Diri Well-being

Lagi, self-serving bias !

photo-1527201987695-67c06571957e

 

Masih bingung memahami Self-serving Bias, ? Sebenarnya bias ini bisa pula kita sederhanakan sebagai kecenderungan merasa diri yang paling benar atau yang paling ok (entah pendapatnya, seleranya, dll). 

Mmm semoga curhatan saya ini bisa bikin lebih jelas ya. 

Self-serving bias dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi, dsb. Masing-masing dari kita punya pandangan dan pendapat sendiri dan lebih dari itu, kita punya keyakinan yang sering kali teguh tak tergoyahkan bahwa pandangan kita itulah yang paling benar. 

Gawatnya, semakin bertambah usia, ini kata ayah saya, kita akan semakin yakin bahwa kitalah yang paling benar, bahwa apa yang kita yakini itu memang yang paling meyakinkan. 

Saya juga tadinya meyakini bahwa saya sudah berhasil sedapat mungkin tidak melakukan self-serving bias. Sampai belakangan ini saya disadarkan bahwa ternyata saya belum sesukses itu 😦 

Saya senang melakukan segala sesuatu sendiri, sampai memasak mie instan alias indomie pun, saya harus memasaknya sendiri. Mie nya jangan sampai lunak, telor mata sapi harus ¾ matang, dsb. 

Kalau membeli makanan di pinggir jalan, saya juga harus ikut berpartisipasi, berdiri di samping si abang untuk membubuhkan garam, sambal, kecap, dsb, dan menuangkan kuahnya agar tidak kebanyakan tetapi juga tidak terlalu sedikit. Saya pikir-pikir mungkin karena itu saya menjadi sangat akrab dengan setiap abang penjual makanan di gerobak (self-serving bias, mode aktif 😛 ). 

Nah, sementara saya berpikir saya ini menyenangkan dapat berinteraksi dengan abang penjual, teman saya mengatakan, « Aduh ribet banget sih lho jadi cewek »… Tetapi karena mode « self-serving bias » saya senantiasa aktif, saya mengabaikan pendapat teman saya ini tentunya 😉

Belum lama ini saya masak bersama seorang kawan di rumahnya. Sepanjang acara masak bersama itu, ia sibuk mengingatkan saya. Pakai serbet yang ini ya, pakai mangkok ini. Aduh jangan pakai sendok yang itu, terlalu besar. Jangan letakkan terlalu lama sendok itu di dalam wajan, itu kan plastik. Dst. Dst. 

Aduh kok ribet banget ya masak bareng teman yang satu ini. Duar. Saya tertawa dalam hati. Sebenarnya itu juga yang saya lakukan di rumah : Tolong gunakan dua spons yang berbeda dong, kan panci itu berminyak, gelasnya tidak. Aduh serbet untuk mengelap piring kok dipakai untuk mengelap tangan sih. Dsb, dsb. Aduh jorok banget sih kamu… 

Sementara yang saya label jorok itu menjawab, »Lha kamu toh juga senang makan bakso, siomay, dll di penjual gerobak di pinggir jalan. Ayo, di mana dia mencuci tangan ? Pakai serbet apa ? Bagaimana dia mencuci mangkok nya dsb ? 

Dan saya menyengir sambil membantah mempertahankan diri, « Tapi kan tidak setiap hari saya membeli makanan di abang-abang itu, dan biasanya saya seleksi kok abang-abangnya, maksudnya tingkat kebersihan abang-abangnya… » ^.^

Suatu hari seorang kawan saya yang lain memandang wajah saya dan berkata , » Kamu hari ini tampak seperti orang bingung. Kamu sepertinya banyak pikiran. Bebaskan pikiran kamu, tidak usah khawatir akan hari esok. Hari esok memiliki kekhawatirannya sendiri. » Maklum, ini calon ibu pendeta yang bicara. 

Saya jadi tidak sanggup berkata apa-apa, geli menahan tawa, bagaimana ia dapat seyakin itu sementara hari itu rasanya saya sedang dalam kondisi baik, tenang, sehat, dan bahagia. 

Sedetik kemudian, saya tidak lagi menertawakan kawan saya, tetapi menertawakan diri sendiri karena tiba-tiba saya tersadar bahwa saya juga kerap kali melakukan hal yang sama. Begitu yakinnya saya menganalisis wajah seseorang, entah kawan, ibu, kakak, dsb.

« Mama kok kayaknya tampak stres sih… , atau kok kelihatannya kamu pikirannya lagi kayak benang kusut » Herannya meski mereka menyangkal, saya tetap dengan pandangan saya sendiri.  

Seorang kawan lain misalnya sering kali mengeluhkan suami sahabatnya yang menurutnya kurang berperan sebagai suami. Bapak ini katanya enggan mengantar jemput istrinya yang adalah sahabat teman saya ini, kurang supel dalam bergaul sehingga kurang aktif terlibat dalam percakapan sesama kaum bapak manakala kaum ibu sibuk mengocok arisan. « Aduh kasian banget deh dia punya suami seperti itu, « demikian katanya. 

Sementara itu ibu muda yang dikasihani ini sama sekali tidak merasa keberatan dengan karakter suaminya yang seperti itu. Menurutnya suaminya bukan tukang ojek atau sopir yang harus mengantar jemputnya. 

Saya jadi teringat ibu saya yang justru happy-happy saja karena ayah saya pun bukan tipe yang aktif menemaninya kemana-mana. Orang lain dapat berkata apa saja, tetapi bukankah yang mengetahui kebahagiaan kita adalah kita sendiri ? Jadi kita juga tidak dapat memaksakan nilai-nilai kita terhadap orang lain, apalagi memaksakan bahwa apa yang membahagiakan kita dapat pula membahagiakan orang lain. 

Sebenarnya dalam skala ringan, self-serving bias itu tidak berbahaya, malah saya kira sedikit banyak diperlukan. Dengan self-serving bias, kita jadi punya mekanisme sendiri untuk tidak menjadi rendah diri. 

Bahkan orang-orang yang kita anggap “kurang beruntung”, dengan self-serving bias ini dapat mempertahankan harga diri di tengah dunia yang kadang « kejam » untuk mereka. Contohnya, kalau saya naik ojek atau bajaj, tukang ojek atau si tukang bajaj senang sekali memilih jalan memutar. Apalagi tukang ojek yang senang sekali memilih gang-gang kecil yang banyak polisi tidurnya. 

Tetapi mereka bangga, menurut mereka, mereka telah menghindari macet. sementara jika saya kalkulasi lama perjalanan antara melewati jalanan macet dengan masuk gang-gang tikus itu, kok lebih lama masuk gang tikus ya. Tapi biarlah, sesekali toh kita perlu membuat orang lain bangga, dan saya ikut bangga melakukannya.  Ups, lagi-lagi self-serving bias saya dalam kondisi aktif 😉

Tukang pijat pun juga mengaktifkan mode self-serving bias lho. Masing-masing tukang pijat meyakini teknik pijatannya yang paling ok. Tambahan lagi, sebagian dari mereka memiliki teknik spesial yang menurut mereka tentunya hanya mereka yang punya : menarik tangan secara bersilang, membunyikan leher tanpa resiko patah, dll. 

Antara rasa penasaran dan ingin memberi kesempatan kepada mereka untuk beraksi, saya merelakan diri diapakan saja oleh beliau-beliau ini sambil memanjatkan doa agar keyakinan mereka kali ini tidak salah….

Penjual makanan juga senang melakukan self-serving bias. Misalnya Ibu A mengatakan sambal buatannya spesial karena digoreng dengan teknik tertentu yang tidak ingin dibagikannya kepada orang lain, agar menjadi resep rahasianya. Ada pula Ibu B yang mengatakan kalau mengulek sambal ya semua harus disiapkan sendiri dan harus beliau sendiri yang menguleknya ; tidak boleh berpindah tangan, karena rasanya akan berbeda jika diulek oleh beberapa orang. 

Wah menarik sekali bukan memahami keunikan masing-masing orang dengan self-serving bias nya. Tapi tentunya self-serving bias tidak boleh berlebihan. Seperti yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya, self-serving bias dapat menghalangi kita untuk menerima kebenaran pandangan orang lain dan menghindarkan kita untuk melihat realita. Pada akhirnya kita tidak dapat menganalisis masalah dengan objektif dan tidak dapat menemukan solusi yang tepat. 

Dosen yang menganggap metode pengajarannya sudah tepat, tidak dapat melihat bahwa mahasiswa/i nya kesulitan mengikuti metodenya karena ia meyakini kesalahannya bukan terletak pada dirinya tetapi pada mahasiswa/i nya. 

Orang yang arogan juga tidak dapat menyadari bahwa orang lain enggan berteman dengannya karena arogansinya. Sebaliknya ia justru mengembangkan ide lain, bahwa seseorang yang enggan bergaul dengannya adalah orang yang  kurang percaya diri untuk berteman dengannya yang (menurutnya) memiliki pribadi dan karakter yang ok. Kaget ? 

Luar biasa memang ketika self-serving bias ini sudah jadi bagian menetap dari kepribadian kita, apalagi percaya diri memang tipis bedanya dengan sikap narsis. 

Akhir kata, tulisan ini terbuka untuk masukan, kritik, dan saran, sebagai usaha untuk mengurangi self-serving bias saya yang meyakini bahwa apa yang saya ditulis ini adalah benar adanya… ^.^
Dimodifikasi pada Maret 2020.

Kredit foto : Jessica Felicio @unsplash.com

7 comments on “Lagi, self-serving bias !

  1. self-serving bias itu sama dengan keras kepala ya Bu? hari ini artikel Ibu Liana terasa ringan. mgkn karena disisipi sesi curcol hehehe.

    Like

    • Ester Lianawati

      Hai Sufren, bener banget ini curcol :))
      Btw, keras kepala boleh dibilang sbg “tampilan” dr self-serving bias, terlihat dan dirasakan oleh pihak luar seperti itu ya ;).
      Self-serving bias itu sendiri didefinisikan sbg kecenderungan seseorang untuk melayani (serve) dirinya, memenuhi keinginan diri, atau memandang dirinya secara positif. Bentuk2nya bisa bermacam2, sy coba jelasin di sini : https://esterlianawati.wordpress.com/2009/10/03/self-serving-bias/

      Like

  2. Keren pembahasanya, jadi materi serasa ringan. Pembaca juga bisa sambil tersenyum 🙂

    http://www.intifilm.com/

    Like

  3. Tulisanmu bagus

    Like

  4. Pingback: Self-serving Bias – Feminist Psychology

  5. Pingback: Mengapa kita melakukan self-serving bias? – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: