Well-being

Le Reflet : Restoran Biasa untuk Pekerja Luar Biasa

Jika Anda berpapasan dengan seseorang yang mengalami trisomi 21 atau yang dikenal juga dengan sindroma Down (Down syndrome), bagaimana Anda menatapnya? Banyak orang tua dari anak-anak penyandang sindroma Down menyesalkan tatapan masyarakat yang ‘aneh’ terhadap anak mereka. Tatapan yang kurang bersahabat, entah takut, jijik, aneh, ataupun tatapan penuh iba yang mungkin tidak bermaksud buruk tetapi tetap ‘mengganggu’.

Mereka sendiri yang memiliki sindroma Down tidak hanya menerima diskriminasi dalam bentuk tatapan. Seiring usia, keinginan untuk mandiri juga meningkat. Mereka tidak ingin merepotkan orang tua dan saudara sepanjang hidup. Mereka tidak ingin bergantung terus menerus termasuk dalam hal ekonomi. Tetapi lagi-lagi kondisi mereka kembali menghambat pemenuhan kebutuhan untuk mandiri ini, diskriminasi lain harus mereka terima : tidak ada (sangat sedikit) yang mau mempekerjakan mereka.

 

Flore Lelièvre, lulusan arsitektur interior dari sekolah tinggi seni terapan Ecole Pivaut, membuka restoran di Nantes (Perancis) yang khusus mempekerjakan para penyandang sindroma Down. Ia merancang ide restoran ini sebagai bagian dari tugas akhir kuliahnya. Ide yang mengejutkan karena waktu itu ia tidak sedang mengambil jurusan memasak ataupun guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus (Di Perancis, pekerjaan menuntut ijazah di bidang yang sama). Tetapi tentu saja, ide mulia ini didukung sepenuhnya baik oleh pembimbingnya maupun juri yang menguji skripsinya.

 

Sejak mencetuskan ide ini di bangku kuliah, Flore Lelièvre mulai mempersiapkan projeknya. Ia melakukan sejumlah penelitian baik di Perancis maupun negara-negara lain. Ia juga bekerja magang di sebuah kantor arsitektur interior yang mengkhususkan diri dalam pengembangan kafe dan restoran. Ia kembali bekerja di kantor ini untuk memperdalam ilmu selama setelah kelulusannya. Pada saat yang sama, ia mendirikan asosiasi Trinôme44 yang selanjutnya akan mengelola restoran. Mereka menggalang dana dan berhasil mengumpulkan 550.000 euros.

 

Restoran Le Reflet resmi dibuka pada tanggal 15 Desember 2016 dengan enam pekerjanya adalah mereka yang mengalami sindroma Down (di luar manajer dan kepala koki). Mereka semua berstatus pekerja tetap (bukan kontrak), status yang semakin sulit diperoleh di Perancis saat ini terutama oleh mereka yang baru mulai bekerja.

 

Pada tahun 2017, Flore dianugerahi penghargaan Presiden sebagai “pahlawati”. Tetapi tentu bukan untuk meraih penghargaan ini, ia mendirikan Le Reflet. Apa yang memotivasinya? Bagaimana ia sampai kepada ide mendirikan restoran yang khusus mempekerjakan penyandang sindroma Down?

 

Flore memiliki seorang kakak yang mengalami sindroma Down. Ia merasakan sendiri tatapan aneh yang ditujukan orang-orang kepada kakaknya ketika mereka sedang berjalan-jalan. Lebih dari itu, ia juga paham kesulitan kakaknya dalam beradaptasi, padahal adaptasi ini sangat dituntut dari kakaknya. Begitu ia tidak mampu menyesuaikan diri, ia segera tersingkirkan, “demikian tutur Flore mengenai kakaknya. Kakaknya juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan akibat sindroma Down yang dialaminya.

 

Flore pun tergugah untuk menciptakan suatu tempat yang tidak menuntut penyandang sindroma Down untuk beradaptasi, tetapi sebaliknya tempat ini yang menyesuaikan diri dengan mereka. Ia membayangkan tempat yang memungkinkan pertemuan dan interaksi antara mereka yang mengalami sindroma Down dengan yang tidak, pertemuan yang dapat mengubah stigma masyarakat terhadap penyandang sindroma Down.

 

Dengan mendirikan sebuah restoran yang mempekerjakan penyandang sindroma Down, ia tidak hanya memberdayakan mereka tetapi juga menunjukkan bahwa mereka tidak harus disingkirkan melainkan perlu dan dapat dilibatkan secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Pemilihan lokasi restoran di pusat kota juga didasari oleh tujuan ini. Pusat kota tentunya akan memungkinkan interaksi antara pekerja yang menyandang sindroma Down dengan masyarakat secara luas.

 

Para pekerja di restoran Le Reflet terlebih dahulu mendapatkan pelatihan untuk memasak di dapur dan juga melayani tamu. Ide Flore adalah bahwa mereka memiliki kemampuan beragam tidak hanya terbatas sebagai tukang masak saja atau pelayan saja, tetapi juga dua-duanya. Selain itu, seperti dalam imajinasinya : tempat yang ‘menyesuaikan diri’ dengan para penyandang sindroma Down, Flore pun memikirkan semua bentuk adaptasi yang dibutuhkan oleh para pekerja.

 

Dalam restoran ini misalnya akan kita temukan piring ergonomis, yang disesuaikan dengan kondisi jari jemari pekerja. Demikian pula dengan tatakan meja yang dapat diambil dan diletakkan dengan mudah. Tatakan meja ini juga spesial karena gambar di atasnya menunjukkan posisi piring, sendok, garpu dan pisau yang harus diletakkan oleh pelayan. Hal ini untuk menyesuaikan dengan daya ingat para pegawainya. Masih dalam tujuan ini maka digunakan pula kode warna untuk piring, sendok, garpu, dll.

 

Untuk menyesuaikan dengan kemampuan menulis dan membaca para pekerja, maka tamu restoran yang akan “menuliskan” hidangan yang ia inginkan dengan menggunakan semacam kartu menu. Mereka akan memberikan cap/perangko/materai pada kartu yang bertuliskan hidangan tertentu, dapat pula dengan memberikan tanda silang pada kartu menu. Momen pemesanan makanan pun menjadi momen mengobrol yang menarik bagi tamu dan pelayan. Sesuai dengan objektif dari Flore sendiri bahwa adaptasi-adaptasi ini bukan untuk menonjolkan “perbedaan” mereka yang bekerja di sana, tetapi justru untuk memungkinkan terciptanya kontak antara pekerja dan pengunjung.

 

Menu makanan juga disederhanakan agar tidak terlalu rumit dalam proses penyiapan dan penyajiannya. Namun Flore tidak melupakan bahwa hidangan yang lezat juga adalah kunci kesuksesan sebuah restoran. Restoran Le Reflet pun berkomitmen untuk memuaskan pengunjung dengan hidangan yang nikmat dan bervariasi yang diolah dengan menggunakan produk segar dan berkualitas. Tidak heran, dalam waktu setahun, restoran ini sudah mendapatkan tempat di hati masyarakat. Komentar-komentar positif dapat dibaca di Trip Advisor yang (saat tulisan ini dibuat) menempatkannya di peringkat 9 dari 1243 restoran di Nantes.

 

https://www.tripadvisor.fr/Restaurant_Review-g187198-d11950796-Reviews-Le_Reflet-Nantes_Loire_Atlantique_Pays_de_la_Loire.html

 

Jika Anda berkunjung ke Perancis, jangan lupa mampir ke restoran ini yang terletak di pusat kota Nantes. Dari Paris, Anda dapat naik kereta cepat jurusan Nantes. Disarankan untuk melakukan reservasi satu bulan sebelumnya karena restoran ini selalu penuh, bahkan dengar-dengar saat ini sudah penuh terpesan hingga Januari 2019 🙂 Jika tidak sempat mampir ke Nantes, silakan tunggu sebentar lagi, karena restoran ini akan membuka cabangnya di Paris, diperkirakan akhir tahun 2018.

Atau bagaimana jika restoran semacam ini kita buka di Indonesia?

 

Disarikan dari sejumlah artikel, dengan judul diambil dari tulisan :

https://www.projetpremierpas.com/le-reflet-des-salaries-extraordinai

0 comments on “Le Reflet : Restoran Biasa untuk Pekerja Luar Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: