Diri

Mitologi Psykhế : psychology of beautiful life

Mahasiswi dan mahasiswa fakultas psikologi di semester pertama umumnya belajar mengenai asal penamaan bidang psikologi. Psikologi berasal dari kata psiko dan logos, demikian penjelasan yang biasa diberikan. Logos adalah ilmu dan psiko berasal dari psykhế yang diartikan sebagai jiwa, pikiran. Psikologi pun didefinisikan secara sederhana sebagai ilmu yang mempelajari semua fakta tentang jiwa, pikiran.

Mempertimbangkan tuntutan untuk bersifat empiris sebagai sebuah bidang studi, pendiri psikologi merasa perlu untuk menerjemahkan jiwa dan pikiran ke dalam perilaku. Sebuah definisi ditetapkan : psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Mereka yang tidak ingin kehilangan makna asli dari psykhế memperluas definisi tersebut sebagai ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental. Definisi ini diperlengkapi lagi sebagai ilmu yang mempelajari gagasan, perilaku, emosi, dan cara-cara manusia berpikir, bertindak dan merasakan baik sebagai individu maupun kelompok.

Penjelasan asal kata psikologi sebagai perpaduan psykhế dan logos sepertinya dianggap memadai. Dalam keterbatasan informasi yang saya miliki, saya belum mendengar ataupun membaca penjelasan lebih jauh mengapa bidang ini dinamakan psikologi. Terdorong untuk memahami secara lebih utuh, saya menelusuri Psykhế khususnya dalam mitologi yunani.


Psykhế adalah seorang putri yang memiliki kecantikan tiada tara. Tidak hanya kedua kakaknya yang iri hati dengan kecantikannya tetapi juga Aphrodite, Dewi kecantikan. Aphrodite merasa terabaikan karena orang-orang sangat terpesona dengan kecantikan Psykhế datang untuk mengagumi dan menyembah putri ini seperti dewi.

Cemburu terhadap Psykhế, Aphrodite memerintahkan anaknya Eros untuk membuat Psykhế jatuh cinta kepada makhluk terjahat dan terburuk yang paling dibenci orang sedunia. Ketika Eros hendak menjalankan tugasnya, ia tertancap anak panahnya sendiri dan jatuh cinta kepada Psykhế .

Sementara itu meski memiliki kecantikan yang luar biasa, Psykhế tidak memiliki pendamping. Orang-orang sangat terpesona sehingga lebih melihatnya seperti sebuah karya seni yang agung, tak tersentuh. Ayah Psykhế menemui Apollon (dalam bahasa latin disebut Apollo), meminta petunjuk darinya mengenai pasangan hidup Psykhế. Apollon menyarankan agar Psykhế dibawa ke puncak gunung. Di sanalah makhluk menyeramkan akan datang menjemput dan menikahinya. Dengan berat hati, ayah Psykhế melaksanakan perintah Apollon. Proses perkawinan dan kematian Psykhế pun menjadi satu ritual. Ia dihias dalam pakaian kematian dan dibawa ke puncak gunung.

Tetapi Zephyr, dewa angin, mengantarkan Psykhế ke sebuah bukit, tidak jauh dari tempat kediaman Eros. (Versi lain mengatakan bahwa ketika Eros tertancap panah asmara, ia membawa Psyché ke istananya). Psykhế ditinggalkan di sebuah padang rumput dan ia pun tertidur. Ketika terbangun, ia menjelajahi tempat itu dan menemukan sebuah rumah yang indah bertiang emas, berlantai permata, berdinding perak dan beratap gading. Rasa ingin tahu mendorongnya untuk masuk, dan di sana pesta sudah menantinya. Ia menikmati hidangan lezat yang disajikan oleh dayang-dayang gaib yang kemudian mengantarkannya ke dalam sebuah kamar.

Dalam kamar yang sangat gelap itu, Eros yang tidak dapat ia lihat, menemuinya dan mereka pun memadu cinta. Ia melarang Psykhế untuk melihat wajahnya atau mencari tahu siapa dirinya. Jika Psykhế tidak menuruti larangan ini, hubungan mereka terpaksa harus berakhir, demikian kata Eros tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. Psykhế adalah manusia biasa, bukan dewi, ia tidak diizinkan untuk mengenali Eros yang adalah dewa. Apalagi dengan mencintai Psykhế dan hidup bersamanya, bukan hanya ia gagal melaksanakan perintah ibunya tetapi ia paham bahwa Aphrodite akan merasa dikhianati.

Meski diliputi rasa keingintahuan yang besar, Psykhế menerima aturan yang ditetapkan Eros. Eros mengunjunginya kala malam tiba dan meninggalkannya menjelang dini hari. Psykhế tidak dapat melihat wajah kekasihnya dalam kegelapan dan tidak mengenali siapa ia sesungguhnya. Namun ia bahagia.

Sementara itu di bumi, keluarga Psykhế berduka memikirkan kemungkinan Psykhế sudah meninggal. Psykhế melihat kedua kakaknya menangis meratapi kepergiannya. Ia meminta Eros untuk menjemput mereka mengunjungi dirinya dan tinggal beberapa waktu bersamanya. Eros mengabulkan permintaan Psykhế dan meminta Zephyr mengantarkan kedua kakak Psykhế ke istananya.

Kedua kakak Psykhế melihat hidup Psykhế bahagia dan penuh kemewahan, terbakar rasa iri hati. Mereka meracuni pikiran Psykhế bahwa pasangannya adalah seorang monster jahat yang menyeramkan yang sewaktu-waktu akan memakannya. Psykhế didorong rasa penasaran untuk menyingkap misteri, menyalakan lentera ketika Eros sedang terlelap. Ia terpana mendapati pria tertampan yang pernah ia lihat. Tanpa disadarinya setetes minyak panas dari lentera jatuh ke atas pundak kanan Eros.

Eros terbangun dan terbang melarikan diri dalam marah dan kecewa terhadap Psykhế yang melanggar janjinya. Psykhế berusaha mencegah dengan menangkap kaki Eros. Ia menggantungkan tangannya pada satu kakinya, mengiba agar Eros tidak meninggalkannya. Lelah bergantung dalam kondisi demikian, ia terjatuh. Eros tidak tega melihat Psykhế, menempatkan Psykhế dengan lembut di atas rerumputan untuk kemudian benar-benar pergi meninggalkannya.

Sepeninggal Eros, Psykhế putus asa dan penuh penyesalan. Ia menjatuhkan diri ke dalam sungai. Namun sungai yang berbelas hati kepadanya, menghanyutkannya menuju ke kediaman Dewa Pan. Pan menyarankan Psykhế untuk memperjuangkan cinta Eros. Psykhế meminta bantuan Ceres dan Junon, namun mereka tidak dapat melakukan itu terhadap Aphrodite karena melanggar kode etik sebagai sesama dewi. Psykhế pun menyadari bahwa ia sendiri yang harus menghadapi langsung Aphrodite dan meminta pengampunannya.

Sementara itu Eros, terbakar kulit bahunya, pergi ke istana ibunya untuk meminta perawatan. Aphrodite ketika mendapati anaknya dengan luka bakar dan mendengar tentang hubungan Eros dan Psykhế, menjadi murka. Ia mengurung Eros di istananya dan memerintahkan Mercure untuk membawa Psykhế ke hadapannya. Setibanya Psykhế, ia memerintahkan Kesedihan dan Kecemasan untuk menyiksa Psykhế. Setelah itu ia menjadikan Psykhế sebagai budaknya. Psykhế harus melakukan tugas-tugas yang mustahil untuk diselesaikan. Psykhế menerima hukuman ini dengan harapan mendapatkan kembali cinta Eros.

Jatuh bangun Psykhế berusaha melaksanakan tugas demi tugas yang diperintahkan Aphrodite. Ia bahkan berusaha mengakhiri hidupnya sebanyak dua kali. Tetapi dengan bantuan semut, alang-alang, burung elang dan bahkan menara yang dapat berbicara, ia berhasil menyelesaikan tugas-tugas berat itu.

Pada tugas yang ketiga, Psykhế harus pergi ke neraka untuk mendapatkan sebongkah kecantikan dari Dewi Persephónê dan memasukkannya ke dalam kotak. Aphrodite merasa kecantikannya memudar akibat upayanya menyembuhkan luka Eros sehingga membutuhkan bongkahan kecantikan itu. Ketika Psykhế akhirnya berhasil menunaikan tugas ini, ia sudah sangat lelah. Dalam keletihan itu, ia tergoda untuk menggunakan bongkahan kecantikan dari Persephónê. Pikirannya adalah bahwa kecantikan dewi dapat membantunya untuk menaklukkan kembali Eros. Ketika ia membuka kotak tersebut, ia diserang rasa kantuk yang sangat kuat. Ia pun tertidur pulas dan tidak dapat digerakkan.

Sementara itu, Eros yang sudah sembuh dari luka bakarnya, melarikan diri dari istana Aphrodite. Ia mencari Psykhế dan menemukannya. Dengan ujung panahnya, ia membangunkan Psykhế dari kutukan tidur panjangnya. Masih sangat mencintai Psykhế, ia membawanya menemui Zeus. Ia memohon pada Zeus untuk memberikan keabadian kepada Psyché dan Eros berjanji akan selalu siap sedia membantunya kelak sebagai balasan.

Zeus mengabulkan permintaan Eros. Ia memanggil semua dewa dewi termasuk Aphrodite berkumpul untuk merestui hubungan Eros dan Psykhế. Ia memerintahkan Aphrodite untuk tidak lagi mengganggu Psykhế. Eros dan Psykhế hidup bahagia, dan memiliki seorang anak yang mereka namakan Hedone.

Interpretasi Mitologi Psykhế

Mitologi Psykhế dapat diinterpretasikan secara beragam, bergantung pada sudut pandang yang digunakan, pengalaman pribadi, dsb. Perspektif psikoanalisis melihat psykhế dalam wacana ketidaksadaran dan menganggap kedua saudara perempuan sebagai id dan superego. Perspektif agama berfokus pada konsep dosa dan pengampunan. Api lentera melambangkan nafsu dan gairah. Tetes minyak yang jatuh di atas bahu Eros merupakan simbol dosa yang tercetak pada daging manusia. Sementara itu perspektif feminis menyayangkan kisah kecemburuan sesama saudara perempuan. Mereka mengharapkan cerita yang menggambarkan kekuatan relasi perempuan.

Saya pribadi melihat tiga hal dari mitologi Psykhế. Pertama, ia menunjukkan kekayaan filosofi yang mendasari psikologi. Keingintahuan Psykhế dan pencariannya akan pengetahuan dan cinta merupakan gambaran dari pikiran manusia. Kisah Psykhế sarat dengan aspek-aspek yang dikaji dalam psikologi : keingintahuan, cinta, belas kasih, altruisme, ketekunan, kebutuhan (kebutuhan Aphrodite untuk dikagumi, kebutuhan Psykhế untuk dicintai, dll), persepsi diri, dan tentu juga relasi (pasangan, anak-orang tua, menantu-mertua, saudara kandung, sahabat dan figur-figur lain).

Khususnya mengenai kisah Psykhế dan Eros, bagian ini tidak hanya bertutur tentang kisah cinta yang harus diperjuangkan ataupun tentang aspek kesetiaan, kepercayaan dan kejujuran. Kisah ini dapat dilihat dari sisi lain, bahwa dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kita tetap perlu menjaga ke-aku-an diri kita. Relasi kita dengan orang lain tidak boleh sampai membuat kita kehilangan diri kita sendiri. Sebelum dapat menjalin hubungan dengan orang lain, kita juga harus terlebih dahulu mengenali diri dan menemukan diri kita sendiri.

Kedua, melalui mitologi Psykhế, kita belajar bahwa keputusasaan dapat menjadi bagian dari hidup tetapi yang terpenting adalah kapasitas jiwa untuk bangkit dan melanjutkan kembali perjuangan. Psykhế juga mengajarkan bahwa manusia adalah pemegang kontrol dalam hidupnya sendiri; ia punya pilihan atas hidup yang ia jalani. Dan jika ia memilih untuk menciptakan hidup yang indah, ia harus dan dapat memampukan diri untuk mewujudnyatakannya. Di sisi lain, mitologi Psykhế juga menunjukkan bahwa manusia dalam kemandiriannya sebagai diri tetap membutuhkan bantuan dan dukungan orang lain, dan hendaknya ia menyambut pertolongan ini dengan rendah hati dan rasa syukur bukan dengan rendah diri dan rasa malu.

Berfokus pada poin kedua ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa psikologi tidak hanya sebagai kumpulan metode-metode empiris untuk menggali pikiran, aspek mental, perilaku dan apapun itu (dapat disebutkan sendiri), tetapi bahwa semua yang kita kaji ini dalam psikologi memang berguna untuk kehidupan individu dan kelompok (komunitas dan masyarakat yang lebih luas). Kesimpulan ini memang tidak orisinal, sudah banyak pendahulu saya yang mengatakan hal sama sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Tetapi menyadarinya sebagai hasil dari proses pengolahan informasi dalam diri sendiri memang menghasilkan dampak yang berbeda pada diri sendiri, merasakannya sebagai lebih penting dan bermakna ^.^

Ketiga, mitologi Psykhế berdasarkan interpretasi di atas memiliki implikasi personal bagi saya pribadi sebagai psikolog. Ketika saya menonton seri In Treatment, tokoh utamanya meragukan kemampuan dirinya sebagai terapis, meragukan efektifitas dari sesi-sesi yang ia berikan pada klien-kliennya, dan akhirnya meragukan ilmu yang ia pelajari, bidang yang telah ia geluti selama lebih dari 20 tahun. Adegan ini menyentuh saya karena saya sempat merasakan hal yang sama. Saya merasa tidak membantu orang lain, semua percakapan dan sharing sepertinya hanya sia-sia.

Namun merujuk pada mitologi Psykhế, saya tersadar bahwa psikolog/konselor/terapis atau apapun kita mau menamakannya, memang tidak dapat mengubah hidup orang lain. Tetapi ia dapat mendampingi, membantu dan menguatkan orang lain untuk mengambil keputusan atas hidupnya sendiri, untuk menciptakan ‘takdir’ yang indah bagi dirinya sendiri.

Saya kira kita sebagai psikolog dapat dan perlu membantu psykhế-psykhế yang putus asa dan kehilangan arah untuk kembali menemukan kekuatan diri. Dan psikolog ataupun bukan, kita dapat menerapkannya untuk diri kita sendiri. Kita dapat menciptakan hidup yang indah sekelam apapun masa lalu kita, sepahit apapun peristiwa yang pernah kita alami, seberat apapun persoalan hidup yang sedang kita jalani dan apapun tantangan hidup yang menanti kita.

Kitalah penanggung jawab atas hidup kita sendiri. Di tangan kita terletak pilihan itu, dan saya yakin kita memilih hidup yang indah. Tetapi hidup yang indah bukanlah tanpa masalah. Selama manusia hidup, kita tentu tidak dapat melepaskan diri dari masalah. Hidup indah adalah belajar menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan kekuatan yang -yakinlah- sudah ada dalam diri kita sendiri, dengan dukungan dan bantuan dari keluarga, pasangan, teman-teman dan juga tentunya dari sumber kekuatan lain jika rekan-rekan memiliki dan meyakini.

PS : Terima kasih untuk teman-teman (Payas, Ndut, Gabriel, Dek, Wie, Charlotte, Camel, Nek, dan Eva ) yang telah membantu penamaan judul tulisan ini. Terima kasih khususnya untuk Payas yang mengusulkan kata yang lebih ‘membumi’ dan Mbak Mamik yang memberikan alasan yang sangat ‘mengena’ 🙂

0 comments on “Mitologi Psykhế : psychology of beautiful life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: