Perempuan & Gender

Mengapa benda-benda milik Papa selalu (digambarkan) lebih besar?

Louve, putri pertama saya mengajukan pertanyaan di atas ketika ia sedang membaca bersama kakeknya. Kakeknya menjawab secara spontan karena Papa lebih tinggi (dan besar) sehingga benda-benda miliknya juga digambarkan lebih besar. Putri saya lantas mengajukan pertanyaan lain : Mengapa Papa selalu digambarkan lebih tinggi dan besar (dalam buku-buku) ?

Pertanyaan dan jawaban yang mengundang gelak tawa kami saat itu tetapi juga menyadarkan kami betapa negara Perancis (kami menetap di sini) juga masih dipenuhi stereotipe-stereotipe perempuan dan laki-laki.

Masyarakat Perancis meski secara umum tidak menganggap perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki, mereka masih mengadopsi nilai-nilai gender yang tradisional. Namun mereka melakukannya justru untuk menghargai perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Ini juga sebenarnya yang membedakan feminisme di Perancis dengan feminisme di negara-negara lain. Lain waktu saya bahas ya 😉

Di beberapa restoran cepat saji yang menyediakan menu anak, mereka selalu membedakan mainan ataupun kotak tempat makanan antara anak perempuan dan laki-laki. Di sebuah restoran, kotak merah jambu dibuat khusus untuk anak perempuan dan biasanya bergambarkan Luna Valente, gadis remaja berusia 16 tahun, tokoh dalam seri TV Soy Luna. Sedangkan kotak biru dengan gambar Spiderman, Batman, dan tokoh sejenis lainnya, didesain khusus untuk anak laki-laki. Di restoran lain, mereka membedakan jenis mainannya. Mainan untuk anak laki-laki seperti pistol-pistolan, dan mainan untuk perempuan berupa boneka kecil dan sejenisnya yang ‘berbau’ perempuan.

Sesekali saya membawa putri-putri saya ke salah satu restoran cepat saji ini karena mereka tertarik dengan arena permainan yang disediakan di sana. Meski tujuannya bukan untuk makan, mau tidak mau kami tentunya harus membeli makanan di sana. Biasanya pelayan akan secara otomatis memberikan dua kotak merah jambu ataupun mainan ‘perempuan’ untuk kedua putri saya.

Suatu kali, ketika pelayan memberikan kotak merah jambu, putri saya yang pertama menginginkan kotak biru, yang diikuti pula oleh adiknya yang selalu ingin sama dengan kakaknya (sindrom anak kedua ^.^). Saya pun meminta pelayan untuk menukar dua kotak merah jambu ini dengan kotak biru. Pelayannya mempertegas, “Oh, tidak mau kotak untuk anak perempuan? Maunya kotak untuk anak laki-laki?” “Hmmm, maksudnya kotak merah jambu dan kotak biru?, “jawab saya sambil tersenyum. Ya mereka mau kotak biru, tidak mau kotak merah jambu. Tampaknya pelayan ini menangkap maksud saya, ia tersenyum, dan memformulasikan ulang kalimatnya 🙂

Louve juga pernah menceritakan salah seorang guru di sekolahnya yang membeda-bedakan warna untuk siswa dan siswi seperti warna merah jambu itu untuk siswi dan biru untuk siswa. Atau ketika ia mengenakan kaos dengan gambar-gambar yang kurang feminin jika ditinjau dari stereotipe yang berlaku umum, asisten gurunya mengatakan bahwa ia sedang mengenakan kaos yang seharusnya untuk laki-laki. Lantas saya katakan kepadanya dan kepada adiknya juga bahwa (anak) perempuan dan laki-laki boleh mengenakan warna-warna yang mereka sukai dan pakaian dengan gambar yang juga mereka sukai. Tapi saya tekankan pula kepadanya bahwa pilihan warna dan gambar juga bergantung pada orangtua mereka mengingat mereka masih anak-anak (tentu saya tidak ingin menimbulkan masalah dengan orangtua murid lainnya yang mungkin tidak ingin mengenakan kaos bergambar boneka pada anak laki-lakinya 😜).

Suatu kali sepulang sekolah, Louve menceritakan dengan wajah seriusnya bahwa ia tadi telah menjelaskan kepada asisten gurunya, “Kata Mama, anak perempuan punya hak untuk pakai kaos biru dengan gambar dinosaurus, bola, ataupun roket. Anak laki-laki kalau dia mau juga boleh pakai kaos yang gambarnya boneka. Dia punya hak. Tapi itu kalau orangtuanya mau juga.” Sambil menahan geli, saya menanyakan apa jawaban si asisten guru. Si asisten guru ini menurut cerita putri saya, hanya tertawa dan membenarkan perkataannya.

Kembali ke pertanyaan di atas mengenai tokoh Papa yang selalu digambarkan lebih tinggi (dan besar). Saya berusaha menjelaskan kepada putri-putri saya dengan kalimat sederhana bahwa adanya anggapan umum yang tidak selalu benar tentang perempuan dan laki-laki. Saya coba jelaskan bahwa anggapan umumnya dalam hal ini adalah pria selalu lebih tinggi dan atau lebih besar daripada perempuan yang menjadi pasangannya. Namun anggapan umum ini tidak selalu benar.

Lalu saya coba sebutkan beberapa Papa Mama yang ia kenal; Papa Mama dari teman-teman di kelasnya, yang tidak mengikuti model anggapan umum yang berlaku. Ada Papa Mama dari temannya yang bernama Nina dengan Mama-nya sedikit lebih tinggi dan sedikit lebih besar dari Papa-nya. Ada pula Papa Mama nya Rose, Papa Mama nya Sebastian, Papa Mama nya Maria, ketiga pasangan Papa Mama ini, si Mama jauh lebih tinggi dari Papa nya. Ada pula Papa Mama nya Yusuf yang sama besar dan sama tingginya, dan mereka berdua luar biasa besar dan tinggi.  Dan terakhir, ada pula Papa Mama nya Yahya dengan Mama yang jauh lebih tinggi dan jauh lebih besar dari Papanya. Saya melihat Papa nya seperti sangat terlindungi oleh Mama nya… (tentu bagian ini tidak saya sampaikan pada putri saya 😊

Foto diambil dari situs jeuxdemot.com.

 

1 comment on “Mengapa benda-benda milik Papa selalu (digambarkan) lebih besar?

  1. Pingback: Stereotip Gender, Tidak Hanya Perempuan yang Dirugikan – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: