Anak

Anak Anda Punya Teman Imajiner?

Namanya bisa jadi Bella, Pirato, Daud, Upik, Kribo.. Dia bisa jadi anak seusianya, bayi, bajak laut,  anak “ajaib” yang punya kekuatan magis, superhero. Kadang bisa pula anjing, kucing, tikus kecil, atau hewan mistis seperti naga. Dapat pula dalam bentuk malaikat atau setan. Ia mungkin tinggal di dalam lemari baju, dalam laci di rak dapur, di bawah tangga, di kulkas….

Anda tidak pernah melihatnya tetapi anak Anda bermain dengannya, tertawa bersamanya, menghiburnya, atau seru memarahinya. Bahkan si Pirato atau Kribo ini kadang diundang untuk makan bersama Anda sekeluarga, tidur seranjang dengan buah hati Anda atau menemaninya ke sekolah…

Tenang, tidak perlu terburu-buru membawa anak Anda ke psikolog atau psikiater. Anak Anda tidak sedang kehilangan kontak dengan dunia nyata. Ia sepertinya punya yang namanya teman imajiner atau khayalan. Teman yang ia sebutkan ini memang tidak pernah ada secara nyata, hanya ada dalam imajinasinya.

Kapan teman imajiner mulai hadir ?

Umumnya anak memunculkan teman imajiner ketika ia sedang senang-senangnya melakukan permainan simbolik atau bermain peran, kira-kira sekitar usia 3 sampai 5 tahun. Usia ini bervariasi pada masing-masing anak. Ada yang masih mengembangkan teman imajiner hingga usia 7-8 tahun, ada yang sudah mulai memiliki teman imajiner sebelum usia 3 tahun.

Kehadiran teman imajiner pada usia-usia ini cenderung normal, sejumlah peneliti menemukan sekitar 60% anak memunculkan teman imajiner pada usia ini.

Anak memunculkan teman imajiner pada usia-usia ini karena belum mampu memisahkan secara tegas antara dunia nyata dan imajinasi. Di sisi lain, ia mulai belajar mengenal/memahami dunia nyata yang ternyata tidak selalu sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ia mulai berhadapan dengan norma, aturan-aturan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan yang diinginkan dsb. Ia memasuki masa transisi dari masa bayi ketika ia “hampir selalu terpuaskan” ke tahap “harus mengikuti aturan”, dari “dunia nyaman” ke “dunia yang tidak selalu menyenangkan”.

Perubahan ini memang tidak mudah bagi anak. Untuk membantunya melewati masa ini, anak menciptakan teman imajiner, yang memungkinkannya dapat lebih menerima kenyataan dan menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya.

Fungsi teman imajiner

Secara umum, anak cenderung memunculkan teman imajiner untuk membantunya melewati periode tertentu yang menimbulkan kecemasan seperti kehadiran adik yang baru lahir, pindah sekolah, orangtua dirawat di rumah sakit, atau situasi-situasi baru lain yang butuh penyesuaian. Dalam hal ini, teman imajiner berfungsi menentramkan, memberi rasa nyaman. Dalam kasus kehadiran adik baru, teman imajiner menenteramkan karena menggantikan perhatian orangtua yang sedikit banyak beralih pada adik yang baru lahir.

Anak juga menghadirkan teman imajiner ketika ia dihadapkan pada situasi atau peristiwa yang mengancam dirinya. Misalnya ketika dimarahi ibu karena menumpahkan susu, anak akan mengatakan bahwa si teman imajiner yang menumpahkannya. Dalam hal ini teman imajiner berfungsi sebagai alibi. Atau ketika ia mengompol, ia katakan bukan dirinya tetapi teman imajinernya. Pada kasus-kasus teman imajiner sebagai alibi, teman imajiner yang dimunculkan dapat berbeda-beda. Misalnya yang menumpahkan susu adalah si Meong, yang mengompol adalah Peri bergaun ungu.

Beberapa fungsi lain dari teman imajiner adalah sbb :

  1. Membantu anak mengeksplorasi dunia/lingkungan sekitar, mengembangkan kemampuan berbahasa/berbicara melalui percakapan dengan si teman imajiner ini. Anak yang memiliki teman imajiner ditemukan imajinatif, kaya perbendaharaan kata. Terbiasa bercakap-cakap dengan si teman imajiner sepertinya melatih mereka dalam mengungkapkan apa yang mereka inginkan.
  2. Memungkinkan anak bereksperimen dengan berbagai peran yang ia mainkan bersama dengan teman imajinernya. Karena bermain peran inilah, anak yang memiliki teman imajiner dapat mengembangkan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain dan kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain.
  3. Memberikan sense of control, bahwa dia memiliki kendali atas lingkungannya, atas orang lain, dengan memberi pujian kepada teman imajinernya, marah kepada teman imajinernya, mengungkapkan pendapatnya bila tidak setuju dengan si teman imajiner, dll. Dengan teman imajinernya, anaklah yang memegang kendali permainan tersebut dengan teman imajinernya. Si teman imajiner inilah yang akan berperilaku sesuai dengan kehendak si anak. Anak dapat menjadi yang paling tinggi, yang paling cepat, yang paling cantik, dan selalu menjadi pemenang sesuai khayalannya. Jangan khawatir jika anak memiliki ‘musuh’ sebagai teman imajinernya. Dengan bertengkar, menampilkan kemarahannya, anak justru dapat menyalurkan emosi ‘negatif’nya secara aman. Ia juga jadi belajar memahami sudut pandang ‘musuh’nya ini karena ia lah yang menciptakan perdebatan/pertengkaran dan menyusun skenarionya.
  4. Membantu anak untuk mengenali dan menemukan identitasnya sendiri dengan cara kreatif. Dengan adanya teman imajiner, anak dapat memerankan tokoh-tokoh yang berbeda. Pada akhirnya ia akan mengenali tokoh mana yang ia lebih nyaman untuk perankan.
  5. Menjadi cara berkomunikasi bagi anak, untuk mengungkapkan pesan yang ia tidak dapat katakan secara langsung. Misalnya anak yang menolak makan sayur dapat jadi menggunakan teman imajinernya untuk mengatakan : Mama/Papa tau kan kalau si Kribo itu engga suka makan sayur. Jadi ya aku temenin dia juga dong, kan aku setia sama teman.

Bagaimana orangtua harus bereaksi

Sebelumnya perlu diperhatikan bahwa maksud dari penjabaran fungsi-fungsi ini adalah untuk menunjukkan kepada orangtua agar tidak cemas jika anak memiliki teman imajiner. Namun demikian, hendaknya juga tidak disimpulkan secara berlawanan bahwa anak yang tidak memiliki teman imajiner tidak akan mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut di atas. Anak tentu dapat dilatih untuk kreatif, peka, punya rasa tanggung jawab, dll, tanpa perlu memiliki teman imajiner. Teman imajiner hanyalah salah satu cara mengembangkan aspek-aspek ini.

Jika anak memiliki teman imajiner, orangtua tidak perlu cemas (kecuali pada kasus-kasus ekstrem). Hendaknya bersikap santai dan sewajarnya menghadapi anak dan teman imajinernya sambil memperhatikan poin-poin berikut ini :.

Orangtua tidak perlu melarang anak untuk memiliki teman imajiner. Orangtua dapat mengatakan bahwa ia sendiri tidak dapat melihat si teman imajiner tetapi dengan senang hati mau berkenalan dengannya. Dengarkan cerita anak tentang temannya ini. Namun jangan memaksanya bercerita tentang temannya ini jika ia tidak mau. Biarkan anak memiliki ruang pribadinya bersama si teman imajiner.

Orangtua tidak perlu pula mendukung anak secara berlebihan untuk memunculkan/bermain bersama teman imajinernya ini. Jika si anak ingin menyiapkan susu untuk teman imajinernya, tidak perlu benar-benar memberikannya susu. Tindakan ini tidak akan membantunya melewati masa transisi ke dunia nyata, malah mengaburkan konsep dunia khayalan dan dunia nyata pada diri si anak (selain harga susu yang mahal tentunya :p).

Orangtua tidak perlu bersikap reaktif dengan menuduh anak berbohong ketika menggunakan teman imajinernya sebagai alasan menghindari tanggung jawab. Ketika anak memiliki teman imajiner, ia berada dalam dunia fantasinya. Namun demikian, orangtua perlu membantu anak untuk mengembangkan rasa tanggung jawab, kepekaan, dan nilai-nilai lain.

Meski Pirato yang menumpahkan susu ketika sedang bertempur dengan sesama bajak laut lainnya, tetapi Anda dapat mengajak anak Anda untuk bersama-sama membersihkan lantai yang terkena tumpahan susu. Ingatkan pula agar Pirato lain kali lebih berhati-hati kalau sedang bertempur. Ketika Anda mengingatkan anak Anda untuk mengingatkan teman imajinernya, sebenarnya ia sendiri akan mengingatkan dirinya karena si Pirato adalah bagian dari dalam dirinya.

Atau ketika anak mengatakan si Meong yang makan semua kue cokelat, orangtua dapat menanggapi dengan kalimat semacam, “ Wah semoga si Meong tidak sakit ya makin kue cokelat kebanyakan. Lain kali si Meong mungkin engga perlu menghabiskan semua kuenya ya, kasian kan Papa/Mama/Adik/Kakak engga kebagian.”

Sekalipun Anda mendapatkan bukti nyata bahwa ia yang melakukan, tahan diri untuk tidak menuduhnya berbohong. Misalnya jika Anda mendapati mulutnya belepotan cokelat, jangan sampai Anda mengatakan ini,“Kamu kecil-kecil sudah pandai berbohong ya. Lihat itu mulut kamu banyak cokelatnya. Kamu yang makan kan itu kuenya? Kalimat seperti ini sama sekali tidak akan membantu, malah membuat anak panik dan semakin masuk dalam dunia khayalannya.

Orangtua dapat memanfaatkan bukti itu untuk mengembalikan anak ke dunia nyata dengan sesantai mungkin, seolah tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Anda dapat mengatakan, “Duh si Meong engga tau kali ya kalau itu kue Mama bikin untuk kita berlima. Ya udah gak apa, kamu mau bantu Mama bikin lagi kuenya? Tapi sini Mama bersihkan dulu mulutmu, ada remah-remah cokelat sedikit. Apa si Meong tadi memberikan sedikit kue cokelatnya ke kamu?”

Kalimat semacam ini dapat membuka jalan bagi anak untuk menceritakan yang sebenarnya tanpa ia merasa malu atau bersalah. Dan jika si anak tetap menjawab bahwa si Meong sama sekali tidak memberikannya kue sedikit pun, hendaknya juga tidak mencecar lebih lanjut. Namun demikian orangtua dapat terus melakukan hal yang kurang lebih sama setiap kali anak menggunakan teman imajinernya sebagai alibi. Perlahan anak akan merasa “nyaman” untuk mengakui yang sebenarnya.

Tambahan mengenai kebohongan anak: Sekalipun anak sudah dapat berbohong dan mengenal kata “bohong”, ia belum memahami konsep bohong itu sendiri. Di sisi lain, ketika anak tidak mengakui perbuatannya sebenarnya itu pertanda positif bahwa ia mulai memahami adanya aturan yang harus dipatuhi. Mengalihkan tanggung jawabnya ke teman imajiner merupakan cara yang ia ciptakan sendiri untuk mematuhi aturan tersebut. Dalam kasus ini, orangtua hendaknya melihat sisi positifnya, jangan fokus pada kebohongannya.

Orangtua dapat memanfaatkan teman imajiner anak untuk berkomunikasi dengan anak. Orangtua dapat mengenali masalah anak dari apa yang dikatakan anak atas nama teman imajinernya. Dalam hal ini, orangtua dapat sedikit turut masuk dalam dunia imajinasi anak, misalnya dengan menanyakan mengapa si Kribo tidak suka sayur.

Contoh lain, anak mengatakan bahwa teman imajinernya tidak menginginkannya pergi untuk bermain di taman/halaman bersama teman lain. Bisa jadi ini merupakan ketakutannya sendiri atau ketidaknyamanannya untuk bermain bersama temannya yang ‘nyata’. Dari sini orang tua dapat bertanya lebih lanjut untuk memahami masalah anak, kecemasannya, dsb, misalnya dengan menanyakan mengapa si teman imajiner ini tidak mau pergi keluar dan lebih memilih di kamar/di rumah.

Terkait dengan hal ini, teman imajiner bisa jadi merupakan proyeksi dari kebutuhan atau masalah-masalah yang dimiliki anak. Teman imajiner dapat menjadi seperti bermain dengan cermin, di mana pada cermin ini tampak kebutuhan anak. Dalam hal ini orangtua perlu peka untuk bertanya apa sesungguhnya yang ingin dikatakan anak kepada mereka melalui teman imajinernya ini.

Ketika orangtua mengenali masalah yang sebenarnya dalam diri anak, orangtua dapat membantu anak untuk mengatasi masalahnya ini. Perlahan, anak akan semakin memahami realita dan tidak lagi membutuhkan teman imajinernya untuk mengatasi masalah atau ketakutan-ketakutannya. Temuan ini dapat pula menjadi introspeksi diri bagi orangtua jika ada yang kurang tepat dalam cara pengasuhannya.

Kapan perlu cemas?

Teman imajiner akan menghilang dengan sendirinya ketika anak sudah benar-benar berada di ‘dunia nyata’ misalnya sudah mulai bersekolah dan atau memiliki banyak aktivitas lain, ketika anak sudah mengembangkan cara-cara penyelesaian masalah yang lebih konkret. Akan ada saatnya anak justru yang mengatakan kepada orangtuanya bahwa teman imajinernya itu sebenarnya tidak pernah ada.

Namun orangtua perlu waspada jika anak menampilkan ciri-ciri berikut :

  • terlalu sering berbicara mengenai teman imajiner sehingga menghambatnya untuk diajak berbicara mengenai hal yang lain
  • selalu mengajak/melibatkan si teman imajiner dalam tiap kegiatan yang dilakukan.
  • terlalu sering bermain dengannya tanpa melakukan aktivitas lain, bahkan tidak memiliki teman dalam dunia “nyata”
  • tidak mau keluar rumah atau kamar karena hanya ingin bermain dengan si teman imajiner
  • terlalu sering berbicara mengatasnamakan si teman imajiner (bukan saya, tapi si teman imajiner)
  • panik/cemas ketika teman imajiner sedang “tidak ada/pergi/menghilang”
  • bukan “teman” imajiner yang dimilikinya tetapi “musuh” imajiner. Musuh di sini tidak sama dengan tokoh “musuh” yang ia mainkan seperti penjelasan di atas. Yang dimaksud di sini adalah anak merasa ada musuh yang mengancamnya, menyerangnya, dan membuatnya takut.
  • meski tidak ia gambarkan sebagai “musuh”, tetapi teman dalam khayalannya ini menyakitinya, membuatnya ketakutan, memintanya melakukan tindakan kasar/agresif yang melukai dirinya atau orang lain, menghambatnya berkonsentrasi di sekolah, dll yang membawa dampak negatif dalam kehidupan anak sehari-hari.

 

Dalam situasi-situasi ini, orangtua disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog.

Jika Bapak/Ibu masih bingung menentukan apakah pertemanan buah hati Bapak/Ibu dengan kawan imajinernya itu masih wajar atau tidak, silakan menghubungi saya di lianawati.ester@gmail.com Barangkali saya dapat membantu 🙂

 

Salam hangat,

Ester Lianawati

Artikel ini telah diperbarui : 5 November 2018

8 comments on “Anak Anda Punya Teman Imajiner?

  1. Kadang kita menemukan kasus yang bersifat klenik, di mana mungkin orang tua menyangka si anak melihat sesuatu yang tidak natural (supranatural); sehingga pemahaman sisi psikologis dapat berbenturan dengan anggapan atau stigma kultural yang ada.

    Like

  2. ariandiana

    Bagaimana dengan orang dewasa yang memiliki teman imajiner, normalkah?

    Like

  3. Apakah Tuhan dan seluruh turunannya juga teman imajiner? Karena bila kata “teman imajiner” diganti dengan kata “tuhan” sepertinya sangat relevan.

    Like

    • Hai Mbak Sentot, terima kasih sebelumnya untuk pertanyaan yang menarik ini. Benar, Tuhan dapat menjadi teman imajiner. Namun kata “imajiner” di sini menjadi kontroversial ketika kita lekatkan pada Tuhan, seolah Tuhan itu tidak nyata, tidak benar-benar ada, hanya dalam imajinasi. Jadi memang diperdebatkan. Tapi mungkin kita dapat menekankan kepada fungsi “teman” itu sendiri dengan tidak mempertanyakan eksistensi Tuhan 🙂 Salam hangat, Ester.

      Like

    • Memang sangat menarik membahas teman imajiner/Tuhan karena tidak ada seorangpun yang dapat membuktikan eksistensi Tuhan selain klaim bahwa Tuhan begini dan begitu. Pertanyaan tentang eksistensi tuhan nampaknya menjadi momok menakutkan bagi orang beriman karena ketidak-mampuan membuktikan sehingga menimbulkan pemaksaan doktrin bahwa Tuhan nyata, Tuhan ada, Tuhan bukan imajinasi. Dan mempertanyakan eksistensi tuhan adalah perbuatan terlarang. Salam… 🙂

      Like

      • Mantap sekali tanggapan Mbak Sentot 🙂 Saya senang berdiskusi tentang eksistensi Tuhan. Tetapi jarang yang dapat diajak berdiskusi, kecuali teman-teman sendiri, dan diskusi diakhiri dengan pernyataan bahwa otak saya terlalu kacau. Tapi harus saya akui, mereka memang benar sih 😁

        Saya belum yakin dengan yang dikatakan Mbak Sentot sebagai momok, maksud saya apakah memang itu benar menjadi momok buat orang beriman, atau orang yang tidak/kurang beriman yang melihatnya sebagai momok bagi mereka.

        Karena dari yang saya amati, orang beriman, sesuai dengan kata “iman” yang disandang, percaya bahwa Tuhan ada, tanpa perlu membuktikan, tanpa perlu langsung “melihat”. Tetapi mereka sendiri seperti tidak merasa terganggu dengan tidak adanya bukti itu. Mereka lebih terganggu dengan sikap orang-orang yang mempertanyakan eksistensi Tuhan (seperti saya 😀), (yang dalam pandangan mereka) sepertinya tidak paham bahwa manusia hanya cukup beriman, tanpa perlu mempertanyakan.

        Kembali kepada Tuhan sebagai teman imajiner, topik ini menjadi diskusi yang menarik sebenarnya bagi para peneliti. Beberapa penelitian menunjukkan Tuhan sebagai teman imajiner sepertinya membawa dampak positif khususnya bagi mereka yang cenderung tidak punya teman di dunia nyata.

        Maap jadi panjang, Mbak Sentot. Senang berdiskusi dengan Mbak Sentot 🙂 Salam hangat.

        Like

  4. Sentot Saspahala

    Sepertinya saat ini “otak kacau” semakin banyak akibat kemajuan teknologi dan makin tersingkapnya mukjizat atau yang dahulu dianggap ajaib ternyata sekarang dapat dijelaskan secara ilmiah.

    Betul juga mbak Ester, diskusi dengan orang beriman tidaklah mungkin, namun masih banyak juga orang yang mencari dan memiliki berbagai pertanyaan dan pada merekalah kita dapat berdiskusi.

    Tuhan sebagai teman imajiner membawa dampak positif bagi orang kesepian, nampaknya Tuhan menjadi tempat pelarian, dan itulah masalahnya. Tuhan membuat orang hidup dalam delusi, nafsu dan harapan (akan) terlampiaskan dalam delusinya sehingga masalah akan muncul saat orang keluar dan menghadapi fakta yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Adanya perbedaan/jarak antara delusi dan fakta menimbulkan konflik, baik konflik batin maupun konflik sosial. Yang menggelitik dan selama ini jadi pertanyaan saya adalah; Dapatkah konflik ini berakhir? Salam.. 🙂

    Like

  5. Sebelumnya saya perlu menyampaikan kepada rekan-rekan yang membaca tulisan ini, mungkin akan sedikit “bingung” membaca diskusi saya dengan Mbak Sentot Saspahala dalam bagian komentar. Memang diskusi kami menjurus ke arah filosofis dan kemungkinan besar tidak terkait dengan persoalan teman imajiner yang dimiliki anak-anak.

    Dalam kesempatan ini, saya hendak berterima kasih pula untuk Mbak Sentot Saspahala. Berkat komentarnya, saya membaca kembali tulisan yang saya buat sepuluh tahun lalu ini dan mendapati masih banyak hal yang perlu dilengkapi. Dan syukurlah, artikel ini sudah berhasil saya perbaharui beberapa hari lalu.

    Saya sempat pasang juga tulisan yang sudah saya perbaharui di media lain dan saya menerima dua tanggapan yang menarik yang mengingatkan saya untuk membedakan antara (a) teman imajiner dengan objek peralihan dan (b) teman imajiner dengan makhluk halus.

    – Ada anak apabila kehilangan bantalnya nangis sampai bantalnya kembali didapat, padahal dah bulukan…Mungkin juga bantal itu teman imajinernya…

    Jawaban : Kalau mengikuti makna aslinya, teman imajiner itu tidak terlihat. Bantal ini sepertinya lebih berfungsi sebagai objek peralihan. Sifatnya juga memberi ketenangan, dan bisa juga dianggapnya sebagai “teman”.

    -Jadi “teman” itu bukan makhluk halus?

    Jawaban : Teman imajiner fungsinya untuk “bermain”,”bersenang-senang”. Jadi anak biasanya gembira ketika ia memunculkan si teman imajinernya ini. Mereka yang menghadirkan si teman, yang mengundangnya untuk hadir bermain bersamanya. Sementara jika anak melihat makhluk halus, mereka “melihat”, sifatnya lebih pasif, makhluk halus nya yang sudah ada di sana, dan reaksi anak umumnya adalah takut dan menarik diri..

    Mengenai teman imajiner dan makhluk halus ini sekaligus menjawab Cahya. Mohon maaf ya Pak Dokter, bertahun-tahun tidak melihat blog, saya baru perhatikan komentar ini. Semoga dimaafkan hiks.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: