Feminisme Perempuan & Gender

Hari ini saya lempar keluar ‘makhluk’ itu

Sekian lama tidak menulis, saya terpikir untuk memulai kembali dengan tulisan yang gembira. Sayangnya kasus Harvey Weinstein yang mencuat belum lama ini turut menyibak kenangan lama yang sudah saya tidak pikirkan. Tepatnya yang saya taruh dengan sengaja jauh di pojokan agar tak terlihat lagi. Saya berhasil menyembunyikannya tetapi ternyata tidak benar-benar melupakannya.  

Kasus Harvey mengingatkan saya akan guru SD saya yang kebetulan memiliki bentuk tubuh dan raut wajah yang mirip dengan Harvey, dengan ekspresi yang menurut penglihatan saya lebih menyeramkan. Guru ini melakukan pelecehan kepada saya dan teman-teman yang saat itu masih duduk di kelas 1 SD.

Setiap kali kami meminta izin ke kamar kecil, dengan senyum cabulnya ia akan menanyakan apa yang akan kami lakukan di sana, bagaimana kami melakukannya, apa nama lubang tempat keluarnya air seni, dan apakah kami dapat menunjukkan letaknya.

Saya masih ingat sebagian dari kami ikut tersenyum, antara malu dan jengah, dalam ketidakmengertian kami. Kami tersipu-sipu ala anak-anak sambil merasa ada kejanggalan tetapi tetap menjawab atau bahkan menunjukkan bagian yang dimaksud. Ia akan tersenyum puas dan mengizinkan kami keluar. Ketika kami kembali, terkadang ia membiarkan kami langsung kembali ke tempat duduk. Tetapi kadang kala ia kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak senonoh.

Setiap jam istirahat, guru ini akan berdiri entah di depan kelas atau di dalam kelas di balik jendela. Ia menonton siswi-siswi yang bermain loncat karet. Ia tertawa senang jika rok-rok para siswi ini tersingkap. Mengetahui warna celana dalam yang dikenakan si siswi adalah suatu kesenangan baginya. Ia bahkan mendatangi si siswi untuk mengatakan warna celana dalam yang ia kenakan.

Ketika saya duduk di kelas 2, saya terbebas darinya. Di sekolah saya ketika itu ada kelas pagi dan siang. Guru ini biasanya mengajar di siang hari. Saat saya duduk di kelas 2, saya ditempatkan di kelas pagi. Tetapi ketika saya duduk di kelas 3 SD, saya mendapat kelas siang dan saya kembali bertemu dengannya.

Ia gemar mendatangi kelas saya untuk berdiskusi dengan wali kelas saya yang masih muda dan menarik. Setiap kali saya (dan atau teman saya) hendak ke kamar kecil, ia mengajukan pertanyaan yang sama yang saya terima ketika saya duduk di kelas 1. Herannya wali kelas saya tidak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum, sepertinya juga sama jengahnya seperti kami. Setidaknya itu yang tertanam dalam ingatan saya.

Suatu hari ketika saya sedang bersama seorang teman di toilet siswi, ia mendatangi kami. Ia melontarkan canda mengenai vagina kami. Antara terkejut, takut, dan marah, saya membentaknya, “Gila kamu!”  Saya masih ingat betapa berangnya ia dan betapa takutnya saya. Guru ini tinggi besar, dengan mata besar pula yang semakin besar ketika ia membelalak. Ia meminta saya mengulangi apa yang saya katakan, dan entah mengapa meskipun dipenuhi rasa takut tetapi saya mengatakan kembali dengan nada yang sama keras seperti semula.

Jangan tanya darimana saya belajar kata-kata itu, sudah pasti saya mendengarnya dari lingkungan sekitar. Tetapi tidak pernah saya ucapkan kata itu sebelum dan sesudahnya baik di sekolah maupun di rumah. Mungkin sejak kecil saya sudah punya jiwa pemberontak. Saya tidak dapat menamakan perilakunya saat itu, tidak memahami juga apa yang sebenarnya saya rasakan, tetapi saya merasakan ketidaknyamanan dengan semua yang ia lakukan. Dan pada hari itu, seperti tiba-tiba saya sudah tidak ingin lagi menerima perlakuannya.

Ia menjadi sangat marah dan mengadukan saya kepada kepala sekolah. Kepala sekolah kami mengenal ayah saya dengan baik. Beliau dulunya adalah siswa teladan di sekolah yang sama. Bayangkan, putri seorang mantan siswa teladan mengatakan gurunya gila. Kakak saya yang saat itu satu sekolah dengan saya, yang juga mengenal kelakuan guru ini, ikut menenangkan saya. Ketika saya dipanggil kepala sekolah, saya tidak dapat menjawab sepatah katapun. Saya takut, saya hanyalah anak berumur 8 tahun.

(Belajar dari kenangan ini, saya jadi memahami bahwa ketika anak tidak menjawab tidak serta merta menunjukkan ia bersalah. Interpretasi yang juga mungkin dan bahkan jauh lebih mungkin adalah anak diliputi rasa takut yang kuat.)

Kepala sekolah tidak memanggil ayah saya. Saya lega karena saya tidak dapat membayangkan reaksi ayah saya. Bukan karena ia galak, ia bahkan tidak pernah marah kepada saya. Hanya saja, saya takut ia sedih dan kecewa atas perilaku saya.

Sejak itu saya hidup dalam ketakutan, takut kalau-kalau guru ini mendatangi saya. Sejak peristiwa itu, ia tidak pernah lagi mendatangi saya dan tidak pernah lagi datang ke kelas saya. Tetapi ia terus menghantui saya. Ketika tahun ajaran berganti, saya cemas jikalau akan  ditempatkan di kelas siang. Tetapi untunglah saya ditempatkan di kelas siang selama tiga tahun berikutnya. Meski demikian, saya selalu was-was kalau-kalau ia datang lebih awal dan kami akan berpapasan. Setiap jam istirahat dan sekolah usai, saya khawatir jikalau ia ada di sana.

Saat itu saya tinggal tidak terlalu jauh dari sekolah. Saya sering melihatnya membeli bensin di sebuah warung yang tidak jauh dari rumah saya. Saya bersembunyi setiap kali melihatnya. Ketika kami pindah rumah yang bertepatan dengan saya masuk SMP, saya merasa sangat lega, dan perlahan saya tidak lagi terobsesi dengan kenangan ini.

Belakangan ini ketika saya teringat kembali peristiwa ini, saya bertanya-tanya mengapa ia tidak lagi mendatangi saya. Toh ketika saya masih di kelas 3 itu, saya masih tetap di kelas siang. Saya juga bertanya-tanya mengapa setelah itu ia tidak lagi berkeliaran menyaksikan siswi-siswi bermain loncat karet dengan tatapannya yang liar. Mengapa ayah saya tidak dipanggil?

Guru ini memang tidak dikeluarkan tetapi sepertinya ia menjadi lebih ‘beradab’. Mungkinkah sebenarnya kepala sekolah paham apa yang sebenarnya terjadi? Guru laki-laki yang berada di toilet siswi ketika dua siswi sedang buang air kecil, bukankah fakta ini saja sudah mencurigakan?

Entahlah saya tidak dapat menduga-duga. Saya hanya sesalkan mengapa dulu saya tidak bersikap lebih berani. Waktu itu rasa takut begitu menguasai saya saya. Ketakutan yang membuat saya memahami dan turut merasakan ketakutan anak-anak korban pelecehan dan kekerasan.

Ketika saya menuliskan tentang kisah mantan guru saya di atas, saya masih diselimuti kemarahan. Marah karena ia telah membuat saya tercengkeram rasa takut selama bertahun-tahun. Membuat saya merasa bodoh mengapa dulu saya harus takut. Rasanya saya ingin memutar waktu kembali pada hari itu ketika saya dipanggil Kepala Sekolah. Saya ingin menjawab pertanyaan beliau dan menceritakan peristiwa yang sebenarnya.

Saya juga ingin bertanya kepada wali kelas saya mengapa ia diam saja dan apakah ia memberitahukan kepada Kepala Sekolah mengenai kelakuan guru itu terhadapnya dan terhadap para siswi? Tetapi saya mengerti bahwa saya tidak mungkin kembali kepada waktu itu. Yang dapat saya lakukan adalah menuliskan kisah ini.

Untuk sejumlah alasan tertentu, saya tidak dapat mengungkapkan identitasnya seperti yang dilakukan Sandra Muller dalam gerakan Balancetonporc** dan seperti yang ia harapkan dilakukan oleh para korban. Tetapi hari ini saya merasa lega, saya sudah melempar keluar mantan guru saya itu, saya sudah membebaskan diri darinya.  

Jika teman-teman ingin membagikan pengalaman teman-teman terkait dengan pelecehan dan kekerasan dalam berbagai bentuknya, blog ini terbuka untuk semua. Saat ini waktunya kita ‘ayunkan’ keras ‘makhluk’* itu, membebaskan diri darinya, melemparnya jauh keluar dari hidup kita.

Saya tidak menggunakan kata babi di sini seperti yang dituliskan Muller. Saya kira kata ini cukup sensitif dalam masyarakat kita dan saya tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman. Saya sempat berpikir menggantinya dengan kata binatang, tapi terdengar sangat kasar. Bagi rekan-rekan yang memiliki ide tentang kata lain untuk mengganti kata ‘babi’ ini, saya berterima kasih sekali jika bersedia membagikannya. Untuk sementara saya gunakan istilah ‘makhluk’. 

**Tulisan ini terinspirasi dari gerakan MeToo dan BalanceTonPorc yang dapat dibaca pula dalam blog ini :

https://esterlianawati.wordpress.com/2018/07/14/metoo-dan-balancetonporc/

0 comments on “Hari ini saya lempar keluar ‘makhluk’ itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: