Uncategorized

Layang-layang Indonesia Megah di Langit Perancis

Dieppe, sebuah kota di Perancis, yang menamakan diri sebagai ibu kota layang-layang baru saja menyelenggarakan Festival Layang-layang Internasional tanggal 8-16 September lalu.  Festival ini memang diselenggarakan setiap bulan September dua tahun sekali.

Indonesia secara rutin berpartisipasi dalam acara ini. Bahkan pada tahun 2002, perwakilan kita saat itu menyuguhkan tarian Bali yang indah di pantai Dieppe. Pada tahun 2014, Indonesia, bersama dengan India, menjadi tamu kehormatan. Tahun 2018 ini, meski bukan tamu kehormatan, layang-layang Indonesia dengan bentuk naga sangat memikat pengunjung.

Tidak hanya Indonesia yang menampilkan layang-layang berbentuk naga, tetapi juga Cina, India, dan beberapa negara Eropa. Maklum tahun ini, temanya adalah dunia fantasi.

Namun tampaknya naga diinterpretasikan secara berbeda oleh negara-negara Eropa dan Asia. Bagi penerbang layang-layang dari negara-negara Eropa, naga digambarkan sebagai makhluk ganas yang menakutkan. Sementara itu mereka dari negara-negara Asia mengasosiasikannya lebih sebagai pelindung. Di Cina, naga dimaknai sebagai simbol kehidupan.

Dalam tautan video yang saya tuliskan di bagian akhir tulisan ini, Pak Tinton Prianggoro dari Indonesia diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi lokal (France 3, wilayah Normandie). Beliau sedang menjelaskan mengenai naga yang oleh masyarakat kita dipercayai sebagai pembawa keberuntungan.

Sebuah kota lain di Perancis yaitu Berck-sur Mer, tanpa mengklaim diri sebagai ibu kota layang-layang, juga menyelenggarakan festival semacam ini. Mereka menyebutnya sebagai Pertemuan/Jumpa Internasional Layang-layang (Rencontres Internationales de Cerfs-Volants, disingkat RICV). RICV diselenggarakan setahun sekali menjelang Paskah (di bulan April). Dengar-dengar, acara ini malah menarik lebih banyak pengunjung dibandingkan Dieppe. Tetapi entahlah, saya kurang paham bagaimana pihak panitia mendata pengunjung di kedua pantai.

Yang pasti, pada RICV yang ke 32, bulan April 2018 lalu, perwakilan bangsa kita turut memeriahkan acara ini. Kehadiran mereka mendapatkan banyak perhatian media. Dalam harian regional La Voix du Nord, mereka bahkan ditampilkan secara khusus dalam satu artikel, dengan judul yang menarik, yang kira-kira jika diterjemahkan,” Layang-layang Indonesia Menuturkan (kepada Anda) Sebuah Sejarah”.

Jurnalis Frederic Vaillant menuliskan dalam artikel ini bahwa layang-layang Indonesia yang diterbangkan di Berck-sur-Mer sangat original dan terinspirasi dari dunia wayang. Ia sepertinya sangat terpikat dengan layang-layang berbentuk Hanoman yang menurutnya berada di tempat yang tepat (di langit) bukan hanya karena ia menjaga/mengawasi tetapi karena ia adalah anak dari raja angin. Perwakilan Indonesia, Ibu Sari Madjid, dalam kesempatan ini juga bercerita tentang Sutasoma.

Dalam surat kabar Liberation, Ibu Sari Madjid juga menjelaskan mengenai wayang. Beliau mengatakan bahwa layang-layang menjadi satu cara lain untuk memainkan wayang-wayang. Mungkin itu sebabnya tim dari Indonesia ini dinamakan Wayangs du ciel (Wayang-wayang dari Langit). Namun saya kurang jelas apakah tim kita yang menamakannya demikian atau ini hanya sebutan dari Rico Rizzitelli, jurnalis Liberation yang meliput acara ini. Foto Ibu Sari Madjid sendiri yang sedang menatap langit diambil close up oleh fotografer Lucile Boiron menghiasi surat kabar Liberation 🙂

Perlu diketahui pula bahwa pada tahun 1997, Indonesia menjadi tamu kehormatan di Berck-sur-Mer. Pada acara itulah, Wolfgang Bieck, pakar fotografi layang-layang berbincang-bincang dengan Bapak Suarnadi Makuta dari Indonesia. Pak Makuta ini kemudian bercerita tentang lukisan-lukisan layang-layang di gua-gua di Pulau Muna (Sulawesi Tenggara).

Bieck sangat tertarik dengan cerita ini dan ingin secepatnya mengunjungi Pulau Muna. Namun sejumlah rekan khawatir ia akan kecewa karena Pak Makuta sendiri belum pernah melihat langsung lukisan-lukisan ini. Baru lima tahun kemudian, Bieck memutuskan untuk tetap mengunjungi Pulau Muna. Dalam pandangannya, ada atau tidak ada lukisan-lukisan pra sejarah tersebut tidak menjadi persoalan, semua itu akan membantu untuk mengklarifikasi ataupun mempertegas sejarah.  

Dibantu dengan rekan-rekan dari Indonesia, beliau pun berhasil mengunjungi gua “layang-layang pertama”. Lukisan-lukisan pra sejarah yang diceritakan Pak Suarnadi Makuta ternyata memang ada. Berkat penemuan Bieck, sejarah layang-layang kini mengalami modifikasi. Dalam festival tahun ini di Dieppe misalnya, surat kabar dan majalah lokal juga menayangkan informasi “baru” mengenai asal usul layang-layang ini. Sebuah surat kabar mingguan Perancis Courriel International telah berinisiatif menampilkan informasi ini (2017) dengan menerjemahkan salah satu artikel dari harian Kompas. Bieck sendiri dengan bangga memasang foto-foto penemuannya di situs nya : http://wolfgangbieck.gmxhome.de/Der-erste-Drachenflieger.html

Mungkin Pak Suarnadi Makuta tidak pernah menyangka bahwa dengan berpartisipasi dalam pertemuan internasional layang-layang ini, beliau turut pula berkontribusi dalam mengubah sejarah layang-layang. Saya kira kita patut berterima kasih pada beliau dan tentunya juga pada Wolfgang Bieck yang bersikeras untuk datang ke Pulau Muna. Terima kasih juga tentunya untuk Ibu Sari Madjid, Pak Tinton Prianggono, dan lain-lain, yang telah menerbangkan layang-layang kita yang sarat makna dan sejarah di langit Perancis.

 

Sumber:

 

https://culturebox.francetvinfo.fr/scenes/evenements/les-dragons-prennent-leur-envol-dans-le-ciel-de-dieppe-capitale-du-cerf-volant-279211

http://www.lavoixdunord.fr/359541/article/2018-04-16/les-cerfs-volants-indonesiens-vous-racontent-une-histoire

https://www.liberation.fr/france/2018/04/20/a-berck-le-cerf-volant-renvoie-a-la-vanite-des-hommes_1644730

http://wolfgangbieck.gmxhome.de/Der-erste-Drachenflieger.html

https://www.courrierinternational.com/article/indonesie-lile-aux-cerfs-volants

0 comments on “Layang-layang Indonesia Megah di Langit Perancis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: