Diri Well-being

Anda Perfeksionis ?

Perfeksionisme adalah kecenderungan seseorang untuk selalu memiliki atau mencapai kesempurnaan. Seseorang dapat menampilkan karakter perfeksionis dalam hal pekerjaan, penampilan, ataupun kehidupan sosial.

Ciri-ciri Orang Perfeksionis

Orang yang perfeksionis dalam bekerja, biasanya akan mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati dan totalitas ; sebuah hal positif tentunya. Di sisi lain, karena ingin menampilkan kinerja yang sempurna, totalitas ini juga mereka tampilkan dalam beberapa ciri berikut :

  • Terpaku pada detil, padahal sering kali detil ini tidak perlu. Misalnya bila mengerjakan slide powerpoint, di samping isi materinya, ia akan mencurahkan perhatian berlebih pada desain slide-nya, huruf-hurufnya, ukuran huruf, dll. Tentu perlu memperhatikan keindahan slide presentasi. Namun menjadi berlebih seseorang tidak dapat mulai menulis isi presentasinya karena sibuk memilih perpaduan desain dan ukuran huruf yang enak dipandang mata.
  • Karena hal-hal di atas, biasanya orang perfeksionis membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan rekan-rekannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Sebagian orang perfeksionis tidak dapat memenuhi tenggat waktu, meski sebagian besar dapat memenuhi tenggat waktu. Hanya saja mereka yang dapat memenuhi tenggat waktu biasanya membutuhkan usaha ekstra untuk mengerjakannya (mereka cenderung memaksakan diri untuk melakukan hal ini). Mereka menjadi lebih mudah lelah tetapi umumnya hasilnya memang memuaskan.
  • Orang perfeksionis bukan hanya tidak dapat menerima bila hasil pekerjaannya tidak sempurna di matanya tetapi juga sulit menerima ketidaksempurnaan hasil pekerjaan orang lain. Oleh karena itu, salah satu cirinya adalah gemar mengkritik.
  • Orang perfeksionis selalu dapat dengan mudah ‘menangkap’ kelemahan/kesalahan yang diperbuat orang lain. Ia juga cenderung menilai sesuatu sesuai dengan standarnya yang tinggi. Ketika kedua hal ini bergabung, orang perfeksionis menjadi tidak mudah percaya pada kemampuan orang lain. Hal ini menyulitkan mereka untuk mendelegasikan tugas atau bekerja sama dalam tim kerja. Mereka sulit menerima hasil pekerjaan orang lain; selalu ingin memperbaikinya atau mengubah sesuai dengan standar kesempurnaannya.
  • Orang perfeksionis cenderung terencana (organized), sulit melakukan sesuatu secara spontan, tidak fleksibel dengan perubahan, dan biasanya jadi gelisah dan mudah jengkel/marah bila segala sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana/yang sudah ia perkirakan.
  • Sedapat mungkin orang perfeksionis menghindari melakukan kesalahan, karena itu cenderung enggan tampil bila ia tidak yakin benar bahwa ia mampu. Orang lain sering salah mengerti dan menganggap orang perfeksionis tidak percaya diri (khususnya dalam hal ini orang tua salah mengerti anaknya yang perfeksionis) padahal mereka adalah individu yang paham benar kemampuannya dan karena ingin tampil sempurna ia enggan “tampil” bila menganggap dirinya tidak cukup siap.
  • Cenderung tidak ingin dipersalahkan, karena menganggap dirinya yang paling sempurna, dan paling benar, karena ia selalu dapat dengan mudah melihat “cacat cela” orang lain.
  • Cenderung tidak mudah puas, dan terpaku memikirkan kesalahan/cacat kecilnya dibandingkan apa yang sudah berhasil ia raih. Misalnya seorang perfeksionis berhasil mempesona hadirin dengan presentasinya, mendapatkan banyak tepuk tangan dan ucapan selamat, tetapi ia malah sibuk memikirkan kesalahan kecilnya seperti ada salah kata yang ia ucapkan dalam presentasi itu.
  • Memeriksa pekerjaan berulang-ulang, untuk meyakinkan diri bahwa sudah sempurna dan karena tidak ingin melakukan kesalahan. Tapi jangan salah, belum tentu orang perfeksionis itu teliti. Karena cenderung terpaku pada detil yang tidak perlu kadang kala ia malah membuat kesalahan pada bagian lain yang lebih penting.

Sementara itu orang yang perfeksionis dalam hal kehidupan sosial, salah satu contohnya adalah mereka yang merasa harus disukai semua orang, harus selalu tampil “lucu”, cerdas, dan menyenangkan.

Orang-orang ini selalu khawatir jika ada yang tidak menyukainya. Lama kelamaan mereka dapat menjadi lelah sendiri karena harus memikirkan apa yang mesti mereka perbuat untuk menyenangkan orang lain agar orang lain ini menyukai mereka. 

Disukai untuk orang-orang ini adalah kebutuhan mereka. Kritik dari orang lain adalah ketakutan mereka yang terbesar. Oleh sebab itu, orang perfeksionis dalam kehidupan sosial umumnya mengambil keputusan sesuai dengan norma yang berlaku dalam lingkungannya. 

Mereka tidak berani melakukan gebrakan atau sesuatu yang berbeda/menyimpang dari norma umum karena khawatir akan penilaian negatif orang lain.  Sulit bagi mereka menerima kenyataan bahwa tidak semua orang menyukainya atau tidak semua orang menghargai hasil pekerjaannya atau apa yang ia miliki.

Ada juga orang yang perfeksionis dengan penampilannya. Orang ini cenderung khawatir tidak tampil rapi atau menarik, mengkhawatirkan dandanannya, bedaknya luntur atau tidak dsb. Ada juga orang perfeksionis sebatas terobsesi dengan kebersihan, kerapian, keteraturan.

Laki-laki atau Perempuan ?

Jika ditanyakan mengenai proporsi antara laki-laki dan perempuan yang cenderung perfeksionis, saya mencatat lebih banyak perempuan yang perfeksionis. Dua penyebab di antaranya adalah :

a)      Dalam dunia pekerjaan, hanya perempuan yang benar-benar “luar biasa” yang dapat dipromosikan. Maksudnya perempuan perlu menampilkan kinerja ekstra bila ingin menduduki posisi penting dibandingkan laki-laki untuk menduduki posisi yang sama. Perempuan harus lebih ‘menonjol’ performanya bila ingin mendapatkan perhatian untuk dipromosikan. Dengan sendirinya kondisi ini seolah mensyaratkan perempuan untuk tampil optimal. Konsekuensinya perempuan pun ‘tertuntut’ untuk menampilkan yang sempurna dibandingkan laki-laki.

b)      Perempuan dididik sedemikian rupa sehingga lebih mengaitkan sesuatu dengan perasaannya. Merasa ada yang tidak sreg, merasa masih ada yang kurang, dsb. Sementara laki-laki dididik untuk mengandalkan rasio. Adalah tidak rasional untuk mengerjakan sesuatu yang sama berulang-ulang. Adalah tidak rasional untuk terus marah-marah karena ada teman datang terlambat sementara toh dia sudah datang atau toh tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan misalnya. Laki-laki secara umum untuk memiliki level toleransi lebih tinggi terhadap ketidaksempurnaan orang lain karena tidak ingin direpotkan oleh hal-hal detil, karena memang laki-laki cenderung berpikir lebih praktis.

Namun hal-hal ini tidak menutup kemungkinan sebagian laki-laki memiliki karakter perfeksionis karena perfeksionisme banyak dipengaruhi oleh pola asuh.

 

Sebaiknya Perfeksionis atau Tidak ?

 

Menjadi perfeksionis memiliki sisi positif. Hasil pekerjaan umumnya cenderung memuaskan, juga di mata orang lain. Tentu hal ini baik dan membawa dampak positif untuk karir. Biasanya orang-orang perfeksionis memang  memiliki prestasi yang memuaskan. 

Namun demikian, menjadi perfeksionis juga merugikan. Orang perfeksionis umumnya mudah lelah, khususnya secara mental/psikologis. Mereka mudah stres/tertekan karena menuntut diri sendiri dan orang lain dengan standar yang tinggi. Jika stres muncul dalam bentuk fisik, biasanya muncul dalam bentuk sakit kepala, migrain, maag, dll. 

Mereka juga cenderung tegang karena sifatnya yang memang cenderung kaku, tidak fleksibel, dan tidak bisa spontan. Sebagian besar di antara mereka kurang disukai rekan sekerja (atau bawahan) khususnya bila bekerja dalam tim. 

Dalam relasi dengan pasangan, mereka cenderung mengalami banyak konflik karena sifatnya yang mudah mengkritik dan selalu menemukan ketidaksempurnaan.

Namun demikian, sulit untuk mengatakan lebih banyak untung atau ruginya menjadi perfeksionis. Jika mengatakan lebih banyak ruginya, orang akan menganggap perfeksionis itu buruk. 

Sebaliknya jika mengatakan lebih banyak untungnya, orang akan berlomba-lomba menjadi perfeksionis. Padahal perfeksionis memiliki sisi-sisi positif, ‘sentuhan’ orang perfeksionis akan membedakan kualitas sesuatu hal yang ia kerjakan. 

Di sisi lain, selalu menjadi perfeksionis juga tidak baik, karena cenderung akan menjadi orang yang tertekan dengan standar kesempurnaannya sendiri dan menimbulkan tekanan pula pada orang lain di sekitarnya.

Dalam pandangan saya, yang terpenting sebaiknya adalah mengerjakan sesuatu dengan tetap optimal, mengupayakan yang terbaik, dan menghargai orang lain. Sebuah contoh misalnya orang perfeksionis cenderung tepat waktu. Tetapi kita tidak perlu menjadi perfeksionis untuk bisa tepat waktu. Orang yang menghargai orang lain akan memiliki kesadaran bahwa ia seharusnya tepat waktu bila memiliki janji dengan orang lain. 

Hal lain yang juga penting adalah menyayangi diri sendiri. Orang perfeksionis meski cenderung menghasilkan kinerja optimal tetapi ia cenderung tidak menghargai/menyayangi diri sendiri. 

Ia cenderung memaksakan diri, bekerja melampau batas untuk mendapatkan hasil sesempurna yang ia inginkan. Orang yang menyayangi diri sendiri, ia akan mengenali batas-batas dirinya, ia tahu  kapasitasnya; sejauh mana ia harus bekerja dan kapan sebaiknya beristirahat dan menyenangkan diri sendiri.

Sedikit Saran untuk Si Perfeksionis

Menjadi perfeksionis tidaklah buruk. Tetapi karakter ‘perfeksionis’ mengandung makna ‘berlebihan’. Jika Anda merasa perfeksionis, pertahankanlah sisi-sisi positifnya tetapi ada pula hal-hal yang sebaiknya Anda lakukan.

Jika sudah menyadari bahwa Anda memiliki kecenderungan perfeksionis, Anda dapat berefleksi tiap kali melakukan sesuatu yang “berbau” perfeksionis.

Pertama, apakah memang yang Anda sedang kerjakan itu perlu sedemikian sempurnakah? Apakah perlu sampai pusing-pusing untuk detil yang tidak terlalu penting itu? Yang mungkin orang lain sudah akan lupa keesokan harinya.

Kedua, orang perfeksionis biasanya selalu menganggap hasil pekerjaan orang lain tidak sempurna atau selalu ada cacatnya. Nah tiap kali kita sudah mulai melihat “kekurangan” orang lain, coba katakan stop pada diri sendiri dan coba temukan kelebihan orang tersebut.

Ketiga, salah satu ciri orang perfeksionis adalah memiliki obsesi untuk sesuatu hal. Misalnya ada orang perfeksionis yang tidak dapat tidur jika tempat tidur atau ruangan masih berantakan.

Cobalah sesekali biarkan kondisinya seperti itu (tidak rapi di mata Anda), lalu pergilah tidur. Pertama-tama mungkin memang sulit, tetapi sekali saja berusaha dan Anda bisa, Anda akan teryakinkan dengan sendirinya bahwa Anda bisa tidur dengan kondisi seperti itu.

Keempat, orang perfeksionis perlu belajar menerima keterbatasan diri, menerima kekurangan diri, dan belajar melakukan “kesalahan”. Misalnya seringkali orang perfeksionis merasa bahwa dia harus mengulang melakukan sesuatu bila ada cacat sedikit saja. Nah ia harus belajar sesekali mendiamkan saja “cacat” itu.

Tidak ada cara lain untuk mengurangi perfeksionisme kecuali melakukan hal-hal yang selama ini berusaha dihindari. Mungkin terdengar kontradiktif, tetapi itulah yang perlu dilakukan.

Sambil tentunya melakukan penentangan-penentangan terhadap pikiran-pikiran negatif yang timbul. Misalnya tiap kali merasa “dituntut” untuk tampil sempurna, tentanglah pikiran itu, siapa yang mengharuskan Anda untuk tampil sempurna? Orang lain atau Anda sendiri? Siapa yang mengharuskan Anda untuk disukai semua orang? Apakah mungkin dalam hidup ini kita menyenangkan SEMUA orang? Dst.

Jujur saja, saya sendiri pernah jadi orang “sangat” perfeksionis khususnya dalam hal kerapian. Saat ini kadar perfeksionis saya sudah berkurang. Rahasianya? Punya dua anak dan suami yang kerjaannya menaruh barang-barang sembarangan ^.^

Tidak seperti di Indonesia yang biasanya ada pekerja rumah tangga. Kami di Perancis harus mengerjakan tugas-tugas domestik sendiri. Pada akhirnya saya tidak bisa “melawan” tiga makhluk di rumah, saya menyerah 😂 Akhirnya justru sedikit demi sedikit perfeksionisme saya berkurang.

Saya jadi berpikir-pikir, mungkin itu juga salah satu faktor yang membuat orang-orang Perancis secara umum lebih mudah menerima ketidaksempurnaan. Karena mereka memang tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal yang sifatnya detil dan “kurang” perlu 😄

Selain itu, orang Perancis juga mengakui perbedaan individual. Mereka punya prinsip bahwa setiap orang unik, punya selera sendiri, punya caranya sendiri dalam mengerjakan sesuatu. Jadi mereka umumnya mereka memusatkan perhatian pada karya mereka tanpa merasa dituntut untuk sempurna.

Mereka juga tidak pusing mencari-cari “kesalahan-kesalahan kecil” orang lain. Hal ini membuat mereka jadi lebih mentoleransi “ketidaksempurnaan”.

Mungkin jika boleh saya simpulkan poin kelima di sini adalah jangan membandingkan dengan orang lain. Tiap orang punya standarnya sendiri. Bisa jadi yang Anda anggap belum sempurna justru sudah sangat baik di mata orang lain.

Catatan

Tulisan ini lebih berfokus pada perfeksionisme dalam pekerjaan. Mereka yang perfeksionis sebagai pasangan dan atau orang tua, perlu berhati-hati karena dapat membuat pasangan atau anak-anaknya “menderita”. 

Pasangan akan merasa sedih, lelah, putus asa, karena tidak pernah mampu memuaskan suami/istri yang perfeksionis. Anak akan merasa semua yang ia lakukan tidak pernah dianggap baik oleh orangtuanya, selalu ada yang kurang, ada yang salah. Hal ini dapat berdampak buruk pada kepercayaan diri dan harga dirinya.  

Dimodifikasi pada tanggal 20 Maret 2020

39 comments on “Anda Perfeksionis ?

  1. Saya sepertinya kebalikannya deh Mbak :).

    Like

  2. wuah, aku negh mba, kadang kebawa stress kalo lagi dedlen kerjaan, pengennya rapi bagus dan benar, hehehe 🙂

    Like

  3. baru sadar klo saya nih trnyata org yg perfeksionis,,
    memang kurang mnghargai karya org lain..
    pokoknya gw bgt..

    Like

  4. Gewinner

    waw, …..

    Like

  5. Anonymous

    saya malah lagi berproses untuk mengurangi keperfeksionisan saya. perfeksionis ternyata bisa membosankan yaa.. haha *curcol 😛

    Like

  6. aku bangat nh mba. kadang-kadang gak bisa mempercayai orang lain dalam kerjaan. dan gak bisa tidur kalo tempat tidur berantakan mba.

    Like

  7. Perfecsionist banyak muncul dr wanita mbak dari pada lelaki karena wanita selalu ingin tampil prima, do the best dan melakukan pekerjaan sepenuh hati, tapi kadang lost control jd muncul sifat perfectsionis.

    Like

  8. harry ford manson

    saya perfeksionis dan saya bangga -_- /

    Like

  9. banyak dari ciri-ciri yg disebutkan yg merupakan sifat-sifat saya. Saya suka mengkritik, teralu memperhatikan detil, dll., apakah ini termasuk kelainan?

    Like

    • Ester Lianawati

      Hai Mbak Mifta, saya pribadi kurang sreg dgn pelabelan ‘kelainan’ 🙂 Suka mengkritik dan memperhatikan detil sbnrnya tanda bhw org itu kritis dan peka, tapi kl memang terlalu berlebihan shg mengganggu diri sendiri dan orang lain, mgkn ada baiknya utk dikurangi 😉

      Like

  10. nice article 🙂 mksh kak

    Like

  11. Artikelnya bagus izin copas ya 🙂

    Like

  12. wah artikelnya bagus, ciri2 perfeksionisnya mirip :(..

    Like

  13. smua yg di tulis di ats adlah ciri2 aq smua, emang gk enk jd perfeksionis, pinginnya smua serba perfect, dan itu nyiksa bgt, gk ada kata puas dh pkoknya.

    Like

  14. artikel yang bagus, thanks tas saran2nya juga

    Like

  15. salsabilla

    gw sih emang perfeksionis

    Like

  16. Nurul Izzah

    sesuai,
    saat membaca saya serasa bercermin…..
    astagfirullah….. 😦

    Like

  17. Bbrp temen bilang saya perfeksionis, stlh membaca artikel ini br saya mengerti.. dampaknya emg gampang stress n selalu kejar kejaran sama due dates fiuuuhh.. nice artikel 🙂

    Like

  18. makasih infonya kakaak, sedang riset kepribadian ini untuk karakter novel saya, ijin copas yak ^^

    Like

  19. sama persis kayak saya nih. harus di coba untuk mengurangi sifat seperti ini.

    Like

  20. Gak sadar ternyata selama ini perfeksionis .:D.. Artikelnya keren .. Jadi bahan intropeksi diri.

    Like

  21. Thanks, mbak.. Makasi banget sarannya.. 🙂
    Bikin aku sedikit lebih tenang, karena kadang kepikiran sama hal yg harusnya gak dipikir sama aku.. XD

    Like

  22. saya jadi kurang produktif karena perfeksionis *syedih

    Like

  23. Nah ini enak dibaca. Ada tuh artikel sebelah kayanya dendam banget sama perfeksionis. Semua yg dibahas tentang sisi negativenya aja, kalo mau samain dong beberin sisi negativ dr org selain perfeksionis biar adil..
    Ga ada yg namannya – (minus) ketemu – (minus) = plus atau kali.. ya pasti minus juga hasilnya. Sayangnya diartikelnya gk bisa dikomen.. jadi mohon maaf saya komen disini ya kakak. Tapi saya suka tulisan diatas.. sebenernya solusinya dekatkan saja diri kita kepada sang pencipta yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

    Like

  24. Artikelnya bagus, makasih. 🙂

    Like

  25. gue banget..
    terimakasih atas solusinya 👌

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: