Cinta dan Ke-(tidak)-setiaan

Pascapengkhianatan : Sekedar bertahan…

Pengkhianatan tidak selalu berakhir dengan perpisahan bahkan ketika perceraian merupakan pilihan yang telah dipermudah secara hukum seperti dalam masyarakat barat. Sepertinya ada satu nilai yang sifatnya universal untuk menjaga keutuhan rumah tangga terlepas dari apapun faktor yang mendasari masing-masing pasangan. Tidak ada data pasti mengenai berapa banyak pasangan yang tetap bertahan dalam hubungan pasca pengkhianatan. … Continue reading Pascapengkhianatan : Sekedar bertahan…

Ketika ketidaksetiaan pasangan terbongkar, reaksi awal yang umum dari pihak yang dikhianati adalah ingin berpisah. Setelah emosi mereda, meski luka itu masih begitu perih, mereka cenderung memilih untuk melanjutkan hubungan.

Namun ketika pasangan yang dikhianati memutuskan untuk tetap bersama, sikap pasangan yang berkhianat tidak selalu mendukung keputusan ini. Dalam sebagian kasus, mereka malah terkesan tidak peduli.

Ya saya berselingkuh, lantas kamu mau apa? Mau bercerai ayo, mau tetap sama-sama juga tidak apa.” Ia tetap menemui kekasihnya, bahkan lebih leluasa karena tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi.

Ada pula malah pihak yang sudah punya partner lain ini yang meminta cerai, karena toh merasa tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Biasanya hubungan mereka sudah lama berkonflik jauh sebelum ketidaksetiaan terbongkar. Anak-anak sudah besar sehingga dianggap “cukup” matang untuk menerima perceraian orangtua. Ada pula yang memang tidak mempertimbangkan anak dalam mengambil keputusan.

Dalam sejumlah kasus lain, pihak yang tidak setia menyangkal ketidaksetiaannya atau menganggap yang ia lakukan bukanlah bentuk ketidaksetiaan. Misalnya saja ia merasa tidak melanggar janji kesetiaan karena hubungannya dengan pihak ketiga hanya di dunia maya, tidak pernah bertemu langsung, tidak sampai melakukan hubungan seksual, atau sebaliknya berhubungan intim tetapi tidak melibatkan hati.

Sebagian lagi mengakui ketidaksetiaannya tetapi tidak mau mengambil tanggung jawab atas perbuatannya itu. Ia melimpahkan kesalahan kepada pasangannya atau faktor-faktor lain yang bersifat situasional seperti stres, tuntutan pekerjaan (seperti harus ikut-ikutan pijat mesum untuk memenangkan tender), kondisi mabuk, dsb.

Dalam dua kasus terakhir ini pasangan yang dikhianati seperti tidak diberi kesempatan untuk ‘terguncang’, luka hatinya tidak diakui. Ia dipaksa untuk menerima ketidaksetiaan sebagai bukan apa-apa, bukan masalah besar, dan tidak pernah terjadi. Ia malah dianggap berlebihan dan histeris.

Jika ia mau bertahan, ia harus bekerja sendirian menata hati, yang entah mana yang lebih dominan, antara kondisi terluka dan bingung bertanya-tanya apakah benar ia bereaksi berlebihan, mungkinkah di zaman sekarang ini memang normal-normal saja kelakuan pasangannya.

Dalam sebagian kasus lainnya, biasanya pada pasangan-pasangan yang hubungannya dimaknai sebagai baik-baik saja (setidaknya oleh pihak yang dikhianati), pihak yang berkhianat mengakui ketidaksetiaannya dan menyesalinya. Kedua pihak pun bertekad melanjutkan hubungan.

Pola-pola hubungan bertahan pascapengkhianatan

Meski keputusan untuk melanjutkan bahtera rumah tangga diambil bersama, menjalaninya tidaklah mudah. Dari yang dapat saya amati, pasangan mungkin mengembangkan pola-pola semacam ini pascapengkhianatan :

Hubungan sekedar ‘selamat’. Perkawinan mereka selamat tetapi hubungan mereka mati. Perselingkuhan yang terjadi tidak lagi dibahas, seolah tabu, dianggap seperti tidak pernah terjadi. Mereka menjalani hubungan ‘semu’.

Mereka bersama karena merasa wajib, sudah terbiasa, dan enggan meninggalkan zona aman. Mereka bersama karena memang ada kenyamanan tersendiri dengan tetap bersama baik secara sosial, ekonomi, psikologis, dll.

Hubungan dalam trauma -hubungan korban dan pelaku. Dalam hubungan ini, pihak yang dikhianati menjalani peran korban dan atau detektif. Ia meratapi ketidaksetiaan pasangan dan terus mengingatkan pasangan akan hal ini.

Ia mengawasi pasangan secara ketat untuk mencegah terjadinya pengkhianatan kedua. Ia menguntit pasangan, memeriksa faktur, kwitansi, mengecek email/sms/pesan-pesan yang masuk…

Pihak yang berkhianat ikut nelangsa melihat pasangannya ‘menderita’, merasa malu dan menyesali diri. Tapi terus dicurigai juga membuatnya ‘gerah’, dan terus menerus menghibur pasangannya juga melelahkan.

Sementara itu pihak yang terperangkap dalam statusnya sebagai korban juga sama lelahnya dengan keperihan dan luka-lukanya, dengan kecurigaan terhadap pasangannya, dengan kekhawatirannya jika pasangan kembali melakukan hal yang sama.

Hubungan dalam neraka kebencian. Hubungan ini didominasi kebencian, kemarahan, dan rasa jijik dari pihak yang dikhianati terhadap pengkhianatan pasangan. Ia ingin menghukum pasangannya dan meminta ganti rugi untuk menyembuhkan luka hatinya.

Ia memandang pasangan tidak hanya telah mengkhianati cinta dan kepercayaan tetapi juga tidak memiliki integritas diri dan tidak bermoral. Pandangan ini membuatnya terguncang, tidak mengira dan sulit menerima telah menikahi orang semacam ini. Ia merasa dibodohi dan akibatnya merasa diri bodoh.

Pihak yang berkhianat akan merasa terhina. Jika awalnya menerima perlakuan ini sebagai penebusan atas kesalahannya, perlahan ia merasa tidak sepantasnya diperlakukan demikian. Ia menyesali perbuatannya tetapi bukan berarti harus membayar kesalahannya seumur hidup. Pertengkaran demi pertengkaran pun meledak. Rumah tangga menjadi seperti neraka, panas oleh cacian dan tudingan.

Bukan tidak mungkin pihak yang dikhianati akan melakukan perselingkuhan untuk membalas dendam, untuk menunjukkan bahwa ia pun mampu ‘menyakiti’. Pihak yang mengkhianati juga dapat kembali tidak setia. Jika sebelumnya dilakukan sebagai kekhilafan, kali ini dilakukan dengan kesadaran untuk membenarkan persepsi pasangan terhadap dirinya sebagai pribadi tak bermoral dan tak berintegritas.

Perhatikan bahwa kemarahan dan pertengkaran juga sangat mungkin muncul dalam hubungan penuh trauma, tetapi hubungan trauma tidak didasarkan pada kebencian melainkan pada kepedihan; perasaan terluka.

Hubungan yang transenden, pasangan-pasangan yang lahir baru

Berita baiknya adalah selalu ada yang berhasil melewati badai pengkhianatan ini. Sejumlah terapis menemukan pasangan-pasangan yang mampu melakukan ‘transendensi’ : meninggalkan pengkhianatan di belakang mereka untuk menciptakan hubungan yang lebih indah.

Jika hubungan Anda saat ini dengan pasangan masih tergolong sekedar bertahan, mungkin dapat Anda pikirkan kembali apakah Anda mau mengubahnya menjadi hubungan yang transenden. Karena entah masih dalam trauma atau bahkan dalam neraka kebencian, hubungan Anda dan pasangan masih sangat mungkin untuk mengalami ‘lahir baru’.

Kelanjutan mengenai pasangan yang lahir baru ini dapat dibaca pada :

https://esterlianawati.wordpress.com/2018/07/14/lahir-baru-setelah-pengkhianatan/

 

Artikel-artikel lain dengan topik sama :

https://esterlianawati.wordpress.com/2008/11/10/menjalin-hubungan-pascapengkhianatan/

https://esterlianawati.wordpress.com/2007/07/16/pasca-pengkhianatan-maukah-kita-memaafkan/

https://esterlianawati.wordpress.com/2018/07/14/lahir-baru-setelah-pengkhianatan/

4 comments on “Pascapengkhianatan : Sekedar bertahan…

  1. Pingback: PASCAPENGKHIANATAN, MAUKAH KITA MEMAAFKAN? – Feminist Psychology

  2. Pingback: Menjalin Hubungan Pascapengkhianatan – Feminist Psychology

  3. Pingback: Lahir baru setelah pengkhianatan – Feminist Psychology

  4. Pingback: Miliki empat sikap ini untuk menjadi pasangan lahir baru pascapengkhianatan – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: