Feminisme Perempuan & Gender

#MeToo dan #BalanceTonPorc

Gerakan Me Too didirikan oleh aktivis Tarana Burke pada tahun 2006 untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pelecehan dan kekerasan seksual serta tentunya untuk membantu korban, mendampinginya sepanjang proses pemulihan untuk menjadi penyintas dan pemenang.

Awalnya adalah ketika seorang gadis berusia 13 tahun menuturkan kekerasan seksual yang ia alami kepada Burke. Saat itu Burke hanya terdiam, tak mampu memberikan tanggapan apapun termasuk untuk mengatakan bahwa ia juga pernah mengalaminya. Ia menyesal tidak dapat mengatakan “saya juga” kepada gadis tersebut. Kurang lebih 10 tahun Burke bergelut dengan dirinya sendiri sebelum akhirnya siap memulai gerakan Me Too.

Alyssa Milano menggunakan kalimat ini sebagai tagar (hashtag) saat kasus Harvey Weinstein mencuat. Ia sebelumnya tidak mengenal Burke dan gerakan Me Too. Pesan yang ia tuliskan di twitter berasal dari temannya, Charlotte Clymer. Waktu itu Milano menambahkan satu kalimat yang mengundang mereka yang pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual untuk berkenan membalas tweet nya dengan “saya juga”. Hanya dalam waktu semalam, ia mendapatkan sekitar 55.000 jawaban dan tagar #MeToo menjadi trend no 1 di Twitter.

Di Amerika Serikat, fakta bahwa tagar ini menjadi populer berkat Alyssa Milano yang berkulit putih, sementara penggagasnya adalah dari Burke yang berkulit hitam, menimbulkan perdebatan di kalangan feminis. Milano sendiri melakukan yang perlu ia lakukan : menghubungi Burke dan membicarakan mengenai hal ini serta mengumumkan secara publik mengenai Burke dan gerakan #MeToo. Burke mengaku sebelumnya sempat khawatir jika penggunaan tagar ini dapat menyimpang dari tujuannya. Tetapi percakapan dengan Milano meyakinkannya bahwa mereka berada dalam garis perjuangan yang sama.

#MeToo bagi Burke dan Milano lebih dari sekedar tagar. #MeToo mengundang korban untuk bersuara, membagikan pengalamannya. #MeToo merupakan dukungan komunitas bagi korban dan penyintas. Dengan #MeToo, para korban sadar bahwa ia tidak sendirian. #MeToo diharapkan dapat membantu korban dengan mengembangkan solidaritas antar perempuan yang didasarkan pada empati. Burke sendiri yang dulunya korban kekerasan seksual menyadari bahwa kepedulian, empati, dan kasih dari orang-orang di sekitarnya yang mengantarkannya jadi pemenang.

Di Perancis, gerakan semacam #MeToo dikenal sebagai #BalanceTonPorc. Balance merupakan konjugasi dari kata kerja balancer, penggunaannya di sini adalah dalam bentuk kata perintah. Kata balancer memiliki banyak arti. Pusat sumber tekstual dan leksikal nasional di Perancis mencatat kurang lebih 29 arti. Penggunaannya dalam kalimat ini lebih mengacu kepada makna populer (informal, bahasa gaul) dan dapat diartikan sebagai mengayunkan, melemparkan (dalam arti membuang dengan gerakan mengayunkan), mengeluarkan, membebaskan diri, mengirimkan (perhatikan tetap ada gerakan ‘keluar’ dalam makna ini), mendorong dengan kuat, melaporkan, mengungkapkan, mengecam, mengadukan.

Ton adalah kata kepemilikan untuk kamu. Sedangkan porc adalah babi, tetapi arti di sini lebih mengacu kepada konotasinya yakni seseorang yang kekotoran, penampilan fisik, sikap dan perilakunya dari segi moral, intelektual/mental menimbulkan kejijikan yang sangat.

#BalanceTonPorc dapat diartikan sebagai lemparkan/buang keluar/dorong/kecam/adukan/laporkan/ungkap/bebaskan dirimu dari babimu (:orang yang menjijikkan itu, yang telah melakukan perbuatan tercela dalam hidupmu).

Dalam pemahaman saya, tagar #BalanceTonPorc ini lebih merangkul emosi korban yang terluka, marah, benci, dan tentu jijik terhadap pelaku dan kelakuannya. Dalam tagar #MeToo seperti sudah ada penerimaan terhadap peristiwa traumatis yang dialami. Tagar ini lebih mengundang korban yang mungkin telah menjadi penyintas/pemenang untuk berbagi pengalaman tersebut. Sedangkan #BalanceTonPorc mengundang korban untuk melaporkan si pelaku. Meski demikian, keduanya mengajak para korban untuk bicara agar dapat menunjukkan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual bukan kasus kecil. (catatan : ini adalah interpretasi saya).

Adalah Sandra Muller seorang jurnalis yang mencetuskan tagar ini. Ia sendiri adalah korban pelecehan mantan atasannya. Ia terinspirasi dari kata ‘porc’ yang mengacu kepada Harvey Weinstein. Harvey adalah pendukung setia film-film Perancis. Ia hadir setiap tahun di Cannes dan bahkan menerima penghargaan dari mantan presiden Nicolas Sarkozy. Setiap tahun pula di kota ini ia mengadakan pesta seks dan kokain. Ia pun mendapatkan julukan The Pig.

Pilihan kata “babi” menurut Muller juga karena memiliki pencitraan yang kuat, ada aspek vulgar dan populer yang dapat menarik lebih banyak orang untuk bergabung. Muller benar, hanya dalam waktu tiga hari, belasan ribu orang sudah menuliskan kesaksiannya di Twitter. Twitter pun menjadi pengadilan rakyat.

#BalanceTonPorc berhasil membangkitkan arus kesaksian para korban. Kini tidak hanya melalui Tweeter dan Facebook, mereka juga dapat membagikan pengalamannya di situs balancetonporc secara anonim, mengirimkan langsung ke majalah dan surat kabar, atau langsung menuliskan di website pribadi. Sejumlah kasus dilaporkan ke jalur hukum dengan sejumlah figur terkenal tertuduh sebagai “babi” nya. #BalanceTonPorc seperti gerakan #MeToo menjadi sebuah fenomena.

Survei yang dilakukan sejumlah media massa menunjukkan bahwa secara umum masyarakat mendukung gerakan ini. Kelompok laki-laki pun khususnya yang (merasa) tidak pernah melecehkan dan melakukan kekerasan seksual menganggap perlu dan sudah saatnya korban bicara. Mereka menambahkan bahwa meski dalam masyarakat modern seperti Perancis, perempuan baik dalam dunia kerja maupun di jalan rentan untuk mengalami pelecehan dan kekerasan. #BalanceTonPorc menurut mereka merupakan upaya positif.

Namun tidak sedikit pula yang menentang gerakan ini terutama mereka tidak setuju dengan sistem justice expéditive (peradilan cepat) yang digunakan. Seratus perempuan dari berbagai profesi (aktris, jurnalis, psikoanalis, penulis, dll) menandatangani petisi menentang #BalanceTonPorc. Petisi ini membela hak pria untuk ‘mengganggu’ dalam kaitannya dengan prinsip kebebasan seksual perempuan itu sendiri. Saya akan coba paparkan mengenai hal ini dalam kesempatan lain. Menurut mereka, kita tidak punya hak untuk menghakimi pria hanya karena mereka menyentuh lutut perempuan, merayu berlebihan, atau mengirimkan sms dengan konotasi seksual. Mereka juga menyesalkan media sosial yang menghakimi pria-pria tanpa melalui proses yang layak. #BalanceTonPorc menurut mereka seperti membawa babi-babi ke pejagalan.

Istilah balancer itu sendiri sering digunakan di kalangan mafia ketika seseorang mengadukan orang lain. Dalam dunia mafia, sistemnya adalah percaya terhadap informasi yang diberikan meski tanpa bukti, informasi tersebut dianggap kebenaran. Selanjutnya orang yang diadukan akan segera ‘dihabisi’ tanpa perlu proses. Demikian pula tujuan tagar #BalanceTonPorc ini. Seperti yang kita ketahui, proses hukum positif membutuhkan pembuktian, dan ini sama sekali tidak mendukung korban kekerasan seksual.

Dengan #BalanceTonPorc kita tidak dituntut membuktikan, kita hanya perlu mengungkapkan, mengecamnya secara terbuka di media sosial. #BalanceTonPorc memungkinkan korban untuk menyebutkan langsung identitas si babi tersebut. Muller sendiri ketika menggunakan kata “balance” memang mengacu kepada pengungkapan identitas pelaku. Pesannya di twitter tepatnya berbunyi : #balancetonporc !! Kamu juga ceritakan dengan memberikan nama dan identitas lainnya dari pelaku pelecehan seksual yang kamu alami di tempatmu bekerja. Saya tunggu. Tweet keduanya setelah itu adalah ia menceritakan pelecehan yang ia alami dan mengungkap nama mantan atasan yang melecehkannya. Perlu diketahui bahwa bukan Muller yang membuat situs balancetonporc. Ia sendiri mengaku kurang sreg dengan ide situs balancetonporc yang menjaga kerahasiaan korban dan apalagi pelaku.

Solidaritas di antara para pendukung petisi ini terguncang ketika seorang di antara mereka, Brigitte Lahaie, mengatakan bahwa dalam kasus pemerkosaan ada kemungkinan korban menikmati hubungan seksual. Mereka menyesali perkataan Lahaie. Lahaie sendiri meminta maaf atas perkataannya yang sangat merendahkan korban, tetapi kalimat tersebut tentu tidak dapat ditarik kembali. Ide awal dari gerakan penandatanganan petisi ini akhirnya tenggelam akibat kalimat Lahaie yang menimbulkan polemik.

Saya tidak banyak mendengar tentang gerakan #MeToo di Indonesia meski tampaknya beberapa lembaga terlibat dalam gerakan ini (Lentera Sintas sudah menggagas kampanye Mulai Bicara sejak tahun 2016). Mungkin karena tidak mudah bagi kita untuk membagikan pengalaman pahit yang sarat dengan emosi. Kita cenderung ingin menyimpannya sendiri. Rasa malu, takut justru malah balik dihakimi, dapat menghambat seseorang untuk membagikan kisah tragis yang dialami.

Apalagi dalam budaya patriarki, kontribusi korban perempuan dalam tindakan pelaku sering dipertanyakan. Apakah kita mengenakan pakaian ketat atau rok mini? Apakah kita menampilkan gerakan mengundang?

Kasus-kasus kekerasan seksual dalam berpacaran seringkali juga ditertawakan, dianggap tidak seharusnya dijadikan kasus karena merupakan suka sama suka. Padahal istilah suka sama suka ini juga mengandung ketidakpekaan. Tidak sedikit remaja putri atau perempuan muda ataupun perempuan dewasa dengan naifnya dimanipulasi tetapi tidak menyadarinya. Ketika akhirnya kesadaran itu tiba, seolah sudah terlambat;  dan ia tidak dapat lagi mengangkat kejadian (yang bila dilihat sekilas di permukaan tampaknya berlangsung) atas dasar suka sama suka itu sebagai suatu pelecehan atau kekerasan.

Tentu gerakan #MeToo, #BalanceTonPorc dan apapun itu tidak bertujuan agar perempuan dapat menuduh laki-laki secara semena-mena. Perempuan juga bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Gerakan ini adalah melawan pelecehan dan kekerasan seksual, bukan melawan laki-laki.

Pada akhirnya saya kira penting untuk mendidik anak sejak dini mengenai nilai-nilai seperti respek dan kesetaraan. Anak-anak perlu ditanamkan untuk menghargai dan menghormati diri sendiri serta orang lain. Orang tua perlu mengajarkan khususnya kepada anak-anak laki-lakinya untuk menghormati perempuan, untuk tidak mendidiknya sebagai anak raja yang dapat memperoleh semua yang ia inginkan terlebih dari perempuan. Anak-anak perempuan perlu belajar untuk berani berkata tidak jika tidak ingin, jika ingin menolak, jika tidak suka. Mereka dapat diajarkan mengembangkan belas kasih tanpa mengorbankan diri sendiri.

1 comment on “#MeToo dan #BalanceTonPorc

  1. Pingback: Hari ini saya lempar keluar ‘makhluk’ itu – Feminist Psychology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: