Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan

Perselingkuhan, seks atau kebutuhan untuk berkoneksi?

Dalam kasus-kasus perselingkuhan, kita lebih sering membahas mengenai pihak yang dikhianati. Kita memandangnya dari perspektif korban dan berfokus pada bagaimana memulihkan luka hati, harus memaafkan atau tidak, bagaimana cara memaafkan dsb.

Pihak yang berselingkuh lebih sedikit dibahas. Jika dibahas, ia diidentikkan sebagai pelaku, orang yang bersalah. Ia digambarkan sebagai orang yang buruk karena tidak setia, melanggar janji, dan ikatan.

Pihak ketiga dapat dikatakan tidak terlihat. Ia hampir terlupakan. Jika masuk dalam percakapan,  ia lebih digambarkan sebagai pihak penggoda, penghancur hubungan.

Image nya adalah perempuan seksi, sensual, dan pandai memuaskan kebutuhan seksual suami-suami orang lain karena mereka (diduga) tidak memperoleh kepuasan ini dalam hubungannya dengan istrinya.

Gambaran klasik yang menghambat kita untuk melihat kasus perselingkuhan secara utuh. Apakah hanya kepuasan seksual yang dicari laki-laki ketika ia berselingkuh? Dalam sejumlah kasus, memang demikian adanya. Hal ini terkait dengan yang disebut sebagai ketidaksetiaan maskulin. Tetapi dalam sebagian kasus lainnya, laki-laki dan perempuan yang berselingkuh sebenarnya tidak mencari kepuasan seksual.

Perselingkuhan baik yang dilakukan laki-laki ataupun perempuan dapat melibatkan perasaan yang dalam. Dan bahwa dalam hubungan semacam ini, ada pihak ketiga, pihak yang juga terlibat secara perasaan, bukan (hanya) seksual. Mengakui keberadaannya akan membantu kita untuk melihat perselingkuhan secara utuh. 

Menerima pihak ketiga sebagai pribadi yang berelasi dengan pasangan kita, dan bukan hanya sebagai sosok penggoda, akan membantu pasangan-pasangan yang benar-benar ingin menyelamatkan perkawinan.

Menyadari keseriusan sebuah perselingkuhan tentu menyakitkan bagi pihak yang dikhianati dan juga mengejutkan bagi pihak yang mengkhianati itu sendiri. Tetapi justru dengan tidak menyangkalnya, kita dapat belajar memahami apa yang ditemukan pasangan dalam diri si pihak ketiga dan dalam hubungan mereka.

Sering kali kita mendengar baik laki-laki maupun perempuan mengatakan bahwa hubungan perkawinan mereka yang sudah hambar dan kering yang telah mendorong mereka untuk mencari hubungan lain. Terdengar seperti melakukan pembenaran untuk ketidaksetiaannya.

Lagipula jika demikian adanya,  bukankah sebaiknya memperbaiki hubungan dengan pasangan dibandingkan menjalin hubungan dengan perempuan atau pria lain? Demikian umumnya pihak luar akan berkomentar.

Tetapi tanpa bermaksud membela mereka yang berselingkuh, sebagian perselingkuhan memang diakibatkan oleh buruknya relasi dengan pasangan. Dalam hidup perkawinan, kadang kita tidak paham mengapa situasi jadi begitu buruk sampai-sampai mereka yang ada di dalamnya tidak tahu lagi bagaimana harus saling berkomunikasi.

Di sisi lain, manusia punya kebutuhan untuk berkoneksi, untuk merasa terhubung, untuk merasakan keterikatan. Ketika hubungan dengan pasangan tidak lagi memenuhi kebutuhan ini, mereka berusaha mendapatkannya di luar.

Ada yang menjadi gila kerja dan menjalin rasa keterhubungan dengan pekerjaannya, ada yang menemukannya dengan aktif mengikuti kegiatan tertentu. Sampai di sini tentu tidak berisiko untuk perkawinan mereka.

Menjadi persoalan ketika mereka menemukannya dalam kedekatannya dengan perempuan atau laki-laki lain. Diawali dengan kebersamaan-kebersamaan kecil, perasaan ‘terhubung’ ini akan menghanyutkan mereka dalam perselingkuhan.

Tidak sedikit pula seseorang melakukan perselingkuhan meskipun hubungannya dengan suami/istri tidak ada masalah berarti atau bahkan hubungan mereka harmonis. Tentu ketidaksetiaan pasangan akan menjadi sangat mengejutkan bagi pasangan ini.

Suami/istri yang dikhianati akan bertanya-tanya, apa yang salah, bukankah semuanya baik-baik saja. Pihak yang berselingkuh sendiri mungkin tidak dapat menjawab karena memang tidak paham akan dirinya sendiri dan mengapa ia melakukan perselingkuhan sementara ia masih mencintai pasangannya.  

Dalam konteks perselingkuhan semacam ini, pihak yang tidak setia perlu melakukan semacam analisis diri. Apa yang bermasalah dalam dirinya? Apakah ia masih mencari identitas dirinya? Ia merasa tidak mengenal dirinya sendiri?

Apakah ia merasa hampa, kosong, merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya, dalam hidupnya, dan tidak tahu apa persisnya? Apakah ia menemukan sisi lain dalam dirinya-yang selama ini ia sendiri tidak mengetahuinya -dalam relasinya dengan pihak ketiga?

Jika pada situasi pertama, akar masalahnya adalah kurangnya rasa ‘terhubung’ dengan pasangan. Maka pada situasi kedua, akar masalahnya terletak pada keterhubungan dengan diri sendiri.

Orang-orang ini ingin menemukan sisi yang hilang darinya, ingin menemukan kembali koneksi dengan dirinya, ingin menghidupkan hidupnya yang dirasakannya monoton dsb. Ketika ia menemukan pihak ketiga, ia merasakan hidup kembali, merasa menemukan bagian diri yang lain.

Karena berselingkuh itu sendiri sudah jadi hal yang baru baginya, berselingkuh itu sendiri membuat ia mengenali dirinya yang lain yang tidak pernah ia kenali sebelumnya : bahwa ia mampu untuk tidak setia, mampu membohongi pasangan, mampu melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya tidak terpikirkan atau tidak berani ia lakukan, dsb.  

Jadi persoalannya bukan pada aspek seksual. Pihak yang dikhianati sering berpikir bahwa ini adalah masalah kepuasan seksual terutama jika aspek ini sudah lama absen dalam hubungan mereka.

Pandangan ini pula yang sering membuat pihak yang dikhianati mengembangkan rasa jijik terhadap pihak yang berselingkuh. Mereka dibayang-bayangi adegan seks antara pasangan dan pihak ketiga. Akibatnya akan semakin sulit pula melangkah maju untuk memperbaiki hubungan.

Hubungan seksual dapat saja menjadi bagian dari perselingkuhan, entah yang dilakukan laki-laki ataupun perempuan.

Tetapi umumnya orang berselingkuh karena mereka sungguh menginginkan sebuah hubungan, perasaan berkoneksi dengan diri sendiri dan orang lain, yang sudah tidak lagi mereka dapatkan dalam relasi mereka dengan pasangannya.

Hubungan seksual dengan pria atau perempuan lain hanyalah salah satu cara untuk mengembalikan koneksi dengan diri dan berkoneksi dengan orang lain (dengan pria atau perempuan lain yang dengannya mereka menjalin relasi).

Bukankah ketika pasangan yang saling mencintai bercinta, orgasme biologis tidak menjadi tujuan utama atau satu-satunya?  Mereka bercinta karena aktivitas ini menyatukan mereka, memberikan perasaan ‘terhubung’ dan menjadi ekspresi ikatan dan kebersamaan.

Tetapi memang jika kita dikhianati, kita tidak dapat melihat hubungan seksual pasangan kita dengan pihak ketiga merupakan bentuk pencarian rasa terhubung ini. Mereka yang mengkhianati juga cenderung mencampuradukkannya, mengira karena relasi mereka telah hambar padahal kondisi diri mereka sendiri yang demikian.

Akibatnya mereka tidak memahami akar masalah mereka dan tidak mampu pula menjelaskan pasangannya mengenai ketidaksetiaannya.

Bahkan setelah mengenali akar masalah ini, tidak akan mudah terutama bagi pihak yang dikhianati untuk memahami dan menerima bahwa pasangannya tidak bahagia dengan dirinya sendiri -bukan tidak bahagia hidup bersamanya, bahwa pasangannya ingin menemukan sisi lain dirinya. Namun jika menyelamatkan perkawinan adalah keputusan yang dipilih, tidak ada jalan lain kecuali belajar memahami hal ini.

Persoalan koneksi diri  tersebut harus digali, ditelusuri, dan didiskusikan dengan pasangan. Salah satu solusinya mungkin adalah melakukan hal-hal baru yang belum pernah dicoba bersama pasangan untuk menemukan adakah sisi-sisi lain dalam diri yang perlu dibiarkan muncul agar dikenali dan dipeluk sebagai bagian identitas diri.

Tulisan ini mengacu kepada salah satu pemikiran Esther Perel tentang ketidaksetiaan (Esther Perel adalah psikoterapis pasangan, penulis buku The State of Affairs: Rethinking Infidelity ).

Ilustrasi adalah potongan lukisan karya Nicolas Poussin «Bacchanale devant une statue de Pan» (diambil dari slate.fr)

12 comments on “Perselingkuhan, seks atau kebutuhan untuk berkoneksi?

  1. Setau saya di daerah selatan ini, karena LDR baik pihak suami atau istri yang bekerja di luar negeri. Tp alhamdulillah ada juga yang tetap bertahan dengan pernikahan.

    Like

    • Hai Mbak Titin, terima kasih untuk komentar ini. Saya jadi diingatkan adanya hubungan jarak jauh. Jadi meyakinkan saya mengenai kebutuhan untuk merasa terhubung ini. Bukan karena hubungan yang kering dan hambar tetapi karena memang kurang adanya hubungan itu sendiri entah karena dari segi frekuensi ataupun mungkin kualitas. Terima kasih dan salam kenal 🙂

      Like

  2. Reblogged this on hidayahtitin46 and commented:
    Bisa jadi juga kebutuhan akan koneksi menjadi faktor

    Like

  3. Pingback: Memahami Komitmen Perkawinan : Bersama Hingga Ujung Umur – Feminist Psychology

  4. Pingback: PASCAPENGKHIANATAN, MAUKAH KITA MEMAAFKAN? – PSIKOLOGI FEMINIS

  5. Pingback: Lahir baru setelah pengkhianatan – PSIKOLOGI FEMINIS

  6. Sebenarnya betul ga perempuan itu lebih nafsu seksual daripada laki – laki?, apa pandangan psikologi-nya?, gimana pandangan perempuan juga?, karena laki2 itu kelihatan gampang nafsunya, berasal dari energi fisik-nya.

    Like

    • Hai Firas, sejauh ini saya belum menemukan penelitian psikologis yang menyatakan bahwa hasrat seksual perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki. Saya pribadi melihat adanya dugaan atau pemikiran bahwa perempuan memiliki hasrat seksual lebih besar muncul karena dua faktor yang terkait. Pertama, seksualitas perempuan jarang dibahas, memunculkan kesan ‘misterius’. Sementara itu perempuan selalu ditampilkan dalam dua kategori bertolak belakang : kategori perempuan ‘baik-baik’ yang digambarkan kurang tertarik dengan seks, dan perempuan ‘nakal’ yang digambarkan sensual dan sepertinya (sangat) tertarik dengan seks. Kontradiksi-kontradiksi semacam ini dapat menimbulkan ide atau keingintahuan, bahwa sebenarnya perempuan berhasrat seksual lebih tinggi. Keingintahuan atau dugaan ini diperkuat faktor kedua : belakangan ini perempuan semakin mampu berbicara seksualitas dengan lebih leluasa dan tanpa tabu.

      Mengenai energi fisik yang kamu kemukakan, saya kira memang memengaruhi, baik pada laki-laki dan perempuan. Dalam kondisi tubuh sangat lelah, laki-laki dan perempuan umumnya tidak berpikir untuk melakukan hubungan seksual. Jadi jika di rumah tidak ada baby sitter ataupun pekerja rumah tangga, sebaiknya suami membantu istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga agar istri tidak terlalu lelah…. ^.^

      Like

  7. Itulah kenapa kadang ka, pandanganku antara ‘seks’ dan ‘cinta’ berlawanan, jadi ku pikir ini yang memicu perselingkuhan.

    Bisa saja perempuan A tidak punya rasa cinta terhadap pria B, tapi merasa ingin kebutuhan seks dari pria B, karena perempuan A di pikirannya seolah meledak bergairah seksual sambil menahan dan memasang muka ‘biasa saja’ seperti menolak mentah saat pria B mendekatinya.

    Pria B tidak tahu apa perempuan A ini mau melakukan seks sambil mengkonfirmasi, tapi perempuan A mengerti pria B ini ingin melakukan seks dari bahasa tubuhnya, yang diperlukan perempuan A untuk memberi jawaban, ‘yakin ga pria B ini bisa memuaskan dia?’. Mungkinkah ini kesan ‘misterius’-nya?

    Like

    • Hai Firas, mengenai seks dan cinta, memang ada yang membedakan dan memperlakukannya secara terpisah. Individu-individu ini dapat melakukan hubungan seks tanpa harus memiliki perasaan cinta terhadap partner nya. Ada pula yang sekalipun mencintai pasangan tetapi tidak memiliki ketertarikan seksual terhadapnya. Ada pula yang memandang seks dan cinta sebagai satu kesatuan seperti misalnya seseorang hanya dapat melakukan hubungan seksual dengan orang yang ia cintai.

      Mengenai kesan ‘misterius’, hal ini memang dapat menjadi subyektif pada masing-masing orang. Tetapi saya kira dalam hubungan yang saling menghargai, perempuan dan laki-laki dapat menerima keputusan pasangan atau rekannya yang tidak sedang menginginkan hubungan seksual. Saya setuju dengan yang dikatakan aparat penegak hukum di Perancis sini terkait dengan kasus-kasus pemerkosaan pacar/pasangan, jika perempuan (atau laki-laki) berkata ‘tidak’, maksudnya menolak hubungan seksual, harus dimaknai sebagai ‘tidak’, bukan tetap menebak-nebak apa maunya. Itulah sebabnya kasus-kasus pemerkosaan baik terhadap pacar, istri, ataupun dengan orang asing, di Perancis umumnya tidak menilai bagaimana tampilan dan kepribadian korban. Tidak mau adalah tidak mau, bahkan ketika tidak mau ini baru terucap saat aktivitas seksual sedang berlangsung.

      Duh maaf jadi melancong ke sana ke mari padahal topik tulisan ini adalah perselingkuhan.

      Salam,
      Ester

      Like

  8. Iya ka gara – gara aku topiknya melenceng, seharusnya aku yang maaf, ya ginilah penasarannya anak muda 😀

    Terima kasih ka sharing opini – opininya, kalau aku pengen ke Francis, mungkin suatu saat aku ingin ketemu kaka.

    Like

    • Hai Firas, saya kok yang terlalu bawel menjelaskannya, jadi kepanjangan dan agak membelok dari topiknya 🙂
      Iya mampir ya kalau ke mari, nanti kita ngopi-ngopi di tempat Simone de Beauvoir ngopi dulu (katanya) 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: