Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan Perempuan & Gender

Infertilitas dan dampaknya dalam kehidupan pasangan

Dalam tulisan saya KETIKA PEREMPUAN TIDAK DAPAT MENJADI IBU, harus saya akui, saya kurang menyorot masalah ini dari sisi mereka yang mengalami. Pembahasan saya lebih bersifat teoretis dan menekankan kepada pandangan yang terbentuk bahwa perempuan seperti ‘diwajibkan’ menjadi ibu. Semoga saja rangkaian tulisan ini dapat lebih membantu rekan-rekan yang saat ini sedang bergumul dengan persoalan ini.

Infertilitas tentu saja dapat dialami baik oleh perempuan maupun laki-laki. Tercatat kurang lebih 30% pasangan dengan infertilitas pada perempuan, 30% pada laki-laki, 30% infertilitas pada kedua pihak, dan 10 % infertilitas tidak ditemukan penyebabnya secara medis (data Perancis). Siapapun yang infertil, ketika sudah membina hubungan rumah tangga, infertilitasnya tidak lagi menjadi persoalannya pribadi meski tentu saja dampaknya berbeda pada pihak yang infertil dan yang tidak. Kehidupan pasangan tidak akan sama lagi ketika salah satu atau keduanya divonis punya masalah kesuburan. (Kecuali pada pasangan yang memang sudah memutuskan untuk tidak memiliki anak atau pasangan yang sudah menyadari sejak awal bahwa kondisi salah satu pasangan memang tidak memungkinkan untuk memiliki keturunan).

Rasa terguncang, meski sebelumnya sudah menduga adanya masalah ini, menjadi reaksi awal yang umum. Bukan hanya pihak yang infertil yang akan syok dengan kabar ini tetapi juga pasangannya. Pada sebagian orang, bisa jadi malah menimbulkan kelegaan karena akhirnya menjadi jelas apa yang menjadi faktor penyebab tidak kunjung hadirnya anak yang dinanti dan kemungkinan upaya yang dapat dilakukan. Penyangkalan (tidak mungkin, diagnosis dokter salah) atau kemarahan (mengapa harus saya) dapat pula mewarnai respons awal seseorang ketika menemukan bahwa dirinya infertil.

Perasaan bersalah turut hadir terutama pada pihak yang dinyatakan infertil: merasa bersalah terhadap diri sendiri, pasangan, dan relasi itu sendiri, juga terhadap keluarga besar. Rasa bersalah ini seringkali memiliki sejarah pribadi sehingga berbeda pada tiap orang. Peristiwa traumatis ataupun peristiwa yang pernah dimaknai sebagai ‘kesalahan’ dapat menimbulkan ide-ide negatif yang membuat perempuan/laki-laki mengaitkannya dengan infertilitasnya saat ini. Misalnya saja perempuan yang pernah mengalami aborsi akan mengembangkan ide-ide bahwa infertilitasnya terkait dengan aborsi, bahkan meski dokter menyatakan tidak ada kaitan antara keduanya. Hal ini dapat menguatkan rasa bersalah.

Rasa rendah diri juga akan berkembang karena merasa tidak menjadi perempuan yang utuh atau pada laki-laki karena merasa kehilangan kejantanan. Disadari ataupun tidak, bagi kebanyakan pria, kehamilan istri merupakan bukti kejantanannya. Diagnosis infertilitas meniadakan kemungkinannya untuk dapat menunjukkan bukti ini. Infertilitas juga dimaknai sebagai kegagalan, gagal memberikan keturunan yang akan melanjutkan nama keluarga, gagal memenuhi kriteria sebagai istri dan suami, sebagai anak yang berbakti, dll. Selain itu, ketika memiliki keturunan sudah menjadi semacam norma sosial, dan pasangan tidak dapat memenuhi norma ini, muncul perasaan ‘berbeda’ dan ‘menyimpang’ dari norma. Merasa diri ‘tidak normal’, merasa diri gagal memenuhi harapan sosial…. perasaan-perasaan ini menekan pasangan, baik pihak yang infertil maupun tidak.

Ketika rasa syok mulai memudar, harapan mulai muncul. Pasangan akan mencoba berbagai upaya medis atau bahkan tradisional. Di sinilah serangkaian upaya yang bersifat teknis dan repetitif untuk dapat memiliki keturunan akan membebani rutinitas kehidupan pasangan. Kegiatan bercinta kehilangan sisi romantisnya karena menjadi kewajiban terjadwal disertai tekanan, kecemasan, bercampur harapan bahwa kali ini akan dan harus berhasil. Keintiman pasangan tidak lagi menjadi wilayah pribadi karena mau tidak mau ada tim medis yang ikut terlibat. Gairah dan kepuasan seksual pasangan umumnya menurun sepanjang proses penanganan kesuburan ini. Belum lagi rasa frustrasi ketika setiap kali upaya yang dilakukan gagal. Harapan dan keputusasaan dapat muncul dan pergi silih berganti ribuan kali.

Pada saat yang sama, rendah diri, perasaan bersalah dan gagal, tetap di sana, seperti menjadi bagian diri yang tidak akan pergi sampai upaya-upaya ini membuahkan hasil. Apalagi dalam interaksi sehari-hari, semua yang ada di sekitar seperti mengingatkan masalah ini. Perempuan/laki-laki dengan masalah ketidaksuburan akan mengalami selective attention, perhatiannya berpusat pada hal yang sedang jadi beban pikiran. Mereka melihat di mana-mana sepertinya hanya ada perempuan hamil atau pasangan lain dengan anak-anak. Mereka menjadi sensitif terhadap percakapan orang lain mengenai anak. Kadang hanya satu kalimat singkat mengenai momongan sudah melukai meski orang ybs mungkin tidak bermaksud demikian. Ungkapan perhatian mempertanyakan kemajuan program kesuburan yang sedang dijalani juga dapat dirasakan mengolok-olok. Dengan keseharian semacam ini, perempuan/laki-laki dengan masalah infertilitas rentan untuk jatuh dalam depresi.

Pihak yang infertil juga sering merasakan kekosongan bahkan meskipun ia tahu bahwa suami/istrinya ada di sana, tetap mencintainya apa adanya. Ini adalah kekosongan dalam diri. Ia merasa hidup tidak lagi bermakna karena tidak akan ada anak, makna hidupnya dilekatkan kepada anak yang belum hadir dalam hidupnya. Pasangannya dapat merasa terabaikan, merasa dianggap tidak penting, merasa cinta dan kasih sayangnya tidak dihargai, dan akhirnya merasa tidak dicintai. Hal ini dapat menjadi lingkaran setan : pihak yang infertil akan mengembangkan perasaan yang sama. Ia akan merasa tidak dimengerti bahwa ia sesungguhnya mencintai pasangannya hanya saja ia merasa ada yang kurang dalam diri dan hidupnya karena tidak (dapat) memiliki anak.

Sementara itu, pasangan berusaha menghibur dan menguatkan sambil ia sendiri diliputi kegelisahan dan keputusasaan. Tetapi berapa lama pula ia mampu bertahan menghadapi istri/suami yang selalu murung, sedih, ataupun uring-uringan? Istri/suami yang mudah marah dan satu kata yang ‘salah’ saja sudah menyinggung perasaannya? Istri/suami yang tidak dapat memikirkan hal lain, yang tidak dapat diajak berdiskusi tentang hal lain, yang dengannya ia tidak dapat melakukan aktivitas apapun bersama-sama karena terpaku pada persoalan ini? Berapa lama ia harus meyakinkan istri/suami bahwa ia mencintainya sementara yang ia cintai ini terus memintanya meninggalkan dirinya karena merasa tidak layak menjadi pasangannya? Berapa lama ia mampu menenangkan istri/suami sementara ia sendiri gelisah menghadapi tekanan keluarga seperti mengenai kapan memberi cucu pada orang tua?

Pihak yang infertil ataupun tidak, terbelenggu dalam spiral emosional : rendah diri, rasa bersalah, tertekan, cemas, gelisah, dll. Sementara itu, kesuburan terletak di bawah pengaruh bagian wilayah otak yang mengatur emosi. Kesuburan adalah fungsi biologis yang sangat peka terhadap stres dan kecemasan. Akibatnya lagi-lagi adalah lingkaran setan : kecil kemungkinan perawatan kesuburan dapat berhasil jika pasangan diliputi emosi-emosi negatif ini. 

Ketika upaya-upaya yang dilakukan tidak kunjung membuahkan hasil, emosi-emosi negatif semakin meningkat. Masing-masing pihak dapat mengembangkan depresi ataupun bentuk-bentuk kecanduan : kecanduan kerja, kecanduan alkohol, dll. ‘Gila kerja’ seringkali merupakan cara menghindari konflik karena enggan pulang ke rumah untuk mendapati istri yang depresif ataupun suami yang menjadi kasar dan pemabuk, dll.

Setiap kali upaya gagal, obsesi untuk memiliki anak juga cenderung meningkat, tekanan pun akan semakin terasa. Namun berulang kali gagal akan mengantarkan pasangan pada titik merasa tidak berdaya; merasa sudah tidak sanggup lagi, merasa sudah tidak ada harapan. Pada titik ini pasangan memilih untuk menghentikan upaya-upaya medis, menganggap upaya apapun yang dilakukan akan sia-sia. Namun jika tidak dapat berdamai menerima ketidakhadiran si buah hati, masalah ini akan semakin menggerogoti keharmonisan rumah tangga.

Namun untunglah, bagi sejumlah pasangan, infertilitas pada akhirnya menjadi kesempatan untuk memperkuat relasi mereka. Pasangan-pasangan ini bukannya tidak mengalami konsekuensi-konsekuensi psikologis dari infertilitas seperti yang disebutkan di atas. Tetapi cara mereka menghadapi persoalan ini yang membuat mereka dapat saling menguatkan satu sama lain. Bersikap positif menghadapi infertilitas, inilah beberapa hal yang dapat kita pelajari dari mereka :

 

Lebih lengkapnya mengenai data, jenis-jenis infertilitas, dll tentang topik ini dapat dilihat di http://www.who.int/reproductivehealth/topics/infertility/en/

2 comments on “Infertilitas dan dampaknya dalam kehidupan pasangan

  1. Pingback: Bersikap positif menghadapi infertilitas – PSIKOLOGI FEMINIS

  2. Pingback: KETIKA PEREMPUAN TIDAK DAPAT MENJADI IBU – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: