Hukum

Sanksi dan Penghukuman dari Telaah Psikologi

Budaya kita (Indonesia) adalah budaya yang menghukum. Tidak banyak orang tua yang memuji saat anak melakukan tindakan positif sehingga tidak sejak dini manusia mengenal prinsip penguatan positif (positive reinforcement). Lain halnya dengan hukuman (punishment). Kebanyakan orang terpancing untuk menghukum bila anak melakukan kesalahan. Akibatnya sedari kecil manusia telah belajar bahwa perbuatan buruk akan mendatangkan sanksi dan penghukuman. Padahal hukuman dan penguatan, keduanya sama-sama bagian dari upaya modifikasi perilaku agar seseorang berperilaku sesuai yang diharapkan. Sayangnya, dalam hal memodifikasi perbuatan buruk, manusia lebih terfokus pada hukuman. Tetapi efektivitas hukuman itu sendiri diragukan bila melihat kriminalitas terus meningkat, dengan sebagian besar pelakunya adalah mantan narapidana. Apakah hukuman tidak efektif dan malah berdampak negatif? Atau ada kondisi-kondisi tertentu yang harus diperhatikan untuk menjamin efektivitasnya? Prinsip-prinsip psikologi apa yang sebenarnya mendasari sanksi dan penghukuman? Tulisan ini akan mencoba untuk menelaah hukuman dan penguatan dari perspektif psikologi. Restorative justice akan dipaparkan sedikit pada akhir tulisan, yang mungkin dapat menjadi bahan pemikiran bersama mengenai bentuk keadilan yang tidak menghukum.

 

Kata kunci: Hukuman, Penguatan positif, Penguatan negatif, Pemenjaraan, Restorative justice

Beberapa waktu lalu, saya melihat foto seorang guru yang pernah mengajar saya di jejaring pertemanan facebook. Seketika saya gelisah, ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap. Ingatan saya kembali pada belasan tahun silam dalam suasana kelas yang mencekam tiap kali tiba waktunya beliau mengajar saya dan teman-teman. Sorot matanya yang tajam seolah siap menerkam. Tidak ada senyum dari awal sampai akhir kelas, kecuali senyum menyindir atau mengejek ketika kami tidak mampu menjawab. Kelas diisi dengan bentakan, pukulan, dan tendangan. Saya tidak pernah lupa bagaimana ia menendang tulang kering kaki seorang teman sampai mengeluarkan darah. Ia tidak meminta maaf, dengan angkuh ia memerintahkan teman saya duduk kembali sambil makiannya mengiringi langkah terseok teman kami. Saya juga masih dapat mengingat dengan jelas sindiran tajamnya kepada teman kami, cucu seorang pendeta,” Kamu lupa berdoa hari ini sampai tidak dapat menjawab pertanyaan saya?

Rasanya ia merusak keceriaan kami, anak-anak belia yang beranjak remaja. Tiap kali langkah kakinya mendekat, kami diam. Tiap hari kami berdoa agar ia tidak memarahi kami. Hampir setiap kali waktunya tiba ia masuk ke kelas, kami berharap ia tidak dapat mengajar. Bahkan kadang kami tidak ingin pergi ke sekolah agar tidak perlu bertemu dengannya. Ia selalu mengatakan bahwa apa yang ia lakukan akan berguna bagi kami. “Saya cuma ingin kalian pintar, “demikian ucapannya menggelegar sehabis menjatuhkan hukuman. Sebuah keinginan mulia. Sayang ia tidak paham bahwa cara yang ia lakukan tidak dapat membuat kami memenuhi keinginannya.

Hukuman dan Penguatan

Konsep mengenai hukuman tidak hanya menjadi materi utama bagi mahasiswa-mahasiswi yang menempuh pendidikan hukum. Hukuman juga merupakan konsep dasar yang wajib dipahami mahasiswa-mahasiswi psikologi, bahkan mulai dari semester pertama. Istilah hukuman merupakan bagian dari teori pembelajaran (learning theory) yang memang merupakan salah satu teori penting dalam psikologi. Konsep hukuman mendapatkan perhatian dalam psikologi setelah B.F. Skinner mengemukakan teori pembelajaran instrumental (instrumental conditioning)[1] pada tahun 1938.

Dalam teorinya, Skinner (dalam Hall & Lindzey, 1985) mengungkapkan bahwa perilaku manusia dibentuk oleh rangkaian penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment) yang diterimanya dari lingkungan. Jika ia mendapatkan penguatan untuk suatu perilaku, maka perilaku itu cenderung akan ditampilkannya kembali. Sebaliknya jika ia mendapatkan hukuman, maka tindakannya itu tidak akan ditampilkan kembali. Dengan perkataan lain, penguatan bertujuan meningkatkan perilaku, sedangkan hukuman bertujuan untuk mengurangi kemungkinan ditampilkannya kembali suatu perilaku.

Skinner sendiri mendefinisikan penguatan sebagai apapun yang dapat meningkatkan suatu perilaku untuk terjadi lagi. Penguatan dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama adalah dengan memberikan sesuatu yang positif, atau disebut pula dengan penguatan positif (positive reinforcement). Tersenyum, memuji, dan memberikan hadiah, merupakan beberapa contoh tindakan memberikan sesuatu yang positif. Kedua, adalah dengan mengambil sesuatu yang negatif. Cara ini disebut juga dengan penguatan negatif (negative reinforcement). Cara ini dapat dilakukan dengan membebaskan anak dari suatu tugas atau membebaskannya dari suatu hukuman.

Sementara itu hukuman didefinisikan sebagai apapun yang dapat menurunkan kemungkinan suatu perilaku ditampilkan kembali. Hukuman juga dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah memberikan sesuatu yang negatif, atau disebut dengan hukuman positif (positive punishment). Contohnya adalah dengan memarahi atau memukul. Cara kedua adalah dengan mengambil sesuatu yang positif. Cara ini disebut pula dengan hukuman negatif (negative punishment). Mengambil mainan anak dan memutuskan jaringan telepon merupakan tindakan yang termasuk dalam hukuman negatif.

Dengan penjelasan Skinner di atas dapat disimpulkan bahwa penguatan merupakan respons seseorang terhadap sikap atau tindakan orang lain yang dipandang baik sedangkan hukuman merupakan respons seseorang terhadap sikap atau perbuatan orang lain yang dianggap buruk, setidaknya dari kaca mata orang yang menghukum.

Budaya Menghukum

Dalam pandangan Skinner, untuk membentuk perilaku seseorang, memberikan penguatan jauh lebih baik dibandingkan hukuman. Skinner bahkan tidak menganjurkan hukuman (dalam Horne, 2009). Sayangnya, yang terjadi sebaliknya, manusia cenderung menghukum ketimbang memberikan penguatan. Kita cepat melihat yang buruk dari seseorang dan memberinya hukuman. Namun kita gagap untuk memuji ketika seseorang menampilkan yang baik. Kita bahkan gagap menerima pujian. Kata-kata “Ah masa sih” lebih sering terlontar ketika seseorang memuji kita, dibandingkan mengucap terima kasih atas pujiannya. Kita tidak terbiasa mendapatkan penguatan karena budaya kita adalah budaya yang menghukum.

 

Tulisan selengkapnya, dapat diunduh di sini

 

Jika rekan-rekan mengutip tulisan ini, tolong dicantumkan sumbernya ya :

Lianawati, E. (2010). Sanksi dan Penghukuman dari Telaah Psikologi. Konferensi Hukum dan Penghukuman, Universitas Indonesia, Depok, Indoneia, 28 November – 1 Desember 2010, pp 67-68, 82.

 

 


[1] Skinner sendiri pertama kali menyebutnya sebagai operant conditioning

2 comments on “Sanksi dan Penghukuman dari Telaah Psikologi

  1. ibu, aku kirim email ke ibu udah baca belum bu? ^_^..,mau tanya soal cara perhitungan CTA yang dulu pernah ibu kasih…thanx bu.

    Like

    • Ester Lianawati

      Apriiii yg mana ya? Perhitungan CTA hrs dicari dl file nya. Kyknya udah prnh ku kasi ke kamu di file2 yg aku kasi dulu itu 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: