Perempuan & Gender

Membuka Sumbatan Psikologis dalam Penanganan Kasus-kasus Infertilitas

Kita sering dengan cepat menyebut perempuan atau laki-laki mandul ketika pasangan ini belum juga punya anak setelah beberapa waktu menikah. Padahal, selain istilah ini menyakitkan dan membunuh seketika harapan pasangan, masalah yang menimpa sebagian besar pasangan juga sebenarnya adalah infertilitas, bukan sterilitas.

Demikian menurut Philippe Granet, dokter kandungan di Paris, yang dalam praktiknya selama puluhan tahun, baru menemukan 8% kasus kemandulan. Sisanya, pasangan-pasangan yang ia tangani, mengalami infertilitas. Peluang mereka untuk memperoleh anak pasca hubungan seksual di masa subur hanya sekitar 5% (bandingkan dengan mereka yang normal mencapai 25%, namun peluang ini menurun menjadi 10% jika istri berusia di atas 40 tahun). Positifnya adalah untuk pasangan-pasangan ini sebenarnya ada kemungkinan istri akan mengandung, hanya saja lebih kecil dibandingkan pasangan lain, dan bergantung pada “waktu” dan “keberuntungan”.

Monique Bydlowski, neuropsikiater yang menangani pasangan dengan masalah infertilitas mengingatkan kita bahwa kesuburan terletak di bawah pengaruh bagian wilayah otak yang mengatur emosi. Kesuburan adalah fungsi biologis yang peka terhadap stres dan kecemasan. Kondisi stres dan cemas secara kronis akan menurunkan kemungkinan program kesuburan untuk dapat berhasil.

Persoalannya adalah ketika kita divonis memiliki masalah infertilitas, siapa yang tidak cemas dan stres? Belum lagi ketika upaya-upaya untuk mengandung tidak kunjung menghadirkan si buah hati. Yang ada adalah seperti lingkaran setan. Semakin stres, kecil kemungkinan program berhasil, bertambah stres, bertambah kecil kemungkinan program berhasil, dst.

Mereka yang pernah menunggu lama untuk punya momongan sampai harus mengikuti program kesuburan pasti mengenal masa-masa yang menekan itu.  Sejumlah pasangan yang saya temui masih meneteskan air mata mengenang betapa stresnya, betapa kacau, betapa galau, betapa berat bagi mereka melewati periode itu. Masih belum mereka lupakan jatuh bangun antara berharap dan kecewa tiap kali memulai upaya dan tiap kali upaya ini belum juga mengantarkan mereka pada si buah hati. Sampai akhirnya muncul keikhlasan untuk menerima bahwa mungkin Yang Di Atas memang tidak menghendaki mereka menjadi ayah dan ibu.

Menariknya ketika keikhlasan ini muncul, pada sebagian pasangan ini, dalam hitungan minggu atau bulan, mereka mendapat kejutan: istri mengandung. Tanpa meminum obat-obatan tertentu, tanpa suntikan hormon, tanpa perlu menjadwalkan waktu bercinta, tanpa suami dituntut, maaf, ‘menghasilkan’ sperma dalam kabin klinik kesuburan, dan upaya-upaya lain yang melelahkan fisik dan emosional.

Sepertinya keikhlasan ini membuka jalan bagi kedatangan si buah hati. Ketika pasangan sudah ikhlas bahwa mungkin memang mereka tidak akan dikaruniai anak, mereka jadi tidak peduli lagi omongan orang, tekanan dari keluarga, dsb. Mereka menjadi lebih damai, aktivitas seksual bersifat spontan dan tidak disertai keharusan untuk berhasil… Dalam kondisi tenteram seperti ini, si buah hati menampakkan diri.

Tentu saya tidak bermaksud memberi harapan palsu bahwa keikhlasan akan mendatangkan momongan. Karena masalah infertilitas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor medis, kondisi stres, obsesi untuk memiliki anak, tetapi lebih jauh dari itu, ada yang dinamakan dengan sumbatan-sumbatan psikologis yang sifatnya cenderung tidak disadari. Sumbatan-sumbatan psikologis ini mengacu kepada pengalaman atau peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Seringkali sumbatan psikologis terkait dengan pengalaman kita sendiri sebagai anak. Ingatan kita akan masa kecil sering teraktifkan kembali saat kita sedang menanti kehadiran anak, baru saja memiliki anak, dan saat membesarkan anak. Anak mengantarkan kita pada masa kecil kita, bagaimana kita diasuh dan dibesarkan. Sebagian dari kita mengenangnya dengan indah. Sebagian dari kita ingin mendidik anak-anak kita dengan cara-cara yang sama seperti dulu orangtua mendidik kita. Tetapi ada pula di antara kita yang menyesalkan pengasuhan ayah dan ibu kita dahulu dan kita bertekad tidak akan melakukannya pada anak-anak kita kelak.

Kadang ada masalah-masalah yang belum selesai terkait dengan masa lalu kita sebagai anak-anak, ada kepahitan, kegetiran, luka-luka, dan trauma. Cukup banyak laki-laki korban kekerasan orangtua di masa kanak-kanak memulai perilaku kasarnya pada istri ketika istri sedang mengandung. Anak dalam rahim istrinya mengingatkannya akan masa lalu yang kelam ketika ia sendiri masih kanak-kanak. Pada sebagian orang, meski mungkin tidak memunculkan kekerasan, pengalaman-pengalaman traumatis ini dapat menjadi semacam sumbatan psikologis yang dapat menghambatnya secara tidak disadari untuk menghasilkan keturunan.

Sebut saja kasus Amelia (nama samaran), ketika kecil ibunya selalu membandingkannya dengan kakak dan adiknya yang lebih cantik. Ibunya tidak dapat menerima telah melahirkan anak yang tidak cantik seperti Amelia. Ia pun diperlakukan seperti Cinderella, harus mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Hanya saja jika Cinderella diperlakukan semena-mena oleh ibu tiri, Amelia oleh ibu kandung sendiri. Jika kakak dan adiknya didandani, dikenakan pakaian bagus, dsb, tidak demikian dengan dirinya. Karena menurut ibunya, tidak akan membantunya pula untuk menjadi lebih cantik.  

Ketika ibunya melahirkan anak keempat, bayi laki-laki, beliau jatuh sakit. Amelia, saat itu baru berusia 7 tahun, harus merawat adiknya, memberinya susu, memberikan makan, mengganti popok, dll. Ia menjadi ‘ibu’ bagi si bayi yang baru lahir itu. Lengkaplah sudah perampasan masa kecilnya.

Selama ini Amelia menyimpan sendiri kepahitannya. Ia juga tidak menceritakannya kepada suaminya. Ia enggan mengingatnya, terlalu sakit katanya. Setelah menikah, keinginan menjadi ibu tumbuh secara spontan dan ia sama sekali tidak mengingat-ingat masa lalunya. Tetapi hamil adalah hal lain, hamil akan menjadikannya sebagai ibu, dan ide akan kehamilan ini mengaktifkan memorinya akan masa kecilnya. Bagaimana jika ia menjadi seperti ibunya? Bagaimana jika menjadi seperti si gadis cilik itu (dirinya) yang tidak mampu mengurus adiknya (bayi) seperti yang sering dilontarkan ibunya saat itu?

Menariknya, Amelia tidak berpikir akan kenangan-kenangan ini sebelumnya. Hubungannya dengan kakak dan adiknya memang selalu baik meski ibu mereka memperlakukan Amelia secara berbeda. Selain itu, ibu Amelia sendiri sudah bersikap jauh lebih manis sejak Amelia memiliki karir yang gemilang (Amelia tidak mendapatkan cinta yang tulus dari ibunya, perubahan sikap ibunya hanya setelah Amelia menunjukkan prestasi yang membanggakan).

Ketika pengalaman-pengalaman pahit dan kekhawatiran-kekhawatiran yang menekannya ini diungkapkan, ia merasa ‘plong’, seperti botol yang penyumbatnya terloncat keluar, demikian tuturnya. Setelah proses pelepasan sumbatan ini, Amelia menjadi lebih lega, lebih tenang, lebih damai dalam menjalani program kesuburan. Ketika tulisan ini dibuat, ia sudah menjadi ibu dari dua anak, laki-laki dan perempuan.

Kadang sumbatan psikologis ini berasal tidak dari hubungan dengan orangtua tetapi dengan saudara ataupun anggota keluarga lain. Sebenarnya tidak penting dengan siapa, yang terpenting adalah sifat hubungannya, bahwa pengalaman ini tidak menyenangkan, bahkan traumatis dan mengganggu ketenteraman batin. Sedemikian mengganggu dan traumatisnya, pada sebagian orang, pengalaman ini ditekan ke dalam ketidaksadaran. Tidak harus selalu terlupakan tetapi tidak disadari bahwa hal itu sebenarnya masih menjadi persoalan yang belum selesai.

Kasus lain, sebut saja Susy (bukan nama sebenarnya), sudah memiliki anak perempuan berusia 2 tahun. Suaminya menginginkan anak kedua yang usianya diharapkan tidak berbeda jauh dengan anak pertama mereka, agar tumbuh besar bersama dan dapat menjadi teman main, demikian harapannya. Susy setuju saja. Tetapi dua tahun sudah sejak ia melepas pil KB, anak kedua belum juga muncul. Dokter tidak menemukan penyebab medis yang berarti. Ada apa gerangan?

Susy dan suaminya yang telah uring-uringan menemui psikolog. Awalnya untuk terapi pasangan karena hubungannya dengan suaminya menjadi tidak harmonis belakangan ini. Suaminya menuduh Susy sembunyi-sembunyi masih meminum pil karena tidak ingin hamil lagi. Susy jelas membantah. Namun pertengkaran demi pertengkaran terjadi, sehingga mereka tidak dapat lagi berkomunikasi secara efektif dan merasa perlu menemui konselor perkawinan.

Setelah mengikuti beberapa sesi konseling, psikolog yang mendampingi pasangan ini menemukan persoalan lain. Susy memang tidak membohongi suaminya mengenai masalah pil. Tetapi ada pengalaman masa lalu yang tanpa ia sadari telah menyumbat jalan bagi hadirnya anak kedua. Susy ingin melindungi anak(-anak)nya untuk tidak mengalami apa yang pernah ia alami di masa lalu.

Susy adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya hanya terpaut usia 2 tahun dengannya. Mereka bermain bersama, tumbuh bersama. Adiknya tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas, dan lembut. Ia pandai menari dan selalu jadi juara kelas. Susy merasa perhatian orang-orang hanya tertuju kepada adiknya. Adiknya sendiri selalu rendah hati, tetapi semakin baik kelakuan adiknya semakin Susy bertambah iri kepadanya. Ia sering memakinya tanpa sebab, dan adiknya hanya diam saja, tetap sabar, tetap tersenyum, Susy pun semakin benci kepadanya. Kini, mereka sudah sama-sama berkarir dan berkeluarga. Adiknya tetap jadi perhatian banyak orang namun Susy tidak lagi menaruh iri hati. Ia hampir tidak teringat akan kelakuan buruknya kepada adiknya sampai ia dan suaminya menemui konselor perkawinan.

Tanpa ia sadari Susy takut pola yang sama akan berulang pada anak-anaknya. Ia merasa bersalah kepada adiknya. Ia tidak ingin anak pertamanya melakukan kesalahan yang sama dengannya. Ia juga tidak ingin anak keduanya mengalami hal yang sama seperti adiknya. Ketika Susy menyadari hal ini, terbukalah sumbatan psikologisnya. Tidak lama kemudian, Susy mengandung anaknya yang kedua.

Tidak ini bukan gaib, bukan pula kisah dalam novel-novel atau film-film. Ini adalah kisah nyata mengenai sumbatan psikologis dalam kasus-kasus infertilitas. Awalnya sumbatan-sumbatan psikologis ditemukan oleh psikolog/psikoanalis yang menangani kasus-kasus infertilitas somatogenik, yaitu yang tidak ditemukan penyebab medisnya. Belakangan, mereka menemukan pula masalah ini pada pasangan-pasangan infertil yang penyebab medisnya diketahui.

Sebenarnya tidak harus ke psikolog untuk dapat menemukan dan membuka sumbatan-sumbatan ini. Jika mungkin saat ini Anda dan pasangan sudah lama menantikan kehadiran anak, coba tanyakan pada diri sendiri, apa mungkin ada pengalaman-pengalaman traumatis di masa lalu. Jika memang ada, mungkin perlu mengungkapkannya pada orang yang dapat dipercaya. Mengapa tidak dengan pasangan sendiri.  

Jika tidak ada tentu tidak perlu diada-adakan. Tetapi jika memang ada, jangan tunda lagi untuk membuka sumbatan-sumbatan ini. Berdamai dengan masa lalu akan membawa kedamaian di masa kini. Jika dirasa terlalu berat, menemui pakar mungkin perlu dilakukan.

Saya doakan yang terbaik untuk rekan-rekan yang sedang menanti kehadiran si buah hati, kiranya diberi kesabaran, keikhlasan dan kekuatan. Mudah-mudahan, jalannya dimudahkan bagi Anda untuk menyambut kehadiran si buah hati.

 

Salam kasih,

Ester Lianawati

1 comment on “Membuka Sumbatan Psikologis dalam Penanganan Kasus-kasus Infertilitas

  1. Pingback: KETIKA PEREMPUAN TIDAK DAPAT MENJADI IBU – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: