Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan Well-being

Bersikap positif menghadapi infertilitas

Dalam artikel Infertilitas dan dampaknya dalam kehidupan pasangan, dapat kita lihat bagaimana infertilitas berpotensi menghancurkan kebahagiaan rumah tangga. Namun untunglah, bagi sejumlah pasangan, infertilitas menjadi kesempatan untuk memperkuat relasi mereka. Pasangan-pasangan ini bukannya tidak mengalami konsekuensi-konsekuensi psikologis dari infertilitas seperti yang disebutkan di atas. Tetapi cara mereka menghadapi persoalan ini yang membuat mereka dapat saling menguatkan satu sama lain. Bersikap positif menghadapi infertilitas, inilah beberapa hal yang dapat kita pelajari dari mereka :

  1. Sama-sama menyadari dan memahami bahwa infertilitas memiliki dampak-dampak psikologis dalam diri mereka yang akan memengaruhi selanjutnya kehidupan mereka sebagai pasangan. Termasuk dalam hal ini adalah memahami bahwa rasa rendah diri, perasaan bersalah, dll selalu dapat muncul sewaktu-waktu. Dengan kesadaran dan pemahaman ini, pihak yang infertil dapat berupaya mengelola perasaan-perasaan negatifnya agar tidak berdampak buruk bagi relasinya dengan pasangan. Di sisi lain, pasangan tidak akan bingung dan terkejut dengan suasana hati melankolis, kemarahan, dan sikap serta perilaku lain yang kurang menyenangkan dari suami/istrinya. 
  2. Menjadikan persoalan infertilitas sebagai persoalan pasangan, bukan persoalan pribadi. Jadi persoalan ini tidak menyerang harga diri perorangan. Mereka juga tidak melihat pasangan ataupun dirinya sendiri sebagai pihak yang membawa masalah ini dalam kehidupan pasangan. Dalam hal ini, pihak yang infertil, dibantu pasangan, perlu sebelumnya mengelola rasa bersalah dalam dirinya. Pasangan dapat menguatkan dan meyakinkannya bahwa infertilitas ini bukan sebuah kesalahan.
  3. Mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi secara objektif, kira-kira seperti ini : Bukan keperempuanan ataupun kejantanan saya yang menjadi persoalan tetapi bahwa kami sebagai pasangan menginginkan kehadiran anak namun mengalami hambatan secara fisiologis. Kini saatnya kami bersama-sama mengupayakan dengan harapan dan optimisme meski kami juga menyadari secara penuh bahwa upaya ini dapat gagal.
  4. Menetapkan sejak awal sejauh mana upaya-upaya medis yang ingin dilakukan dan jika gagal, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dengan menetapkan sedari awal batas mereka, pasangan-pasangan ini umumnya akan lebih mudah masuk ke dalam tahap akhir ketika upaya-upaya sudah tidak berhasil : berdamai dengan infertilitas.
  5. Bekerja sama sebagai tim, dengan menopang jika salah satu sedang merasa ‘lemah’, dengan berbagi tugas seperti suami yang menelepon dokter untuk membuat janji temu sedangkan istri yang membuka amplop hasil tes ketika suami merasa tidak sanggup. Mungkin terlihat hanya hal kecil, tetapi ternyata pembagian tugas-tugas kecil semacam ini dapat saling menguatkan.
  6. Tidak terobsesi untuk mencari waktu yang ‘tepat’ untuk bercinta. Mereka memahami bahwa obsesi ini dapat membunuh gairah. Sebaliknya, meski sudah ada kegiatan bercinta yang dijadwalkan, mereka tetap melakukannya pada waktu-waktu yang lain tanpa mereka rencanakan. Jadi mereka menjaga agar hubungan tidak menjadi mekanis dan melihat pasangan tetap sebagai orang yang dengannya ia jatuh cinta, bukan hanya sebagai pasangan untuk memiliki keturunan bersama.
  7. Meluangkan waktu untuk menikmati kebersamaan, seperti pergi makan malam, menonton film atau pertunjukan, mengunjungi tempat wisata tertentu, atau sekedar menonton televisi di rumah. Banyak di antara mereka yang mencoba hobi baru bersama, yang sebelumnya tidak mereka pikirkan. Hasilnya adalah mereka menikmati waktu bersama, menemukan teman-teman baru, dan mengembangkan kompetensi atau keterampilan baru (bersama !).
  8. Saling terbuka untuk mengungkapkan kesedihan, kemarahan, dan apapun emosi yang sedang dirasakan terkait dengan persoalan ini. Hal ini penting untuk mencegah kesalahpahaman. Misalnya saja ketika mengetahui bahwa upaya yang dilakukan gagal lagi, suami memilih pergi bermain tenis bersama teman. Istri merasa ditinggalkan, menganggap suami meremehkan persoalan ini dan tidak peduli akan perasaannya. Tetapi aktivitas bermain tenis ternyata merupakan cara suami mengelola emosi yang sedang ia rasakan akibat hasil negatif tadi tanpa mampu mengatakannya kepada istrinya. Jika suami belajar untuk menyampaikan perasaan ini, keduanya tentu dapat saling menguatkan. Suami mungkin dapat mengajak istri ikut bermain tenis atau menemaninya, atau justru menemukan aktivitas lain untuk mereka lakukan bersama.
  9. Terkait dengan poin 8, seperti dalam persoalan rumah tangga lainnya, komunikasi yang baik menjadi salah satu solusinya. Komunikasi yang dimaksud adalah mengungkapkan semua yang dirasakan terkait dengan persoalan ini. Laki-laki cenderung lebih sulit untuk membagikan isi hati mereka. Padahal ketika suami menceritakan kekhawatiran, keputusasaan, kesedihannya dll kepada istri, istri akan menyadari bahwa persoalan infertilitas ini bukanlah persoalannya sendiri, bahwa ada pasangannya yang merasakan hal yang sama dan juga butuh dikuatkan.
  10. Saling mengingatkan bahwa yang utama dan yang pertama adalah kehidupan berpasangan itu sendiri. Ketidakhadiran anak dalam relasi ini tidak menandakan matinya relasi.  Ketika pertama kali memutuskan untuk menikah, tentu karena saling mencintai, dan bukan untuk memiliki anak, meski mungkin sudah mengkhayalkan memiliki anak bersama sejak sebelum menikah.
  11. Membuang jauh-jauh ide bahwa infertilitas adalah hal tabu atau memalukan. Mereka tidak menarik diri dari lingkungan atau menutup diri dari pertemanan. Dengan santai dan bersikap positif, mereka berani mengatakan, “Ya kami sedang mengikuti program kesuburan, tolong doanya ya.”  Tentu mereka tidak mengumbar persoalan pribadi ke mana-mana. Tetapi maksudnya di sini adalah mereka mau dan berani membicarakan apa yang mereka rasakan terkait dengan masalah ini dengan sahabat, keluarga, ataupun kelompok dukungan yaitu perempuan/laki-laki/pasangan yang mengalami hal yang sama. Harus diakui, kebanyakan di antara mereka menemukan bahwa kelompok dukungan lebih membantu dibandingkan sahabat/keluarga yang sering kali memberikan komentar-komentar pribadi yang kurang empatis. Namun ada pula yang beruntung menemukan dukungan positif dari orang-orang terdekat. Saling berbagi dengan mereka yang sedang merasakan tekanan, kegelisahan, kekecewaan, kesedihan dan kemarahan yang sama dapat menjadi salah satu cara penyaluran emosi-emosi ini. Dalam kelompok dukungan ini biasanya juga ada yang sudah melewati masa-masa ini, yang dapat menguatkan mereka yang masih dalam pergumulan. Seringkali dengan hanya menemukan teman-teman dengan masalah yang ‘sama’ sudah dapat menjadi sebuah bentuk dukungan. Mereka jadi belajar bahwa ada pasangan lain yang mungkin sudah melewati perjuangan yang lebih ‘berat’ dari mereka. Hal ini membantu mereka untuk melihat persoalan mereka secara proporsional.
  12. Bersama-sama melakukan refleksi diri. Masing-masing menilai ulang apa yang sebenarnya diinginkan dalam hubungan ini. Sungguhkah kehadiran anak? Untuk apa? Untuk melanjutkan keturunan? Untuk sekedar memenuhi tuntutan sosial bahwa setelah menikah memang harus punya anak? Untuk memiliki miniatur diri sendiri? Untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri karena merasa belum menjadi perempuan atau laki-laki jika belum punya jadi ibu atau ayah? Ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan inilah, pasangan-pasangan ini mendefinisikan ulang tujuan mereka berumah tangga. Hal ini membantu mereka untuk kemudian melihat maju ke depan, memikirkan langkah-langkah selanjutnya seperti adopsi atau menikmati hidup tanpa anak.
  13. Mereka menyibukkan diri dalam aktivitas-aktivitas kemanusiaan. Bukan semata untuk mencari kegiatan agar melupakan masalah yang mereka alami. Tetapi dengan membantu orang lain yang kesusahan, mereka mampu melihat persoalan mereka secara lebih proporsional bahwa dalam dunia ini ada begitu banyak penderitaan yang mungkin jauh melebihi penderitaan yang mereka alami.
  14. Mereka berkreasi seperti menciptakan blog khusus tentang infertilitas, mendirikan asosiasi yang mempertemukan orang-orang dengan masalah sama, atau berkarya di bidang lain yang tidak ada kaitannya dengan infertilitas.
  15. Mereka menganggap infertilitas ‘hanya’ sebagai ‘satu’ masalah dalam rumah tangga mereka sebagaimana umumnya dalam rumah tangga lain. Maksudnya setiap rumah tangga ada masalahnya, dan jika memang ‘infertilitas’ adalah masalah yang harus mereka hadapi, mereka menerimanya dengan ikhlas….

Keikhlasan yang sungguh menyentuh hati saya…. Saya doakan dengan tulus agar rekan-rekan yang sedang bergumul dengan persoalan ini diberi keihlasan dan kekuatan. 

(berdasarkan pengalaman pasangan-pasangan yang ditangani oleh Valérie Grumelin dan René Gambin).

2 comments on “Bersikap positif menghadapi infertilitas

  1. Pingback: Infertilitas dan dampaknya dalam kehidupan pasangan – PSIKOLOGI FEMINIS

  2. Pingback: KETIKA PEREMPUAN TIDAK DAPAT MENJADI IBU – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: