kondisi ego Orangtua Pengasuh dalam bentuk berlebihan tampil dalam bentuk terlalu melindungi, terlalu ikut campur, mengambil alih tugas karena meyakini bahwa jika bukan dia yang mengerjakan, tugas ini tidak akan selesai/tidak akan sempurna. Contoh Ibu Mira yang khawatir melihat anaknya yang sebentar lagi akan menikah tetapi masih belum menampilkan kemandirian yang ia harapkan. Di sisi lain ia melakukan tugas-tugas yang seharusnya sudah dapat dilakukan sendiri oleh anaknya. Ia masih merapikan kamar anaknya, memunguti pakaian-pakaian kotornya yang berserakan di lantai, membangunkan anaknya di pagi hari untuk berangkat kerja, dll.

Ketika ditanyakan mengapa ia tidak biarkan saja kamar anaknya berantakan, Ibu Mira menjawab ia tidak dapat melihat kamar anaknya berantakan. Ketika diminta untuk membiarkan anak mencuci pakaiannya sendiri, menyetel alarm sendiri agar terbangun tepat waktu, dll, jawabannya adalah “Bagaimana nanti kalau dia terlambat? Bagaimana jika ia tidak ada pakaian bersih dan yang sudah tersetrika? Bagaimana? Bagaimana? Tanpa disadarinya, sisi Orangtua Pengasuh yang berlebihan dalam dirinya telah menghambat proses kemandirian anaknya.

Orangtua Pengasuh yang berlebihan sering merasa diri melakukan terlalu banyak, banyak mengalah, banyak berkorban, banyak berkompromi. Karena ia cenderung ingin menghindari konflik, misinya adalah membawa kedamaian. Ketika dosisnya berlebihan, ia akan berakhir dengan merasa sangat lelah dalam hubungannya dengan orangtua, pasangan, anak, dan teman.

Kondisi ego Orangtua Normatif memiliki fungsi positif untuk memberikan batasan mengenai apa yang seharusnya dilakukan dan tidak. Tetapi jika ditampilkan secara berlebihan akan membuat kita jadi orang yang cenderung mengkritik. Kita akan merasa diri yang paling benar, merasa ide-ide kita yang paling bagus, merasa diri paling berpengalaman, merasa perlu menginformasikan, merasa perlu menjelaskan, tanpa diminta, tanpa diperlukan. Kita akan cenderung ingin ‘memperbaiki’ orang lain.

Harga diri kita mudah terserang jika ada orang lain yang melakukan hal yang sama dengan kita, karena kita merasa sebagai yang lebih tahu. Karena gemar menjelaskan kepada orang lain, kita tidak suka jika orang lain yang menjelaskan kepada kita, jika ada orang lain yang sepertinya lebih tahu dari kita. Karena kita suka memonopoli percakapan, bukan kita yang harus jadi pihak mendengarkan.

Jika Orangtua Normatif dalam diri kita berlebihan, kita cenderung menghukum orang lain ketika orang ini tidak mengikuti pendapat kita dan ternyata pendapat kita yang benar. “Tuh kan saya bilang juga apa.” “Tuh kan sudah saya peringatkan.” Seperti tidak cukup melihat orang tersebut menyesali keputusan yang telah ia ambil, kita merasa perlu mengucapkan kalimat ‘menghukum’ tsb. Padahal kita tahu bahwa sikap kita yang seperti ini tidak akan membantu dalam situasi tsb.

Kasus orangtua/mertua di atas bisa jadi merupakan gambaran kondisi ego Orangtua Pengasuh yang berlebih jika ia menghujani anak/cucu/menantu dengan perhatian, menelepon sangat sering untuk mendapatkan kabar, terlalu sering menawarkan bantuan, menanyakan apa yang dapat ia lakukan, selalu ingin ‘berpartisipasi’ dalam kegiatan-kegiatan keluarga anaknya ini. Perhatiannya yang berlebih membuat anak megap-megap, susah bernafas. Dapat pula ia menjadi Orangtua Normatif/Pengeritik yang berlebihan jika ia memaksakan ide-ide/pendapatnya mengenai cara mendisiplinkan anak, mengkritik masakan menantunya yang terlalu pedas, mengkritik anak yang ‘menurutnya’ takut terhadap istri, dll. Keduanya meyakini telah melakukan hal yang benar untuk kebaikan anak/cucu/menantu. Tetapi yang terjadi adalah : tipe pertama membuat jantung anak/menantu megap-megap, tipe kedua membuat hati anak/menantu panas.

Kadang Orangtua Normatif tampil dalam bentuk lebih tersamar seperti contoh percakapan berikut antara Anna dan Dewi, dua teman baik. Anna bertanya kepada Dewi yang baru saja kehilangan pekerjaan apakah Dewi ingin mendaftar di biro pencari kerja Cepat Dapat. Dewi mengatakan tidak karena malas dengan administrasi pendaftarannya. Anna merasa perlu menjawab Dewi dengan mengatakan, “Ya benar, mending kamu cari sendiri pekerjaan dan training yang kamu butuhkan. Biro Cepat Dapat tuh repot tauk, nanti kamu bakal dipanggil dulu kalau abis daftar, kamu diwawancara, nanti ada pemeriksaan rutin, harus bikin surat motivasi pula. Duh ribet deh.”

Pertanyaannya jika kita menempati posisi Dewi, haruskah, perlukah kita menjawab seperti itu? Bukankah Anna sendiri sudah tahu bahwa administrasinya memang ribet dan karena itu pula ia malas mendaftar? Tetapi bagi orang-orang seperti Anna, seperti ada keinginan yang kuat untuk menjelaskan, sepertinya itu jadi kebutuhan penting dalam dirinya, dan ia tidak mampu mencegah diri untuk mengatakan itu.

Tetapi Anna-Anna ini sesungguhnya dapat mencegah diri. Seperti Ibu Mira-Ibu Mira dapat mulai membiarkan anaknya untuk peduli dan “mengasuh” dirinya sendiri. Seperti kita sendiri mungkin yang perlu mulai belajar menolak jika memang tidak dapat membantu teman, saudara, atau tetangga. Atau mungkin sebaliknya, kita tidak langsung menentang dan mengatakan tidak untuk setiap saran dan masukan dari orang lain. Ada baiknya jika kita merenungkan terlebih dahulu kebaikannya. Jika kita cenderung mengeritik pasangan mungkin perlu berpikir sejenak, apakah kritik ini dapat membantunya memperbaiki diri atau malah membuatnya semakin terpuruk dan merasa buruk?

Harus saya akui, tidak mudah mempraktikkan metode dari Eric Berne ini. Kesulitan terbesar bukan pada menganalisis kondisi ego. Tetapi menyeimbangkan kondisi ego kita, menurunkan sedikit saja kadar kondisi ego yang berlebihan, dan menampilkan kondisi ego yang tepat dalam menghadapi pasangan/anak/orangtua/teman dll. Untuk yang terakhir ini, kita masih harus belajar mengenali kondisi ego orang lain untuk dapat menanggapi dengan kondisi ego yang tepat.

Hmmm, rumit ya. Tetapi para pakar analisis transaksional meyakinkan kita bahwa kita dapat melakukannya jika berlatih secara rutin. Saya pun masih dalam proses berlatih. Kiranya tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

Mohon maaf untuk uraian yang terlalu panjang ini, sepertinya kondisi ego Orangtua Normatif bergabung dengan Orangtua Pengasuh sedang aktif dalam diri saya sehingga ingin berpanjang-panjang menjelaskan teori ini dengan tujuan membawa kebaikan bagi dunia ^.^ — Ups, ego Anak Spontan saya sedang aktif 😀 —

Salam hangat,

Ester Lianawati

5 comments on “Mengenali Kondisi Ego, Langkah Pertama Menuju Hubungan yang Sehat

  1. Terima kasih sharingnya, Mbak 🙂

    Like

  2. There was those steps when one saw at one’s own ego, just little bit, and there was a magnificent scenery, named ‘the Everest of Denials’ ~ end of the story. :’D

    Like

  3. Pingback: Keluar dari Permainan Psikologis – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: